Canggung menjadi jarak di antara Iqbal dan Kinan. Bahkan saat mereka sarapan tidak ada percakapan yang terjadi. Iqbal lebih memilih mengobrol dengan Oma Farida yang ikut bersama mereka dari pada mengucapkan sepatah kata kepada Kinan. Dan begitu pun dengan Kinan. Ponsel menjadi pilihan untuk membuang rasa aneh yang mendera hatinya. Oma Farida menyadari kecanggungan, tetapi perempuan tua itu memilih diam. Lagian, ia tidak begitu memahami urusan masalah anak muda sekarang. Ponsel Iqbal menjadi pemecah kesunyian. Setidaknya dengan deringan yang sedikit memekakkan indra pendengaran Iqbal memiliki alasan yang tepat untuk menarik napas lega. “Halo!” Suara Iqbal memberat lantaran yang menelepon adalah Jeza. Bukan tidak suka Jeza menelepon, hanya saja ... kekesalan masih mendera hatinya. Jez

