Jeza menatap istrinya sembari memasang wajah merajuknya. Sengaja karena ingin dibujuk sang istri lalu setelah itu bermanja-manja, mungkin juga setelah itu ia mendapatkan jatah yang sudah tertunda dalam waktu yang lama. Memang itu tidak diharapkannya saat ini berhubung kondisi istrinya dan kandungan tidak baik-baik saja. “Sayang, aku gak ada niat sama sekali. Jujur itu hanya menggoda Abizar. Lagian dia itu kepedean banget, sih.” Jeza mencoba memberi pembelaan. “Intinya kamu itu ngeselin.” Seira melepaskan jewerannya, lalu duduk di tepi ranjang yang hanya muat satu orang itu. Ekspresi Seira berubah total dari marah, kesal menjadi sendu dan seperti menyembunyikan sesuatu. Jeza mendekat, ikut duduk di tepi rajang dan mengambil tangan Seira meletakkan di pahanya seraya mengelus. “Ada apa,

