Siang ini aku tertimpa masalah besar. Aku berkelahi dengan Julia hanya karena masalah sepele. Rambutku yang tadinya terurai rapi berubah menjadi sarang burung dan baju Julia yang sangat diagungkannya menjadi sobek seperti gigitan tikus got.
Pipi sebelah kananku memar, bibirku pecah mengeluarkan darah. Tapi Julia lebih parah, kedua pipinya memar berwarna biru, matanya membulat hitam bahkan tangannya dipenuhi bekas cakaran ku. Ditambah lagi rambutnya habis ku rontokkan.
Saat perkelahian itu terjadi, semua mahasiswa sibuk menonton atraksi tragis kami. Bukannya menolong memisahkannya, mereka semua sibuk memberi semangat. Siapa yang lebih kuat dan menjadi pemenang.
Perkelahian itu terjadi karena Julia datang dan marah-marah di dalam ruangan ku. Ia menyumpahiku kata-kata pedas dan mengataiku merebut Adrian darinya, memanfaatkan kelebihan yang kumiliki, menjadikannya b***k menuruti semua permintaanku, dan lain-lain.
Masih banyak hal-hal buruk yang dikatakannya. Aku marah, muak, dan tidak bisa mengontrol emosiku. Julia mendorongku hingga mundur beberapa langkah tepat pada tembok. Dia mencekik leherku hingga aku susah bernafas dan meronta. Jadi hal pertama yang kulakukan adalah menjambak rambutnya hingga rontok dan genggaman tanganku penuh dengan rambutnya.
Perkelahian belum selesai. Wanita itu kehilangan kendali, lalu tangannya mendarat dengan sempurna di pipiku. Tidak mau kalah, aku membalasnya dengan tamparan juga. Perkelahian semakin memanas, usaha tonjok-tonjokan memenuhi ruangan. Di kepala kami kemarahan sudah mencapai ubun-ubun.
Sekarang kami berada di ruang Dekan satu mendengar celotehan yang tidak ada habisnya. Sudah satu jam kami diinterogasi mengenai perkelahian anarkis itu. Aku hanya menjawab pertanyaan seadanya—kalau Julia datang, marah-marah dan mencekik leherku.
“Sulit dipercaya mahasiswi terbaik di kampus ini memberikan contoh yang buruk. Apa yang ada dalam di pikiran kalian?" Pak Imran memukul meja dengan keras, matanya seperti kembang api yang siap meledak di atas langit.
Rasa takut menyelimutiku seolah dunia ini akan kiamat karena baru kali ini masuk di ruang Dekan dalam kasus perkelahian. Sebelumnya, aku tidak pernah mendapatkan masalah di kampus ini. Aku masuk ke ruang Dekan karena Pak Rektor tidak ada hari ini, untung saja perkelahianku ini hanya diketahui oleh fakultas jurusan Julia dan Fakultas jurusan ku.
“Kami sadar semua kesalahan yang kami perbuat, Pak. Kami mohon keadilan untuk tidak di DO dari kampus ini." Julia menunduk, air matanya hampir saja tumpah membasahi pipinya.
Aku menduga hal yang paling tidak bisa dilakukan Julia adalah jika harus berpisah dengan Adrian. Dia tidak bisa lagi memandangnya setiap hari di saat dia tertawa, marah dan menjahili teman sebangkunya. Diam-diam aku merasa t***l aku tidak mencintai Adrian tapi kenapa berkelahi dengan Julia hanya untuk menunjukkan kekuatan masing-masing? Sekarang aku pasti menjadi bahan tertawaan orang karena memperebutkan seorang lelaki.
Hatiku tidak peduli lagi komentar jelek orang-orang tentang kasus ini. Karena sejak awal namaku sudah tercantum sebagai w*************a, jadi aku tidak perlu malu dan takut disebut w*************a.
Hm. Sungguh, perkelahian ini bisa mengancamku untuk dikeluarkan dari kampus sebaik ini. Kenapa begini? Aku tidak pernah mempunyai masalah sebelum Adrian datang ke dalam hidupku dan sekarang semuanya hancur berantakan sejak lelaki yang satu itu muncul.
“Setelah kami memikirkan matang-matang, kalian akan dikeluarkan dari kampus ini dan tidak bisa memasuki kampus apapun di Jakarta. Kalian harus mencari sekolah baru di luar Jakarta. Pemikiran Bapak tidak akan berubah!" lelaki tua itu memukul meja lagi.
Saking berpengaruhnya kampus Jagad Raya, dia bisa menendang siapapun mahasiswa yang bandel tak memberi surat pindah memasuki kampus baru yang di inginkan karena kampus ini sangat di takuti oleh kampus lain.
Aku dan Julia lunglai. Namun keajaiban datang, tiba-tiba saja Adrian sudah ada di depanku. Tampak dari wajahnya memendam kemarahan dan langsung menemui Pak Dekan. "bapak enggak bisa mengeluarkan Kirana dari sekolah ini. Saya enggak setuju!”
“Apa hakmu tidak menyetujui keputusanku?”
“Saya minta maaf sebelumnya tapi Kirana adalah orang yang saya cintai dan enggak seorang pun bisa memisahkannya dari saya." Bicaranya datar tanpa memikirkan dengan matang apa yang baru saja dikatakannya.
“Cinta, cinta! Kamu itu masih kuliah! Anak jaman sekarang bisanya cuma bicara tentang cinta saja. Dengar ya, kamu tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Lebih baik keluar!” bola matanya membesar.
"Sebelum Bapak merubah keputusan, saya enggak akan keluar," bentaknya.
“Jangan membantah, Adrian! Bapak akan menghukummu jika kamu bersikeras.”
“Saya siap menerima hukuman apapun, jika Bapak tidak mengabulkan permintaan saya!"
“Dasar keras kepala! Jangan mentang-mentang kamu anak ketua rektor saya tidak bisa memberi hukuman.”
“Kirana enggak akan keluar dari sekolah ini. Saya yang akan mengantarnya kembali masuk ke ruangan." Adrian menarik lenganku keluar dari sana.
Mata Julia membelalak merasa cemburu.
"Nasibku selanjutnya bagimana, Adrian? Kenapa cuma Kirana yang kamu tolong? Aku mencintaimu." Ia berteriak keras dan tangisnya semakin menjadi-jadi.
"Aku enggak peduli kamu dikeluarin dari kampus ini. Kamu sudah tahu sejak awal kalau aku cuma menganggapmu teman dan itu enggak lebih."
Melihat kejadian ini pak Dekan itu keluar, mengekor di belakang Adrian. Wajahnya seperti kobaran api yang memanas. Secepat mungkin beliau berlari menyeret Adrian dengan paksa disaksikan oleh semua orang yang sedang berada di area itu. Dia tidak peduli Adrian anak rektor Jagad Raya, Pak Imran tetap berani memberi hukuman dan menyuruhnya berdiri di tengah lapangan disambut oleh terik matahari panas.
“Kalian dihukum! Berani sekali kamu melawan perintahku." Pak Imran berbicara dengan kasar.
Pak Dekan meninggalkan kami di tengah lapangan yang panas. Julia masih menangis meratapi nasibnya.
Tiga puluh menit berjemur di lapangan, Adrian mengeluarkan keringat dan berkali-kali mendesah berat. Aku terus berdoa semoga saja ada orang lain melaporkan pak Dekan itu kepada rektor mengenai anaknya yang diberi hukuman dan harus menderita seperti ini.
Kenapa sekarang aku mempedulikan Adrian padahal dulu aku membencinya? Seharusnya aku memikirkan memar di wajahku yang tak kunjung sembuh. Bagaiman jika Tante Rani tahu?
Tiba-tiba saja, kerumunan mahasiswi berlarian menuju lapangan. Mulai dari wanita pertama yang memberikan teduhan payung, wanita kedua menyeka keringatnya dengan tissue, wanita ketiga menyodorkan minuman, dan wanita keempat menyuapi nasi goreng.
Namun tiba-tiba saja, sebuah suara yang sangat menggelegar memenuhi lapangan tersebut.
"Imran, beraninya kamu memberi hukuman pada anakku!”
Pak Idris mendekati pak Dekan itu. Dia adalah rektor kampus Jagad Raya. Aku terlonjak kaget saking senangnya. Sang penolong sudah datang.
“Anda cepat sekali kembali, saya pikir Anda masih ada di luar kota." Pak Imran berbicara dengan tergagap-gagap.
Oh. Aku baru mengerti, itu sebabnya Pak Imran berani sekali mengembil keputusan seenaknya saja bahkan memberi hukuman pada Adrian. Itu semua karena pemegang kekuasaan tertinggi di kampus ini pergi keluar kota dan Pak Imran mengira mereka belum kembali.
“Kenapa terkejut seperti itu? Aku memang baru saja kembali dari luar kota. Tapi, langsung datang kemari melihat keadaan kampus dan mendapati anakku telah dihukum olehmu.”
“Anda tidak tahu kejadian sebenarnya dan saya akan menjelaskan semuanya." Ketakutan hebat jelas terlihat dari wajahnya.
“Tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku sudah tahu semuanya. Kamu juga yang telah mencuri uang di laciku, Kan? Sekarang juga kamu dipecat! Silahkan bereskan semua barang-barangmu di ruangan itu.”
Pak Idris memang sudah tahu perihal kejadian minggu lalu tentang pencuri membobol uang di lacinya yang terekam jelas di CCTV adalah Pak Imran.
Semua orang yang menonton langsung bubar kecuali aku, Adrian, dan Pak Idris yang masih berdiri di luar kelas. Aku melihat ekspresi Adrian penuh kesenangan dan membisikkan sesuatu pada Papanya. Aku tidak tahu apa yang dibicarakannya, namun Pak Idris menebar senyum dan berjalan menghampiriku.
“Pihak kampus tidak akan mengeluarkan salah satu mahasiswi terpintar dan berbakat di kampus Jagad Raya. Kamu memang pantas untuk anakku dan bisa membuatnya bahagia. Bapak setuju kamu pacaran dengannya."
Mataku seketika membelalak besar mendengar Pak Idris berkata begitu. Kata-kata itu terngiang-ngiang di telingaku. Apa yang terjadi? Adrian pasti berbohong pada papanya mengenai hubungan spesial di antara kami. Anak itu telah mencari kesempatan dalam kesempitan!
“Saya...."
aku terpaksa mengangguk setuju.
"Luka di wajahmu cukup serius, jadi sebaiknya kamu segera pulang dan mengobatinya di rumah," kata Pak Idris.
“Papa tenang saja! Aku akan mengantarnya pulang sekarang."
"Hati-hati," sahut ayahnya.
Sewaktu di parkiran aku langsung meluapkan kejengkelanku pada Adrian tentang kejadian tadi di depan papanya. Bisa-bisanya ia berpura-pura menunjukkan adegan romantis yang membuatku geli dan jijik.
“Dasar pria gila! Kamu kira aku suka kelakuanmu tadi di depan Papamu?"
“Seharusnya kamu berterima kasih sama padaku."
“Terima kasih untuk apa?”
“Makanya dengar dulu penjelasanku. Tadi aku terpaksa bilang kita pacaran supaya Papaku lebih yakin enggak mengeluarkan mu dari sekolah.”
"Terserah." Aku menunduk ke bawah dan merasa sedikit menyesal karena ternyata lelaki ini baik juga.
Aku sampai di rumah sore hari dan mendapati Tante Rani duduk di sofa sambil membaca majalah. Dia pulang lebih awal dari biasanya, dan jujur saja aku takut menyapanya dalam kondisi wajah lebam seperti ini. Mungkin dia akan berteriak histeris. Karena tidak mau itu terjadi, aku bergegas mengucapkan salam dan menaiki tangga menuju kamarku tanpa memperlihatkannya. Tante Rani menegurku ketika berjalan ke anak tangga pertama.
“Tante pikir sekarang masih jam kuliah. Kenapa kamu cepat pulang, Sayang?" suaranya menyapa lembut.
Aku tidak menoleh menjawab pertanyaan Tante Rani. "Anuu... Anuu... ada rapat dosen mendadak jadi cepat pulang. Buktinya Adrian mengantarku pulang dan sekarang duduk di ruang tamu," jawabku gelagapan.
“Baru kali ini kamu pulang sekolah dan tidak menyapa Tante. Apa kamu punya masalah?”
“Enggak ada masalah kok. Aku baik-baik saja.”
“Serius?" sekarang ia berjalan ke arahku.
Dan..... sedetik kemudian ia sudah menjerit dengan histeris.
"Ahh... Wajahmu kenapa? Apa yang terjadi? Siapa yang membuatmu begini? Kirana, kamu bohong mengatakan baik-baik saja padahal wajahmu membiru seperti ini. Tante tidak mau tahu, sekarang juga kita harus ke dokter dan memeriksa keadaanmu." Ia tampak cemas dan ketakutan memegangi lukaku.
“Tante, dengarin Kirana dulu! Aku enggak apa-apa. Ini enggak sakit, sebenarnya tadi aku berantem sama Julia hanya karena masalah sepele. Enggak usah khawatir, aku bukan anak kecil lagi. Ini cuma luka kecil."
“Jangan khawatir katamu? Setelah Tante melihat muka lebam dan baju koyak-koyak kayak begini? Pokoknya Tante akan datang di kampusmu meminta pertanggung jawaban. Katanya kampus yang sangat disiplin, kenapa lalai menjaga muridnya?" Tante Rani berteriak marah sambil memelukku dan sama sekali tidak menyangka kejadian buruk seperti ini bisa terjadi.
“Enggak usah repot-repot ke kampus, Tante! Pihak sekolah sudah mengeluarkan Julia. Jadi semua masalah sudah beres." Aku meyakinkannya dengan mencium pipinya. Aku memang beruntung memiliki keluarga sebaik Tante Rani yang sudah menganggapku seperti anak sendiri.
Tanpa sadar air mata bercucuran di pipiku, membasahi pundaknya. Hari ini dia mengenakan dress merah yang menyentuh lututnya, membuatnya tampak elegan dan anggun. Aku menangis karena merindukan Bunda. Seandainya dia masih hidup, hatiku pasti bahagia mendapatkan pelukan hangat di saat aku membutuhkannya. Tante Rani melepas pelukan dan kaget melihatku menangis.
“Kenapa menangis? Apa kata-kata Tante menyakitimu?”
Aku menggelengkan kepala dan menjawab, "ku merindukan Bunda.”
Tante Rani terkejut mendengar jawaban singkat ku, dan ekspresinya menunjukkan luka yang mendalam.
“Bundamu sudah berada di tempat yang tenang. Dia pasti bahagia mempunyai anak secantik dirimu. Hapus air matamu sekarang! Bundamu akan sedih melihatmu menangis.”
Tante Rani lalu menuntunku ke sofa duduk berhadapan dengan Adrian yang di serbu berbagai pertanyaan tentang perkelahianku. Adrian tertawa mulai menjelaskan dengan santai.
“Mereka berkelahi karena memperebutkanku Tante.“ katanya setengah mengejek. Mataku membesar tidak terima alasannya, Tante Rani tidak bisa menahan tawa mendengar hal itu.
“Enggak. Dia bohong, Tan! Aku cuma membalas serangan Julia.“ aku cemberut membela diri.
Jujur aku malu pada Adrian yang besar kepala itu diikuti Tante Rani terus meledekku karena baru kali ini memperebutkan lelaki. Tante Rani lalu pergi mengambil sesuatu.
Bercak darah masih ada di sudut bibirku, serta luka lebam membuat pipiku membulat besar. Adrian sendiri sibuk mengamati seisi ruangan tamu, tatapan matanya menampakkan kekaguman pada dekorasi dinding animasi bercorak pemandangan, tempat-tempat indah di dunia, dan hiasan patung keramik berkilauan.
Tante Rani sudah ada di depanku membawa kotak perlengkapan P3K untuk mengobati luka memar ini. Tangannya cekatan meraih kapas dan obat merah, bersiap mengobati lukaku.
Tapi tiba-tiba deringan telepon rumah berbunyi nyaring di ruang tengah. Tante Rani bergegas mengangkat telepon dan batal memberi obat merah. Adrian yang melihatku meringis kesakitan karena luka ini, bergegas bergeser ke sampingku. Ia meraih obat merah dan mengoleskannya ke lukaku.
“Enggak usah! Biar Tante Rani saja yang mengolesinya. Aku enggak butuh bantuanmu,” teriakku memegangi bibirku yang pecah-pecah. Adrian mendesah panjang, tapi tetap saja dia tidak peduli pada omelanku, lalu melanjutkan menempelkan kapas di bibirku.
Tatapan matanya sangat serius mengungkapkan kegundahan mendalam sukses membuatku bungkam menatap mata indah itu.
Entahlah, saat di dekatnya aku merasa senang padahal Adrian memang menyebalkan. Ia pura-pura memberi perhatian manis. Aku mengacuhkannya, mungkin rasa senang itu datang akibat Adrian selalu saja mendekatiku. Adrian selesai memberi obat pada lukaku sambil sedikit mengomel dan melarangku bertindak bodoh lagi yang bisa melukai diriku.
Aku hanya mengangguk beberapa kali dan merintih akibat obat itu bekerja pada lukaku. Tante Rani datang di waktu yang tidak tepat, saat Adrian menyelesaikan tugasnya. Beliau terkejut karena lukaku sudah terbalut dengan kapas. Ia memandangi Adrian yang mengangguk ceria. Oh. Tante Rani langsung mengerti, lalu menyuruhku kembali ke kamar untuk istirahat. Ketika aku naik tangga, aku bisa mendengar percakapan mereka. Telingaku terpasang sangat teliti mendengarkan setiap kata.
“Saya mencintai, Kirana. Saya ingin menjaganya setiap saat, merubah kebiasaan buruknya, Tante."
“Kirana sudah kuanggap anakku sendiri, Tante tidak ingin melihatnya terluka dan menderita, apalagi salah memilih pacar. Selama ini Kirana memang selalu mempermainkan pacarnya karena ia berniat balas dendam pada semua pria."
“Balas dendam? Maksudnya?”
“Dia benci dengan para pria karena masa lalunya.”
“Apa hal itu ada hubungannya dengan kematian Bundanya?”
"Dari mana kamu tahu tentang masalah itu? Setahu Tante Kirana sangat tertutup dan tidak pernah menceritakan kisah hidupnya kepada siapapun, bahkan pada sahabatnya sendiri.”
Setelah itu tidak ada suara. Aku terdiam. Hatiku deg-degan, tapi aku bertahan di tempatku berdiri. Aku tak dapat mendengar apapun lagi karena mereka berbisik.
".... Itu sebabnya saya minta izin agar Kirana jadi pacarku! Saya hanya ingin mengubahnya, enggak ada niat lain apalagi menghancurkannya. Tante harus percaya, saya enggak akan menyentuhnya.” Adrian melanjutkan kata yang tertunda terus meyakinkan Tante Rani.
“Baiklah, tanggung jawab kuserahkan padamu. Buat Kirana ceria seperti dulu.”