Niat buruk

1204 Kata
Keesokan harinya aku duduk dan istirahat di kantin sambil menghabiskan makananku bersama Calissa. Matanya berbinar kegirangan menyampaikan sesuatu yang wajib kudengar. "Kamu tahu enggak, Adrian datang menemuiku tadi pagi dan memberiku lolipop. Lolipop ini hadiah paling istimewa dari Adrian, dan aku enggak akan pernah membuka bungkusannya sekalipun kadaluarsa. By the way, Dia menyuruhku datang untuk melihat pertandingan basket dan dia memintaku mengajakmu." Calissa memeluk lolipop itu penuh kegirangan seolah merasakan benih-benih cinta. Aku tahu Calissa menyukai Adrian sejak dulu, dan sekarang aku harus mengingkari janjiku sendiri. Apa hati ini tega melukai perasaan sahabatku sendiri? Tapi..... Tapi aku harus tetap menjalankan misiku dan mengorbankan perasaan Calissa. "Hmm...." jawabku dengan singkat, tidak memperdulikan ocehannya. "Kamu harus datang, Kirana. Aku enggak mau kecewain Adrian yang khusus mengajakku. Yah, yah, yah?" rayunya sambil tersenyum manis. “Iya, aku ikut.” “Makasih! Kamu memang sahabatku yang paling baik." Calissa berjingkat penuh kebahagiaan. Sesampai di lapangan, kami segera duduk di barisan paling depan dan mengisi tempat kosong. Hampir semua mahasiswi memenuhi kursi. Tampak Adrian sudah siap bertanding, sesaat matanya liar memandang satu persatu kursi penonton dan akhirnya tatapannya berhenti setelah melihatku datang. Lelaki itu tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Tapi aku diam tidak menampakkan ekspresi. Calissa dan beberapa mahasiswi di sampingku terlalu kepedean dan membalas lambaian tangannya. "Lihat kirana! Adrian menyapaku." Senyuman Calissa sangat lebar. Aku diam dan tidak berkomentar. Pertandingan bola basket dimulai. Adrian benar-benar lincah bermain, ia terlihat gesit melompat kesana-kemari dan memasukkan bola ke ringnya. Tanpa sadar, babak pertandingan terakhir berbunyi. Semua mahasiswa bertepuk tangan sambil berteriak keras karena tim basket kampus kami menang. Aku tersenyum sebagai ketua tim basket karena Adrian tidak sia-sia memimpin mereka. Setelah teriakan kemenangan usai, Adrian menghampiriku sambil tersenyum lebar. "Apa kamu enggak mau ucapin selamat kepadaku?" katanya sambil menggenggam tanganku. "Untuk apa mengucapkan selamat," ucapku singkat menatap dengan tatapan sinis ke arahnya. Sontak semua pandangan teralih pada kami, tampak rasa cemburu mulai menggeliat dalam d**a mereka, terutama Calissa yang duduk di sampingku. Tiba-tiba Adrian menyeretku ke tengah lapangan dan semua orang menyingkir, hanya kami berdua yang berdiri di sana. Aku melongo. Antara sadar dan tidak. “Aku mau mengumumkan sesuatu ke kalian. Kemenangan yang aku dapatkan hari ini berkat seseorang sangat istimewa dalam hatiku. Aku mau kalian jadi saksi betapa berharganya dia untuk ku. Orang itu adalah...." lelaki itu berbicara dengan sangat serius dan menampakkan kebahagian. Aku tidak sanggup berkutik di tengah lapangan. Berpasang-pasang tatapan mata ganas mengarah ke arahku sekarang. Semua orang bertanya-tanya siapakah orang itu. Aku bimbang mendengar ocehan para gadis itu bahwa orang itu adalah aku. Entah bagaimana reaksi mereka, adakah orang yang setuju aku dan Adrian pacaran? Mungkin saja tidak. "Kirana." Ia melirik sekilas ke arahku dan tersenyum tulus. Semua orang berteriak keras meluapkan rasa kecewanya. Adrian berlutut mengucapkan kata cinta lagi untuk kedua kalinya di depan umum. “Maukah kamu jadi pacarku?" lanjutnya lagi. Aku malu pada semua orang tapi perasaanku berteriak bahwa aku tidak akan menolaknya untuk yang kedua kalinya di depan umum. Adrian sudah beberapa kali mengucapkan kata itu dan aku bosan mendengarnya. "Ya, aku mau," Tidak ada satu pun penonton yang merasa senang, baik itu Kaum Adam atau kaum Hawa yang melihat kami jadian, kecuali teman-teman tim basketnya. Tanpa kami duga, sebuah lemparan telur busuk mengenaiku dan menghujam begitu cepat bahkan sangat banyak. Adrian langsung menundukkan kepala dan menjadi pelindung untuk melindungiku dari puluhan telur busuk itu. Sebagian penonton memilih aksi tragis melempar telur busuk sebagai penolakan. Teriakan membahana menyambar dengan cepat. “Adrian, apa kamu enggak malu punya pacar playgirl kayak dia?” "Apa kamu sadar Kirana cuma memanfaatkan mu?" terdengar suara orang lain lagi. "Apa kamu enggakgak mau mikir-mikir dulu buat jadian sama wanita kayak gitu?" makian dari orang lain terdengar lagi "Adrian, please! Sadar, kamu itu sempurna dan wanita itu terlalu murah untuk mu." "Adrian......" "Diam! Kalian semua jangan pernah menjelek-jelekkan Kirana di depanku.” Suara Adrian menggelegar. Sejenak tidak ada lagi yang berani bersuara. Namun mengejutkan, suara pria dari arah pojok menyahut dengan lantang setelah sekian detik lapangan sunyi senyap. "Sekarang tipuan macam apa yang kamu lakuin, Kirana? Sudah berapa banyak hati kamu sakiti dan sekarang kami mau nyakitin anak rektor kampus kita?" “Kamu enggak berhak bicara keburukan pacarku! Bisa saja kampus ini menendang mu jika kamu berani macam-macam. Ayo kita pergi, Kirana!" tangan Adrian mengapit lenganku dan menuntunku keluar lapangan. *** Hari demi hari berlalu. Adrian sudah benar-benar menjadi boneka berjalan. Lelaki itu bersikeras menjadi pacarku, bahkan ia rela aku selingkuh terang-terangan di depannya. Setiap aku meneleponnya untuk mengantarku berkencan dengan pacarku yang lain, Adrian setia menemani ke manapun aku pergi, bahkan dia menjagaku dengan baik. Di depan pacarku yang lain aku harus berpura-pura Adrian adalah sepupuku, agar pacarku tidak tahu. Sungguh t***l lelaki itu mau menerima perlakuan itu tanpa protes. Berita tentang hubungan kami sudah tersebar ke satu sekolah, bahkan guru-guru pun sudah tahu, walaupun para guru tidak mengetahui informasi bahwa aku seorang playgirl. Dan hari ini aku akan berkencan dengan Rama, pacarku yang keempat. Adrian menemaniku tanpa protes ketika aku menonton bioskop bersama Rama. "Kamu ini kenapa, sih selalu ngikutin aku?. Please, kali ini jangan ikutin aku lagi." Aku merasa geram. "Aku enggak yakin Rama itu lelaki baik-baik, jadi kamu enggak usah protes! Aku lebih tenang saat menemanimu di sana. Rama pasti enggak berani macam-macam karena tahu aku adalah sepupu sekaligus bodyguard-mu yang galak." Adrian pasti cemburu, batinku jengkel. Walaupun aku tidak melakukan ciuman atau pelukan hangat dengan Rama, lelaki itu pasti mencemburuiku. Aku memang playgirl tapi aku tidak murahan yang merelakan tubuhku pada seorang pria yang belum tentu jodohku. Selama ini aku menjadi playgirl hanya demi menjalankan misiku untuk menyakiti mereka semua. Bagaimana mungkin musuhku harus menyentuhku? Melihatnya saja aku muak apalagi mendapatkan sentuhan yang menjijikan dari mereka. Tidak masalah semua orang mengira aku murahan, atau aku w**************n. Mungkin saja mereka tidak tahu kenyataan bahwa aku merasa jijik pada semua pria terutama Adrian. Semenjak kejadian buruk itu terjadi, aku mati rasa tentang cinta. Hatiku hanya dipenuhi dendam yang tidak akan ada habisnya. Mobil Rama sudah bertengger di depan sebuah toko yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Aku bergegas masuk ke dalam mobilnya dan Adrian mengikuti dari belakang dengan motornya. “Kamu tahu enggak, setiap jalan sama kamu rasanya senang banget. Senyuman dan tatapan matamu enggak bisa hilang dari ingatanku. Apa kamu bahagia pacaran sama pria seperti aku?" tanyanya sambil menggenggam tanganku. "Iya." Hanya itu jawaban yang pantas untuk cowok angkuh seperti Rama. "Boleh enggak, aku minta sesuatu?” "Apapun itu," jawabku enteng sambil memandangi trotoar jalan. "Aku ingin setiap kita berkencan, Adrian enggak usah ikut. Dia sangat mengganggu," katanya dengan nada frustasi. "Adrian itu sepupuku dari Medan dan di tugaskan untuk menjagaku ke manapun aku pergi. Tapi tenang saja, aku akan coba bicara sama dia supaya berhenti mengikuti kita." aku tersenyum kecut. Apa salahnya mencoba, karena aku yakin Rama memang cowok baik-baik. Saat keluar dari bioskop Rama mengomeliku tentang Adrian yang sangat mengganggu karena menegakkan aturan harus ada jarak di antara kami. Memang benar, mata Adrian tidak berhenti memperhatikan hal yang ingin dilakukan Rama. Tapi menurutku seharusnya dia bisa bersikap biasa saja. Bioskop adalah tempat umum, jadi tidak mungkin Rama berani macam-macam. Lagian, aku juga bisa jaga diri, jadi buat apa Adrian bersikap seperti bodyguard padahal tujuanku mengajaknya hanyalah agar dia cemburu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN