Kinan mengeratkan jaketnya agar semakin menempel di tubuh. Terlalu pagi sebenarnya untuk bangun, jarum jam masih menunjuk pada angka lima pagi, tetapi perut Kinan sungguh tak bisa diajak kompromi. Entah kenapa tiba-tuba saja ia merasa sangat kelaparan. Susah payah ia membangunkan Iqbal, hasilnya lelaki itu tetap tertidur tanpa peduli pada gangguan apa pun. Menyebalkan? memang! Sungguh membuat Kinan ingin menendang lelaki itu kuat. Kinan mempercepat langkahnya saat melewati lorong sepi menuju lantai satu. Setahu Kinan, lorong itu penghuninya sangat jarang dan ada beberapa yang sudah keluar. Dan, aura horor begitu kentara terasa. Kinan menoleh ke belakang saat merasakan ada seseorang yang mengikutinya. Sungguh, ia sangat benci situasi seperti ini. Berhadapan dengan makhluk gaib adala

