Jeza tergesa-gesa memasuki studionya. Di dalam sana Mega sudah menunggu dengan mimik khawatir. Berulang kali menggigit kukunya karena terlalu terbawa suasana. Di depan Mega, sepasang kekasih atau mungkin saja sudah menjadi suami istri duduk dengan gaya penuh intimidasi. Dengkusan kasar terdengar dari mulut Jeza sebelum mendudukkan diri di sofa. Menelisik kedua tamu yang begitu mengesalkan, pastinya. “Jadi?” Jeza langsung pada intinya. Tidak ingin memperlama waktu, apalagi ia harus menjemput Seira di rumah sakit untuk mencari cincin pernikahan. Lelaki yang Jeza tahu bernama Ando itu mengeluarkan berkas yang terbungkus rapi dalam amplop besar berwarna cokelat. “Lihatlah!” perintah Ando dengan nada meninggi. Jeza segera mengambil amplop itu, mengeluarkan isinya dan segera memeriksa. Ke

