Dan di sinilah mereka, di kamar hotel yang ditempati oleh Kinan. Di ujung tempat tidur. Om Farida duduk sembari memeluk guling. Di sebelah dengan jarak setengah meter, Kinan duduk bersila. Iqbal memilih duduk di kursi kayu, sedang Seira berada di sofa. Sepi! Hening! Tidak ada yang memulai pembicaraan. Hanya detak jarum jam dari jam dinding yang terdengar. Sangat canggung! Menyebalkan! Seira lebih memilih menunduk dari pada fokus pada wajah-wajah yang ada di depannya. Entah kenapa, ia menyesal memilih menginap di hotel yang sekarang ini! Iqbal sudah tidak tahan lagi. Ia berdehem sedikit kuat agar semua fokus mengarah padanya. “Apa kabar, Sei?” tanya Iqbal pada Seira memulai percakapan. Seira mendongak. Mata indahnya menunjukkan kepahitan teramat dalam. “Baik. Seperti yang Mas I

