Semuanya justru terbalik. Adrian malah merasa senang ikut bersamaku dan mengganggu kencan kami. Aku yang bodoh karena mengira semuanya bakal berjalan dengan mudah untuk membuatnya sakit hati dan meninggalkanku selamanya.
“Sudah cukup parasit itu ikut sama kita! Kamu lihat, kan kelakuannya berusaha sok manis di depanmu," ia agak marah sambil menyeret lenganku hingga aku harus sedikit berlari mengikuti langkahnya.
“Maafkan aku!”
“Ini memang salahmu!" Rama membentakku dengan mengeluarkan suara keras. Untung saja orang lain sudah keluar kecuali Adrian yang masih menunggu kami di dalam.
Diputuskan Rama lebih dulu adalah mimpi buruk bagiku. Sampai kapanpun tidak akan kubiarkan musuhku memutuskanku duluan.
“Jangan marah lagi, Sayang! Tenang saja, Adrian akan kusuruh pergi sekarang juga," kataku dengan suara menggoda.
"Aku memaafkanmu kali ini, tapi tolong usir dia sekarang dan kita akan bersenang-senang di tempat lain.”
"Tunggu, aku akan menyuruhnya pergi." pungkas ku menuruti perkataannya. lalu aku membalikkan badan untuk mencari sosok Adrian dan menyuruhnya pulang.
Selama di perjalanan Rama tertawa lepas bersamaku karena penghalang kami sudah pergi. Tapi.... kenapa ya? Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak? Apa ini pertanda buruk?
"Boleh enggak aku nanya sesuatu?”
"Ya?" tanyaku datar.
"Kamu sayang sama aku enggak?"
"Sayang bangetlah," jawabku bohong.
"Kalau memang kamu sayang sama aku, boleh enggak aku dapat sesuatu darimu." Matanya mulai berubah nakal dan dia menyentuh jemariku yang mendadak dingin. Entah mengapa, tiba-tiba muncul perasaan tidak enak lagi.
"Apa itu?" jawabku gugup.
"Perawan kamu, sebagai bukti cinta kamu sama aku. Kamu masih perawan, kan?”
Aku bungkam sulit mengeluarkan suara. Di saat yang bersamaan dia menghentikan mobilnya di tempat.... tempat apa ini? Kenapa aku tidak mengenal tempat ini? Mengapa di sini sepi sekali? Hanya ada pohon tinggi yang berkeliling.
Dia memulai aksinya, mendekatkan wajahnya ke arahku dengan tatapan mata penuh nafsu. Aku menoleh untuk menghindari tatapan matanya. Rama semakin mendekat. Aku terlonjak kaget dan refleks mendorongnya ke belakang. Sungguh, ini bukan sikap biasa lagi karena Rama sudah mulai bersikap kurang ajar.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" suaraku agak bergetar.
“Kita akan bersenang-senang, Sayang. Sesuai janjiku tadi. Kita akan membuat mobil bergoyang." Ia menghentikan langkahku yang ingin segera lari dari mobilnya.
Aku mulai menggigil. Oh, tidak. Jangan.... Jangan..... Baru kali ini aku memiliki pacar yang ingin melakukan tindakan bodoh.
Kenapa aku tidak sadar sejak tadi bahwa Adrian benar—Rama bukan pria baik-baik. Aku harus melarikan diri dan pergi dari b******n ini! Sekuat tenaga aku melawan Rama yang tidak berhenti menjinakkan ku menuruti kemauannya.
"Jangan coba-coba menyentuhku! Seharusnya aku percaya pada Adrian kalau kamu punya niat buruk. Aku menamparnya penuh kemarahan."
Dia meringis memegangi pipinya dan mengeluarkan api kemarahan.
"Sok suci! Kamu juga menginkanku, kan? Aku tahu kamu enggak perawan lagi!" Rama mulai berkata sembarangan.
"Jaga bicaramu! Aku berani bersumpah demi apapun juga kalau aku masih perawan. Aku juga berani tes keperawanan di rumah sakit. Mungkin kamu salah menilaiku tapi aku berkata jujur bahkan ciuman pun aku enggak tahu bagaimana rasanya.”
"Baguslah, berarti aku bisa jadi orang pertama yang mendapatkannya." Sekarang dia mencoba memelukku tapi aku berhasil mendorongnya ke arah setir mobil dan dahinya berdarah.
Tidak ingin berlama-lama di dalam mobil, aku berlari keluar dan memasuki setapak jalan kecil yang dipenuhi rumput dan pepohonan. Suaraku menggema di mana-mana untuk meminta pertolongan sedangkan lelaki itu masih mengejarku. Tanpa melihat jalan, kakiku tertusuk setumpuk kayu kering hingga mengeluarkan darah karena sebelah sepatuku tertinggal di mobil Rama.
