Aku bersyukur sekali hanya tiga hari Aby dirawat di rumah sakit, keesokan harinya ia sudah dipebolehkan pulang. Selama dua hari itu pula, Reymond tak pernah absen hadir memastika aku dan Aby tidak kekurangan apa pun. Aku begitu jengah dengan keberadaannya, tak sepertinya yang tampak santai-santai saja. Sikapnya begitu lempeng seolah di antara kami tidak pernah terjdi sesuatu. Jika dulu aku cenderung tidak pedul dengan keberadaannya, kini aku tidak bisa lagi bersikap demikian. Awalnya aku memang ingin mengabaikannya, seolah tidak ada apa-apa. Tetapi seiring berjalannya waktu, aku tidak bisa menahan kebencianku padanya. Aku mulai bicara ketus dan tidak bersahabat, tidak lagi bersikap datar dan resmi seperti sebelumnya. Aku tidak ragu menunjukkan kebencianku. Berkali-kali aku mengusirnya

