Langkah kakiku kian berat ketika menapaki lantai 30. Debaran jantungku kali ini menyebabkan nyeri di dalam sana. Siap tak siap, inilah saat aku harus bertemu dengan wanita itu. “Aku akan bercerai dari Mas Adam,” kataku pagi itu kepada Hadi Sanjaya saat berbicara empat mata di ruang kerjanya. “Tapi aku mengajukan satu syarat sebelumnya.” “Katakan.” Dingin, tegas, dan tak kenal belas kasihan ciri khas Hadi Sanjaya. Terhadap darah dagingnya sekalipun. Aku menelan ludah susah payah. Sesakit apa pun aku sudah membulatkan tekad. “Aku harus menemui selingkuhan Mas Adam. Wanita itu orang suruhanmu bukan?” Hadi Sanjaya menatapku tajam. Tanpa gentar aku balas menatapnya dingin. Darahnya memang mengalir dalam tubuhku, tapi kami sudah memutuskan untuk tidak menganggap satu sama lain. Dia tak men

