Pengakuan menyakitkan

1317 Kata
Adrian berdiri di depanku dengan perasaan prihatin terhadap keadaanku yang tidak dimengertinya. Aku meratapi sampai kapan semua semuanya bisa berakhir—masih adakah jalan yang bisa membuatku berubah total? Aku tidak tahu siapa orang yang paling berjasa dalam hal ini. Tanda tanya terus mengguncangku. Aku berusaha melihat lingkungan sekitar yang paling peduli terhadap keadaanku, rela melakukan apapun hanya untuk kepentinganku sendiri dan tidak berpikir harga dirinya jatuh sampai terinjak-injak. Aku teringat misi itu lagi berusaha meyakinkan hatiku kalau aku tidak jatuh cinta. Hati dan pikiranku sekarang sudah tertutup dan membeku. Adrian perlahan ikut bersimpuh di lantai dan menanyakan keadaanku. Aku tidak berbicara apa-apa dan terus menunduk. Tangisku tidak bisa ditahan lagi, dan aku langsung memeluknya dengan sangat erat. Adrian menampakkan reaksi bingung, tapi ia diam saja dan mengusap punggungku. Ia sama sekali tidak membalas pelukanku. Tanganku tidak berhenti melingkar di lehernya sambil terus menangis. Entah berapa menit aku memeluknya. Hanya Adrian orang pertama yang mendapatkan pelukan itu, bukan orang lain. Diam-diam aku mulai tahu hatiku sebenarnya sangat rapuh dan berusaha keras berbohong di depan semua orang. Aku selalu berkata baik-baik saja padahal setiap hari hidupku dilanda kegoncangan dahsyat. "Berhenti Kiran! Sudah cukup semua air mata ini!" katanya dengan wajah sedih. Ia masih terus mencoba menenangkanku dalam pelukannya. "Aku sangat rapuh. Semua yang kulakukan salah! Di mana letak kesalahanku? Waktu telah mengubah hidupku hingga hancur seperti ini. Enggak seorang pun menghargainya." Isak tangisku terdengar menyeramkan meratapi betapa susahnya hidup ini. "Kamu orang baik, Kiran. Hanya orang baik yang bisa melihat kebaikan hatimu." Adrian memberi nasehat sambil mengendurkan pelukanku. Mungkin dia merasa tidak enak jika terus dipeluk. Rasa kegoncanganku sedikit mereda dengan kehadirannya. Ketakutan selalu datang menghantuiku setiap saat. Setelah aku cukup tenang, Adrian mengantarku pulang ke rumah tanpa mendapatkan informasi kenapa aku menangis. Ia juga tidak tahu siapa Gopar yang sebenarnya karena aku berusaha menyembunyikan semua itu. Adrian berjanji malam ini dia akan datang ke rumahku untuk mengobrol bersama dan menghabiskan malam ini bersamaku. Aku tidak bisa menolaknya karena hatiku merasa dilema sekarang—antara harus membenci musuhku atau mencintai salah satu dari mereka. Haruskah aku mencari jawaban dari masalah ini? Aku mulai meradang. Hal ini tidak boleh terjadi. Musuhku tidak pantas dicintai, mereka hanya boleh mendapatkan penyiksaan yang membuatnya jera, mereka harus putus asa, tidak mendapatkan cinta dan kasih sayang yang bisa membuatnya angkuh dan tidak menghargai seorang wanita. Tahu sendiri kan kalau wanita tidak bersalah, bahkan memikul beban berat dibanding seorang lelaki? *** Malam harinya aku duduk di taman sendirian ditemani suara binatang malam dan angin sepoi-sepoi. Adrian belum datang juga padahal sudah dua jam aku duduk di sini bersama rasa pegal-pegal. Tanganku tidak bisa berhenti menghitung jutaan bintang. Lama-kelamaan mataku terasa ingin terpejam. Tepat saat mataku sudah terpejam, Adrian tertawa melihat tubuhku akan menubruk kursi akibat rasa kantuk. Dia mulai duduk di sebelahku dan bercerita banyak tentang kegiatannya hari ini. Kami mengobrol ringan dan aku terkadang tertawa mendengarkan hal lucu yang dikatakannya. Namun tiba-tiba aku teringat sesuatu hingga tanpa sadar aku menghentikan cerita Adrian. Tanganku memegangi kalung yang ada di leherku. Dia membuka suara seolah berpura-pura menanyakan bundaku ada di mana. Aku menjawabnya bahwa Bunda sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi tentu saja aku tidak memberi tahu penyebab kematiannya. Ceritaku selesai dan Adrian tidak berkomentar apapun. Ia hanya mengangguk-angguk mengerti. Lalu aku juga memperlihatkan kalung peninggalan Bunda yang terakhir, kemudian aku berkata bahwa setiap saat aku sangat merindukannya. Sayangnya Bunda tidak pernah hadir dalam mimpiku. "Apa kamu mau melihat Bunda mu setiap malam?" tanyanya tersenyum tenang. Mau banget. Suaraku ringan dan terdengar senang. "Coba kamu lihat di atas sana.” "Yang mana?" tanyaku heran. "Di atas, yang kecil itu.” "Bintang?" aku terpesona dan mulai mengerti. Adrian mengangguk mengiyakannya, dan mengatakan bundaku ada di sana dan selalu melihatku setiap saat. Kapan aku bersedih, pasti Bunda ikut bersedih, kapan aku tertawa, beliau pasti ikut tertawa. Aku tersenyum mendengar kalimat Adrian. Ah, mungkin benar