I love you

1253 Kata
Malam harinya aku merenung di depan jendela kamarku sambil menatap langit yang dipenuhi bintang. Pikiranku mengulang kembali semua tragedi yang kualami di Medan. Mengingat semua kenangan pahit membuatku seperti tercekik sampai rasanya tidak bisa bernapas. Sakit dan fobia yang tidak bisa dilupakan dalam sehari selalu menguras air mataku hingga saat ini. Keluarga yang bahagia, penuh canda dan tawa berakhir hanya karena satu kesalahan fatal. Bunda pergi meninggalkanku sendirian, memikul beban berat. Dan Papa, aku tidak tahu bagaimana nasib lelaki itu sekarang. Apa dia masih mengingatku? Apa beliau masih menyayangiku dengan tulus seperti dulu saat kami bersama? Aku tidak tahu harus membenci Papa atau tidak, tapi faktanya dia seorang pembunuh yang membuatku menderita setiap hari karena kesalahannya. Orang seperti Papa tidak pantas untuk dimaafkan. Untuk apa aku peduli tentang perasaannya? Mungkin sekarang Papa sedang bahagia dengan wanita itu. Suatu saat aku percaya, Papa datang minta maaf dan aku tidak akan pernah memaafkannya sekalipun dia menangis darah di depanku. Beberapa tahun ini dia tidak pernah memberiku kabar lagi. Semua masalah seakan terselesaikan, tidak ada yang perlu kukhawatirkan tentang musuh besarku itu. Langit malam sangat cerah dipenuhi kilauan kerlap-kerlip cahaya. Aku memandangi bintang paling terang di ujung sana yang seolah menyapaku memancarkan sinarnya. Aku tersenyum mengingat Bunda. Dulu, Bunda senang sekali melihat bintang bersamaku. Tiba-tiba saja air mataku berlinang deras berjatuhan melewati daguku. Kenangan pahit itu sangat menyesakkan d**a. Untuk apa memiliki kecantikan, kepintaran, dan kekayaan jika hal itu tidak bisa membuat bahagia? Tanganku meraih kalung pemberian Bunda. Warnanya tidak berubah sedikit pun, tetap seperti dulu berkilau bagai bintang. Aku mengusap air mata, dan tiba-tiba saja ide baik terlintas ke dalam otakku. Oke, aku akan menghubungi Adrian agar lelaki itu datang kemari membawakan coklat lezat. Setelah berbicara sebentar dengannya, Adrian pasti tidak akan keberatan datang kemari walau waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Setelah kupikir-pikir, jika aku pacaran lebih cepat dengan Adrian maka semakin dekat menuju targetku menjalankan misi yang kususun baik-baik, yaitu menyingkirkannya dari hidupku, biar kupertegas aku tidak butuh rasa kasihan atas pengorbanan bodohnya. Bagus, beberapa menit kemudian, dia sudah datang membawakan coklat pesananku. Kami duduk di taman belakang, tepatnya di kursi panjang bercat putih. Tante Rani tidak keberatan kami keluar malam karena hanya di taman belakang rumah. Tampaknya Adrian bersikap biasa saja, tidak menunjukkan kejutan. Dia hanya menyerahkan setoples coklat bulat berbentuk love. "Tuan Putri. Jangan terlalu banyak makan coklat! Nanti kamu gemuk dan enggak jadi idola lagi di kampus." Adrian bercanda menyodorkan coklat yang dibawanya. Mataku langsung berbinar terang melihat coklat yang selalu sukses menghilangkan kepahitan hidupku. Coklat adalah makanan kesukaanku yang sangat cocok untuk mengobati suasana hati yang sedang buruk. Aku heran Adrian memanggilku dengan sebutan tuan putri, nama panggilan itu hanya orang tertentu saja yang tahu. Aku tidak mau memikirkannya lebih dalam, karena mungkin hanya kebetulan. “Makan coklat ada batasnya. Enggak ada yang lebih penting dari kecantikanku,” kataku sambil memasukkan tangan ke dalam toples. "Baguslah. Aku mau tunjukkan sesuatu." Dia menoleh ke samping. Adrian pasti mau memberikan kejutan romantis untuk menembakku malam ini. Aku tidak sabar dia berlutut di depanku, mengulurkan tangan seperti drama-drama romantis di TV. Saat dia melakukan itu, aku akan menendangnya. Aku tertawa membayangkan aksiku malam ini mempermalukannya. “Aaaahhhhh! Kamu sudah gila!” Sialan, hal romantis yang kupikirkan barusan ternyata bertolak belakang dengan kenyataannya. Adrian malah melemparkan ular mainan tepat di leherku. Ekspresiku tentu saja menjerit keras dan melompat seperti orang bodoh karena mengira ular itu adalah sungguhan. Suaraku terdengar jelas seperti orang gila. Rambutku seketika acak-acakan. Jantungku hampir copot akibat ketakutan hebat. Dia sukses membuatku merasa jijik pada binatang melata. Melihat hal itu, Adrian bergegas mengambil ular itu dan melemparnya jauh-jauh. Amarahku meledak. Aku mendekatinya dan menyemburkan kata-kata pedas. “Apa maksudmu melakukan itu? Kamu mau melihat ku mati berdiri ketakutan? Tadinya aku senang dan sekarang....... Benar-benar menyebalkan. Pergi dari sini! Aku muak lihat mukamu." Mataku menatap sinis dan aku meninggalkannya. Tanpa sengaja aku menginjak gundukan tanah dan Adrian langsung berteriak, "Jangan lewat situ, Kirana!” Aku menoleh, dan seketika itu juga ledakan petasan menggema di tanah. Suara ledakan itu sukses membuatku kehabisan napas. Sekarang, jantungku benar-benar terasa melayang. Adrian cepat-cepat menghampiriku dan aku tidak sengaja memeluknya untuk berlindung dari suara keras yang paling kubenci. Beberapa kali lelaki itu istighfar dan tidak membalas pelukanku. Hatiku merasa tenang berada dalam pelukannya. Suara petasan itu berhenti dan aku tersadar kembali dengan apa yang sudah kulakukan. Benar-benar t***l! Seharusnya aku tidak melakukan itu. “Bodoh! Gila! Menyebalkan! Lebih baik kamu pergi sekarang! Suaraku habis gara-gara berteriak!" teriakku jengkel memegangi kepalaku yang tiba-tiba sakit. “Aku sayang banget sama kamu.'' "Cukup kamu mengucapkan kata menjijikkan itu. Sampai kapanpun aku enggak akan membalas perasaanmu." Aku meninggalkan Adrian berdiri di taman sendirian. Gue....... Minta....... Maaf........ katanya mengucapkan dengan bahasa tubuh. Aku tetap bersikap cuek dan membelakanginya, berniat masuk ke dalam rumah tapi langkahku terhenti kembali karena mendengar suaranya memanggilku. "Tunggu! Coba lihat ini!" ia membakar satu persatu petasan gasing dan hal menakjubkan terjadi—puluhan petasan itu berputar tanpa suara dan hanya ada cahaya warna-warni menghiasi pemandangan di taman belakang. Hiasannya membentuk satu kata yang sukses membuatku bungkam seribu bahasa. I LOVE U KIRANA Kalimat itu terlihat jelas di bawah. Adrian melepaskan senyuman dan menyebutkan kata itu tanpa suara, mempraktekkannya dengan tangan. Petasan itu membentuk kalimat persis seperti yang diucapkannya. Aku menelan ludah. Seandainya Adrian orang yang kucintai, tanpa pikir panjang aku pasti akan berlari memeluknya sambil mengucapkan terima kasih atas keromantisan tidak pernah kulihat sebelumnya. Sayangnya dia bukan orang itu. Dia tidak pantas mendapatkan cinta dan pelukanku. Tidak bisa dipungkiri kalau warna-warni petasan itu sangat indah. Lelaki ini selalu saja bisa membuat kejutan yang lain daripada yang lain. Hanya saja, aku tidak habis pikir kenapa dia selalu bersikap aneh dan membuatku kesal dulu, baru memberi kejutan yang amazing. “Maukah kamu jadi pacarku, Kirana?” "Sayang sekali, aku sudah punya pacar dan kamu tahu hal itu." Suaraku terdengar saat menoleh kebelakang. "Aku siap jadi pacar kedua, ketiga, keempat, bahkan keseratus. Hatiku selalu bisa terima kekurangan dan kelebihanmu. Aku cuma mau menjaga mu, Kirana." Ia meneriakkan kata-kata yang terdengar jelas di telingaku. Apa yang dikatakannya memang sepertinya serius dan dia tidak menampakkan permainan lagi. Aku diam, tidak mengatakan sesuatu pun. Yang kulakukan sekarang adalah meninggalkan Adrian berlari masuk ke dalam kamar. Cuaca malam ini cukup panas, sepanas hatiku yang dilema untuk menerimanya atau tidak. Jika aku menolak, tidak ada lagi boneka berjalan yang bisa kumanfaatkan. Dia memang tampan dan setia, Apalagi yang kucari semua ada dalam diri Adrian. Otakku berputar kesana-kemari mencari jalan keluar dan akhirnya ide cemerlang terbesit dalam otakku. Baiklah, permintaan cinta itu akan kuterima saat waktunya tiba karena aku tidak ingin kehilangan kesempatan emas untuk mencapai misiku. Lelaki ini cocok digunakan sebagai senjata untuk menyakiti hati murid cewek-cewek di sekolah. Adrian kan cowok idaman mereka. Satu hal lagi, Adrian harus merasakan bagaimana menderitanya menjadi pacar seorang playgirl yang akhirnya membuatnya mundur sendiri dan pergi dari hidupku selamanya. Setelah aku mendengar semua pembicaraannya dengan Tante Rani, sekarang aku mengerti kalau semua cowok tidak bisa dipercaya. Telingaku mendengar kata-katanya bahwa dia hanya ingin mengubah sifat burukku. Lihat saja nanti, misi yang kususun selama di Jakarta akan dirasakannya juga. Dia terkadang bersikap menjengkelkan selalu menyinggung perasaanku. Walaupun tadinya aku kasihan dan tidak berniat memanfaatkannya, namun setelah mendengar semua pengakuannya, aku merasa sangat jijik. Sekarang aku tidak peduli Adrian mencintaiku dengan tulus atau tidak. Yang pasti misiku harus berjalan lancar. Aku menarik napas, tersenyum licik, dan segera menelepon lelaki itu. Aku menyuruhnya pulang karena jawaban yang ditunggunya akan kujawab besok.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN