Tak dapat menolak, aku patuh dalam rengkuhan Reymond. Pria itu membimbingku menuju meja yang semula kududuki. Pesananku baru saja datang diantar oleh pelayan. Manarik kursi untukku, Reymond memintaku duduk, lalu pria itu ikut duduk di depanku. Sekarang aku bersikap seperti seorang munafik. Mengaku membencinya tapi menerima pertolongannya. Rasanya aku sangat membenci diriku sendiri. Mas Adam tega menghianatiku dan membuatku hancur atas perintah Hadi Sanjaya, dan pria yang tengah duduk di depanku sambil menatapku dengan tatapan lembutnya yang palsu itu mempunyai andil besar dalam kehancuranku. Sekarang, pria tersebut justru berpura-pura menyelamatkanku dari kesakitan yang diciptakannya. Kemarahanku lebih kepada diri sendiri. Mengapa aku harus ikut berpura-pura di depan Mas Adam? Seharusn

