25

1231 Kata

Berhari-hari hingga berbulan-bulan aku terus memikirkan ucapan Kakek. Hatiku dilanda kegalauan yang luar biasa, apa lagi melihat Aby semakin hari semakin lengket pada Reymond. Seolah melupakanku, Aby lebih memilih Reymond. Setiap pagi selalu merengek setiap pria itu belum menampakkan batang hidungnya. “Ma, Om Ley mana?” “Om Rey lagi sibuk, gak datang hari ini,” dustaku. Namun, sepertinya sia-sia. Dalam waktu lima bulan sejak Aby keluar dari rumah sakit, ia tak pernah absen mengunjungi Aby. “Tapi Om Ley janji mau ajak Aby naik motol, Ma.” Dan ia akan langsung memekik gembira begitu mendengar deru mesin mobil pria itu. Kakinya lincah menuruni anak tangga mengejar Reymond dan menyambutnya di depan butik. Semakin hari semakin susah aku memisahkannya. Putraku yang pendiam sudah tahu ber

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN