Tantangan

1354 Kata
Pagi ini, aku memasuki ruangan dan mendapati coklat berbalut pita warna pink di atas meja dan sepucuk kartu ucapan. Mataku menatap seluruh ruangan mencari orang yang menaruh coklat itu. Sungguh menyebalkan, tidak seorang pun menampakkan tingkah aneh—mereka terlihat sibuk dengan aktivitas masing-masing. Dengan cepat tanganku menyambar kartu ucapan dan mencari tahu siapa pengirimnya. Memang, coklat ini bukan coklat pertamaku. Masih banyak coklat yang ukurannya lebih besar dan rasanya lebih enak yang sering kudapatkan selain ini tapi coklat rahasia ini menarik perhatianku. Mataku fokus pada puisi singkat di dalam kartu ucapan. Setiap kata penuh makna yang sangat dalam. Wah, penulisnya pasti pintar merangkai kata, pikirku. Aku tidak bergeming begitu menatap nama pengirimnya. Adrian. Tiba-tiba sambaran tangan menarik kartu ucapan itu. Mataku terbelalak marah pada orang yang menariknya secara tidak sopan. “Adrian bakal jadi boneka kamu yang ke berapa? Kamu berani jadi sainganku? Punya kaca, kan? Ngaca! Biar tahu diri kalau kamu ini perempuan penggoda." Suaranya menggelegar, mengalihkan semua pandangan murid lain yang berada di dalam kelas. “Jaga bicaramu!” “Oopss.... Apa aku salah bicara, mengecam kamu perempuan penggoda? Yah, enggaklah! Itu, kan bener! Kamu si piala bergilir.” "Hah!? Sejak kapan aku jadi perempuan penggoda? Apa kamu pernah lihat aku menggoda mereka duluan? Ingat satu hal ya, enggak seorang pun bisa mengabaikan kecantikanku. Jadi, enggak salah kalau mereka jatuh cinta sama gue dan enggak milih kamu. Oh iya, aku lupa. kamu kan ketua penari yang alay itu kan, yang suka nari gaya centil di depan semua orang? Mendingan pajangin brosur jual harga diri deh! Kamu yang lebih cocok disebut w*************a, bukan aku." seruku jengkel mendorong Julia ke belakang sehingga gadis itu mundur beberapa langkah. Julia memegang meja untuk pertahanan agar tidak terjatuh. Julia dari fakultas seni tari yang terkenal karena tariannya yang indah. “Tutup mulut kamu! Sebelum aku merobek-robeknya." “Coba saja robek-robek aku enggak takut. Sini! Kalau berani." Aku memancing emosinya untuk adu kekuatan. "Dasar piala bergilir! Aku enggak bakalan lupain kejadian hari ini. Kamu bakalan nyesel nantinya! Ingat, urusan kita belum selesai." Ia memberi tatapan sinis, lalu keluar dari ruangan bersama kemarahannya. Julia bukan wanita pertama yang membanjiriku dengan hinaan. Masih banyak perkataan wanita lain yang lebih panas dan pedas, bahkan seorang wanita mengataiku wanita j*lang yang menjual diri di mana saja. Hari itu, tepat di kerumunan orang, aku menamparnya. wanita itu tidak diam saja, ia mencoba melawan sekuat tenaga dan membalas sakit yang dirasakannya. Aku santai menangkis semua serangannya, dan pulang dengan santai. Ingin rasanya aku menangis sekeras mungkin, meluapkan amarah yang terpendam selama bertahun-tahun. Hanya satu kesalahan fatal, membuat sebagaian orang membenciku di sekolah ini. Padahal mereka tidak tahu tujuanku melakukan semua ini, dan tidak akan pernah mengerti, tentang hidupku mengapa dan mengapa semuanya berubah menjadi neraka. Segalanya hilang. Hidupku dulu bahagia, ceria, dan periang, tapi lihat saja sekarang, berbalik seratus delapan puluh derajatkasar, sombong, dan tidak punya hati. Aku tidak mengerti mengapa mereka semua membenciku hanya karena pria yang disukainya lebih memilihku. Padahal, bukan aku yang umenggodanya, semua pria itulah yang mendekatiku duluan. Walaupun begitu, aku tahu tidak ada yang mencintaiku dengan tulus. Mereka hanya ingin memilikiku karena fisik dan kecerdasanku saja. Itulah sebabnya aku marah pada mereka. Aku marah pada semua laki-laki! Wajar kan jika aku balas dendam? Laki-laki harus mendapatkan pelajaran berharga, dan aku yakin Bunda pasti senang melihat pembalasan dendamku atas kemarahan dan rasa sakit hatinya terhadap Papa. “Ekspresi kamu mirip ayam yang sudah ditindas mobil.” Aku menoleh dengan kaget. "Oh? Calissa? Udah lama berdiri di sini?" tanyaku gelagapan, menatap wajah sahabatku itu. Aku memang tidak pernah mau bercerita tentang keluargaku. Terkadang dia hanya mendengar curhatan tentang asmaraku. Tanganku buru-buru menyembunyikan coklat pemberian Adrian ke dalam tas. "Baru saja datang. By the way, muka kamu pucat banget kayak habis ketakutan.” “Emangnya kelihatan pucat? Mungkin semalam kurang tidur. Enggak enak badan," jawabku bohong tersenyum lebar. Untung saja Calissa tidak melihat coklat itu. Yes! Hari ini dosen terakhir tidak masuk. Teman-teman sekelasku sibuk sendiri dengan kegiatan yang mereka inginkan, sedangkan aku dan Calissa menyusun rencana untuk bermain basket di lapangan basket kampus. Hampir setiap minggu, aku ke rumahnya untuk bermain basket. Calissa memang cukup kaya, ia memiliki rumah mewah dan halaman rumah yang sangat luas. Di halaman samping rumahnya ada sebuah lapangan basket. Calissa cukup gesit bermain basket, tapi nilai skorku selalu lebih unggul darinya. Ujung jariku mengatur posisi bola yang kupegang, bersiap melemparnya. Pikiranku fokus pada satu titik tujuan. Pikiranku mulai menghitung mundur dari tiga sampai satu. Bergegas tangan kuayunkan ke belakang, membuang bola sehingga tepat sasaran dan memasuki ringnya. Calissa berdiri, berteriak histeris, merasa senang dengan hasil akhir yang kulakukan barusan. “Kirana! aku siap melawan mu, sampai kamu menyerah dan mengaku kalah." Aku membalikkan badan dan terhenyak. Astaga! Lelaki ini lagi? Kapan sih lelaki ini mau enyah dari kehidupanku? Aku menatap sinis ke arahnya, yang tersenyum-senyum melihat reaksiku mengeluarkan emosi. Aku berjalan ke hadapan Adrian. "Kamu ngapain sih? Aku muak lihat wajahmu di mana-mana—selalu saja ada kamu. Minatku main basket sudah hilang sekarang," sindirku. Adrian memunggungiku dan tertawa keras melihat reaksiku tidak bersahabat, "Penolakanmu ini memberi ku inspirasi cemerlang. Aku punya tawaran bagus, aku tantangin kamu main basket di lapangan ini. Biar hati kamu yang sekeras batu itu bisa lunak. Gimana, setuju?" ia menaikkan pundak dan melintangkan tangannya ke samping. “Aku enggak ada waktu bermain basket denganmu!” “Kok enggak mau? Kenapa? Wajahku juga enggak menjijikkan tampil di lapangan." nada suara Adrian sombong dan meremehkanku. “Tapi kata-kata angkuh kamu itu menjijikkan. Dan aku enggak akan berubah pikiran." aku tersenyum sinis, menatap satu persatu anggota tubuh Adrian. “Itu tandanya kamu penakut." “Takut? Takut katamu? Aku bukan orang penakut! Aku punya nyali besar melawanmu, cuma kurang selera saja meladeni orang yang enggak penting.” “Banyak alasan! Bilang saja kamu takut. Pengecut!" Aku terpengarah. Sialan. Lelaki ini bilang apa? Dia pengecut. Oh, oke.... “Oke, aku terima," sahutku dengan d**a panas. “Ini baru Kirana yang aku kenal. Enggak ada kata putus asa, apalagi merasa takut." “Apa maksudmu? Kita baru kenalan, jadi kamu enggak usah sok tahu mengenai hidupku." “Sorry, cuma asal nebak saja. Soal tantangan itu, ada persyaratannya." Aku tidak menyahut. Sumpah, rasanya ingin muntah berhadapan dengan lelaki ini. Adrian tersenyum singkat, lalu melanjutkan. "Syaratnya mudah, siapa pemenangnya, dia boleh menentukan hukuman bagi yang kalah selama seminggu tanpa protes." “Itu gampang. Tapi kalau aku menang, kamu harus siap menjauh dari kota ini! Selamanya! Ingat ya, selamanya! Jangan pernah menampakkan diri di hadapanku lagi.” "Selamanya?" kali ini lelaki ini tertegun. "Ya. Betul. Selamanya." Adrian sangat yakin dan arogan. "Oke. Aku setuju." Adrian mengulurkan tangan tanda setuju. “Setuju." Tanganku bertemu dengan tangannya. Belum sempat kulepaskan, sambaran tangan lain menarik tanganku hingga terlepas. Menyeretku menjauh dari Adrian dan berhenti di pinggir lapangan. “Lepasin! Apa-apaan sih, Calissa! Tanganku sakit." “Kamu yang apa-apaan! Kamu sudah gila karena mengambil keputusan tanpa dipikir dulu. Kamu tahu enggak, Adrian itu kapten basket di kampus ini. Jadi mustahil kamu bisa mengalahkannya," katanya panik luar biasa. “Kapten basket?" Aku membelalakkan mataku. "Sialan! Benar-benar sial. Kupikir lelaki itu payah soal basket." sambungku lagi. “Makanya, kalau mau terima tawaran itu dipikir-pikir dulu. Adrian hebat soal basket. Lebih baik sekarang kamu batalin persetujuan itu, sebelum semuanya terlambat. Kalau kamu sampai kalah, akibatnya bisa fatal." Calissa sambil menepuk jidatnya. “Sudah telat, aku enggak bisa menarik ucapanku lagi. Apapun yang terjadi, aku akan melawan dia sekuat tenaga." aku menarik napas agak berat. "Aku tahu akibatnya. Harus menuruti semua permintaannya selama seminggu. Tapi, aku yakin bisa menang." Aku berharap dan berdoa dalam hati semoga pilihanku ini tidak salah. Semoga aku bisa mengalahkannya dan Adrian menjauh dariku selamanya. Itu yang kuharapkan selama ini—tidak ada gangguan, pria nyebelin yang sok bersikap baik. Aku berbalik dan menemui Adrian lagi yang dari tadi menungguku di tempatnya berdiri. Tentu saja, dia sama sekali tidak bisa mendengar percakapanku dengan Calissa. “Kamu masih punya waktu buat menolak kalau kamu takut kalah. Silahkan mundur sekarang! Sebelum pertandingan terjadi." ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. “Keputusanku sudah bulat untuk terima tantangan mu. Aku bukan pengecut!" "Baiklah, Kirana, pertandingan kita dimulai minggu depan sepulang kuliah. Kamu harus persiapin diri terima kenyataan kalau aku pemenangnya." Adrian berteriak keras memenuhi lapangan basket dengan suaranya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN