Jeza mendorong Seira ke dalam kamar setelah berhasil membuka pintu. Tanpa aba-aba ia meraih kepala Seira dan mulai mendaratkan ciuman di bibir menggoda itu. Seira melotot tajam karena tak menyangka jika Jeza menciumnya dalam waktu hitungan detik kemudian. Seira sempat memukul bahu Jeza agar suaminya menghentikan gelut lidah karena Seira tak mampu mengimbangi dan juga belum siap mental. Namun, Jeza seolah menutup mata dan menulikan pendengarannya. “Emmhp ....” Seira merasa napasnya mulai habis. Jeza semakin kacau, ia mendorong istrinya ke atas ranjang setelah berhasil menutup pintu menggunakan kakinya. Lalu menindih sang istri, pergulatan lidah keduanya belum berakhir seolah Jeza memiliki asupan oksigen lebih dan lebih. Tangan lelaki itu tidak hanya diam begitu saja, ia juga mulai menyin

