Aku tidak berhasil melanjutkan membaca surat itu karena air mataku mulai berlinang di atas surat itu. Sambil memukul kepalaku sendiri, aku menegaskan sesuatu lagi ke dalam diriku. Aku tidak boleh menangis untuk Papa, dia penyebab semua masalah yang kualami hari ini! Kakiku gemetar hebat, seluruh kekuatanku seketika sirna, dan aku duduk di anak tangga pintu sambil menunduk ke bawah dan menangis tersedu-sedu di sana. Aku benar-benar merindukan Bunda. Dunia telah merenggut semua kebahagianku. Surat itu kulempar jauh di depanku. Aku tidak ingin mengingat semua masa lalu buruk itu.
“Penjahat itu mengirimiku surat, Bunda! Aku enggak akan pernah bisa memaafkannya," teriakku di sela tangis yang meluluhkan harapanku.
Untung saja tidak ada orang yang melihatku, sehingga aku bisa puas menangis sendirian di anak tangga. Aku menunduk, menekuk lutut, dan air mata membasahi rokku. Tetesan demi tetesan mengalir begitu deras membawa semua kepedihan yang kupendam selama bertahun-tahun.
Tiba-tiba untaian telapak tangan menadah air mataku. Aku menoleh dengan sangat terkejut dan lagi-lagi lelaki ini sudah berada di sampingku.
“Tetesan air mata ini sangat berharga, Kirana. Kamu enggak pantas menangis. Aku enggak akan biarin air matamu terbuang percuma." Adrian tersenyum tipis dan duduk di sampingku. Aku butuh hiburan. Air mata ini tidak lagi sanggup dihentikan, aku butuh sandaran untuk menangis sampai aku merasa lega.
Hanya ada Adrian sekarang, dan aku tidak peduli siapa dia. Entah itu musuh atau teman, aku hanya butuh hiburan sesaat, menghentikan air mata yang sudah terlanjur dilihatnya.
Aku terus menangis. Rasa lelah mulai menyelimutiku, dan tanpa sadar kepalaku bersandar di bahunya.
Tampaknya Adrian ingin menolak tapi melihat keadaanku sekarang, dia mengurungkan niatnya untuk memberi batas-batas yang tidak sesuai dengan agama. Kami tidak melakukan apa-apa, hanya duduk bersebelahan dan berbagi masalah dalam diam.
Entah apa yang terjadi, tapi baru kali ini aku bisa merasakan kehangatan dan tidak terbesit kebencian sedikitpun. Aku menutup mata dan mencoba menenangkan hatiku. Tiba-tiba aku teringat masa lalu dan teringat Ian si malaikat penolongku. Hatiku berteriak senang begitu otakku mengingat Ian, karena tahu-tahu aku merasakan kelembutan dalam setiap hembusan napasnya.
"Menangislah Kirana! Bahuku selalu siap menjadi sandaran kesedihanmu. Enggak usah khawatir! Air mata yang mengalir bukan berarti kita lemah."
Tiba-tiba lelaki itu menyahut lagi, kali ini dengan nada rendah dan hati-hati.
“Selama ini kamu bohong. Kamu bilang Papamu enggak ada lagi dan aku baru tahu hari ini kalau Papamu masih hidup. Hentikan semua penyiksaan itu, Kirana."
“Dia bukan Papaku! Jangan sebut namanya lagi," jawabku kesetanan. Tapi Adrian dengan sabar menatapku dengan tulus. Air mataku masih terus mengalir, aku benar-benar rapuh sekarang.
Dia pelan-pelan menyeka air mataku dan melarangku menangis lagi. Adrian tahu aku kuat menghadapi rintangan yang kulewati sekarang.
***
Hari demi hari berlalu begitu cepat. Tidak terasa Andi dan Gopar sudah lima hari belajar di kampus ku. Setiap ada waktu luang dan kesempatan, mereka selalu memberi perhatian lebih, bahkan rela bersaing secara sehat, demi memperebutkan ku padahal mereka tahu aku adalah milik Adrian.
Ini jam istirahat dan aku sedang duduk di kantin bersama Adrian. Kami menikmati santapan makanan. Tiba-tiba aku memperhatikan gerak-gerik Adrian seperti ingin menyampaikan sesuatu.
“Hari ini kamu enggak usah repot-repot antar aku pulang karena.m..” suaraku terhenti karena sulit mencari alasan.
lSebenarnya aku sedang ingin lebih dekat dengan Andi. Dan sekarang aku bingung sendiri bagaimana caranya mengatakan hal itu pada Adrian. Walaupun aku tidak mempunyai perasaan apapun terhadap Andi, setidaknya aku harus menghargai Adrian sebagai pacarku.
"Karena anak baru itu dan kamu naksir sama dia."
Aku sangat terkejut. Saking terkejutnya sampai-sampai aku merasa jantungku berdebar kencang. Kenapa Adrian selalu bisa menebak semua pikiranku? Tidak salah lagi, Adrian pasti merasa jengkel mendengar hal itu. Ini saatnya menjalankan aksikumembuatnya marah dan mengakhiri hubungan ini.
"Kalau iya, kenapa? Ingat perjanjian kita! Apapun yang aku lakukan, kamu enggak boleh protes." aku menepuk meja hingga bergetar. Semua orang memperhatikanku dan tatapan mereka menuduhku sebagai wanita yang sangat garang.
