Aku menghembuskan napas lega begitu masuk ke dalam rumah. Tidak lupa aku mengucapkan salam walaupun Tante Rani belum pulang. Aku bergegas naik ke kamar melewati tangga. Sambil melepas pakaian seragam, aku menengok arloji dan menunggu kedatangan Calissa yang akan mengerjakan tugas bersamaku di sini. Masih ada waktu, jadi aku berlari kecil menuju meja makan dan melihat nasi serta lauk pauk sudah tersedia di meja makan.
“Enggak usah terburu-buru mengerjakan tugas kuliah.”
Aku menoleh. Oh. Calissa sudah datang rupanya.
“Bagaimana nasib tujuh pacarmu?" ia menatap mataku. Aku tersenyum kecut.
Aku memang punya dua ponsel dengan dua kepentingan berbeda. Satu ponsel yang sudah tidak pernah kuaktifkan sejak beberapa minggu yang lalu adalah nomor yang biasa dihubungi oleh ketujuh pacarku, sedangkan satu ponsel yang lain murni untuk kepentingan pribadiku saja tanpa lelaki-lelaki tersebut.
“Ponsel ini hampir saja jadi sampah. Aku sudah mematikan ponsel ini sejak minggu lalu. Kalau nomorku aktif, mereka semua pasti menghubungiku sampai aku kewalahan meladeninya. Aku mau putuskan empat dari mereka. Bagaimana menurutmu?"
"Aku setuju. Sini, biar Aku yang aktifkan."
Calissa meraih ponselku yang sudah dua minggu ini tidak pernah aktif. Dugaanku tidak meleset. Belum beberapa menit aktif, ponselku benar-benar berbunyi.
“Lihat! Panggilan dari Zacky, yang anak guru itu. Cepat angkat!" Calissa menyodorkan ponsel ke tanganku. Aku mengatur napas, mungkin ini yang terbaik. Aku terpaksa harus mencampakkannya padahal status berpacaran kami baru sebulan.
“Halo."
"Halo, Sayang, kenapa nomor kamu baru aktif? Aku rindu banget sama kamu." Suaranya terdengar di seberang.
"Aku sibuk akhir-akhir ini sampai-sampi lupa ada pacar. Aku mau kita putus biar beban ku hilang satu persatu," cetusku langsung bicara pada intinya.
"Apa?! Putus?! Aku sudah lakuin apa yang kamu mau dan berusaha ngertiin kamu...."
“Maafkan aku, ini yang terbaik.”
“Kamu benar-benar menyakitiku. Aku menyesal mengenalmu, Kirana!"
“Terserah." Aku mematikan sambungan telepon.
Aku menghempaskan tubuh di ranjang, menarik napas dalam-dalam. Belum lama beristirahat, ponselku kembali berbunyi. Calissa berteriak lagi sambil menyodorkan ponsel. "Telepon dari Arsyil, anak konglomerat di Jakarta." Aku meraihnya.
“Halo.”
“Halo, Honey, kenapa nomor kamu baru aktif? Apa kamu sudah punya yang lain? Tadi nomor kamu juga sibuk." suaranya terdengar di seberang.
“Aku memang sudah punya yang lain, enggak ada yang bisa melarangku punya pacar lagi. Aku mau putus!" bentakku kasar dan tidak mempedulikan perasaannya.
"Sialan! Sudah salah. Bicaranya masih nyolot." dengan nada keras dan langsung mematikan sambungan telepon tanpa mengucapkan kata perpisahan terakhir.
Aku menghela napas, sudah dua orang kusakiti, padahal mereka sangat baik padaku. Aku mengerjakan tugas bersama Calissa dan dua telepon masuk lagi ke ponselku. Kupandangi layar ponsel, ternyata panggilan dari Risal, anak pengusaha batu bara yang terkenal di Kalimantan. Kami sudah berpacaran selama tiga minggu lebih.
“Halo.”
“Ayang, Beib, aku merindukanmu! Kapan kita bisa kencan lagi?" dia berkata lebay. Aku benar-benar illfeel mendengar panggilan sayangnya itu.
“Ayam bebek! Ayam bebek! Aku bosan mendengarnya! Aku mau putus! Mendingan kamu pacaran sama ayam dan bebek sesuai panggilan mereka saja." tukasku kasar.
"Ayang, Beib, kenapa bicara kayak gitu? Aku enggak mau putus." suaranya tampak serak.
“Sekali putus tetap putus! Selamat tinggal." Teriakku mematikan sambungan telepon.
Belum lama pembicaraan di telepon selesai, deringan telepon berbunyi lagi. Aku yang sudah muak dan jengkel langsung berkata memasuki intinya.
“Apalagi? Kita putus!" singkatku memandangi nama pemanggil dari Rifad, anak pemilik showroom mobil terkenal.
Belum sempat menjawab aku sudah mematikan sambungan telepon.
Masih ada tiga pacar lagi, tinggal menunggu waktu—kapan nasib mereka menjadi sama rata dengan pacar-pacarku yang lain.
Mereka sudah tidak berguna lagi karena uangnya sudah kuporoti. Tapi tentu saja, uang itu tidak kupakai untuk kepentinganku sendiri, melainkan aku memberikannya pada panti asuhan dan orang miskin. Aku sekarang bisa bernapas lega, dan menghempaskan tubuh di ranjang, sedangkan Calissa memainkan bola mata boneka pandaku.
“Aku sakit hati kalah dalam pertandingan basket."
"Mau bagaimana lagi. Adrian pemenangnya." dia berbicara dengan mendengus kesal.
"Itu benar. Dan aku harus mengikuti permintaannya."
"Malang sekali nasibmu."
Setelah mengerjakan tugas, Calissa pulang ke rumah karena ia sudah janji akan mengantar ayahnya ke bandara, sedangkan aku langsung tertidur pulas. Beberapa jam kemudian, suara dorongan pintu kamar mengagetkanku, Tante Rani sudah pulang bekerja dan memanggilku.
"Sayang, ada tamu mencarimu di bawah. Cepat turun! Dia sudah di ruang tengah karena minta ijin sholat magrib di sana."
Aku terpengarah. Siapa tamu itu? Sambil bertanya-tanya di dalam hati, aku bergegas turun ke lantai satu.
Mataku memperhatikan seseorang yang sangat kukenal sholat dengan khusyuk, mengenakan kemeja panjang, dan celana jeans, poni tebalnya ditutupi dengan peci hitam. Pasti Tante Rani yang memberikan peci itu. Gerakan sholatnya aku perhatikan dengan saksama sampai ia selesai mengerjakannya. Ketika ia melipat sajadah, aku langsung bertanya.
"Adrian... kamu kenapa bisa di sini?"
"Itu sangat mudah, tinggal menjadi penguntit dan mengikuti kamu diam-diam, " katanya sambil tertawa kecil.
“Apa?! Beraninya... Sana pulang! Rumahku tertutup untuk tamu yang tak diundang." Aku mendorongnya keluar ke arah pintu.
Suara hentakan sepatu terdengar menuruni tangga dan langsung menegurku mendengar mengusir seorang tamu.
"Kirana, jangan bersikap seperti itu! Dia adalah tamu, dia berhak mendapatkan perlakuan baik dari tuan rumah."
Aku menoleh. Oh. Tante Rani sudah berdiri di belakangku.
“Maafkan sikap Kirana, Nak, dia tidak bermaksud begitu. Rumah ini selalu terbuka untuk siapa saja, apalagi anak baik sepertimu." Tante Rani tersenyum ke arah Adrian.
“Enggak apa-apa Tan. Saya juga bukan sepenuhnya anak baik, baru belajar tentang Islam sekitar satu tahun lalu.”
“Berarti kamu muallaf? Kok bisa. Keyakinan kamu ikut sama siapa?”
“Sama Mama, dia seorang Atheis! Waktu di Medan aku dapat hidayah dari Allah dan akhirnya tinggal di pesantren. Di sana aku belajar banyak hal tentang Islam, lalu pindah sekolah di Jakarta. Tapi Papa Islam kok, beda sama Mama." Adrian berkeluh kesah.
Diam-diam aku merenung sendiri. Tante Rani menyuruhku membuat minum, lalu ia naik ke lantai atas. Setelah itu aku bergegas duduk di sofa dan memulai percakapan yang sulit keluar dari mulutku.
“Kedatanganku ke sini punya tujuan, aku enggak berniat membuatmu marah. Masih ingat kan perjanjian kita?" ia santai sambil menatapku.
"Iya, aku masih ingat," ujarku cuek malas membahasnya. Sekarang ia menatap tajam.
“Terus terang, aku mau mengajakmu ke pantai." Adrian terlihat meneguk ludah dan tampak ragu-ragu untuk bicara.
"Pantai? Aku benci air, aku benci lihat pantai dan aku benci dipaksa." mataku melotot mendengar tempat yang akan kami tuju.
“Ayolah!”
“Aku sudah bilang, aku enggak bisa.”
“Kenapa? Pantai tempat yang ramai, aku enggak akan berani macam-macam. Atau mungkin kamu fobia?”
“Jangan pernah sebut kelemahan ku!" pekikku. Aku masih ingat air kolam itu berubah menjadi merah, rasanya pahit, pedih, saat menenggelamkan Bunda dalam waktu hitungan menit.
“Berarti kamu beneran fobia laut?"
"Iya,"
"Baiklah, sebagai gantinya kita ke pasar malam. Tempat itu memang kuno tapi jauh lebih menyenangkan dibanding tempat lain. Aku biasa ke sana nikmati kesenangan dan kali ini, aku engggak mau dengar kamu menolak." Dia memohon.
Aku termenung. Adrian ternyata suka tempat yang jarang disukai oleh orang kaya sepertinya. Padahal aku pikir dia sombong dan suka mencela sesuatu.
“Seandainya bukan karena memenuhi syarat tantangan itu, aku pasti menolak bahkan sangat menolak untuk melihat wajah kamu bersenang-senang bersamaku." Aku berbicara ketus.