"Kamu Calissa!"
Mataku membelalak lebar. Calissa? Jadi gadis yang sedang bercakap-cakap di dalam itu........ Calissa? Sahabatku sendiri? Aku semakin penasaran dan segera melangkahkan kaki masuk ke dalam perpustakaan. Dan seketika jantungku berhenti memompa darah, dan dunia terasa kiamat.
Waktu seakan tidak mau berjalan. Aku sungguh tidak menyangka semua ini terjadi pada hidupku. Apa salahku? Aku mempermainkan orang lain hanya untuk balas dendam. Dan dendam itu berawal karena kematian Bunda. Seandainya kejadian buruk itu tidak pernah terjadi, Bunda, aku pasti baik-baik saja sekarang.
Kakiku melangkah gontai mendekati mereka, dan seketika itu juga tangisku pecah tak karuan. Sulit dipercaya. Kenapa semua orang menghancurkan hidupku?
"Adrian?" suaraku terdengar parau walau jarak kami sangat dekat. Mata kepalaku sendiri yang melihat mereka berpegangan tangan, dan aku tidak menyangka Calissa tega menghianati kepercayaanku. Betapa susahnya memiliki sahabat sepertinya dan sekarang dia tega merusak kebahagianku.
"Kamu salah paham, semua enggak seperti yang kamu lihat. Aku..." Adrian terbata-bata dan kelihatan terkejut setengah mati seolah air mendidih menyiram tenggorokannya. Ia mungkin tidak menyangka aku bisa berada di sini.
"Cukup Adrian! Cukup! Sudah terlalu banyak kebohongan yang kamu simpan selama ini. Kenapa kamu tega menyakitiku? Apa salahku?" bentakku menunjuk wajahnya dengan perasaan panas. Calissa yang sejak tadi diam menyambar suaraku.
"Kesalahan kamu sangat fatal karena mempermainkan Adrian padahal dia milikku. Aku lebih dulu menyukainya dan kamu merebutnya. Aku pura-pura dukung kalian, padahal hatiku hancur berkeping-keping melihat Adrian memilih mu. Dan sekarang rasa sakit hatiku terbalas. Akhirnya Adrian jatuh cinta padaku.”
Aku menoleh. Astaga. Gadis itu.... Kenapa dia tega tertawa keras sambil menatap tajam ke arahku?
“Itu enggak benar! Calissa memprovokasi hubungan kita," seru Adrian mencoba membela diri.
"Diam! Bukti sudah cukup kuat. Aku rasa semua selesai hari ini. Kita putus! Enggak ada lagi hubungan di antara kita. Jangan pernah merasa bahwa aku adalah mantanmu. Anggap saja aku enggak pernah hadir dalam hidupmu."
Tepat setelah mengatakan hal itu, tanganku melepaskan sebuah tamparan keras di pipinya. Tangisku pecah, mungkin begini rasanya sakit hati yang nyata di saat aku ingin jatuh cinta namun karma menghukumku.
"Aku enggak mau itu terjadi. Kamu salah paham, Kirana! Beri aku waktu semenit saja untuk menjelaskan semua ini." Adrian berlutut di depanku sambil mengeluarkan air mata untuk pertama kalinya.
Aku ingin meninggalkan mereka tapi Calissa membuka suara lagi.
"Kamu masih ingat peringatanku dulu kan? Suatu saat kamu pasti menyesal telah menjadikan Adrian b***k dan hari ini semuanya terbukti. Kamu benar-benar menangis, dan aku bisa merebut Adrian dari mu." Calissa mendorong pundakku sambil tersenyum licik.
"Ambil saja apa yang kamu mau! Terserah! Aku enggak peduli pada pengkhianat. Kamu bukan sahabat yang baik, kamu sama saja dengan yang lain.
"Selamat! Kamu menang sekarang." Aku merasa jijik pada Calissa, dia bukan sahabat tapi musuh dalam selimut.
Hidupku sudah hancur. Tidak ada lagi yang tersisa, hanya luka dan tangis yang mendalam. Aku tidak mau mengenal pengkhianat yang berusaha bermain api di belakangku.
"Aku lupa, satu hal lagi, sebenarnya aku enggak mau punya sahabat seperti kamu tapi karena pamormu di kampus ini, aku rela lakuin apapun." Ia menyerukan kata terakhir saat langkahku tergesa-gesa meninggalkan perpustakaan.
"Sialan! Semua pria sama saja, tidak ada yang setia! Sejak awal aku salah mempercayai orang-orang terdekatku. Seharusnya aku tidak mempercayai cinta. Misiku adalah tujuan utamaku."
Tangisan akan membuatku semakin lemah. Lupakan apa yang harus aku lupakan. Aku menyeka air mata dan mencoba tegar karena tidak ingin semakin terlarut dalam kesedihan. Aku adalah orang kuat yang tidak pantas menangisi orang yang telah menyakitiku.
Tiba-tiba suara hentakan sepatu tergesa-gesa dari belakang mendekatiku. Pasti itu Adrian. Aku melangkah cepat sambil menelepon Pak Abu untuk segera menjemputku. Setibanya di gerbang sekolah, Adrian benar-benar mengejarku. Buktinya dia menghentikan langkahku dan meraih tanganku.
"Tunggu, beri aku satu detik saja untuk menjelaskan kesalahpahaman ini.”
“Waktumu sedetik sudah habis. Pergi sekarang!”
"Enggak..... Enggak....... Kirana, kamu salah sangka, Calissa telah membohongimu. Apa yang kamu dengar itu hanya drama. Aku enggak pernah selingkuh. Kamu ingat, kan, tugas yang diberi Bu Lucy minggu lalu untuk membuat dialog? Aku cuma baca itu karena disuruh Calissa. Aku enggak bohong." ia berbicara dengan nada sangat tegang dan berusaha meyakinkanku.
Aku tahu dia bukan orang yang mudah menyerah. Sekalipun aku menolaknya seribu kali, dia tidak akan berhenti mengejarku. Hatiku semakin kacau balau melihatnya ada di sini. Aku berharap Allah mengirim seseorang untuk menolongku menjauh dari musuh bebuyutanku.
"Cuma dialog katamu? Tega sekali, kamu bicara kalau kamu enggak cinta sama piala bergilir. Kamu tahu di kampus ini cuma aku yang disebut piala bergilir. Jadi, cukup! Aku enggak semudah itu bisa percaya pada pengkhianat." Aku mendorongnya ke belakang. Aku muak mendengar pengakuan yang jelas-jelas tidak bisa kupercayai. Segera aku berlari keluar gerbang menunggu Pak Abu.
Tampak Adrian bermuka masam sambil terus mengejarku. Aku menoleh ingin menghilangkan sentuhan itu dariku tapi seseorang lebih dulu melepaskannya dan berteriak marah pada Adrian.
"Jangan sekali-sekali kamu menyentuh Kirana! Dasar b*****h!" teriak Andi melepaskan pukulan di perut Adrian.
Aku panik habis-habisan karena usaha saling jotos terjadi sekarang. Untungnya murid-murid sudah pulang dan tidak melihat kejadian tragis ini. Entah kenapa sengatan menggigit hatiku setelah melihat Adrian terluka akibat pukulan maut Andi. Dari mana dia tahu aku ada di sini dan berusaha melindungiku dari penghianat ulung itu? Aku tidak tinggal diam lebih lama menyaksikan aksi jotos menjotos itu.
Wajah mereka sama-sama memar biru, dan Adrian terhempas ke tanah sambil memegangi wajahnya. Pukulan akan dilepaskan lagi pada Adrian, tapi aku melindunginya dengan duduk diam di depan Adrian. Untung saja pukulan itu tidak mengenai wajahnya, karena Andi melihatku di sana. Jantungku berdegup cepat. Andi bisa saja memberiku pukulan akibat menyelamatkan orang itu.
"Kenapa kamu melindungi orang yang buat kamu sakit hati?" teriak Andi.
"Aku enggak melindunginya. Aku cuma takut jika terjadi apa-apa dengan kalian dan penyebabnya adalah aku." Suaraku terbata-bata dan dahiku dibanjiri keringat dingin.
"Kita pulang sekarang!" Andi menarikku berdiri secara paksa. Dan aku hanya mengikuti penyelamatku.
"Muka kamu ini harus ditambahin memar lagi. Kamu beruntung Kirana menghadang di depanmu, kalau enggak, mayatmu sudah dikerumunin lalat di sini! kamu enggak akan gue biarin dekatin Kirana sejengkal pun, apalagi berusaha menyakitinya lagi." Amarahnya meluap bagai lelehan lava merapi.
Adrian yang risih mendengar semua kata yang memojokkannya langsung berdiri, "Ancaman kamu ini enggak akan jadi penghalang untuk aku dekat dengannya. Aku enggak merasa menyakiti Kirana. Dia cuma salah paham." Tatapan matanya jauh lebih galak.
Aku melihat ekspresi mereka sangat mengerikan. Adrian masih saja keras kepala dan tidak mau mengakui kesalahannya.
"Dengar! Aku bersumpah selama aku masih hidup, Kirana enggak akan bisa kembali lagi padamu." Andi segera mengapit tanganku untuk pergi, dan aku tidak mau lagi menoleh ke belakang. Hari ini benar-benar melelahkan karena menguras ribuan tetesan air mata yang sangat kujaga.
Lelaki itu menuntunku masuk ke dalam mobilnya. Di perjalanan, air mataku tidak berhenti menetes karena meratapi nasib yang selalu mengujiku. Andi yang kasihan padaku menghapus air mataku dengan tangan kanannya, tapi aku mencegahnya melakukan hal itu. Aku tidak mau mengingat kenangan-kenangan indah bersama Adrian.
Terlalu menyakitkan jika semuanya harus terulang lagi. Rasa bersalahku masih bergelumat dalam hatiku walau bagaimanapun Andi ingin menghiburku sekarang.