Bab 11 - Memilih Cincin Pertunangan

1143 Kata
Jenna membuka kedua matanya. Cahaya matahari menembus celah tirai dan mengenai wajahnya, hal itu membuatnya meringis kecil. Rasa kantuk masih berat, membuatnya memilih memiringkan tubuh dan menarik selimut sampai ke leher. Tangannya meraba sisi kasur, mencari ponsel yang semalam ia letakkan di sana. Layarnya menyala. Pukul tujuh pagi. Beberapa notifikasi masuk sejak tadi malam, semuanya dari Anasera. 'Jenna, hari ini lo nggak masuk lagi? Lo baik-baik aja kan?' 'Udah beberapa hari ini lo absen terus. Kalau begini nilai lo bisa bermasalah.' 'Kita udah semester akhir, Jen. Lo nggak boleh abai.' 'Gue tau lo punya banyak uang buat tetap lanjutin kuliah, tapi kan nggak gini juga.' Jenna mendengus pelan. Bukan marah, hanya capek. Jari-jarinya menari cepat membalas pesan itu, singkat dan agak jutek. 'Nanti gue masuk kok.' 'Kalau semua urusan gue selesai.' Jenna meletakkan ponselnya di sisi bantal, menarik napas panjang seolah mencoba mengumpulkan sisa tenaga yang ia punya. Hari ini ia harus mulai mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan pertunangannya bersama Arga Belum sempat ia mengangkat tubuh sepenuhnya, terdengar ketukan lembut di pintu. Suara mamanya menyusul, tenang tapi tetap penuh kecemasan. "Jenna, kamu udah bangun, sayang?" Jenna mengubah posisinya duduk, lalu perlahan berdiri dan berjalan ke pintu. Gerakannya pelan, seperti seseorang yang sedang menuntun dirinya sendiri agar tidak tumbang. Ia membuka kunci, dan wajah Ratna langsung muncul dengan senyum hangat yang sebenarnya menyimpan kekhawatiran. 'Kamu baru bangun?" tanya mamanya sambil menelusuri wajah Jenna. "Hemm..." Jenna hanya bergumam sambil mengangguk pelan. "Kamu nggak lupa kan, hari ini kamu bakal pergi sama Arga?" tanya Ratna memastikan "Enggak kok, Ma," "Yaudah, sekarang kamu mandi, habis itu sarapan dulu biar nggak pusing." "Iya, Ma…" Ratna tersenyum dan mengusap lengan Jenna sebentar sebelum kemudian berjalan ke arah dapur. Pintu kamar kembali tertutup, Jenna terus berjalan menuju kamar mandi, sesampainya di sana Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang ada di sana. Wajahnya tampak sedikit pucat, kantung mata pun masih terlihat jelas. Jenna menghela napas dan mulai berdiri di bawah shower, ia menyalakan keran membiarkan air mengalir dan membasuh kepalanya. Air hangat sedikit membuat tubuhnya rileks. Setelah selesai mandi, Jenna kembali ke kamar dan menyiapkan pakaian. Ia memilih dress sederhana berwarna krem, tidak terlalu mencolok, tapi cukup pantas untuk pertemuan keluarga nanti. Ia mengeringkan rambutnya perlahan, lalu merias wajahnya dengan makeup tipis. Cukup untuk terlihat segar, tanpa berlebihan. Saat ia selesai, Ratna mengetuk pintu lagi. "Jenna, sarapan udah jadi. Turun ya, sayang." "Sebentar, Ma!" jawab Jenna sambil mengambil tas kecilnya. Ia turun ke lantai bawah. Aroma sup ayam hangat memenuhi ruang makan. Ratna sudah duduk menunggunya, sementara meja telah tertata rapi. Jenna duduk di hadapan mamanya dan mulai makan dengan perlahan. Sementara itu, Ratna memperhatikannya diam-diam, ekspresi yang menunjukkan ia khawatir. "Papa di mana?" tanya Jenna karena tak melihat keberadaan papanya lagi. "Tadi malam papa kamu pergi." Jenna terdiam sesaat "Ke apartemen Laras?" "Iya, katanya perutnya kram. Jadi, papa kamu langsung ke sana. Udah, kamu nggak usah pikirin itu. Sekarang lebih baik kamu fokus sama pertunangan kamu sama Arga." "Tapi mama nggak masalah, kan? Mama nggak sedih?" Ratna menggelengkan kepalanya. Dulu mungkin dia sedih karena diperlakukan tidak baik oleh Bagas, tapi kemarin Arga sudah membuka matanya. Berkat Arga dia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang Bagas lakukan. Karena hal yang paling penting baginya saat ini adalah membuat Jenna tenang. "Buat apa? Mama masih punya kamu, jadi buat apa mama bersedih?" Jenna kembali tersenyum "Udah, nggak usah dibahas. Kita lanjutin makannya, ya." "Iya, Ma." *** Pukul sembilan kurang sepuluh menit, notifikasi masuk ke hape Jenna. Arga. 'Aku udah deket.' 'Oke.' Jenna mengambil tas, merapikan sedikit bagian depan rambut, lalu turun ke bawah. Ratna sudah berdiri di depan pintu, tampak seperti seorang ibu yang hendak melepas putrinya ke sesuatu yang besar. "Jangan tegang, sayang." "Enggak kok, Ma. Biasa aja." Jawab Jenna pelan. Ratna menepuk bahunya lembut. "Kalau ada apa-apa, telepon Mama." Jenna mengangguk tepat saat suara klakson lembut terdengar dari luar rumah. Ia membuka pintu, dan mobil Arga sudah terparkir di depan. Arga turun dan tersenyum saat melihat Jenna. Senyumnya selalu tenang, hangat. "Kamu udah siap?" tanyanya lembut. "Udah." jawab Jenna dengan jujur. Arga mengangguk, seolah itu sudah jawaban paling baik yang bisa ia terima. "Tante, aku sama Jenna pamit dulu ya," ujar Arga sopan sambil sedikit membungkuk. Ratna tersenyum hangat. "Iya, kalian hati-hati, ya." Arga mengangguk sebelum berbalik menuju mobil. Begitu pintu tertutup, ia menyalakan mesin dan perlahan membawa mobil itu keluar dari pekarangan rumah Jenna. Dari jendela, Jenna sempat melihat mamanya masih berdiri di depan pintu, mengawasi kepergiaannya sampai mobil benar-benar menjauh. Begitu mereka memasuki jalan utama, Arga melirik Jenna sekilas. Suaranya tenang, tanpa tekanan apa pun. "Sekarang kita ke toko perhiasan dulu, ya. Kita pilih cincin." Jenna hanya mengangguk. "Iya." Suasana dalam mobil sempat hening. Arga tidak memaksa Jenna untuk bicara, sementara Jenna sibuk dengan pikirannya sendiri. Arga akhirnya kembali membuka suara, nada bicaranya pelan dan hati-hati. "Kalau kamu ada jenis cincin yang kamu suka, bilang aja ya. Jangan cuma ikut yang aku pilih." Jenna menoleh sebentar. "Aku nggak terlalu paham modelnya. Jadi nanti lihat langsung aja." "Yaudah, kalau gitu kita lihat sama-sama." Arga tersenyum kecil, mencoba membuat suasana lebih ringan. "Tapi kalau ada yang kamu nggak suka, jangan sungkan bilang. Pertunangan ini soal kita berdua, Jen." Jenna tidak langsung menjawab. Ia menatap keluar jendela, memperhatikan deretan bangunan yang berlaluan cepat. Dalam hati ia mengakui satu hal, Arga selalu punya caranya sendiri membuat situasi yang rumit jadi terasa sedikit lebih mudah untuk dijalani. Setelah beberapa menit, Arga menurunkan sedikit volume musik di mobil. "Kamu tidur cukup tadi malam?" "Lumayan… tapi masih ngantuk," jawab Jenna jujur. "Kalau kamu capek, bilang aja. Kita bisa istirahat dulu sebelum ke tempat yang lain." Jenna menoleh lagi, kali ini tatapannya sedikit melunak. "Arga, kamu nggak usah terlalu mikirin aku." Arga tersenyum tipis, sambil tetap memandang ke depan. "Nggak mungkin, aku begini karena aku peduli sama kamu." Jenna terdiam. Ada bagian dari dirinya yang ingin protes, tapi ada bagian lain yang tenang mendengar kalimat itu. Mobil akhirnya berbelok ke area bisnis pusat kota. Gedung toko perhiasan besar dengan kaca bening tinggi sudah terlihat dari kejauhan. Dari luar saja sudah terlihat elegan, seperti tempat yang hanya dikunjungi orang-orang tertentu. Arga memarkirkan mobil di tempat khusus tamu, lalu turun untuk membukakan pintu Jenna. "Yuk," katanya lembut. Jenna keluar, menghirup napas dalam-dalam. Udara pagi yang berembus terasa sedikit menenangkan, meski perasaannya masih campur aduk. Arga berjalan di sampingnya, menjaga jarak yang pas. Tidak terlalu dekat agar Jenna tidak merasa tertekan, tapi tidak terlalu jauh agar ia tahu Arga ada untuknya. Sesampainya di depan pintu masuk toko perhiasan, Arga menatap Jenna sebentar. "Kita pilih yang bikin kamu nyaman. Kamu nggak harus pura-pura suka sama sesuatu yang nggak kamu mau." Jenna mengangguk pelan. "Oke." Pintu otomatis terbuka, menyambut mereka dengan cahaya hangat dan kilauan perhiasan dari segala arah. Dan di sanalah mereka, bersiap untuk memilih simbol pertama dari kehidupan baru yang mau tidak mau harus mereka jalani bersama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN