Jeza mengerjap saat bias mentari pagi menerpa netra melalui jendela yang gordennya masih terbuka. Pelan dan pasti lelaki itu mulai menyempurnakan untuk membuka mata. Lantas mencoba menarik tangannya yang tertimpa benda berat yang menurutnya adalah guling. Jeza benar-benar tidak menyadari sekitarnya bahkan tidak sadar jika kamar yang ia tempati bukan kamarnya. Merasa guling yang menimpa tangannya agak berbeda, tidak halus malah terkesan memiliki rambut, Jeza segera menghadap ke kenannya dan matanya melotot sempurna saat menyadari jika yang ia sangka guling awalnya ternyata adalah istri yang tidak ia akui sama sekali. Astaga! Jeza menggigit bibir mencoba mengingat apa yang terjadi, tetapi tidak sedikit pun yang terlintas di otaknya. Lantas ia menarik tangannya yang menjadi bantalan kepala

