Sudah kali ke tiga aku meremas kertas sketsa dan melemparkannya ke tempat sampah. Aby sudah lelap, demikian pula dengan Santi. Gadis muda itu sudah beristirahat di kamarnya. Memanfaatkan waktu lengang, aku memutuskan mencicil desain pesanan yang numpuk. Namun, rasanya jengkel sekali ketika aku tak mampu memusatkan perhatianku pada kertas di depanku. Pikiranku justru melayang-layang mengingat kejadian tadi siang di halaman parkir restoran. Mengutuk diri, aku begitu marah pada sikap lancang Reymond, akan tetapi kini justru terus mengingatnya. Kurasakan kobaran kemarahan masih menggelora di dalam dadaku, bahkan masih terasa detak jantungku yang disebakan oleh rasa marah bersamaan dengan tanganku yang terangkat di udara, lalu melayang di pipi pria itu. Aku menampar Reymond setelah kurang aj

