24. Lagi√

1272 Kata

Seira memutuskan naik angkutan umum karena tidak ingin menjadi bahan gunjingan esok hari. Ia itu peka walau sekitarnya kadang tidak peka padanya. Iqbal menggodanya bukan berarti lelaki itu suka padanya. Masalahnya mulut orang-orang yang tidak menyukainya lebih tajam dari pisau. Ya ... begitulah! Cukup lama Seira duduk di halte, menunggu bus datang untuk membawanya pulang. Sekitar lima belas menit, tetapi tidak satu pun bus yang menuju arah rumah barunya. Astaga, itu rumah Jeza. Jarum jam semakin bergerak ke angka uang menuju tengah malam, dan angin sepoi mulai menusuk kulitnya yang tidak memakai jaket sama sekali. Jika ia tahu hari ini lembur sampai jam sebelas malam, mungkin akan menyediakan baju tebal agar tidak kedinginan. “Sia!” gerutu Seira saat perutnya yang baru ia isi sebelum k

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN