28

1468 Kata

Kafe ini menjadi saksi bisu perjalanan cintaku dengan Mas Adam. Kisah-kisah sederhana yang kami rangkai terjadi di sini. “Mas tidak punya banyak duit, Dek. Gak bisa bawa kamu ke restoran-restoran mewah,” katanya setiap kali membawaku kemari. Sudah bertahun-tahun lamanya sebelum kami menikah, dan kenangan itu masih sering membuat bunga-bunga setiap kali mengingatnya. Namun, kini, setelah percerian kami, aku tak lagi merasakan apa pun. Tidak ada yang berubah dengan kafe tersebut, yang berubah adalah perasaanku pada Mas Adam. “Ibu yang memintaku untuk secepatnya menikah,” ujarnya. Aku dapat menangkap getir dalam nada suaranya. Namun, tidak cukup untuk membuatku peduli. Segala rasaku padanya telah tercabut hingga ke akar-akarnya. Hari ini, aku sengaja mengajak Mas Adam bertemu. Sejak pe

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN