Sesampainya di rumah aku melihat mobil Tante Rani di bagasi. Ternyata dia pulang lebih awal dari biasanya. Aku berlari dengan cepat tanpa melihat keadaan ruang tamu dan naik ke atas tangga memasuki kamar Tante Rani dan melihat tanteku itu sedang duduk di tepi ranjang. Tangisku langsung pecah begitu melihat beliau dan aku langsung memeluknya dengan erat.
"Apa yang salah dengan diriku, Tan? Apa kekuranganku? Kenapa semua orang menyakitiku? Bahkan enggak menghargai perasaanku sama sekali. Aku...." aku tidak sanggup melanjutkan kalimatku lagi karena hatiku sudah sangat sakit. Rasanya seperti tertusuk-tusuk sesuatu.
"Dimana Kirana yang dulu, yang tidak pernah mengeluh dan sedih? Tante sudah tahu semuanya." Pandangan matanya beralih ke arah jendela sambil dia mencium kepalaku.
"Apa?" isak tangisku sejenak terhenti. Apa dia bilang? Tante Rani bilang dia sudah mengetahui semuanya? Lalu beliau mulai bercerita kejadian tadi siang ketika aku di sekolah dan masalahku dengan Adrian. Mengejutkan, ceritanya benar dan sangat komplit.
Jantungku langsung mencelos dan tebakanku benar Adrian pasti sudah memberitahunya. Tante Rani langsung mengangguk, kemudian membawaku ke ruang tamu. Sesampainya di sana, mataku melotot berat melihat Adrian duduk dan menampakkan wajah bersalah. Hatiku mulai bertanya-tanya, kenapa lelaki ini sudah ada di sini? Adrian pasti melaju kecepatan tinggi sehingga lebih dulu sampai di sini.
"Untuk apa kamu datang ke sini? Aku enggak mau dengar penjelasan apapun." Suaraku menggelegar cepat memenuhi ruangan.
"Bukti memang enggak ada, tapi kamu harus percaya sama aku. Calissa menipuku dengan meminta aku membaca naskah dan saat membacanya kamu ada di sana. Aku enggak bersalah. Buktinya, Tante Rani saja mempercayaiku." Ia berdiri dari sofa dan menyembunyikan tangannya di punggung.
"Keluar! Jangan pernah injakkan kakimu di rumah ini lagi" Aku mengusir lelaki ini, lalu aku menoleh ke arah Tante Rani.
“Tante, jangan diam saja, bantu aku mengusirnya." Aku menarik lengan Tante Rani yang tidak bergeming menuruti permintaan itu.
"Aku mohon jangan membenciku! Kamu harus percaya sekali ini saja. Aku benar-benar enggak bisa memutuskan hubungan ini." Lelaki itu spontan berlutut di hadapanku sambil memegangi tanganku.
Seketika itu juga ada kejanggalan yang kulihat dari seorang Adrian. Kedua tangannya berlumuran darah. Jemariku ikut basah karena darahnya terus mengalir. Aku baru sadar kalau Adrian kecelakaan sewaktu mengejar mobil Andi dan dia mengambil jalan pintas agar lebih cepat sampai di sini dan bisa menjelaskan semuanya dengan baik kepadaku.
Tapi lumuran darah ini membongkar ingatan masa laluku terekam kembali. Detik itu juga kepalaku sakit luar biasa karena aku mencoba keras menghalau rasa takutku.
"Semua sudah berubah sekarang. Aku bukan Kirana yang dulu, Kirana yang mudah terkena tipuanmu." Aku menarik lengannya mendekati pintu sambil memegang kepalaku yang sakit. Tante Rani yang melihat wajahku memucat, baru sadar kalau tangan Adrian berlumuran darah.
"Maafkan aku!”
"Cukup, Adrian! Jangan memaksanya lagi. Tapi tenang saja, Tante akan cari jalan keluar untuk masalah ini dan kalian tidak boleh memutuskan tali silaturahmi." Tante Rani mulai panik karena lelaki itu terus memaksa. Akhirnya Tante Rani menyuruhnya pulang agar aku bisa mendinginkan otak dulu.
Kepalaku semakin sakit, kakiku bergetar cepat, dan keringat dingin memenuhi dahiku. Pandangan mataku langsung buram dan rasa mual menggejolak di dalam perutku. Aku tidak bisa menahan sakit luar biasa itu, tapi tanganku terus mendesak Adrian untuk keluar dari rumahku. Pintu akan kututup tapi rasa sakit itu tidak berhenti, malah semakin menjadi-jadi. Aku tidak bisa menahannya lagi dan nyaris jatuh pingsan di lantai. Suara Adrian masih terdengar berteriak keras dan aku tidak tahu apa-apa lagi.
***
Aku berjalan santai memasuki ruangan dan segera duduk di kursi. Semenjak kejadian kemarin, Calissa tidak berani duduk di sampingku lagi. Aku sendiri meyakinkan diriku bahwa kejadian kemarin hanyalah mimpi buruk yang mudah dihapus begitu saja. Tapi ternyata aku salah karena itu adalah kesalahan yang fatal, tidak mudah dihapus dalam sekali ingat.
Tiba-tiba aku teringat kembali ketika Tante Rani memberi penjelasan saat aku pingsan kemarin. Tante Rani terus memuji Adrian yang berbaik hati membantunya menjagaku sampai tengah malam. Anehnya saat aku sadar dia sudah menghilang dan tidak ada lagi di hadapanku. Adrian benar-benar bodoh dengan rela menghabiskan waktu menjagaku di rumah.
Tanganku menulis puisi dengan rapi di buku catatanku. Pikiran yang ruwet dalam otakku semakin memperburuk suasana. Untung saja jam pelajaran ini dosen sedang ada rapat dan tidak masuk di kelas, sehingga membuatku bebas melakukan aktifitas apapun.
"Teman-teman gimana rasanya senjata makan tuan? Enak, enggak? Seorang pria yang kita percayai ternyata penipu. Saat kita memanfaatkannya, dia juga memanfaatkan kita.”
Aku menoleh. Oh, oke. Gadis itu Calissa sedang menyindirku.
"Kasihannnnnn." Serentak teman-temanku tertawa karena mengerti siapa wanita yang sedang disindir oleh Calissa.
"Kalian tahu, enggak, malam ini aku mau nge-date sama Adrian. Senang banget deh, berhasil dapetin orang yang kita cintai. Lebih senang lagi Adrian yang mengajakku duluan dan menyuruhku memakai gaun pemberiannya." lagi-lagi Calissa menguji kesabaranku, membuatku cemburu.
Tidak tahan mendengar ejekan mereka, kakiku melangkah cepat keluar dari ruangan untuk menghindarinya. Berulang kali aku meyakinkan hatiku bahwa semua ini hanya ilusi. Tidak ada kata berhenti untuk menjalankan misiku.
Tiba-tiba badan yang menjulang tinggi berdiri tepat di hadapanku saat aku melewati ruangan. Luka di wajahnya masih terlihat jelas dan semua mahasiswa bertanya-tanya tentang luka Adrian yang bersamaan dengan luka Andi. Aku marah pada Adrian, kenapa selalu membuatku tidak tenang.
Tidak cukupkah ia menyakitiku dengan semua kebohongannya bersama Calissa yang diam-diam menipuku?
Andi datang di saat yang tepat, menghadang langkah Adrian yang ingin mendekatiku.
"Bonyok di mukamu mau ditambahin lagi? Enggak ngerti peringatanku untuk menjauhi Kirana?" Andi mendorongnya ke tembok dan menarik kerah bajunya. Adrian yang tidak terima dengan perlakuan itu menghempaskan tangannya.
"Emang kamu siapa, larang orang sembarangan? Hah?! Jangan coba-coba campuri urusanku!" matanya merah menahan amarah. Perlahan-lahan dia mengepalkan jari tangannya dan ingin melepaskan tinju. Aku yang menyadari Andi akan dipukul, langsung mengancam Adrian.
"Bukti sudah jelas kalau kita enggak punya hubungan apa-apa lagi." teriakku.
Andi buru-buru mencari perhatian dengan menarik lenganku menjauh dari sana.
“Habis manis langsung dibuang. Kata itu terbukti dengan Adrian dan sekarang loe buka hati lagi buat orang lain. Dasar cewek enggak punya perasaan!" salah satu dari kerumunan para gadis memprotes hebat.
Langkah kami bergerak cepat. Seiring berjalannya waktu, Andi semakin menunjukkan sikap terbaiknya untuk menarik hatiku agar menerima cinta yang diagungkannya.