Kejadian Aneh

1291 Kata
Hentakan bola basket tidak dapat terhitung berapa kali membentur lantai. Gerakan demi gerakan terbaik sudah dilakukan. Keringat bercucuran di dahi, hampir seluruhnya membasahi rambutku. Latihan basket hari ini hampir tiga jam di rumah Calissa. Tenggorokanku kering luar biasa karena belum meneguk air sedikit pun. Semangat yang menggebu-gebu rupanya membuatku lupa waktu sehingga tidak sempat menengok arloji. Sepulang sekolah tadi, aku sengaja menelepon Pak Abu untuk tidak menjemputku di sekolah, karena ingin berlatih basket di rumah Calissa. Aku akan meneleponnya lagi nanti setelah selesai berlatih. Tidak ada kata lelah untuk hari ini sampai minggu depan. Aku tidak boleh bermalas-malasan karena kemenangan sudah menanti di depan mata. Ini kesempatan besar untuk menjauhkan Adrian dariku selamanya. Tidak akan ada lagi yang menggangguku setiap saat, tidak akan ada lagi lelaki yang membuatku selalu naik darah. Nafasku tersendak-sendak menahan lelah seluruh anggota tubuhku. Kaki dan tanganku mulai lemas karena kehabisan tenaga. Selama latihan di sini, bola basket tidak pernah meleset dari tempatnya. Bola basket kugenggam erat, dan aku bersiap melompat tinggi memasukkan ke ringnya. Tarikan napasku mulai melemah, aku mencoba melempar jarak jauh dan akhirnya sebelum melakukan aksi indah itu aku sukses jatuh sempoyongan ke lantai. Calissa yang melihatku berlari ke arahku. Mimik wajahnya sangat panik. Ia membantuku berdiri, lalu mengomel panjang lebar. "Aku sudah peringatin kamu dari awal, berhenti main basketnya! Kamu tetap ngotot dan memaksakan diri, sampai akhirnya kayak gini kan jadinya." Ia menatap tajam ke arahku. "Aku enggak apa-apa. Ini bukan pertama kalinya aku sakit saat main basket." Aku tersenyum getir. “Cewe keras kepala! Bisa enggak, kami dengar nasehat aku sekali saja. Kalau sampai kamu mati kaku di sini akibat keterlaluan main basket, percaya deh, Adrian bakalan aku gantung di alun-alun kota," omelnya panjang lebar. Aku hanya tertawa mendengar celotehnya itu. Aku menengok arloji dan tidak sadar sudah sore. Cepat-cepat aku mencari tas dan mengacak-acak isinya untuk mencari ponsel pintar iPhone 11 lalu menghubungi Pak Abu untuk menjemputku sekarang. Tapi sialnya sopirku itu tidak mengangkat teleponku. Akhirnya aku berdiri di trotoar jalan sambil terus mencoba menghubungi sopirku itu. “Tumben sendirian. Ngapain kamj di sini? sapanya. Seseorang berhenti tepat di depanku, lalu melepas helmnya. Aku tersentak melihat sosok yang satu ini. Benar-benar tidak percaya berita heboh tiga minggu yang lalu memang benar. Oh. Aku menyaksikan sendiri hari ini. “Dafid, ini beneran kamu? aku........ aku dari rumah Calissa dan sekarang nunggu sopir pribadiku." Suaraku tercekat di kerongkongan karena merasa gugup. Rasanya aliran darahku tiba-tiba saja berhenti. “Kenapa wajah kamj cemas begitu?" ia turun dari motor. “Aaaaahhh! enggak apa-apa.” “Baguslah. Aku pikir, kamu takut karena kondisiku sekarang." David maju beberapa langkah dan berusaha mendekatiku. “Buat apa aku takut?" Aku mundur dua langkah lebih jauh. "Lalu, kenapa kamu mundur?" ia berjalan mendekatiku lagi. “Enggak. aku enggak takut," ujarku dengan gelagapan melangkah mundur lagi dengan cepat. "Aku tahu, kamu bohong, Sayang. Aku enggak marah dengar kejujuranmu, bilang saja kamu takut lihat perubahanku sekarang yang menyeramkan. Kemarilah Kirana, peluk Aku! Aku mau kita balikan lagi ....” ia tertawa keras merasa terhina dengan ekspresiku yang tiba-tiba mundur. “Maaf, Aku enggak bisa menerimamu lagi. Pertama, Aku sudah enggak punya perasaan apa-apa. Kedua, Aku enggak bisa balikan sama mantan.” “Ayolah, Kirana! Hari ini kamu sangat menggiurkan, semakin cantik." kali ini ia mencolek lenganku dengan jarinya. “Mana sopan santun kamu sama perempuan? Sekali lagi kamu menyentuhku, aku akan teriak sekarang.” "w************n enggak perlu takut disentuh! Atau kamu mau minta bayaran tidur semalaman sama Aku?" ia melemparkan uang di wajahku dan uang itu beterbangan di udara. “Hentikan, Dafid! Aku enggak seburuk yang kamu pikirkan." Tangisku hampir pecah karena kata-kata itu benar-benar menusuk hatiku. Aku tidak kuat. Aku segera berlari keluar dari wilayah itu, dan tanganku segera merogoh tas dan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Pak Abu lagi. Akhirnya terdengar suaranya, aku menyuruh menjemputku sekarang juga. Aku memberitahukan alamat jalan tempatku berada sekarang yang sudah jauh dari rumah Calissa. Langkahku cukup panjang