Di bonceng

1792 Kata
Keesokan harinya, aku datang lebih awal ke kampus. Rambutku sedikit berantakan akibat hembusan angin bertabrakan arah dengan motor Adrian. Pagi-pagi sekali Adrian datang ke rumah, mengenakan setelan keren untuk menjemputku sesuai janjinya. Kami sampai di sekolah dan banyak mata memandangiku dengan tatapan tidak menyenangkan. Kami tidak peduli. “Hai, Kirana! Bagaimana kabarmu hari ini?" salah satu pria di samping kiriku membuka suara. "Well," jawabku singkat. “Kami sudah dengar pengumuman dahsyat Adrian kemarin di kantin. Waoo.... Kamu punya alat baru yang bisa dimanfaatin lagi." “Itu permintaannya, bukan permintaanku." tegasku. "Hari ini kamu harus traktir kami di kantin sebagai bentuk kebahagiaan atas kejadian kemarin." Mereka memohon secara serentak. Aku berpikir sejenak. "Karena hari ini aku berbaik hati, aku akan traktir kalian." aku tersenyum sinis. Di depan pintu ruangan Adrian sudah berdiri di sana sambil tersenyum. Aku yakin dia akan mengajakku makan bersama di kantin. Aku bergegas memberitahu temanku untuk segera menuju kantin dan memesan makanan sesuai selera mereka. Dalam hitungan detik ruangan menjadi hening karena semua anak berhamburan keluar. Aku juga keluar dan menemui Adrian yang mengajakku ke kantin. Kami makan berdua. Setelah menghabiskan makanan, Adrian merogoh saku untuk mengambil uang, dan di saat itu pula teman-temanku mulai mendekatiku. “Kirana, kami sudah selesai. Kamu tinggal membayar makanan kami." Aku hanya mengacungkan jempol, menganggap beres. Baru kali ini mereka meminta traktiran. Tentu saja aku menyetujuinya. "Kamu sudah dengar, Kan? Sekarang tugasmu bayar semua makanan yang mereka pesan tadi." Sebelah alisku terangkat dan merasa menang karena ini saatnya balas dendam. Awalnya Adrian melotot tidak percaya. Ia mulai menghitung teman-temanku tadi, sekitar 24 orang. Dan porsi makanan mereka minimal dua piring. Aku menampakkan ekspresi tegang dan memaksanya membayar semua karena itu tanggung jawabnya. Hatiku berteriak kesenangan mengira uang Adrian tidak cukup. “Itu enggak masalah." Adrian meraih saku celana dan menyodorkan uang ratusan ribu untuk membayar semuanya. Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Bagaimana mungkin dia bisa membayarnya setelah menunjukkan ekspresi melotot seolah menolak permintaanku? “Apa kamu pikir aku enggak sanggup bayar makanan teman-temanmu yang rakus tadi?" ia tertawa kecil. Aku semakin melotot bagaimana mungkin Adrian membaca pikiranku tadi. *** Aku menengok jam dinding di kamar yang menunjukkan pukul empat sore. Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat, aku sudah tidur selama dua jam. Rasa lelah masih menyelimuti tubuh. Aku menatap kosong ke arah dinding dan memikirkan sesuatu. Sejak kemarin Calissa tidak datang ke kampus, bahkan aku belum memberitahu kejadian dahsyat di kantin. Tanganku merogoh ponsel di bawah bantal, mencari kontak nama Adrian, lalu menghubunginya dan menyuruhnya datang kemari untuk mengantarku ke rumah sahabatku itu. Adrian menerima panggilanku dengan suara serak karena baru saja bangun tidur. Aku berbicara langsung pada intinya dan memintanya datang kemari secepat mungkin. Awalnya Adrian diam tidak menanggapi permintaanku. Tapi aku memaksanya terus kemudian memberi ancaman keras dan dia setuju. Sesampai di rumah Calissa, suasana begitu sunyi. Aku mengucapkan salam dan mengetuk pintu. Mama Calissa membukakan pintu dan mempersilahkan kami masuk ke kamar Calissa. “Calissa... Calissa... Kamu kenapa?” Perlahan-lahan pintu kamar kubuka. Aku mendapatinya berwajah pucat, terbalut selimut. Matanya sedikit bengkak seperti habis menangis. "Aku baik-baik aja. Enggak usah khawatir.” “Keadaanmu sekarang ini, jelas enggak baik-baik." Aku menggenggam erat jemarinya yang hangat. Mengapa Calissa menangis? Mungkin ada masalah yang dihadapinya? "Cuma demam sedikit. Kamu pasti datang ke sini sama Adrian.” "Iya, aku datang sama Adrian." aku mengangguk saat tebakan itu benar. "Sebenarnya aku mau curhat sedikit." lanjutku lagi tidak tahu harus memulai dari mana. "Aku tahu semua kejadian kemarin di kantin. Selamat sudah memenangkan hatinya." Calissa menampakkan wajah lesu. Aku terlonjak kaget kenapa dia bisa menebak pikiranku? Kenapa Calissa tahu, padahal kemarin ia membolos? Apakah gosip itu menyebar begitu cepat? Aku berpikir cepat. Begitu banyak keganjilan sehingga aku tidak mengerti jalan pikirannya. Kemarin baik-baik saja, tidak menampakkan sakit apapun, tubuhnya segar dan bugar. Apa mungkin dia cemburu? Tidak bisa menerima kenyataan kemarin? Kenapa Calissa menangis? Calissa tidak mungkin menangis karena masalah sepele. Aku tahu dia memang menyukai Adrian, tapi tidak mungkin ia menangis karena hal ini. Pikiranku terlalu kejauhan. Calissa sahabatku sejak kuliah yang setia menemaniku sampai saat ini di saat semua orang membenciku. Setelah itu aku pamit pulang, dan Adrian membawaku ke taman yang letaknya tidak jauh dari rumah Calissa. Cukup tiga puluh menit mengendarai motor melewati setapak jalan kecil bebatuan. Aku tidak pernah memasuki area terpencil seperti ini, taman luas dan indah yang berada di tempat tersembunyi. “Menakjubkan! Ini adalah taman paling indah yang pernah aku lihat. Ternyata kamu juga tahu tempat sebagus ini." Aku histeris merasakan kemewahan sederhana yang satu ini. Angin berhembus dengan lembut dan mempermainkan rambutku yang tergerai cantik. Taman yang benar-benar menakjubkan, banyak pohon besar yang batangnya digantungi akar. Lebih menakjubkan lagi, terdapat danau berwarna biru ditumbuhi teratai putih dan lengkungan jembatan yang tidak begitu panjang mengelilingi danau. Sangat cantik, sampai-sampai aku sulit berkata-kata. Adrian mengajakku berdiri di atas jembatan dan memandangi danau dari dekat. Aku menggeleng cepat. Dia lupa ya kalau aku ini fobia air? “Jangan mengajak ku ke danau Adrian! Kamu masih ingat, Kan? Kalau aku fobia air." Tubuhku mulai bergetar hebat mendengar kata danau, seakan ingin segera pergi dari taman itu, sebelum Adrian nekat memaksaku untuk ke danau. Tiba-tiba aku teringat beberapa tahun lalu. Bunda biasa memperlihatkan matahari terbenam di taman belakang rumah. Bunda selalu mengatakan kalau cahaya kuningnya membawa harapan yang tidak ternilai. Aku ingin menangis merindukan keluargaku yang dulu, mengingat sekarang keluargaku hanyalah Tante Rani. Ide konyolku mulai bermunculan untuk mengerjai Adrian. Aku menyuruhnya memetik lima bunga teratai di danau dan membawakan untukku. “Jangan bodoh, Kirana. Sebentar lagi sore akan berganti malam. Coba pikir seandainya aku jatuh ke air dan enggak bisa di selamatkan lagi, bagaimana?" ia mencoba membujukku agar aku membatalkan permintaan konyol itu. “Kalau kamu mati tinggal di kuburkan," jawabku cuek. “Tega benar kamu. Aku enggak akan mati sebelum kita menikah." dia setengah bercanda. “Ogah, nikah sama kamu. Sebelum kamu dapat bunga teratai itu, aku enggak mau pulang ke rumah. Kamu terima sendiri semua omelan Tante Rani!" ancamku. “Kamu selalu enggak bisa memberiku pilihan." Adrian berlari ke arah pinggiran danau untuk meraih bunga teratai yang bermekaran. Aku tertawa cekikan di kursi, melihatnya setengah mati menjaga keseimbangan tubuh untuk tidak jatuh ke danau. Matahari sore mulai menghilang, tinggal seberkas cahaya kuning di langit. Suara binatang malam mulai berbunyi, puluhan lampu menerangi taman membentuk pola dengan variasi yang menarik. Di ujung sana terdapat pohon kecil yang dihias dengan lampu warna-warni. Aku sudah tidak memperhatikan Adrian lagi karena fokus menatap keindahan taman di malam hari. Tiba-tiba suara deheman mengagetkanku. Seseorang tampak menyodorkan sesuatu. Matanya sedikit kemerahan, rambut basah dan acak-acakan. Bukannya takut dengan penampilan itu, aku malah tertawa keras melihatnya basah kuyup dan menjijikkan. Sejenis tanaman liar air melilit tangan dan lehernya. “Kamu jatuh di danau?" aku enggak bisa menahan tawa dan memegangi perutku. Dahinya berkerut berlipat ganda, namun begitu tatapan mata yang dipancarkannya tidak menampakkan balas dendam. “Awas kamu, yah! Ini enggak lucu rasakan pembalasanku." Ia melepaskan tanaman liar dan bersiap melemparnya. “Berhenti! Berhenti!" aku berlari ketakutan menghindari Adrian yang terus mengejar ku. Aku menepi, bersembunyi di balik pohon dan menahan napas yang tersedak-sedak karena terus berlari. Dia tertawa dan memanggil-manggil namaku, mencari di mana tempatku bersembunyi. Beberapa menit bersembunyi, aku tidak melihatnya lagi. Aku rasa lariku sudah terlalu jauh. Sambil mengatur napas, tiba-tiba sesuatu membuat jantungku berdetak amat kencang. Apa? Apakah aku salah lihat.... “Fariz.” Suara lantangku mengagetkan mereka. "Apa yang kamu lakukan di sini, Kirana?" lelaki itu tampak sangat kaget. “Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa yang kamu lakuin di sini?" Seketika penglihatanku buram karena air mataku mendesak keluar. Aku tidak menyangka Fariz bermain di belakangku padahal kami baru saja pacaran selama satu minggu. Lihat saja, sekarang dia sedang duduk berdua bersama seorang wanita yang tidak kukenal. Pria memang berhati busuk, tidak pantas mendapatkan cinta sejati! Untung saja aku mempermainkan mereka sehingga tidak sakit hati saat menduakan cintaku. Hari ini mataku menyaksikan sendiri cinta mereka memang selalu omong kosong. Tidak ada gunanya. Hatiku terasa diremas-remas. Jadi aku menghampiri Fariz dan menjotos wajahnya hingga lebam. Pacar yang menemaninya berkencan sangat marah, lalu mengayunkan tangannya untuk menampar pipiku. Di saat itu Adrian datang, entah dari mana datangnya, menangkis tangan wanita itu dan mendorongnya ke belakang. “Tangan kamu ini enggak pantas menyentuh pipi Kirana." Bola mata Adrian berkobar seperti api. “Dia pantas mendapatkan pelajaran karena memukul pacarku." Wanita itu berbicara keras seakan siap mencincang-cincangku hingga habis. "Aku juga pacarnya, bahkan aku lebih dulu jadi pacarnya." Suaraku tidak kalah sadis. “Pacar katamu? Pacar yang enggak pernah perhatian dan peduli sedikitpun." Wanita itu membantu Fariz untuk berdiri. “Memang aku enggak peduli sama siapapun. Dengar, Fariz ...." sekarang aku menatap lelaki itu dengan pandangan marah. "Bukan cuma kamu satu-satunya pria di dunia ini. Aku berdoa semoga malam ini pertemuan terakhir kita." Mataku terasa buram karena lagi-lagi air mata memaksa keluar. Orang seperti dia tidak pantas ditangisi, batinku dalam hati. Aku segera meredam air mata dan amarahku, tidak ingin terlihat lemah di depan Adrian. Aku punya segalanya. Kenapa harus menangisi pria b******k seperti dia? Adrian menarik lenganku dan kami meninggalkan taman. Setelah sampai di depan rumahku, Adrian menawarkan coklat. Aku mengangguk, kemudian menunggu Adrian di depan pagar, sampai dia kembali membelikan coklat di toko yang letaknya cukup jauh dari sini. Tidak lama kemudian Adrian datang membawa banyak coklat batang. Dahiku berkerut setelah melihat coklat itu bukan yang biasa kucicipi Adrian salah membeli coklat. Tanganku menyembar coklat itu dan membuangnya ke tanah. Seharusnya coklat-coklat ini bisa menghiburku, kenapa malah menambah rasa kesal ku karena lelaki ini salah membeli coklat? “Dasar bodoh! Aku enggak suka coklat model seperti ini. Rasanya asin." Mataku menyala marah. “Kalau kamu enggak suka, aku ganti coklat yang lain." Tatapan matanya datar tidak tersinggung dengan sikapku yang keterlaluan. Akhirnya, Adrian datang lagi membawa coklat dalam waktu tiga menit. Entah bagaimana caranya mengendarai motor hingga cepat sekali sampai di sini. Aku membuka kantong plastik dan meraih coklat itu. Mataku terbelalak besar, karena Adrian membeli coklat dengan ukuran sangat mini yang akan habis dalam sekali gigitan. Sekarang amarahku mulai di luar kendali coklat kujatuhkan ke tanah dan kuinjak-injak hingga hancur berserakan di tanah. “Kenapa kamu enggak hargai usahaku? Apa yang salah dengan coklatnya?” katanya sambil memandangiku tanpa semangat. "Kamu itu bodoh atau t***l? Aku enggak suka coklat ukuran mini." "Kalau enggak suka jangan injak-injak kayak gini. Itu tandanya kamu enggak bersyukur atas nikmat Allah. Kamu tinggal bilang saja enggak suka, aku pasti menggantikan dengan yang lain.” “Telat! kataku singkat. "Kirana, marah enggak akan bisa menyelesaikan masalah.” “Kamu yang membuatku marah." Aku meninggalkan Adrian di depan gerbang. “Ego mu keterlaluan, aku benar-benar enggak mengerti isi otakmu itu." nasehat terakhir Adrian tak lagi kudengar. Aku menghela napas. Kenapa cowok sebaik dia harus mendekatiku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN