Bertanding

1421 Kata
Sore harinya para penonton berhamburan keluar ruangan menuju lapangan. Karena kuliah mereka sudah berakhir ingin menyaksikan pertandingan basket itu. Salah satu di antara mereka menggunakan atribut nama dan fotoku untuk memberi semangat agar aku menjadi pemenang. Para mahasiswa bersikap seperti prajurit yang berada di barisan belakang atasannya. Beda halnya dengan mahasiswi, sejak tadi berhamburan keluar berebut mendekati Adrian dan memberi semangat. Aku tahu apa yang akan mereka lakukan karena aku bisa mendengarnya merencanakan sesuatu. Mereka merusak namaku dengan berbagai hinaan yang tidak ditanggapinya. Adrian pura-pura cuek dan merasa tidak peduli dengan apa yang dikatakan mereka. Kaki kami melangkah melewati ruangan Adrian dan Julia, si wanita bermuka sok manis di depan pria yang disukainya. Calissa menggenggam erat tanganku dan berjalan santai di sampingku. Tiba-tiba Julia menghalangi jalanku dengan anggota jurusan seni tari yang sudah menggunakan kostum mereka, membawa pernak-pernik yang akan dipakai pada saat menari riang. Aku tahu Julia mendukung Adrian sehingga menggunakan kostum dan tidak pulang ke rumahnya. "Kami pikir bisa kalahin Adrian? Jangan mimpi! Kucing tetap akan jadi kucing walaupun sejenis, enggak akan berubah jadi harimau sebagai pemimpin," ucapnya dengan kasar. "Lihat saja nanti, kucing mencakar kamj dan harimau menangis enggak sanggup melukai sejenisnya." Aku menatap sinis dan menyenggol lengan Julia kemudian melanjutkan perjalanan disambut teriakan teman-teman setia di belakangku. Julia terkejut. Sesaat hatinya terluka karena bicaraku terlalu kasar, penuh percaya diri, dan berusaha tegar. Aku memasuki pintu lapangan. Penonton hampir memenuhi semua kursi di lapangan dan sudah siap menyaksikan pertandingan basket. Anehnya penonton terpecah menjadi dua bagian. Di sebelah kanan para mahasiswi mendukung Adrian, dan di sebelah kiri para mahasiswa mendukungku. Sorak riuh teriakan membahana menyambut kedatanganku. Semua ini pasti rencana Adrian yang menyebarkan informasi pertandingan basket perorangan menakjubkan ini. Jadi, orang yang harus disalahkan adalah Adrian. Mungkin dia sengaja menyebarkan info pertandingan ini agar semua orang bisa melihatnya menang, tertawa di atas penderitaan ku dan pada akhirnya aku akan di permalukannya. Adrian sudah berdiri di tengah lapangan mengenakan kaos pemain basket tidak berlengan dan memperlihatkan otot-otot kuat di tangannya. Dia tersenyum puas menantikan kehadiranku. Kakiku melangkah dengan gontai bersama Calissa menuju ruang ganti olahraga untuk mengenakan kaos basket sama seperti yang digunakan Adrian. “Gimana perasaan kamu sekarang?" Calissa memperhatikanku membuka kancing baju. "Entahlah. Kamu lihat, kan penonton hampir penuh?" “Hal yang paling kamu takutkan adalah kami kalah dan di saksikan satu sekolah. Pamor wanita terkenal bakal jatuh dan di gantikan orang lain." suara Calissa dengan nada khawatir. “Pamor bukan lagi hal yang aku pikirkan sekarang, aku cuma mau bebas dari Adrian." Suaraku pasrah tak karuan. Aku keluar dari ruang ganti, dan melangkah pelan ditemani Calissa yang sudah menjauh memilih tempat duduk di tengah penonton lain. Mata kami saling bertatapan sesaat. Adrian menaikkan tangan dengan membunyikan jari dalam sekali gerakan ringan, membuat semua orang diam membisu seolah gerakan tangan itu aba-aba, membiarkan kami menyelesaikan semua. Tampak teman Julia sudah hadir menari-nari di pinggir lapangan mereka mungkin datang saat aku mengganti pakaian di ruang ganti olahraga. Julia memberi semangat pada Adrian yang tidak dihiraukan oleh lelaki ini. Bola basket sudah kupegang. Suara aba-aba untuk memulai pertandingan sudah berbunyi keras dan kami bergerak cepat memainkan bola kesana-kemari, melompat dan berlari. Adrian menatapku sangat lekat ketika akan meraih bola di tanganku, berusaha sekuat tenaga melumpuhkan segala kelemahan yang kumiliki. Tapi aku tidak sebodoh itu terhanyut dalam tatapan matanya. Beberapa menit bermain keringat bercucuran di dahi. Aku segera menyeka dengan cepat dan meraih bola yang kudapat. Aku berlari mendekati ring tempat untuk memasukkan bola dan melompat tinggi. Berhasil! Bibirku tersenyum kecil karena rasanya tidak sia-sia memasukkan bola basket tepat pada tempatnya. Yes, ini skor pertama. Adrian melihatku memperoleh skor menjadi tambah semangat untuk mengalahkanku. Dia berlari cepat menghampiriku seperti angin berhembus, dan dapat merasakan tanganku bersentuhan dengan tangannya yang berkeringat dingin. Kemudian aku menatap tanganku yang sudah kosong—bola basket itu sekarang ada pada lawanku! Adrian langsung menertawaiku yang sedang diam di tempat, bingung dalam kebisuan. Aku cepat tersadar dan segera berlari mengejarnya. Bodoh! Terlambat, Adrian sudah memasukkannya lebih dulu dan menyamakan skor kami. Penonton kembali berteriak histeris bahkan sangat histeris, melihat pertandingan mulai memanas. Rasa kesal bergelumat dalam hatiku. Bodoh, sangat bodoh! Aku segera mempersiapkan diri dan mengeluarkan tenaga ekstraku karena tidak ingin kalah lagi. Waktu hampir habis, tidak terasa pertarungan sengit ini akan berakhir dan skor kami tetap sama, tidak ada yang menang atau kalah di saat-saat terakhir. Sekarang, bola basket ada di tanganku. Tiba-tiba Adrian menghadangku dan mencoba mengecoh taktik gerakanku karena ingin mendapatkan bola basket. Aku cukup kuat sehingga bisa menghindar darinya. Tapi sialnya, dia berlaku curang dengan menghadangkan kakinya pada kakiku, sehingga aku tersandung dan hampir jatuh tersungkur di lantai. “Dasar curang! aku berteriak keras." penuh kejengkelan. Adrian tidak peduli dengan teriakanku. Ia sudah mendekati ring bola basket, bersiap melempar bola ke ring untuk menambah skornya. Tidak! Aku tidak akan membiarkan lelaki curang itu memenangkan pertandingan ini. Aku berteriak sekali lagi dengan sangat keras. “Berhenti!” suaraku menggelegar. Adrian akhirnya menoleh ke sumber suara. Aku berlari lagi sekuat tenaga dan melepaskan gulungan rambutku untuk memberikan pesona terkuat yang tidak bisa dihindari cowok manapun. Ini cara satu-satunya yang ada di pikiranku sekarang, dan aku terpaksa melakukannya. Tidak ada jalan lain lagi. Aku menggeleng-gelengkan kepala membiarkan rambutku menari-nari seperti terkena hembusan angin dahsyat sambil terus tersenyum manis. Benar saja. Adrian terkesiap, terpana, dan diam membisu sambil matanya tidak berhenti menatapku. Terpesona dalam keindahan yang ku taburkan saat ini membuatnya tertipu. Aksi manis ku sangat menggoda. Bahkan semua pandangan mahasiswa sama persisnya dengan Adrian yang memandangiku dengan sorot mata kagum. Benar-benar aksi tragis menghipnotis orang. Beberapa mahasiswi berteriak dengan sinis dan mengataiku dengan beberapa perkataan kasar. Adrian masih diam membeku memegangi bola. Oke, aku tidak mau menghilangkan kesempatan keduaku. Dengan cepat, aku berlari merebut bola basket mumpung pandangan lelaki ini masih teralih dengan keindahan wajahku. Akhirnya, bola berhasil kudapatkan dan aku berlari kembali memutar haluan untuk mencoba memasukkan bola basket di ring lawanku. “Hey!" Adrian berteriak keras membuat jantungku hampir copot. Karena teriakan mengejutkan itu bola basket terlempar ke arah lain, tidak masuk dalam ring yang sudah kutargetkan. Aku berbalik marah dan menatapnya dengan pandangan tajam karena ia telah mengacaukan kemenangnku yang sudah ada di depan mata. Aku marah besar! Kakiku berjalan ke arahnya untuk mengomelinya habis-habisan. Suara lantang ku akan ku keluarkan. Aku sudah siap berbalik, tapi lelaki itu berteriak sekali lagi. "Dasar pengecut!” Aku langsung berbalik marah. Kata-kata singkat itu langsung membuatku marah. Aku menoleh ke belakang dan berlari membawa bola basket. Lelaki itu kemudian mengejarku. Aku ketakutan hebat. Adrian semakin mendekat dan ingin merampas secara paksa bola basket itu. Aku bergegas mengembil posisi terbaik sambil menoleh ke belakang. Gerakan melompatku cepat dan...... aku terjatuh! Aku menjerit kesakitan memegangi kakiku. Bola basket sudah terlempar jauh menuju arah Adrian. Tapi aku tidak ingin lemah di matanya, aku segera bangkit untuk berdiri tegap dan meraih bola basket. Dan terlambat, semua sudah benar-benar terlambat. Adrian tidak mau mengabaikan kesempatan ini di saat aku lengah dan menderita. Dia sudah berhasil menambah skor dan memasukkan angka lagi dan MENANG! Aku berteriak keras dan memekik kesakitan. Kaki ini memang sakit tapi perasaanku lebih sakit melihat skor terakhirnya. Adrian mendekatiku, lalu mengulurkan tangan ke arahku untuk membantuku berdiri. Sorak riuh penonton membuat pertandingan kami berakhir. “Menjauh dariku! Kamu curang! Aku enggak terima kamu menang!" "Kamu yang curang, berusaha lari membawa bola basket saat aku belum siap. Lihat apa yang kamu dapatkan sekarang." ia bersikukuh membantuku berdiri lagi. “Diam! Jangan mengejekku, dan satu hal lagi. Jangan coba-coba menyentuh ku lagi." aku memberi peringatan. Adrian tersenyum dan tanpa ragu-ragu melepaskan pegangannya. Sial, aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai untuk ketiga kalinya. Melihat keadaanku, tanpa banyak bicara Adrian bersimpuh di lantai dan membantuku duduk. Setelah melepaskan tali sepatuku yang sebelah kanan, ia membuka kaosnya tanpa merasa jijik. Mataku melotot, berusaha sekuat tenaga tidak merasakan tangannya. Dia menaikkan tangan ke atas untuk menyuruhku diam dan tidak protes lagi. Tanpa ragu ia memijat kakiku. Aku berteriak kesakitan sambil duduk menyandarkan pundak ke belakang. Beberapa menit ia memutar kembali pergelangan kakiku. Benar saja, beberapa menit kemudian kakiku tidak sesakit tadi. “Sorry! Aku selalu kasar sama kau. Makasih atas bantuannya." Rasanya baru pertama kali ini aku mengucapkan hal baik kepadanya dalam bentuk rasa terima kasih. “Aku bisa terima kenyataan kalau kamu adalah pemenangnya. Aku siap menuruti persyaratan kita.” “Tenang saja, semua aman terkendali dan persyaratan itu cuma berlaku di luar kampus. Kamu enggak usah khawatir pamor mu akan turun." Semua penonton bersorak ria pergi dengan membawa kesedihan dan kebahagiaan karena aku kalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN