Orang baru

1142 Kata
Dua minggu kemudian, aku duduk di taman kampus sendirian dengan jaket tebal beserta topi. Tidak lupa kaca mata tebal gagangnya bertengger di telingaku. Hal ini memang sengaja kulakukan demi menghindari Adrian dan para pria lainnya. Aku sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun juga karena sibuk mengerjakan tugas. Tapi beberapa menit kemudian, Adrian sudah berada di sampingku sambil menyodorkan kue tart. Dia tidak mungkin lupa bahwa hari ini adalah anniv month kami yang kelima—hal romantis yang selalu dilakukannya setiap bulan demi memberiku kejutan dan merayakannya. Cuma Adrian satu-satunya pacarku yang bersikap berlebihan seperti itu, bertingkah sangat romantis. Pertanyaanku menerjangnya bagaimana mungkin dia bisa menemukanku padahal aku menyamar dan tentunya siapapun pasti sulit mengenaliku. Adrian hanya menjawab singkat, jika cinta yang menuntunnya datang kemari menemuiku, mengingatkan tanggal jadian kami. Dia menyuruhku meniup lilin dan aku melakukannya tanpa mengucapkan harapan apapun. Sebagai hadiahnya, dia memberikan bingkai biru dengan foto kami berdua di pasar malam. Jujur saja, semua kejadian itu masih terekam jelas dalam otakku. Cerita malam itu tidak akan ada habisnya, sedangkan sifatku masih tetap sama selingkuh terang-terangan di depannya. Aku segera meninggalkan taman dan bertemu Calissa. Raut wajah gadis itu tampak ceria dan tidak menyembunyikan kekesalan sama sekali. “Ada kabar baik, Kirana! Dua orang mahasiswa tampan dari kampus Trisakti akan mengikuti pertukaran pelajar di kampus kita. Mereka akan belajar selama satu bulan. Yang paling menyenangkan lagi, mereka memilih ruang kelas kita." Calissa menunjukkan ekspresi girang luar biasa. Aku membelalak setelah mendengar kata pria tampan. Baiklah, ini mangsa baru yang akan menjadi targetku selanjutnya. "Kesempatan selalu berada di pihakku! Aku enggak sabar punya pacar baru. “Benar! Ini kesempatan besar untukmu. Kesempatan enggak boleh disia-siakan. Kami enggak usah takut ya, Adrian pasti mengerti. Lebih baik kamu incar kedua orang ini! Mereka pasti terpesona dengan kecantikanmu." Sorot mata Calissa terlihat aneh ketika mengatakan hal ini. Aneh ya? Kenapa aku merasa gadis ini seolah sedang menyusun sebuah rencana? Rasa bingung benar-benar bertengger dalam otakku karena rasanya baru kali ini Calissa mendukungku untuk memanfaatkan orang lain. Oh, tapi baiklah, aku tidak mau berpikiran jelek tentang sahabatku ini karena dia sudah sangat baik. Tiba-tiba saja, suara hentakan sepatu beradu memasuki ruang kelas. Aku menduga itu pasti mahasiswa yang dibicarakan Calissa tadi. Hatiku mulai bergoncang karena tidak sabar melihat wajah tampan mereka. Saat pria pertama masuk, dia sukses memikat hatiku yang membuat mataku sulit berkedip. Tapi begitu pria kedua masuk, aku langsung menghembuskan napas jengkel. Pria yang kedua ternyata super duper jelek. Giginya tonggos, wajahnya dihiasi kaca mata tebal, dan tompel lebar hampir memenuhi pipi kanannya. Mereka duduk di kursi yang tidak jauh dariku. Sewaktu melihatku, tatapan mereka tidak lepas memandangiku begitu dalam. Bahkan pria bertompel itu sampai tersandung karena tidak memperhatikan jalannya. Semua teman-temanku tertawa keras melihat pria bertompel itu hampir terjatuh. Pria tampan itu menghampiriku. "Boleh kenalan, enggak?” "Iya." Aku tersenyum lebar dan tidak ingin melepaskan kesempatan emas untuk mengenalnya lebih dekat. Ah, benar kata Calissa, mereka benar-benar terpikat oleh kecantikanku. "Kenalin namaku Andi Wijaya. Kalau kamu?” "Kirana Citra Lestari.” "Kirana? Menurut bahasa Sansakerta, Kirana mempunyai arti cantik. Nama yang sangat sesuai dengan pemiliknya." Dia tertawa sambil memegang kepalaku, tapi aku menjauhkan tangannya dan berusaha sok jual mahal agar Andi semakin tertarik dengan sikapku. pria bertompel itu juga tidak mau kalah dengan Andi, ia malah memaksa menarik tanganku untuk berkenalan. "Tunggu! Aku juga ingin kenalan. Namaku Gopar Terewilius, warga keturunan India. Nama kecilku Opar, bisa juga dipanggil Wilis atau Rewil. Aku sudah 10 tahun tinggal di Indonesia tanpa keluargaku. Aku berusaha sendiri mencari pekerjaan sebagai OB dan...." mulutnya mencerocos dan tidak bisa berhenti bicara. "Cukup. Aku enggak tanya tentang biografi hidupmu." Aku menatapnya dengan pandangan galak. Gopar kembali melanjutkan kata-katanya, walau sekarang dengan nada suara yang lebih kecil, "Terserah. kamu mau memanggilku nama apa?” “Nama yang aneh sesuai wajahmu yang jelek itu."Aku sedikit mengomel dengan nada suara rendah yang hanya bisa didengar oleh Gopar. Mungkin kalimatku sedikit menyinggung perasaannya, tapi aku tidak peduli. "Kami benar mahasiswa pertukaran pelajar dari Trisakti?" "Begitulah. Aku pergi duluan ya, karena ada urusan penting yang harus aku selesaikan." dia mengucapkan kata perpisahan, lalu pergi dengan Gopar yang mengekor di belakangnya. Calissa duduk termenung di dekatku dengan tatapan kosong. Alhasil suaraku menggelegar di telinganya. "Sumpah, aku terbius dengan keramahan Andi! Pokoknya aku harus mendapatkannya. Mau enggak mau dia harus jadi milikku! Kamu setuju, Kan, Calissa?" mataku masih menatapnya. "Iyalah. Kamu bisa rugi kalau kehilangan orang sekeren Andi!" Calissa membalikkan tubuhnya dan mencoba menyemangati ku. "Tenang, tenang. Kita tunggu saja tanggal mainnya." Aku menjawab dengan sangat angkuh. "Tapi bagaimana nasib Adrian saat dia tahu kamu jatuh cinta lagi? Apa kamu enggak memikirkan perasaannya?" sahut Calissa dengan wajah lesu. Aku menyentuh kedua pipinya dan berusaha meyakinkan kalau pilihanku menambah pacar lagi adalah benar. "Dia pasti mengerti kelakuanku. Lagian Adrian cinta banget sama aku, jadi apapun yang aku lakukan enggak akan jadi halangan buat hubungan kami. Aku enggak cinta dengan siapapun, dia cuma partner incaranku." Mataku mengatup berusaha meyakinkan hatiku bahwa apa yang kulakukan benar. "Sebesar apapun cinta, jika sering tersakiti pasti akan hancur. Ibarat sebuah batu karang yang dihantam ombak berkali-kali, pasti melunak juga. Adrian itu manusia biasa yang memiliki hati, aku takut karena terlalu cinta sama kamu, itu bisa menghancurkan hidupnya. Saat dia sudah hancur, kamu bakalan sadar betapa pentingnya Adrian untukmu." Calissa merengut, sulit membayangkan masa depan itu. "Apa peduliku?” "Karma pasti menghukummu jika kamu selalu egois seperti itu." Suaranya mulai meninggi. "Aku bersikukuh tetap pada pendirianku, karma tidak akan berlaku untuk hidupku, Lupakan saja. Aku enggak mau bahas masalah ini lagi." "Suatu saat nanti kalau ada yang merebut Adrian dengan cara paksa, jangan pernah menangis!” Aku tertawa keras, "Itu mustahil, Calissa." "Lihat saja nanti. Kamu akan menyadari betapa pentingnya Adrian." Air mata Calissa mulai merebak karena tidak tahan dengan sifat egoisku yang terlalu besar. Akhirnya gadis itu berlalu dan meninggalkan kursinya. *** Sesampainya di rumah, aku mendapatkan sepucuk surat terselip di pintu rumahku yang tertutup. Tante Rani belum pulang dari kantornya karena hari masih siang. Aku meraih dan membaca nama pengirimnya. Amarahku langsung bergejolak begitu melihat nama pengirim surat itu. Akhirnya, untuk pertama kalinya aku mendapatkan surat darinya. Sulit dibayangkan setelah sekian tahun, baru kali ini orang itu mengirim surat untukku dan menanyakan kabarku. Papa, aku mengejanya dalam hati. Aku tidak tahu harus menyalahkan siapa. Apa aku harus marah pada Tuhan, atau marah pada takdirku yang merenggut semua kebahagianku di masa lalu? Aku ingin langsung merobek surat itu, tapi aku sadar, bagaimanapun orang itu pernah hadir dalam hidupku dan pernah membuatku bahagia. Hati ini tidak akan tega melupakan semua jasanya. Jadi dengan perasaan yang sulit kukenali, aku membaca surat itu. Untaian kata-kata singkat tertulis di dalamnya menggambarkan kalau beliau sangat merindukanku dan ingin kembali berkumpul menjadi keluarga bahagia. Dia sangat kesepian dan tidak sabar ingin melihat wajahku lagi. Dia rindu denganku. Dia kangen. Dia ingin bertemu denganku. Dia masih mencintaiku seperti dulu. Dia.......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN