Setelah makan malam di rumah Jenna, Arga langsung pamit pulang. Kini ia sudah tiba di rumah.
Ia melangkah masuk dan mendapati papa dan mamanya sedang menonton televisi di ruang keluarga.
"Kamu dari mana, Arga? Kenapa baru pulang?" tanya Rianti, mamanya.
Langkah Arga yang hendak naik ke lantai dua langsung terhenti.
"Dari rumah Jenna," jawabnya singkat.
Mendengar itu, Erlan mengangkat wajahnya dengan tatapan tajam.
"Kamu makin dekat dengan perempuan itu?"
Arga menghela napas panjang, jelas lelah dengan nada suara papanya.
"Bukannya itu lebih baik? Papa yang mau hal itu terjadi, kan?"
Rianti langsung menangkap suasana yang mulai memanas. Ia menepuk pelan sofa sebagai isyarat agar Erlan menahan diri, lalu menoleh ke Arga.
"Sudah, kamu naik dulu. Istirahat." Suaranya lembut tapi tegas. Arga langsung pergi begitu saja tanpa memedulikan ayahnya lagi
"Pa, udah ... Jangan terlalu keras sama Arga. Dia udah mengorbankan banyak hal."
"Mengorbankan banyak hal? Dia cuma menikahi Jenna. Jadi apa yang dia korbankan?" sindir Erlan, membuat Rianti langsung menoleh tajam.
"Pa…" Rianti menarik napas panjang. "Arga kehilangan masa mudanya, mimpinya, hubungan dengan perempuan yang dia mau. Dia harus nurut pada keputusan kita, bahkan ketika dia belum siap. Papa kira itu bukan pengorbanan?”
Erlan terdiam sejenak, wajahnya mengeras.
Arga sendiri hanya berdiri di anak tangga atas, kedua tangannya mengepal. Ia tidak marah, lebih ke lelah. Sangat lelah.
"Pa," ucap Arga pelan, akhirnya menatap ayahnya. "Aku bukan anak kecil lagi. Aku tahu apa yang aku lakukan. Dan kalau aku dekat sama Jenna… itu bukan hal yang harus terus dipertanyakan."
Ruangan langsung senyap. Suara Arga terdengar jelas dari atas
Erlan menatap Arga lama, seolah mencari kebohongan di wajah anaknya, namun tidak menemukannya.
Rianti membuka suara lebih dulu. "Sudah. Mama nggak mau lihat kamu dan papa bertengkar malam-malam begini."
Arga mengangguk kecil. "Aku istirahat."
Namun sebelum Arga benar-benar melangkah, Erlan kembali bersuara, kali ini lebih pelan, tapi tetap dingin.
"Pastikan kamu tidak punya rencana lain, Arga. Apa pun yang kamu lakukan, konsekuensinya besar."
Arga berhenti sejenak. Tanpa menoleh, ia hanya menjawab pelan, "Aku tahu, Pa."
Lalu ia melanjutkan langkahnya ke atas, meninggalkan kedua orang tuanya dalam keheningan yang berat.
Di atas, dalam kamarnya, Arga jatuh terduduk di tepi ranjang. Pikirannya penuh oleh Jenna, senyumnya, kekhawatirannya, cara perempuan itu menatapnya seolah hanya dia satu-satunya orang di dunia yang bisa Jenna percaya.
***
Setelah Arga pulang, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Jenna naik ke kamarnya. Ia meletakkan ponsel di meja rias, lalu duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajah.
Tapi belum sempat ia menarik napas panjang, ponselnya bergetar. Ada panggilan masuk.
Arga.
Jenna langsung meraihnya.
"Hallo, Ga. Udah sampai rumah?"
Balasan Arga muncul cepat.
"Udah. Kamu udah tidur?
Jenna tersenyum kecil. "Belum. Masih kepikiran omongan papa aku tadi."
Beberapa detik berlalu sebelum balasan muncul lagi.
"Jenna, jangan pikirin itu. Kamu nggak salah sama sekali."
Jenna menggigit bibir. Ada banyak hal yang ingin ia jawab, tapi dadanya terasa sesak.
"Arga..." suara Jenna ikut melemah tanpa ia sadari.
"Hmm?"
"Maaf ya. Aku kayaknya bikin kamu kebawa masalah." Kata-kata itu keluar begitu saja, membuatnya menunduk.
Di seberang, Arga terdiam sebentar.
