Aku menyandarkan punggung pada kursi. Aku bisa merasakan perutku menggerang meminta makanan. Akibat terlambat bangun, semua serba terburu-buru mulai dari memakai seragam sekolah, memasukkan buku, hingga mengenakan sepatu dan kaos kaki. Gejala itu kurasakan karena tadi pagi lupa sarapan, padahal semua sudah tersedia. Aku melangkah santai menuju kantin, dan di saat itu pula muncul sekotak permen lolipop di depan mataku.
Siapa lagi kalau bukan Jono, salah satu Geng Cliquerz yang masih berharap menjadi pacarku lagi. Betapa bodohnya dia, beberapa minggu lalu hampir saja kehilangan sahabat gengnya gara-gara memperebutkanku. Hari itu hasrat untuk memilikiku masih ada dalam hatinya ternyata.
“Hai, Cantik. Mau ke mana?" ia tersenyum tipis sambil menyodorkan permen.
"Bukan urusanmu."
“Galaknya minta ampun. Enggak salah, kan mengajakmu makan di kantin?”
"Sayangnya, Adrian lebih dulu mengajakku. Jadi sebelum kita sampai di kantin, lebih baik angkat kaki dari sini atau mukamu jadi babak belur," gertakku.
“Anak ingusan seperti Adrian mau menghajarku? Aku enggak takut, sekalipun dia anak rektor!" katanya sambil menyandarkan kepala di tembok.
"Simpan saja kata-katamu itu! Aku berani jamin Adrian melempar mu di lapangan kalau berani macam-macam." Aku Mengibaskan tangan di matanya dan menginjak kakinya menyuruh pergi.
“Dasar cewek belagu! Aku sumpahin kamu bakalan sakit hati karena Adrian." Jono kesal dan pergi.
Astaga, sudah berapa hati tersakiti oleh ucapanku sih? Tapi aku tidak mempedulikan sumpahnya. Setelah berada di kantin aku memperhatikan sekelilingku dan mencari seseorang berbadan tegap.
Tidak lama mataku memandang liar, aku menemukannya dan bergegas berjalan ke meja yang sudah disiapkan. Beberapa pasang mata di kantin menatap kami dengan keji, seolah tidak setuju karena dia bersama denganku.
“Seandainya hari ini bukan hari terakhir perjanjian itu, aku enggak akan mau menuruti permintaanmu makan bersamaku di kantin." aku mengecilkan suara.
"Kamu berani juga enggak peduli pandangan semua orang di sini." menempatkan wajahnya pada kedua tangannya.
“Apa kamu bisa diam?”
“Aku enggak bisa diam, aku mau suaramu menari-nari di telingaku.”
“Waktu istirahat untuk makan! Bukan mendengarkan syair mu yang jelek itu." Aku melemparkan tissue bekasku tepat jatuh di wajahnya.
Dia hanya mengedipkan mata lalu menatapku lagi. Aku sangat benci ditatap seperti itu, Berhenti menatap gue kayak gitu! aku mendengus kesal.
Apa yang terjadi dengan pria ini? Benarkah Adrian mencintaiku selama ini? Jadi.... apa benar dia menantangku bermain basket untuk mengalahkanku dengan tujuan mencari perhatian di balik tujuh hari bersamaku?
“Menghabiskan waktu bersama selama tujuh hari, aku sudah tahu sifat mu yang sebenarnya. Kamu enggak sejahat yang dilihat orang lain, enggak sombong seperti gosip-gosip yang beredar. Kamu punya hati bersih dan sempurna. Tapi aku enggak tahu kenapa kamu berubah." Adrian mencondongkan wajahnya lebih dekat denganku.
Ia mulai berbisik. Jemariku bergerak dan bertanya-tanya mengapa Adrian terasa tidak begitu asing. Aku memutar badan menghadap ke arahnya dan melepaskan kata-kata pedas.
"Kamu enggak usah sok tahu tentang hidupku! Apapun yang kamu katakan enggak menarik, apalagi membuatku jatuh cinta. Kamu pria paling nyebelin di dunia ini." aku menunjuk d**a Adrian yang malah tersenyum ke arahku.
"Bahkan saat kesal pun, kamu terlihat cantik." menggenggam tanganku dan meletakkan ke dadanya.
“Aku bosan mendengarnya." aku mendengus kesal berdiri dari kursi.
Perut yang tadinya lapar berubah menjadi kenyang mendengar uraian kalimatnya yang tidak penting sama sekali. Aku berjalan dengan otak panas meninggalkan Adrian, namun di saat itu pula teriakan membahana terdengar di telingaku dan sukses mengalihkan semua pandangan murid cewek.
“Aku mencintai mu, Kirana." Suaranya terdengar gugup.
Aku berhenti melangkahkan kaki. Seolah petir menyambar punggungku dan memaksaku untuk segera menoleh ke belakang. "Jangan bercanda! Enggak lucu bertingkah bodoh di tempat umum!" mataku menyala marah karena merasa dipermainkan.
“Aku enggak bercanda. Apa kamu enggak lihat tatapan mata ku serius serius?" sialnya, sekarang ia malah berlutut di hadapanku.
“Cepat berdiri! Jangan permalukan aku di sini!"
“Aku enggak akan berdiri sebelum kamu menerimaku.”
“Berhenti lakuin itu!”
Hatiku memanas, "sampai kapanpun, aku enggak akan suka sama kamu, sekalipun kamu kriteria pria idamanku. Kamu nyebelin, bodoh, gila... Gila karena melakukan semua ini." Aku membalikkan badan dan melanjutkan langkahku. Tapi sekali lagi sentuhan tangan memegang jemariku yang dingin karena terkejut hebat.
“Aku bersumpah pada dunia dan di depan semua orang, aku akan melakukan apapun untuk membuatmu jatuh cinta. Enggak peduli harga diri dan pendapat orang lain, aku mau merubah kebiasaan buruk mu." Matanya dipenuhi keseriusan.
Aku memandanginya sekilas dan tidak percaya dengan sumpahnya barusan. Tapi teriakan histeris menyebut nama Adrian berulang kali terdengar dari mulut semua mahasiswi yang ada di kantin.
Sebenarnya aku merasa terharu dengan apa yang dilakukannya sekarang. Berani sekali lelaki ini menyatakan cinta di depan semua orang, tanpa merasa malu sedikitpun dia juga mengeluarkan sumpah sederhana yang membuatku bungkam. Aku berpikir keras untuk keluar dari masalah besar yang kuhadapi saat ini. Mataku terasa gelap gulita dan aku meminta jalan keluar.
“Kebiasaan ku enggak bisa diubah oleh siapapun termasuk kamu." aku menghempaskan genggaman tangan Adrian.
“Ingat janjiku hari ini! Mereka akan menjadi saksi. Aku akan mendapatkanmu sekalipun jadi b***k setiap hari."
Tapi, aku tidak peduli dan menatapnya dengan remeh. Tiba-tiba suara hentakan sepatu terdengar tergesa-gesa memasuki kantin yang serasa berhenti berdetak sekarang.
“Enggak! Kamu gila atau bodoh, Adrian? Kenapa kamu tunduk pada cewek terkutuk ini? Cepat berdiri!" Julia menarik lengan Adrian dengan lembut.
"Jangan menyentuh ku! Ini bukan urusan urusanmu." ia kasar sambil menghempaskan tangan Julia.
“Wanita terkutuk enggak pantas mendapatkan cinta." sekarang gadis itu mengibaskan tangan di depan wajahku.
"Sekali lagi kamu menghina Kirana aku akan menyakiti mu. Aku jatuh cinta sama Kirana, dan apapun bakal aku lakuin buat dia.”
“Adrian!" teriak Julia. Gadis itu mungkin baru saja mendapatkan informasi tentang fenomena mengagetkan ini dan segera menuju kantin untuk memberi perhitungan padaku.
“Adegan yang dramatis." Aku bertepuk tangan memberi pujian pada mereka.
“Kalian pasti mendengar sumpahnya tadi, Adrian sendiri yang minta aku manfaatin dia. Aku ingin lihat sampai kapan dia sanggup bertahan." Mataku menatap angkuh ke arah Julia.
Adrian berjanji siap merubah sikap dan menerima semua perintahku. Katanya, orang lain tidak akan bisa menjadi penghalang. Dia kembali berdiri dan memegang pundakku, mencoba meyakinkan sepenuh hatinya kalau bisa menepati janjinya. Aku jadi berpikir-pikir, apa mungkin Adrian jatuh cinta setelah menghabiskan waktu bersamaku selama tujuh hari? Tapi itu tidak mungkin karena aku merasa Adrian seolah mengenalku sejak lama.
Pengumuman sumpah Adrian di kantin tadi, dalam hitungan jam tersebar satu kampus. Mahasiswi merasa histeris mendengar informasi tersebut, mereka iri setengah mati. Mereka berpikir aku mempunyai kesempatan untuk memanfaatkannya. Tapi setelah mendengar dia mencintaiku, ini saatnya melihat perjuangannya sejauh mana dia mencintaiku. Apakah hanya karena kecantikanku? Atau sangat tulus dari hatinya yang terdalam?
Sepulang sekolah seperti biasa, aku menunggu Pak Abu di luar gerbang. Tidak lama kemudian Pak Abu datang tepat waktu. Mobil sedan hitam muncul dari kejauhan dan semakin mendekatiku. Pak Abu keluar dari mobil, mempersilahkan aku untuk masuk, dan duduk di jok belakang. Ketika kaki sebelah kananku masuk, sambaran tangan dengan lembut memegangi lenganku untuk berhenti.
“Tunggu, kamu enggak usah merepotkan Pak Abu lagi. Aku siap jadi tukang ojek ke manapun kamu pergi." Adrian membuka suara.
Beberapa murid cewek yang lewat di depanku dan melihat hal itu langsung memandang kami dengan sinis.
“Yahhh... Adrian maunya jadi tukang ojek si piala bergilir." Mereka tertawa keras lalu melanjutkan langkahnya yang terhenti. Aku berpikir tidak perlu mempedulikan orang yang sirik denganku.
“Baiklah. Tapi ingat, mulai dari sekarang kamu harus siap siaga selama dua puluh empat jam untuk menuruti semua permintaanku.”
“Aku siap menuruti semua permintaanmu, sampai kamu mau menerimaku jadi pacarmu." ia tersenyum puas dan menarik lenganku untuk pergi.
Akhirnya aku menyuruh Pak Abu untuk pulang ke rumah sendirian. Pak Abu mengerti dan memberi saran agar Adrian selalu menjagaku serta tidak membawa motor dengan ugal-ugalan.
Di perjalanan aku menikmati hembusan angin yang menerpa rambutku menjadi berantakan.
“Berhenti!" suaraku terdengar jelas di telinganya.
"Kenapa?" ia menghentikan motornya.
“Cepat turun! Belikan gue es krim rasa coklat." Tanganku menunjuk ke arah trotoar jalan.
"Kamu mau es krim? Tunggu sebentar, aku belikan." Adrian memarkirkan motor di trotoar jalan tidak jauh dari penjual es krim.
Aku berdiri memperhatikan Adrian berjalan ke arahku dengan membawa es krim yang kumau, matanya berbinar-binar dan sama sekali tidak menampakkan keluhan. Aku meraih es krim dengan cepat
“Ini es krim atau sampah? Kenapa rasanya pahit sekali? Ambil! Kamu coba sendiri." aku membelalak, tanganku cekatan melempar es krim itu tepat di mulutnya yang tertutup dan meleleh jatuh di bajunya.
Dia hanya menatapku sesaat mencoba bersabar menghadapi sikapku yang sangat tidak sopan.
“Aku minta maaf, Kirana. Aku enggak tahu rasanya pahit. Kalau kamu mau aku bisa membelikan mu lagi di tempat." Adrian dengan nada bersalah, tidak menampakkan kemarahan sedikit pun.
“Seleraku makan es krim sudah hilang. Kita pulang saja!" aku menampakkan wajah cemberut.
Adrian sadar kalau aku marah. Hal pertama yang dilakukannya adalah merogoh saku celana, mencari tissue dan membersihkan es krim bekas lemparanku. Dia tidak dendam, justru berusaha memamerkan senyuman yang ku balas dengan tatapan galak.
Kami pulang, dan sesampainya di depan rumah aku melihat mobil Tante Rani terparkir di bagasi. Mungkin hari ini ia pulang cepat. Aku berhenti sejenak, berpikir mengenalkan Adrian pada Tante Rani menyambung keakraban mereka karena Tante Rani tampaknya memang menyukai lelaki ini.
Aku memasuki rumah bersama Adrian. Tante Rani tampak sedang duduk di sofa dan membaca majalah. Mendengar langkah kakiku, seperti biasa beliau menghentikan aktivitasnya yang sedang dilakukan lalu memelukku.
“Kamu sudah pulang? tanyanya sambil melepaskan pelukan.
“Iya.”
“Dan siapa orang di belakangmu ini? Hmmm....... Tante ingat. apa dia orang yang kamu usir waktu datang ke sini malam itu?" Tante Rani melempar tatapan penyambutan dengan baik di rumah ini.
“Tante enggak lupa, yah. Dia memang pernah datang ke sini. Kenalkan, ini Adrian teman kampus ku. Aku memberi kode pada Adrian untuk mengulurkan tangan.
"Adrian...."
“Panggil saja Tante Rani, senang bertemu denganmu, Adrian." Tante Rani menyambut uluran tangan Adrian dengan tangan terbuka.
Setelah mengobrol beberapa saat, aku bertanya sesuatu, Tante, apakah aku bisa bicara hal penting?
"Ya, Kirana?"
“Mulai besok Pak Abu enggak perlu menjemputku lagi." aku sedikit gugup.
"Kenapa, Sayang?"
“Aku cuma mau mengurangi bebannya, karena sekarang pengganti Pak Abu sudah kudapatkan, yaitu Adrian." Aku melirik sekilas pada Adrian yang mengagguk setuju.
Mata Tante Rani ingin segera terlepas dari tempatnya. Ia tampak berpikir keras antara menerima atau tidak.
“Hal yang selalu Tante takutkan adalah saat kamu berteman dengan orang salah, berani mengantar ke manapun kamu pergi, apalagi jika kamu belum mengenalnya dengan baik.”
"Tapi aku yakin Adrian orang baik," kataku meyakinkan.
"Baiklah kalau begitu. Yang penting kamu bisa jaga diri."
Aku lega mendengar hal itu. Aku bisa menebak hal pertama yang membuat Tante Rani setuju yaitu ketika beberapa hari yang lalu Adrian datang ke sini di malam hari secara tiba-tiba dan bersikap sopan serta menampakkan keramahan. Kedua, malam itu ketika mengantarku pulang dari pasar malam sampai di depan rumah, tidak melewati batas waktu maksimal yang meyakinkan hati Tante Rani menyetujui permintaanku.