Angin pagi berhembus pelan bersamaan dengan suara panggilan para pria yang menyerukan namaku. Mereka sudah tahu aku adalah pacar anak dari rektor kampus ini, namun masih tetap saja menggodaku dan mencoba memikat hatiku. Adrian sendiri setia di belakangku membantuku membawa tasku dan tumpukan buku.
Pacar yang baik hanyalah Adrian. Saat panas matahari datang, di manapun aku melangkah ia siap sedia menyiapkan kipas kertas. Saat hujan mengguyurku, payung selalu setia berteduh di atas kepalaku. mahasiswi bersorak lagi dan saling bergunjing satu sama lain atas perbuatan yang kulakukan pada Adrian dengan menjadikannya pengemis cinta dan selalu siap melakukan apapun tanpa protes.
"Sekarang kamu sudah puas dapatin cinta Adrian? Dan kamu menyia-nyiakannya gitu saja. Seandainya aku berada di posisimu, aku enggak bakalan sanggup buat dia menderita. Bahkan aku rela yang mengemis cintanya setiap saat." Salah satu cewek berbicara dengan lantang mengajukan protes berat.
"Gue tahu apa yang harus aku lakukan." Aku menatap mereka dengan sinis.
"Suatu saat nanti kamu akan menangis menyesali perbuatanmu sama Adrian." Salah satunya lagi berseru dengan jengkel.
"Itu urusan belakangan, sekarang aku cuma mau menikmati penderitaan semua para pria," jawabku tak peduli.
Mereka semua harus merasakan neraka dunia. Bunda, aku akan membalaskan dendammu pada makhluk-makhluk tidak punya perasaan yang menyakitimu. Aku tidak akan pernah puas melihat mereka menderita.
Aku memasuki ruangan dan melihat Calissa membaca buku dengan serius. Akhir-akhir ini Calissa sangat pendiam. Saat jam istirahat tiba ia sering menghilang begitu saja dan kali ini aku tidak akan membiarkannya pergi lagi.
"Hei, kamu lagi ngapain?”
"Baca buku," jawabnya dengan singkat tanpa menoleh sedikitpun. Tidak ada kecerian di wajahnya lagi.
"Oh ya, kantin yuk! Kamu sudah lapar, Kan? Aku yang traktir."
"Malas."
"Kok gitu, sih!”
"Maaf, aku lagi sibuk." Spontan berdiri dan berusaha menghindariku.
"Sahabat itu saling mengisi kekosongan. Akhir-akhir ini, kamu aneh. Kamu selalu berusaha menghindariku. Salahku apa?" wajahku merunduk takut kehilangan Calissa yang sudah lama menjadi sahabatku.
"Kamu enggak punya salah, aku cuma mau sendiri.”
"Ikut sama aku, ya! Makan di kantin. Yah?" mataku meradang memohon belas kasihan Calissa akhirnya setuju menerima permintaanku ini.
Sesampai di kantin ternyata Adrian sudah lebih dulu ada di sana.
"Kiran, sini!" ia melambaikan tangannya. Aku bergegas menghampirinya bersama Calissa.
"Enggak! Aku pengen makan sama Calissa," pungkas ku santai.
"Makan sama Calissa, juga bisa di sini.”
"Baiklah, kita di sini saja." Calissa yang bersemangat menarik kursi untuk duduk.
Beberapa menit kemudian pesanan sudah ada di meja. Aku hanya manggut-manggut menatap hidangan yang sama sekali tidak menggiurkan bagiku. Tiba-tiba Adrian menyuruhku membuka mulut, aku menurutinya, dan ia menyuapiku satu sendok mie kuah.
Calissa menatap sikap Adrian dengan pandangan yang...... aku sulit mendeskripsikannya.
“Kamu masih mau? tanyanya.
"Ini sudah cukup." Aku menolak tawarannya.
Calissa tidak berhenti menatap kami. Ada perasaan tidak enak yang diam-diam menyusup dalam dadaku. Lagi-lagi Adrian menyuapiku dan bersikap sangat romantis. Okelah, kali ini aku mengerti perasaan sahabatku yang satu ini. Tatapan Calissa kosong, dan dari wajahnya aku tahu kalau gadis itu sangat sedih dan kecewa.
“Sudah gue bilang berhenti! Apa kamu tuli?" aku memukul meja. Menyiram segelas minuman ke seragamnya.
Calissa tampak kaget dengan sikapku, lalu dia memperingatkanku. "Kirana! kamu harus minta maaf." Tatapan matanya mulai memanas. Sepertinya baru kali ini Calissa bersikap segalak itu.
"Enggak!" aku segera meninggalkan mereka berdua. Walaupun begitu hatiku tidak benar-benar tenang. Jadi kuputuskan untuk berhenti sebentar di salah satu meja yang agak jauh dari mereka untuk mendengarkan percakapan terakhir kedua orang tersebut.
“Kamu enggak apa-apa? Maafin Kirana atas sikapnya tadi.”
"Aku yang salah, aku ke toilet dulu untuk membersihkannya."
Kemudian gadis itu berdiri ketika Adrian sudah benar-benar melangkah ke toilet. Aku buru-buru berjalan cepat ke arah kelas.
"Sikap kamu tadi benar-benar keterlaluan." sembur Calissa begitu dia menemuiku di kelas.
"Keterlaluan bagaimana? Dia yang tuli enggak dengerin kata-kataku." aku berbicara dengan santai.
"Kasihan Adrian, cintanya terlalu besar sampai-sampai dia enggak bisa marah. Seandainya orang lain yang melakukan itu, aku yakin pasti akan membalasnya.”
"Salah sendiri mau jadi pacarku. Berapa kali aku menolaknya, tetap saja dia ngotot menerima semua kelakuanku." balasku dengan enteng.
"Tapi permainan kami sudah cukup! Entah berapa banyak hati tersakiti karena kelakuanmu itu, Kirana."
"Sampai kapanpun aku enggak akan berhenti sebelum mereka semua hancur." Aku tertawa kecil dengan ekspresi meremehkan, sedangkan Calissa tampak kesal melihat ekspresiku yang seolah bersenang-senang di atas penderitaan orang lain.
"Emang kamu bisa pacarin satu persatu semua lelaki di dunia ini? apa salah mereka? Kenapa kamu tega lihat mereka menderita, Kirana?"
"Cuma mau cari mainan baru buat koleksi.”
"Mereka bukan mainan, mereka manusia yang punya hati. Dengarin aku! Jangan pernah menyesal jika nanti waktunya datang kamu yang akan menangis dan mereka akan tertawa di depanmu." Calissa sambil melempar tatapan marah lalu meninggalkanku begitu saja.
Aku terdiam dan membiarkan sahabatku itu menyingkir. Sekarang, aku duduk di perpustakaan sendirian membaca buku ketika tiba-tiba suara mikrofon terdengar jelas dari ruang kantor, mengumumkan sesuatu untuk semua mahasiswa, Tampaknya informasi ini cukup penting. Aku berhenti membaca buku dan menyimak kata-kata yang terdengar.
"Perhatian sebentar! Ada informasi penting untuk kalian. Kampus kita akan mengadakan berbagai lomba antar kampus tingkat nasional. Bagi murid-murid yang terpilih untuk mewakili kampus, silahkan lihat di papan mading karena nama kalian sudah tercantum di sana. Sekian pengumuman dari pihak kampus, terima kasih."
Beberapa saat kemudian suara dari speaker tersebut tidak terdengar lagi, sedangkan semua orang yang ada di perpustakaan mulai berhamburan keluar menuju papan mading kampus untuk melihat siapa yang terpilih untuk mewakili kampus dalam lomba tersebut.
“Nama kamu tercantum di papan mading. Kita terpilih dalam lomba pidato bahasa Inggris tahun ini”
Aku menoleh dengan kaget. Lagi-lagi lelaki ini.
“Apa? Enggak mungkin kamu bisa terpilih. Aku enggak sudi ikut lomba sama kamu," semburku berusaha meremehkan.
"Setuju enggak setuju, kamu harus terima keputusan itu. Kalau enggak percaya, kita lihat pengumumannya di papan mading sekarang." tambahnya lagi sambil menyeret lenganku keluar dari perpustakaan.
Sesampainya di sana semua orang sudah mengerumuni papan mading. Saat Adrian melewati mahasiswi, beberapa gadis itu berteriak histeris sampai-sampai teriakannya sukses membuat telingaku mau pecah.
"Adriaaan..... Adriaaann...." salah satu dari mereka berteriak nyaring.
"Kak Adrian keren banget. Pengen punya pacar seperti Kakak!" junior ku mencubit pipi Adrian penuh kegemasan tanpa memperhatikan kehadiranku di sampingnya. Mereka sangat menyebalkan karena menebar senyuman. Adrian berhenti sejenak meladeni pujian-pujian yang mereka lontarkan. Perasaan panas dalam dadaku mulai menggelora, ingin sekali mengatai mereka ‘jangan ganggu pacarku’.
"Dasar mata keranjang!” suaraku setengah berbisik sambil tanganku meremas keras jarinya.
"Kenapa? Aku hanya membalas senyumnya. Jangan-jangan...." dia terlihat sedang menebak-nebak.
Aku langsung memotong perkataannya. "Pikiranmu kejauhan. Siapa juga yang cemburu." aku menatap sinis ke arahnya.
"Siapa juga yang bilang kamu cemburu." dia meledekku dan seketika itu juga pipiku merona karena menahan malu.
"Itu enggak penting!”
"Ya, sudah. Yang penting, lihat ini, namamu dan namaku memang tertera di sini." Adrian menunjuk kertas pengumuman dengan sangat bangga.
Aku pasrah sekarang jika memang harus bekerja sama dengannya demi memenangkan lomba tersebut.
Ketika akan memasuki ruangan, Pak Idris menghadang kami dan spontan memelukku dengan erat. Adrian hanya tersenyum melihat ekspresi papanya yang langsung memelukku.
"Selamat, Nak! Kamu dan Adrian terpilih mewakili kampus dalam lomba tahun ini. Bapak harap kalian bisa mengharumkan nama kampus." pujian itu membakar semangatku. Dia melepaskan pelukan.
Semenjak beliau tahu aku pacaran dengan anaknya, Pak Idris semakin dekat saja denganku.
"Apapun akan kulakukan demi memenangkan perlombaan ini, Pak." Aku tersenyum tipis, menampakkan sederetan gigiku yang rapi dan mencoba meyakinkan beliau bahwa aku akan berjuang sekuat tenaga untuk itu.