Keduanya terdiam, menjaga jarak setelah acara pelukan yang mendadak dari seorang Jeza. Jantung lelaki itu berdetak lebih cepat dari biasanya bahkan terkesan seperti melompat keluar. Ia tidak pernah menyangka hatinya bertindak lebih cepat dari logika. Jika sudah begini yang ada malah kebekuan yang hakiki. Yang lebih tidak terpikir di otaknya adalah meminta maaf karena tidak sanggup melihat air mata Seira yang terus mengalir. Entahlah. Dan sekarang, perasaannya semakin kacau dan dilema. Untuk menatap Seira pun ia tidak sanggup lagi. Terlalu malu ketika kesadarannya pulih dan mendapati diri sendiri memeluk sang istri yang tidak pernah ia akui. Tidak jauh beda dengan Seira, perempuan itu masih duduk di pinggir ranjang, menunduk sembari meremas rok yang ia kenakan. Jujur, ia juga kaget sa