"Bukan begitu, maksudku. Aku enggak melarangmu menyukai siapapun, aku hanya menebak pikiranmu, tatapan matanya datar."
"Banyak alasan!”
"Aku mohon, Jangan memperdebatkan masalah kecil jadi besar, Kiran." ia mencoba meyakinkanku.
Aku tidak berkata apa-apa lagi karena merasa jengkel. Tubuhku tidak sanggup duduk lebih lama lagi, aku bergegas berdiri. Tepat setelah itu, Andi datang menyapaku. Tanpa mempedulikan keberadaan Adrian, lelaki itu memberi perhatian lebih dan aku sengaja meladeninya untuk membuat Adrian cemburu setengah mati.
Matanya tidak lepas menatapku saat melihat Andi memegang kepalaku dengan sangat lembut, dan aku hanya tersenyum manis. Tiba-tiba saja Adrian berdiri dan menarik tanganku untuk segera pergi meninggalkan kantin. Sontak saja aku menolak dan mencoba melepaskan tangannya. Dia menarik napas dengan kasar, lalu menatapku dengan kejam.
"Kamu kembali saja ke ruangan mu sendirian!” teriakku mencoba mengusirnya.
"Untuk apa kamu tinggal lebih lama lagi di sini?" tanyanya sambil menatapku dengan bibir manyun.
"Berhenti memaksaku!" kataku sambil jariku menunjuk di luar sebagai isyarat untuk segera meninggalkanku.
"Dengarkan aku, sekali ini saja! Jangan membantah, kamu tahu aku memaksamu demi kebaikanmu sendiri, apalagi aku adalah...." nada suaranya ada jeda.
"Pacar bukan berarti bisa mengatur segalanya. Aku pikir kamu punya telinga dan bisa mendengar apa yang dikatakan Kirana tadi." Andi membuka suara dan segera menarikku lebih dekat ke arahnya.
Seketika itu juga Adrian mengepalkan tangan, dan ingin melepaskan tinju di wajah Andi. Untung saja dia bisa mengendalikan amarahnya.
Aku tahu Adrian benar-benar cemburu melihat Andi membelaku apalagi aku tidak menuruti perintahnya.
Terserah apa maumu sekarang. Kali ini suaranya meninggi dan dia menatapku dengan pandangan sinis lalu meninggalkan kantin. Bukannya mengejar, aku malah meladeni Andi sampai jam istirahat habis.
“Tenang saja, aku lebih mampu melindungi mu daripada Adrian," sahut Andi angkuh dengan nada meremehkan.
Aku bisa menebak, sekarang pasti Andi sudah mulai terpikat denganku. Ia tidak peduli bencana apa yang bakal mengancamannya nanti. Semua yang kulakukan ini hanya untuk menyukseskan misiku. Apalagi Andi ini kan murid baru yang tidak tahu mengenai labelku yang suka mempermainkan perasaan cowok.
Tunggu saja, dia akan menjadi mangsaku selanjutnya.
Sepulang kampus aku menunggu Adrian di depan gerbang. Baru kali ini dia tidak muncul untuk mengantarku pulang. Oh, okelah, mungkin hatinya masih kecewa dengan kelakuanku tadi dan sudah pulang duluan, meninggalkanku di sini.
Aku tidak mau ambil pusing karena toh masih banyak cowok lain yang siap mengantarku pulang. Mereka selalu menunggu hal itu—dapat duduk berdua dengan gadis secantik aku. Tapi sayangnya dari dulu aku begitu cuek dan sama sekali tidak berniat untuk meladeni mereka.
Semua orang sudah pulang, dan tinggal aku sendirian berdiri di gerbang menunggu kendaraan yang cocok untukku. Buatku, menunggu selalu jadi hal yang sangat menyebalkan. Tiba-tiba suara deruman mobil berhenti tepat di depanku. Perlahan kaca mobilnya terbuka, dan aku bisa melihat Andi tersenyum kegirangan melihatku berdiri sendirian di sini. Andi menawariku pulang bersamanya.
Kakiku sudah pegal-pegal menunggu sangat lama. Jadi, ini tawaran yang sangat tepatgratis, daripada harus berdiri di tengah panas matahari atau naik angkot yang di atasnya bau bermacam-macam.
"Ayo, naik!" tawarnya dan aku tidak bergerak sedikitpun.
"Enggak usah, aki enggak mau ngerepotin orang lain." aku berlagak jual mahal untuk meyakinkan Andi bahwa aku pantas untuknya.
"Masih mau berdiri lebih lama lagi di sini? tanyanya." Aku merasa kepanasan tidak ingin disengat panas matahari lagi.
Jadi, aku masuk ke dalam mobilnya. Di perjalanan, kami bercerita banyak dan menyadari kalau kami memang cocok. Tawa sering terdengar renyah. Tapi aku merasa aneh duduk di kursi empuk bebas dari sengatan matahari, karena tetap saja aku menyukai motor Adrian yang menerbangkan seluruh rambutku.
“Lamunin apa, sih? Cuek banget," Andi mengibas-ngibaskan tangan di depan mataku dan aku bangun dari negeri lamunan.
"Lagi fokus melihat jalan raya," kataku berbohong. Aku berdoa dalam hati mudah-mudahan lelaki ini tidak mengetahui isi otakku sekarang yang sedang memikirkan Adrian yang marah.