Terungkap

1164 Kata
Tidak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat Andi dan Gopar sudah melakukan pertukaran pelajar selama dua bulan di kampus kami, dan tinggal sebulan lagi olimpiade diselenggarakan. Selama itu pula Andi memberi seribu langkah untuk mencari perhatianku dan Adrian tidak tinggal diam menghalangi tipu daya muslihatnya. Hari ini aku terlambat pulang kampus karena masih mengerjakan soal yang harus kuselesaikan, dan Adrian tetap setia menungguku sambil menghibur diri dengan bermain basket di lapangan bersama teman-temannya. Ruanganku sudah sepi, hanya aku dan Gopar yang ada di dalam, dan matanya tidak berhenti menatapku dengan pandangan kagum. "Lagi sibuk?” "Iyalah, kamu lihat, Kan aku mengerjakan soal." Mataku masih fokus dengan tugas latihanku. Baru saja aku menoleh dan Gopar masih duduk di sana. Tapi sekarang dia sudah berdiri di depanku. "Aku mau bicara sesuatu." dia berbicara dengan nada gugup. "Bicaralah! Aku mendengarnya. Setelah bicara aku mohon keluarlah jangan menggangguku!" "Ini penting. Kamu tahu enggak, Andi sudah lama punya perasaan padamu." Gopar serius dan tidak berhenti menatapku sambil mendorong kaca matanya yang ingin jatuh dari posisinya. Aku berhenti menulis dan membentak Gopar. "Apa perlu aku menjawab pertanyaan mu? Tanpa kamu beritahu, aku sudah tahu Andi menyukai ku. Kamu ngapain sibuk ngurusin Andi suka sama aku atau enggak? bentakku memutar bola mata dengan jengkel. “Sebenarnya aku iri sama Andi, karena kamu memberi perhatian lebih ke dia. Sedangkan aku, enggak sedikitpun. Sikap kamu menunjukkan rasa jijik dan kamu enggak mau terima perasaanku." Dia mulai berubah, wajahnya tampak berkaca-kaca. "Itu urusanmu, bukan urusanku!” "Kenapa kamu enggak peduli Kirana? Kenapa? Kenapa? Apa kamu enggak mau menerima cinta dari seorang pengemis yang kekurangan harta dan tampilan fisik? Kapan kamu bisa menghargai perasaan orang lain? Di dunia ini semuanya adalah takdir. Kecantikan, kekayaan, dan jabatan itu sifatnya hanya sesaat. Tapi kenapa kamu menyakiti orang lain karena dia jelek dan miskin?" Gopar mendekatiku dan mengguncang kedua lengan ku hingga aku marah dan menghinanya. "kamu mau tahu alasannya? Biar aku jelasin, cuma sampah yang punya tampilan jelek dan miskin. Tujuan utamaku adalah membuat mereka menderita." dengan nada keras sambil mendorongnya ke belakang hingga mundur beberapa langkah. "Itu bukan salah mereka! Enggak ada satupun orang di dunia ini yang pengen jadi miskin dan jelek. Manusia hanya menjalani kehidupan dan Tuhan penentunya." nada bicaranya tinggi karena mungkin dia tidak terima perlakuanku. "Mendingan kamu ke Masjid sana, ceramah orang lain, jangan aku! Tentu saja salah mereka lahir ke dunia ini dengan tampang jelek dan miskin. Dan kamu termasuk orangnya." tawaku terdengar renyah, walaupun di dalam hatiku merasa takut pada setiap kata yang ku ucapkan hari ini. "Mata hatimu benar-benar sudah buta. Kamu enggak bisa bedain mana yang baik, mana yang buruk. Bahkan kamu enggak mengenaliku karena rasa angkuh mu itu." Ia menepuk meja dengan sangat keras. Tampaknya Gopar sudah benar-benar tersinggung dengan hinaanku hari ini. "Memangnya aku pernah mengenal mu? Enggak mimpi, Kan?" Aku semakin marah karena melihat si buruk rupa ini berani berteriak di hadapanku. Yang kulakukan sekarang adalah mengumpulkan semua alat tulisku dan bersiap meninggalkan Gopar. Ide-ide cemerlangku langsung sirna dalam sekejap. Tenagaku sudah habis hanya untuk berdebat dengannya. "Kalimat ini bisa jadi buktinya. Dengarkan baik-baik!" ia berteriak keras dan menghentikan langkahku. "Cinta itu tidak pernah salah hanya saja orang itu menjatuhkan hati pada orang salah." lanjutnya lagi. Aku terlonjak kaget. Siapa orang yang ada di hadapanku ini? Otakku masih mengingat sangat jelas kata-kataku itu dan aku menoleh karena ingin mendengar penjelasannya baik-baik. "Kamu siapa?" tanyaku. "Lihat baik-baik, siapa aku sebenarnya." Perlahan-lahan ia menaruh tasnya di meja, membuka kacamata dan tompel di pipinya. Wajahnya belum terlihat jelas karena giginya masih tonggos, lalu dia membuka gigi palsu yang tonggos itu. Aku bimbang dengan penglihatanku kali ini. Apa yang terjadi? Aku tidak sanggup mencerna semua yang dilakukannya. Gopar........ Siapa dia sebenarnya? "Aku adalah orang yang ada di masa lalumu dan masih punya perasaan sampai sekarang." Sekarang ia tersenyum tipis dan melangkah untuk memelukku. Reaksiku hanya menghindar karena tidak ingin disentuh olehnya walaupun kami sudah lama tidak bertemu. "Firza!" lirihku dengan bibir bergetar. "Tepat! Aku memang Firza." dia menunjuk dirinya sendiri dan berusaha meyakinkanku. Dia mulai menceritakan kenapa bisa sampai di sekolah ini. Firza adalah mantan pacarku sewaktu kelas 1 SMP. Aku pacaran dengannya sekitar sebulan dan memutuskan hubungan kami. Alasanku sederhana, aku merasa bosan dan uang yang diberikan padaku kuhabiskan dalam sekejap. Tapi uang itu tidak untuk kepentinganku sendiri, melainkan kubagikan pada anak-anak yang berada di panti asuhan. Setelah mencampakkannya, Firza sakit hati dan saat lulus SMA berusaha mencari tahu kampus baruku. Akhirnya ia berhasil menemukanku dan mengubah penampilannya agar dia bisa tahu sifatku sudah berubah atau tidak. "Jadi kamu datang ke sini untuk mata-matain aku? Kamu buang-buang waktu saja! Aku sudah enggak punya perasaan apapun padamu sekarang." teriakku ketakutan sambil memeluk bukuku. "Terserah, mau punya perasaan atau enggak, yang penting aku bisa pacaran sama kamu lagi. Mulai hari ini aku janji bakalan jadi orang terbaik dalam hidupmu." nada bicaranya serius. "Aku enggak pernah menunggu kedatanganmu di sini. Ingat sumpahku!" ancamku mencoba mengingatkan bahwa aku terikat pada sumpah mencapai misiku. "Sumpah, sumpah... Lagi-lagi sumpah itu! Sadarlah, Kirana! Sumpah kamu itu membawa bencana besar. Tolong terima perasaanku lalu putuskan mereka semua!" ia memegang tanganku dengan sangat erat dan memohon belas kasihan. Hatinya berharap aku dapat mengerti pengorbanan yang dilakukannya. "Siapapun kamu, setampan, dan sekaya apapun kamu, aku enggak bisa balik lagi sama mantan. Kamu harus mengerti kalau semua sudah berubah." Aku segera membelakangi Firza untuk pergi. "Kenapa kamu selalu memberikan penyiksaan? Dulu cinta, dan sekarang penolakan. Aku selalu berdoa seandainya hati ini dijatuhkan lagi kuharap Tuhan tak akan menjatuhkannya pada orang yang sama.” "Berapa kali aku harus mengatakannya, ikatan telah menjeratku. Mulai dari sekarang, lupain semua mimpi kamu itu." Aku memandang sinis ke arahnya. Firza mengepalkan tangan berusaha mengendalikan emosinya. "Baik... Aku akan melupakan semuanya bahkan aku lupa pernah kenal gadis angkuh seperti mu. Waktu yang akan membalas rasa sakit ku sekarang." Ia menyenggol lenganku dan mendahuluiku keluar kelas. Aku terpaku di tempat. Firza terlihat sangat marah dan menyimpan dendam membara. Aku tahu Firza tidak bisa melupakan kejadian ini, mungkin butuh waktu untuk bisa melupakan semua kelakuan dan keangkuhanku terhadapnya. Siap tidak siap aku harus terima pembalasan dari lelaki itu kalau lelaki itu memang berniat membalas perlakuanku. Perlahan hatiku mulai tidak kuat mendapatkan penghinaan dari orang lain. Hanya Allah yang mampu membuatku tetap berdiri kuat dan menjalani semuanya dengan semangat tanpa seorang teman pun. Oh. Aku melupakan satu hal. Masih ada Adrian. Dia pasti mengerti perasaanku. Kakiku melangkah gontai menghampiri Adrian yang ada di lapangan basket. Ia sudah menungguku. Setelah sampai di sana, napasku terengah-engah akibat berlari terlalu kencang. Buku yang kupegang kujatuhkan di lantai. Ketika mendengar suara buku terhempas di lantai, Adrian berhenti bermain dan melihatku ketakutan hebat. Teman tim basket Adrian mengerti kehadiranku dan pergi meninggalkan kami berdua. Aku bersimpuh di lantai dan ingin segera menumpahkan air mata. Semua yang ada di dalam pikiranku terasa bertabrakan. Apa memang yang kulakukan selama ini memang salah? Aku sadar semua kelakuan burukku bisa menyebabkan dosa, tapi semuanya bukan salahku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN