9

1110 Kata

Sejak terbangun dari tidurnya, Aby tiada henti menangis. Anak itu terus memegangi lenganku, tak ingin aku menjauh sebentar saja sekedar untuk membuatkan s**u untuknya. Aku terpaksa mengangkatnya ke dalam gendongan. Tangisnya lumayan mereda meski masih terus merengek. “Atuh, Mama,” keluhnya terus sambil terisak. Sakit, Mama. Aku menggendongnya sambil berjalan berputar-putar di depan jendela. Tidak jauh-jauh dari tiang infus. Kubuka gorden jendela dan langsung tertampang pemandangan pagi hari di bawah sana. Kamar VIP tempat Aby dirawat berada di lantai tiga, langsung menghadap ke jalan raya. Sambil menggendong Aby, kubuka jendela dan membiarkan angin segar pagi hari masuk. Aku menghirup sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-paruku. Aby masih terus menangis meski kini tangisnya jauh lebi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN