Bukannya marah aku bersikap kurang ajar, Adrian malah tersenyum kegirangan melihatku menyetujui permintaannya. Baiklah, aku menuruti permintaannya. Lagipula aku tidak pernah ke pasar malam, apalagi kencan bersama dengan pacar dan mantanku.
Mereka semua selalu mengajakku ke tempat romantis untuk kalangan atas, menghabiskan kebersamaan berdua yang selalu kuacuhkan dan cepat bosan. Jujur saja, selama ini tidak ada yang mampu mengikat hatiku dengan cinta yang tulus. Mereka selalu memandang dari fisikku yang molek.
Mulai dari tubuh ideal, cantik, mulus dan tidak ada cacat sedikitpun. Tapi mereka semua terlalu bodoh percaya terhadap penampilanku yang menipu, padahal aku punya sakit hati yang susah untuk dilupakan.
Aku meninggalkan Adrian sendirian di ruang tamu dan masuk ke dalam kamar untuk menyiapkan diri. Tiba-tiba saja terbesit dalam pikiranku untuk membuat Adrian jijik dan merasa malu ketika berjalan bersamaku. Aku tidak bisa membayangkan, aku turun dan menunjukkan diri, lalu dia menolak untuk pergi. Sepertinya menarik, pikirku senang.
Untuk pertama kalinya aku akan memakai make up tebal demi misi yang mendesak. Aku terpaksa melakukannya untuk membuat Adrian jera dan menjauhiku selamanya. Dengan dress hitam di atas lutut, aku menggelung rambut. Aku tahu Adrian tidak suka rambut gelungan dan misi ini harus berhasil. Aku bergegas masuk ke dalam kamar Tante Rani dan diam-diam mencuri make up yang biasa dipakainya untuk mengoles wajah.
Syukurlah, Tante Rani di dalam kamar mandi. Tanganku segera mengoleskan di bagian wajah, bibir dan bagian mata secara perlahan. Tidak peduli lagi apa yang terjadi selanjutnya, semua selesai dalam sekejap. Saat melihat kembaran bayanganku di cermin, aku tidak mengenali diriku sendiri. Aku tertawa kecil menghadap cermin. Dengan senang hati aku menuruni anak tangga, berdiri di hadapan Adrian membuatnya terkejut setengah mati.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu? Aku pasti cantik." Aku berputar memegangi gaunku. Adrian tersenyum kecil, menyembunyikan tawa, kemudian serius berbicara.
"Kamu sudah siap. Kita pergi sekarang!”
“Tunggu dulu," teriakku. Aku memicingkan mata dan berpikir.
Jadi rencanaku gagal total? Kenapa Adrian tidak marah atau jijik melihatku? Apa dia tidak malu dengan penampilanku sekarang? Kalau dilihat-lihat, polesan make up ku ini sangat memalukan. Lipstik merah tebal, eyeliner dan shadow hitam memenuhi kelopak mataku, tampilan yang sangat buruk. Sekarang gantian aku yang tidak berani keluar rumah dengan penampilan seperti ini. Benar-benar tidak bisa.
Tapi kalau aku menolak atau berbalik ke kamar mandi untuk menghapusnya, pasti Adrian berpikir hal yang tidak-tidak, kalau aku sengaja menjahilinya.
Napas kutarik dalam-dalam. Sialan, ini namanya senjata makan tuan.
“Apalagi yang kita tunggu? Aku pikir kami sudah siap." ia menyeret tanganku dengan cepat.
Aku hanya bisa menitip pesan pada satpamku bahwa aku pergi, soal Tante Rani nanti bisa kutelepon bahwa aku akan pulang secepatnya.
Hm. Seandainya Tante Rani melihatku berpenampilan seperti ini, dia pasti marah besar. Aku sudah memakai make up orang dewasa yang tidak pantas untuk remaja sepertiku. Adrian menyodorkan helm untuk kupakai.
Kami sudah sampai di pasar malam. Aku menoleh ke kanan dan kiri. Jujur saja, aku baru pertama kali ini mengunjungi tempat seperti inibanyak sekali orang yang datang mengekspresikan kebahagian. Sebenarnya aku sangat tertarik dengan suasananya karena terlihat menyenangkan.
Banyak arena permainan yang tidak ada di tempat lain. Aku perlahan berjalan melewati gerbang penyambutan dan tatapan aneh beberapa orang berhasil menyambut ku.
Semua orang menatap heran ke arahku dan aku langsung salah tingkah. Aku menggenggam lengan Adrian yang berjalan santai, kemudian aku menghentikan langkahnya.
“Aku enggak mau masuk Adrian.”
"Kenapa enggak?"
Pertanyaan itu sukses membuatku tidak bisa berkutik. Semua ini salahkuseandainya aku tidak bertindak bodoh dan ceroboh, aku pasti bisa menikmati suasana pasar malam dengan ceria. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari toilet untuk menghapus make up menorku. Kenapa tidak ada toile sih? Diam-diam, aku memperhatikan pedagang yang di pojok.
Mataku menatap serius pada seorang anak kecil yang sedang memegang stik panjang, memakan gumpalan kapas yang sangat besar dengan warna merah muda. Makanan itu terlihat menggiurkan sampai-sampai anak kecil itu membeli lagi.
“Kamu mau kembang gula kapas?”
Aku menoleh. Jadi Adrian memperhatikanku dari tadi? Aku diam, tidak mengangguk.
"Tunggu di sini, jangan kemana-mana! Aku mau ke sana membelinya." ia menyuruhku duduk di area tenda sirkus yang sedang melakukan atraksi tidak jauh dariku.
“Iya! sahutku singkat.
Adrian berlari dengan cepat menuju pedagang kembang gula kapas. Aku duduk sendirian menatap sekelilingku. Tiba-tiba sekelompok anak kecil membawa pistol air mainan dan meneriaki ku.
“Badut jelek... Badut jelek..." teriaknya bersamaan sambil menembakkan air ke wajahku sampai-sampai make up yang kupakai meleleh.
"Berhenti! Aku bukan badut." Aku menutup wajahku yang terkena semburan air. Bajuku hampir sepenuhnya basah, tapi tembakan demi tembakan tidak berhenti mengenaiku.
“Tembak lagi badut itu. Dorong dia!" teriak salah satu anak kecil. Beramai-ramai mereka mendorongku sampai jatuh di rumput yang basah.
"Berhenti anak-anak nakal!" tukasku marah. Kedua mataku sulit dibuka akibat rasa perih, serangan air itu mengenai shadow dan eyeliner-ku hingga meleleh. Bibirku terasa sangat gatal sehingga aku tidak sanggup menahannya untuk menggaruk lebih keras.
Aku tidak bisa melihat diriku sendiri sekarang. Dalam hati, ada perasaan menyesal karena mengenakan polesan make up ini. Tanpa sadar aku meneteskan air mata walaupun tidak terlihat akibat air yang lebih banyak di wajahku. Baru kali ini aku dipermalukan banyak orang.
Beberapa detik kemudian, Adrian datang mengusir semua sekolompok anak kecil yang nakal itu. Dia panik mendapatiku menutup wajah dengan tangan.
“Apa yang terjadi, Kirana? Kamu enggak apa-apa?" ia membuka tanganku yang menutupi wajah dan menelan ludah melihatku sudah acak-acakan seperti ini.
Lelehan make up hitam memenuhi wajahku dan lebih parah lagi lipstik merah itu membuat bibirku gatal dan sedikit bengkak. Tanpa sadar, lelehan air mata terus mengalir di pipiku.
"Tunggu di sini sebentar,"
Setelah menuntunku duduk di sebuah bangku kosong. Adrian melangkah lebar, lalu dua menit kemudian dia kembali sambil berkata cepat, Ini.
Aku menoleh. Kali ini ada perasaan terharu melihat lelaki itu membawakan sebuah air mineral dan tissue. Adrian menyuruhku membasuh wajah sampai polesan make up itu hilang. Perlahan kubasuhkan ke wajah, setelah selesai Adrian menyuruhku diam kemudian ia meraih tissue yang sudah dibelinya. Lelaki itu membantuku menghilangkan jejak-jejak make up sialan itu sampai bersih kembali.
“Seandainya kamu enggak datang mungkin aku sudah jatuh pingsan." Mukaku cemberut sambil memegangi wajahku yang sudah bersih.
“Dasar bodoh! Apa kamu pikir dengan pakai make up tebal seperti itu bisa batalin niatku untuk pergi? Enggak.... Itu enggak akan terjadi. Lain kali jangan lakuin hal bodoh itu lagi. Wajah kamu bisa rusak karena bedak sialan itu."
Suaraku tiba-tiba tercekat di tenggorokan karena tidak tahu harus bagaimana lagi menjelaskannya. Aku menunduk. Memang benar aku yang salah.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu, Mana pesanan gue? tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Tadi gue jatuhin... di sini... Lihat! Kembang gula kapasnya terinjak.”
“Yahhh..." Suaraku tampak kecewa.
"Hilangin muka cemberut mu. Lebih baik kita ke sana dan lihat proses pembuatannya kita akan membelinya berapapun harganya," ajaknya.
Aku mengangguk setuju karena memang penasaran dengan proses pembuatannya. Kami berlari kecil ke arah pedagang itu, dan mataku seketika takjub melihat proses pembuatannya yang sangat mudah. Aku baru tahu kembang gula kapas terbuat dari gula pasir yang sudah diberi warna, salah satunya warna pink dan putih, kemudian diletakkan di wadah, lalu digiling.
Hasil uraian gula pasir itu lalu melekat pada stik yang diputarkan oleh mesin dan membentuk kapas ringan yang terlihat sangat menarik. Setelah pembuatan selesai, dimasukkan pada plastik transparan lalu bisa dijual untuk dikonsumsi. Aku tersenyum puas mendapatkan satu buah kembang gula kapas yang sejak tadi kuinginkan.
Setelah itu, Adrian mengajakku ke arena permainan kuda putar, dan aku duduk di atasnya sambil menikmati kembang gula kapas yang sangat lezat. Tidak ada yang menatapku dengan aneh lagi, hanya lirikan manis datang dari wajah cowok yang duduk di sana.
Kembang gula kapas yang baru kumakan sedikit perlahan mengecil dan hampir habis. Aku menanyakan pada Adrian dan lelaki itu kemudian menjelaskan kalau hal itu hal biasa, kembang gula kapas tidak bisa terlalu lama disimpan apalagi terkena tiupan angin karena akan mengecil dengan sendirinya. Aku manggut-manggut mengerti—benar-benar manisan aneh yang sulit didapatkan.
Merasa sudah puas menaiki kuda putar, aku segera melihat pernak-pernik aksesoris dan tertarik pada kupluk putih kesukaanku. Adrian melihatku memandangi kupluk itu terus menerus, lalu ia membayar tanpa berkata apa-apa, bahkan memesan menuliskan namaku di pinggirannya.
Hampir saja aku berteriak senang mendapatkan sesuatu yang kuinginkan. Kami menjauh dari pedagang aksesoris, dan Adrian menyuruhku melepaskan gelungan rambutku kemudian memakaikan kupluk indah di kepalaku. Dengan hati bahagia, kami melanjutkan jalan menuju arena permainan tembak sasaran.
Permainannya cukup mudah, hanya dengan menembak semua tumpukan kaleng hingga terjatuh dan bisa mendapatkan hadiah. Tanpa ragu Adrian melakukan itu dan menembak satu persatu dengan mahir. Pemilik arena permainan tembak sasaran bertepuk tangan mengakui kehebatannya bahkan memberikan boneka beruang putih yang sangat besar untukku sebagai hadiahnya.
“Ini untukmu, beruang putih sesuai dengan wajahmu yang sangat cantik."
Pemilik toko itu memujiku dengan tulus. Aku tersipu mendengar pujiannya, dan dengan senang hati menerima boneka warna kesukaanku.
"Kalian pasangan serasi, semoga langgeng sampai pernikahan ya," lanjutnya lagi.
Mata kami membelalak sebesar bola karena tidak percaya dengan doa yang diucapkannya.
“Kami enggak pacaran, suara kami serentak." Orang itu hanya tertawa, tidak memberi respons lagi.
Kami pergi dari sana dan tidak melakukan percakapan sedikitpun. Baru beberapa langkah keluar dari arena permainan tersebut, kami bertemu badut yang memaksa ingin berfoto denganku. Kilatan blitz kamera membuat mataku silau dan giliran Adrian ditarik untuk foto bertiga dengan badut.
Aku tersenyum menunggu hasil jepretan foto tersebut yang katanya langsung jadi. Lama menunggu akhirnya keluar juga dan tawaku langsung meledak memandangi foto Adrian sedang dicium badut, dengan rambut acak-acakan. Badut tersebut memang membuat rambutnya berantakan.
Benar-benar malam yang menyenangkan. Pantas saja Adrian menyukai tempat ini. Aku pikir pasar malam itu tidak menyenangkan, kotor, dan bau. Ternyata aku salah. Semua di luar dugaan, baru kali ini merasakan kebahagian lagi semenjak Bunda meninggalkanku untuk selamanya.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah dua jam kami berada di pasar malam, menikmati kedamaian yang sebenarnya. Semua arena permainan belum kucoba tapi aku ingin segera pulang karena Tante Rani pasti khawatir. Adrian mengantarku pulang sampai di depan rumah.
“Makasih untuk hari ini, aku senang banget." Adrian membuka suara sambil tersenyum.
"Sudah kewajiban ku memenuhi syarat itu." Aku membalikkan badan dan membohongi hatiku kalau sebenarnya merasakan kebahagiaan juga.