kata Adrian, Bunda ada di sana. Tanpa diduga, sebuah bintang jatuh dari atas sana. “Tutup matamu dan bayangkan wajah Bundamu ada di sana." Adrian menutup mataku dengan tangannya. Alhasil saat mataku terpejam aku benar-benar melihat wajah Bunda tersenyum. Betapa bahagianya hatiku sampai-sampai tanpa sadar aku meneteskan air mata bahagia. Aku ingin sekali memeluk Bunda tapi bayangan itu hanya terlihat sekilas. Adrian cukup menghibur walaupun hanya adegan sekecil itu. "Saat kamu sedih dan merindukan Bundamu, coba pandangi bintang. Saat ada bintang jatuh, bayangkanlah wajahnya... Ucapkan satu harapan." Detik itu pula aku sadar. Detik itu pula hatiku terbuka. Detik itu pula aku tahu, kalau Adrian, orang yang kumanfaatkan selama ini, orang yang sudah kupermainkan perasaannya telah membuatku benar-benar jatuh cinta. Apakah aku salah jika jatuh cinta pada musuhku, apalagi melupakan dendam yang selalu kusimpan selama ini? Kenapa cinta datang? Kenapa cinta datang padahal aku tidak boleh jatuh cinta? Tindakan apa yang harus kulakukan untuk menangani musibah besar yang mengancam hidupku ini? Mungkinkah cinta memperdayaku sekarang sehingga membuat pilihan sulit bahkan sangat sulit untuk kuhadapi? "Salahkah jika seseorang jatuh cinta pada musuhnya sendiri?" pertanyaanku itu tiba-tiba meluncur dari bibirku. Aku tidak menoleh dan terus menghadap ke atas langit. "Cinta enggak pernah salah, Kiran. Saat cinta datang, enggak ada yang mampu menolaknya, terutama dirimu sendiri," jawabnya dengan nada datar. Aku tercengang, kata-kata itu hampir sama dengan definisiku tentang cinta yang dijelaskan Firza tadi sore. Aku menghela napas dengan berat. Dulu aku mengerti kasih sayang dan cinta, namun keluargaku berantakan karena dua hal itu. "Cinta enggak ada yang benar! Cinta itu menyakitkan." "Siapa bilang cinta menyakitkan? Kamu enggak akan tahu rasanya cinta kalau kamu enggak mencobanya. Jatuh cinta itu enggak dilarang, cuma saja, ada batasan antara laki-laki dan perempuan. Mereka harus menjaga hati satu sama lain agar iman kita enggak goyah. Karena apa? Karena iman yang goyah bisa mengundang nafsu." Adrian melepaskan senyuman singkat. Sekali lagi aku menghela napas dengan berat. Astaga. Orang seperti Adrian jarang kita dapatkan, apalagi dia berusaha mengubahku menjadi lebih baik. Hatiku menjadi ragu-ragu, apa benar yang kurasakan ini cinta? Apa semuanya nyata? *** Hari demi hari berlalu dengan cepat. Rasa cinta itu belum merasuki ruang hatiku, dan ketakutan masih menghantui sehingga aku tidak mau terlena dalam keindahan itu. Biarkan cinta menjalankan perannya. Adrian selalu saja mampu membuatku nyaman, tapi belum sepenuhnya berhasil membuatku jatuh cinta. Dia boleh saja memenangkan ku, namun tidak dengan hatiku. Cukup sudah sakit yang kurasakan selama ini. Sepulang kuliah aku mencari Adrian. Tapi lelaki itu tidak kutemukan di mana-mana. Satu persatu ruangan kumasuki namun Adrian tidak ada di sana. Sangat mengherankan, baru kali ini rasanya dia membuatku kelelahan mencarinya. Oh ya, beberapa hari ini Calissa juga menghilang. Gadis itu sudah banyak berubah, sikapnya yang cerewet dan manja menjadikannya sahabat paling baik di sekolah ini sudah berubah total dan sekarang malah menghilang. Padahal, baru tadi pagi aku melihatnya dan sekarang dia menghilang lagi. Sedangkan Andi, dua minggu ini ia meminta izin keluar kota untuk menemui papanya yang sedang sakit. Aku sendirian sekarang. Firza tidak lagi peduli padaku, bertegur sapa saja tidak mau, apalagi menatapku. Apa aku begitu berdosa di matanya? Atau dia merasa jijik pada si cewek piala bergilir? Kakiku lelah berputar di semua ruangan mencari Adrian dan tenggorokanku haus. Aku langsung membeli minuman dan berniat duduk saja di perpustakaan untuk melepaskan lelah. Beberapa hari ini aku sudah tidak pernah ke sana. Aku sudah sampai di depan pintu perpustakaan.... Dan tidak sengaja mendengar suara obrolan. Aku berhenti sejenak, dan mendengarkan obroloan itu tanpa melihat siapa orang di balik obrolan tersebut. Telingaku terpasang baik-baik untuk mencerna kata demi kata yang keluar dari mulutnya. “Mau bilang apa sih? Kenapa kamu mengajakku ke sini?” "Sebenarnya sejak awal aku enggak punya perasaan apa-apa pada wanita piala bergilir itu. Niatku cuma manfaatin dia.” Hatiku mulai gundah. Itu suara cewek dan cowok. Siapakah orang yang di dalam itu? Cewe piala bergilir? Apa itu aku? Cuma aku yang disebut cewek piala bergilir di sekolah ini, oh tapi baiklah, aku tidak mau berprasangka buruk. “Berarti siapa orang yang kamu cintai selama ini?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN