Getaran handphone yang teretak di atas nakas membangunkan Seira dari tidur pajangannya. Ia menggerakkan tubuhnya pelan untuk mengambil ponsel dan berharap Jeza yang sedang tertidur sembari memeluknya tidak terbangun. Setelah berhasil meraih ponselnya, kening Seira mengerut saat tahu nomor yang tercantum sebagai pengirim pesan adalah Ruly. Seira segera membuka dan matanya membulat sempurna. “Kamu benar-benar sombong!” Spontan pesan singkat itu membuat Seira gamang. Ia segera menghubungi nomor Ruly dengan ekspresi kebingungan. Ia memang akui, belakangan ini tidak pernah memberi kabar pada lelaki itu, tapi bukan berarti ia sombong. Keadaan yang memaksanya untuk berhenti melangkah ke arah Ruly. Tidak ada sahutan dari ujung telepon. Seira bangun dan secara perlahan turun dari ranjang di man