Sekarang lariku tidak secepat tadi karena aku harus menahan sakit luar biasa. Beberapa detik kemudian, Rama berhasil menggapai punggungku dan menarik bajuku hingga sobek. Setelah itu, dia langsung menghempaskan tubuhku di rumput.
"Aku sudah berbaik hati dan kamu semakin melonjak. Jangan takut, Sayang, semua akan kulakukan dengan hati-hati. " Ia ingin menciumi wajahku sambil membungkuk.
"Lepasin aku, Rama! Kamu boleh minta apa saja dariku, asal jangan ambil bagian dari hidupku." Sekarang aku tidak bisa melakukan apa-apa. Seandainya saja kakiku tidak sakit, pasti Rama sudah kuhajar.
"Menghancurkan mu adalah kebahagianku." Ia mulai tertawa keras.
"Pikiranmu benar-benar kotor! Aku enggak sehina itu untuk siap melayanimu." aku meludahi wajahnya.
Rama semakin marah. Tangannya sudah siap menampar pipiku, namun tepat pada saat tangannya melayang, anehnya lelaki itu langsung saja ambruk dan jatuh di tanah. Aku terbelalak.
Mataku mendapati Adrian memegang balok berukuran besar. Oh. Ternyata dialah yang memukul kepala lelaki b******k ini hingga tak sadarkan diri. Detik itu pula aku bisa bernapas lega. Lagi-lagi orang ini menyelamatkanku. Mata Adrian membesar, tampak marah dan menatapku seakan ingin menelanku bulat-bulat.
"Dasar ceroboh! Aku sudah bilang jauhi orang ini!" sahutnya dengan nada marah.
"Kenapa kamu ada di sini? Kamu enggak berhak mencampuri urusanku. Aku enggak butuh rasa kasihan dari seorang Adrian!" bentakku tajam berusaha mempertahankan harga diriku.
"Keras kepalamu ini hampir saja membuatmu celaka! Aku enggak bisa bayangin kalau sampai aku terlambat datang. Mungkin hidupmu akan hancur dalam sekejap!"
Beberapa detik kemudian suasana sangat hening. Aku tidak menjawab perkataan lelaki ini karena dia memang benar. Akhirnya, ia mengulurkan tangannya dan membantuku untuk berdiri. Aku menghempaskan tangannya dalam satu detik karena merasa tidak butuh bantuan pada orang yang mengatakan bahwa aku ceroboh.
"Hidupku sudah hancur bahkan sebelum Rama menyentuhku. Hidupku hancur saat tinggal di Jakarta." Aku menutup wajahku dengan tangan. Semua berubah saat aku berada di Jakarta, hatiku jadi dipenuhi dendam kepada lelaki, batinku sedih.
"Kamu enggak hancur! Kamu orang kuat, aku yakin semua badai akan berlalu."
"Badai enggak akan berlalu. Saat badai berlalu sudah enggak ada lagi yang tersisa.”
"Semua tergantung pilihanmu sendiri." Adrian mencoba menasehatiku.
"By the way, kamu siap siaga juga ya. Aku pikir kamu benar-benar pulang ke rumah dan sudah tidur enak." Aku mengalihkan pembicaraan.
“Percuma kamu pintar kalau otakmu enggak dimanfaatin buat berpikir. Mana mungkin aku tinggalin orang yang berarti dalam hidupku bersama iblis seperti dia. Lebih baik sekarang kita pulang! Tante Rani pasti sudah mencemaskanmu." kata Adrian mulai berjalan tanpa mempedulikanku.
Adrian menoleh ke belakang dan melihatku masih duduk di rumput tidak memperhatikan kakiku yang berdarah.
"Ngapain masih mematung di sini? Mau menunggu Rama bangun dan mencelakai mu lagi?" ancamnya jengkel menarik tanganku. Aku masih tidak bergerak sedikitpun.
"Berhenti! Kakiku sakit...." aku sedikit meringis. Adrian menoleh, dan detik itu juga ia membelalakkan matanya setelah melihat luka di telapak kakiku.
Dengan siaga dia merobek separuh kaos T-shirtnya, lalu membalut lukaku pelan-pelan. Lelaki itu kemudian berdiri dan membantuku menopang tubuhku. Tapi ketika membantuku berdiri, Adrian langsung bisa merasakan punggungku tanpa sehelai kain pun karena Rama telah merobeknya. Matanya membelalak lagi. Adrian kemudian berhenti sejenak dan mengeluarkan jaket kulit putih yang dipakainya, kemudian memakaikannya ke tubuhku untuk menutupi punggungku.
"Kamu pantas dihargai,"
Ingin rasanya aku memeluknya erat. Sayangnya dia cuma bonekaku yang tidak pantas mendapatkan balasan kebaikan. Aku tahu aku salah namun mau bagaimana lagi aku tak punya pilihan.