sampai-sampai aku tidak merasakan berlari sejauh ini. Mobil Pak Abu sudah terlihat dan berhenti tepat di depanku. Pak Abu berusaha minta maaf karena tidak menjawab panggilanku. Aku bergegas masuk, lalu duduk di jok belakang dan menenangkan diri karena ketakutan. Lambat laun, mataku setengah terpejam mengulangi ingatan memori yang terjadi tadi. Dafid adalah mantan pacarku, seorang anak pejabat daerah di Tangerang. Aku memutuskannya satu bulan lalu, sebelum kecelakaan buruk itu menimpanya. Ceritanya cukup tragis dan sangat menghebohkan kampus tiga minggu yang lalu. Papa Dafid seorang koruptor sehingga harus di penjara beberapa tahun. Rumah, mobil dan semua fasilitas disita oleh KPK sehingga Mama Dafid mengalami depresi berat. Mama Dafid terpaksa dirawat di rumah sakit jiwa sekarang. Rasa malu dan tertekan yang dirasakan David membuatnya mengendarai motor menggunakan kecepatan tinggi sore itu. Alhasil ia menabrak truk pengangkut minyak dan wajahnya hancur di bagian sebelah kanan hingga lehernya, akibat ledakan truk itu. Mataku kembali terbuka dan menatap keluar, ke arah kaca mobil. Beberapa anak jalanan tampak sedang bermain bersama, beberapa yang lain mengamen. Tapi semuanya terlihat sedang tersenyum senang. Aku menghembuskan napas dengan berat. Tahu-tahu perasaan iri menyusup jauh ke dalam hatiku. Ya Allah, anak jalanan saja bisa bersenang-senang dan tersenyum, sedangkan aku? *** “Kirana! ternyata kamu di sini." suara teriakan yang sangat membahana hampir memecahkan gendang telingaku. Mie yang tadinya akan masuk ke mulutku, tertunda karena terkejut. Aku menoleh. Astaga. "Berhenti kagetin Aku, Calissa." mataku melotot. "Aku mencari mu di setiap sudut kampus. Sampai-sampai stok napasku hampir abis naik puluhan anak tangga.” “Memangnya ada apa mencariku?" tanyaku heran. "Kamu belum tahu ya? Semua mahasiswa sibuk buat papan dukungan untuk kamu dan Adrian.” "Papan dukungan buat apa? Aku enggak mengerti," kataku dengan bingung. “Kamu ini, pura-pura lupa atau benaran lupa, sih? Ingat minggu lalu perjanjian kamu sama Adrian tentang tantangan main basket?" “Apa?!" mataku melotot besar. "Aduh, Calissa bagimana ini? Aku lupa, pertandingan basketnya mulai hari ini. Aku pikir belum cukup seminggu." Aku menepuk jidatku sampai merah karena merasa pikun seperti nenek-nenek kehabisan usia. Aku menggigit bibir bawahku. "aku benar-benar enggak habis pikir, pertandingan itu berhasil buat gempar satu kampus." Calissa menarik lenganku dengan tergesa-gesa menuju lapangan basket. Mata kami memperhatikan sekitar dengan saksama, melihat baliho dengan fotoku dan Adrian berskala besar membentang panjang, dari ujung sampai ujung. Pernak pernik lain tersedia dalam jumlah banyak. Bisa dipastikan penonton tidak bisa dihitung menyaksikan pertandingan nanti. Aku menutup mataku membayangkan semua murid duduk di sana berteriak histeris, masing-masing memihak pilihannya, mengeluarkan teriakan besar memberi semangat menggebu-gebu. Mahasiswi senior dan junior pasti akan menonton. Dekorasi lapangan sudah dipermak sedemikian indah—entah semua ini ide Adrian atau murid lain. Membayangkan semua hal yang akan terjadi hari ini, keringatku mulai bercucuran. Tanganku segera meraih rambutku yang terurai, bersiap menggelungnya. Tapi detik itu pula ada yang mendorong tanganku ke depan untuk tidak menggelung rambutku. “Rambut adalah mahkota wanita, jadi biarin dia terurai bebas. Kamu enggak pantas buat dia terikat dan tersiksa." Aku menoleh. Sialan, kenapa dia lagi? “Kamu enggak berhak melarangku mengikat rambutku sendiri." Aku membentaknya dengan nada ketus. Tapi lelaki itu malah mengeluarkan sesuatu dari balik tangannya dan memakaikannya ke kepalaku, Begini lebih bagus. Aku yakin kamu pasti lebih cantik pakai bando kepala ini." “Bando?' Kirana mendelik, “Sadar enggak, pemberian kamu ini buat kepalaku gatal-gatal." Tanganku bergegas melepas bando itu. “Ini bagus. Dosa menolak pemberian orang." “Biarin! Kok kamu yang repot, dosa aku yang tanggung sendiri. Sebanyak apapun kamu menasehatiku. Aku enggak akan bisa berubah. Mau tahu kenapa? Karena kamu nyebelin," bentakku. Aku tahu, nasehatnya itu tidak akan bisa mengembalikanku seperti semula. “Terserah katamu. By the way, gimana dekorasi lapangan kreasiku? Kamu suka? Ini khusus buat kita berdua. Apa kamu siap kalah dan garuk-garuk tembok?" ia mengedipkan sebelah matanya. "Jelek. Aku enggak suka. Kita lihat saja nanti, kamu yang menang atau aku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN