Oma masih ingat alamat rumah, ‘kan?” Iqbal bertanya saat mereka keluar dari bandara Soekarno Hatta. Oma Farida mengambil kertas kecil dalam tasnya dan menyerahkan kepada Iqbal. “Aku akan mengantar, Oma,” kata Iqbal tulus setelah melihat alamat yang ada di kertas kecil itu. Lalu pandangannya beralih kepada Kinan dan Seira. “Kalian pulanglah lebih dulu.” Kinan mengangguk. “Ayo, Sei.” Kinan mengajak Seira pulang bersamanya. “Tunggu!” Oma Farida menahan. “Ya?” Kinan sedikit heran. Oma Farida mendekat pada Seira sembari menampilkan senyum manis. “Oma sayang sekali sama Seira. Terima kasih.” Mengelus pipi Seira lalu mengecup pucuk kepala. Seketika hati Seira teriris. Dia terdiam, tetapi jiwa kecilnya menangis. Ingin rasanya mengucapkan kata maaf, sialnya lidah terlalu kaku. Dan, Seira

