Kinan mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja sembari menatap Iqbal yang terlalu serius pada ponselnya. Ia bosan sebenarnya, tapi tidak mungkin kembali ke rumah sakit tanpa membawa hasil apa pun. Rasanya ingin mengganggu Iqbal, tapi melihat keseriusan lelaki itu membuat dirinya menunda dan membiarkan kebosanan menjadi makanan yang mengerikan. “Nan,” panggil Iqbal. Kinan menoleh. “Ya?” “Sebentar lagi orang yang gue sewa tiba di sini. Seorang detektif swasta, gue harap lo bisa meyakinkan dia supaya bekerja lebih rapi.” Iqbal menjelaskan. “Apa ini tidak masalah?” Rasa khawatir Kinan tiba-tiba muncul. “Masalah bagaimana?” “Secara ini harusnya ditangani oleh polisi.” Iqbal menghela napas. “Kita sudah membahas ini sebelumnya, bukan? Pekerjaan mereka sama sekali tidak membuahkan hasil. Li