"Jenna," ucap Arga akhirnya, suaranya berat. "Kamu nggak pernah jadi masalah buat aku."
Jenna terpejam.
"Sekarang kamu istirahat ya..." Kata Arga
"Sebelum tidur… boleh aku tanya sesuatu?" suara Jenna terdengar pelan.
Arga menjawab cepat, "Tanya apa?"
Jenna menarik napas kecil, mencoba menyembunyikan gugupnya. "Kamu… capek banget ya hari ini?"
Arga terdiam sejenak di seberang. "Kedengeran banget, ya?"
"Banget," jawab Jenna lirih. "Suaranya beda."
Arga tertawa tipis, tanpa bahagia. "Iya. Capek."
"Kenapa?" tanya Jenna, hati-hati. “Bukan soal papa kamu atau soal aku, kan?"
"Kamu jangan mikir ke sana terus." Nada Arga melembut. "Aku capek karena… nggak ada satu pun hal hari ini yang ngasih aku ketenangan. Kecuali waktu makan di rumah kamu tadi."
Jenna mengangkat wajah, terkejut. "Serius?"
"Serius. Di umah kamu aku tenang."
Jenna tersenyum kecil, hatinya menghangat. "Syukurlah kalau begitu."
Arga berada dalam diam beberapa detik sebelum kembali bicara.
"Jenna…"
"Hmm?"
"Kyaknya aku bakal sering ke sana. Makan malam di rumah, kamu haha."
Jenna ikut tertawa "Jangan sering-sering, nanti bosan."
"Nggak bakal." Suara Arga terdengar jujur. "Tempat yang bikin aku tenang, mana mungkin aku bosenin."
Jenna terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi rasanya menampar lembut ke dalam dadanya. Arga nyaman di rumahnya?
"Arga…"
"Kenapa?"
"Aku senang kalau kamu nyaman, meski rumah aku...." ucap Jenna pelan dan menggantung
Arga menarik napas panjang, terdengar seperti menahan sesuatu yang lebih dalam.
"Jenna." Panggil Arga lagi
"Iyaa?"
“Kamu itu… lebih berarti dari yang kamu kira. Jadi jangan pernah ngerasa kamu nggak berarti apa-karena perlakuan papa kamu, mungkin papa kamu belum bisa memperlakukan kamu dengan baik, tapi mama kamu, dia sangat menyayangi kamu, Jenna.” Kata Arga
Jenna menelan ludah. “Jangan ngomong gitu. Aku jadi..."
"Jadi apa?" Arga menggoda lagi, pelan.
"Jadi malu," gumam Jenna, menutupi wajah sendiri.
Terdengar tawa kecil Arga, hangat dan ringan, tawa yang belum pernah ia keluarkan sejak berada di rumah orang tuanya tadi.
"Udah, kamu tidur. Nanti tambah mikir yang aneh-aneh."
"Oke," jawab Jenna manis. "Kamu juga ya."
"God night, Jen."
"Good night, Ga."
Telepon terputus.
Tapi sama seperti sebelumnya, tidak ada yang benar-benar tidur.
Jenna menatap langit-langit kamarnya, kenapa Arga bisa bilang begitu? Arga merasa nyaman saat di rumahnya? Apa karena kedekatan Arga dengan mamanya tadi?
Meski Jenna tidak tahu apa obrolan Arga dan mamanya, tapi Jenna yakin. Itu adalah hal yang baik. Buktinya mamanya itu berkali-kali tersenyum dan tertawa saat bicara dengan Arga. Bahkan papanya pun ikut heran melihat kedekatan mereka
Sementara Arga meletakkan ponselnya disamping bantal. Ia sama seperti Jenna, belum tidur setelah telpon berakhir.
Selama ini, setiap interaksi di rumah selalu penuh tuntutan. Papa bertanya, mama khawatir, semua orang ingin sesuatu darinya. Tapi Jenna tidak.
Selama berinteraksi dengan Jenna, Jenna tidak pernah memaksa Arga jadi seseorang.
Jenna cuma… melihat.
Melihat bahwa Arga lelah.
Bahwa dia manusia.
Bahwa dia butuh ruang untuk bernapas.
Arga mengusap wajahnya, dia bisa menyadari betapa besarnya efek perhatian kecil itu.
kalimat Jenna terus menggema lembut di telinga, pertanyaan itu sederhana. Tapi Arga sangat senang. Seperti energi yang masuk ke dalam tubuhnya, membuat tubuhnya teras lebih bersemangat.