Jeza menghela napas panjang sebelum masuk ke dalam ruang rawat inap sang mama. Tangannya entah kenapa terlalu berat untuk mendorong pintu berwarna cokelat itu. Mungkin, karena pikirannya terlalu bercabang, atau bisa jadi ia belum mampu menerima kenyataan yang ada di depan mata. “Lo gak niat masuk?” Jeza menoleh pada Iqbal yang entah sejak kapan berdiri di sampingnya. Tidak ada sahutan dari Jeza. Segera mendorong pintu cokelat dan ia kaget bukan main saat di dalam sana, Seira tengah duduk diam. Dengan langkah berat Jeza mendekati sang mama. “Napa tuh muka?” Kinan sepertinya sangat suka memancing emosi Jeza belakangan ini. Namun, untuk kali ini, Jeza sepertinya tak ambil pusing. Ia berdiri tepat di samping Seira. “Ma, gimana? Udah merasa baikkan?” tanya Jeza sembari menggenggam tangan

