Menabrak

1242 Kata
Aku berjalan keluar sendirian sambil membawa setumpuk buku yang menyulitkanku untuk berjalan. Sebenarnya aku berniat untuk mengembalikannya ke perpustakaan. Kakiku melangkah dengan sangat hati-hati karena membawa beban berat di tangan. Dari jauh, suara sepatu terdengar berderap cukup keras, tapi aku tidak bisa melihat orang itu karena wajahku tertutup oleh buku-buku tebal ini. Dan..... Bagus! Tabrakan pun terjadi! Buku yang bertumpuk melebihi tinggiku jatuh berserakan di lantai. Belum sempat aku menoleh ke arahnya, aku sudah merasa sangat jengkel. Tanpa menoleh lagi, tanganku fokus meraih buku satu persatu yang berjatuhan di lantai. Tahu-tahu, tangannya juga meraih salah satu buku yang tidak jauh terlempar dekat tembok. Aku berhenti sesaat karena tangan kami bersentuhan. “Sorry, aku enggak sengaja. Aku tadi buru-buru." pria itu tersenyum meminta maaf. Aku melotot dan menatap makhluk di hadapanku ini. Perasaanku mengatakan dia bukan orang asing, bahkan aku merasa pernah mengenal dia sebelumnya. Anehnya, aku lupa, walau hatiku berteriak dia bukan orang asing. Tapi aku cuek saja dan tidak memikirkan keanehan itu lagi. “Lain kali kamu harus hati-hati." entah kenapa suaraku terdengar sedikit gugup. “Oh iya, kita belum kenalan. Namaku Adrian. Dan kamu Kirana, kan?" ia mengulurkan tangan. Aku terkejut. Orang itu mengenaliku? Aku memicingkan mata dan berusaha mengingat-ingat sesuatu. Oh. Iya, benar. Lelaki ini kan yang diceritakan Calissa tadi pagi tentang anak baru itu. Dia pasti orangnya. Calissa memang tidak salah kalau mengatakan lelaki ini tampan. Memang benar, lelaki ini sangat mempesona. Tapi entahlah, baru kali ini aku tidak tertarik apalagi berniat memanfaatkannya seperti yang kulakukan selama ini. Ada yang mengganjal dalam hatiku dan mencoba mencegah melakukan aksi keegoisanku. Lamunanku kembali buyar lagi, ketika tangannya dikibaskan tepat di depan mataku. “Hei, kamu melamun?” Aku menggeleng kepala kuat-kuat. "Tidak apa-apa, aneh saja. Kenapa kamu mengenalku? Apa kita pernah ketemu sebelumnya?" tanyaku sekali lagi. Aku berdiri kembali dan mengangkat buku-buku berat itu. Sambil melanjutkan langkahku, Adrian juga mengekor di sampingku dan menjawab. "Hanya orang bodoh yang tidak tahu wanita tercantik dan terpintar di kampus ini. Dan membuatnya jadi playgirl yang enggak tertandingi oleh siapapun.” Aku agak terhenyak mendengarnya, lalu menarik napas. "Terserah kamu mau menilaiku seperti apa, aku enggak peduli. Thanks, sudah bantu beresin buku ini. Aku duluan." aku segera mempercepat langkah, membawa buku-buku ini. Melihat Adrian membuatku jadi ingat pada seorang teman yang sudah menyelamatkanku sewaktu kelas lima SD di Medan. Beberapa tahun yang lalu, aku pindah ke Jakarta tanpa pamit, meninggalkan semua kenangan dan tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Aku sangat merindukan semua kisah di sana. Seandainya waktu dapat diputar ulang, aku akan meminta kembali bertemu dengan Bunda, menghentikan waktu, agar waktu tidak berjalan dan masa lalu menyakitkan itu tidak pernah terjadi. Hanya satu benda yang kubawa dari Medan, yaitu kalung pemberian Bunda yang tidak akan pernah terlepas dari leherku. Itu adalah pemberian terakhir orang yang sangat kurindukan. “Tunggu! Aku enggak bermaksud menyinggungmu." Adrian berteriak keras, mengalihkan semua pandangan murid lain yang menatap iri ke arahku. Oh, oke, aku tahu diri kok. Pasti mereka menilaiku dengan pandangan buruk lagi—Adrian akan menjadi orang kesekian yang akan kuperalat dan mencampakkannya begitu saja. Aku tidak peduli suara teriakannya, lalu segera mempercepat langkah menuju perpustakaan. Setelah sampai aku menghela napas. Adrian mengingatkanku pada seseorang anak yang sangat kurindukan di Medan. Mungkinkah, dia itu Ian, teman baik di sekolah yang sudah menyelamatkan nyawaku dulu? Tapi..... Apa mungkin? Sosok Ian yang dulu kukenal bertubuh gemuk, sedikit hitam dan pendek, berasal dari keluarga miskin, tinggal di panti asuhan malah. Bodohnya, jika mengira itu Ian, hatiku berteriak tidak normal dan..... Selalu meminta bersamanya? Astaga. Adrian bukan siapa-siapa. Aku akui dia memang berasal dari Medan tapi bukan berarti itu Ian. Sambil terus membayangkan tentang sosok Ian dan Adrian, sebuah tepukan pundak membuatku terlonjak kaget dan menoleh. Ternyata Calissa datang menyusulku di perpustakaan. Aku berdehem. "tadi aku ditabrak seseorang saat jalan ke perpustakaan. Anehnya, dia mengenalku padahal aku enggak pernah ketemu sebelumnya. Kalau enggak salah, namanya Adrian.” Calissa mangap, dengan mulut terbuka, tidak menyangka aku bisa bertemu dengan lelaki itu padahal baru saja dia bercerita padaku di ruangan tadi pagi. “Apa?! Sumpah deh, takdir memihakmu. Tanpa aku kenalin kamu sudah ketemu duluan." Calissa sambil berdecak kagum. "Gimana, cakep, Kan?” “Lumayan.” “Lumayan, katamu? Mendingan kamu pulang, terus minum jus wortel seember. Mata kamu perlu renovasi karena kurang beruntung lihat pria seganteng dia.” "Hmm ... kalau dipikir-pikir memang cakep." suaraku pelan. Calissa langsung memicingkan matanya dan berkata, "dasar plin plan! Jangan bilang Adrian akan jadi sasaran kamu selanjutnya." matanya melotot tidak setuju kalau aku mendekatinya, berusaha membuatnya jatuh cinta tunduk dan patuh sehingga terlena akan kepalsuan cintaku, lalu aku mencampakkannya begitu saja. “Entahlah. Kali ini aku enggak tertarik sama Adrian. Hatiku menolak, enggak berniat manfaatin dia." Aku mendengus kesal. “Serius? Apa kamu sadar? aku enggak percaya, kalau kamu menolak manfaatin dia. Aku tahu, Adrian itu tipe pria idamanmu," pungkas Calissa sok yakin. "Aku serius! Adrian mengingatkanku sama seseorang, dan hatiku menolak keras buat jadiin dia target." “Kalau gitu, aku bisa dapetin dia berdasarkan persetujuanmu. Berarti kamu mengaku kalah. Deal?" seru Calissa. “Deal!" kataku dengan tenang. "Tenang saja, soal cinta aku enggak kalah berpengalaman kok. " Calissa sambil tersenyum lebar. “Kirana, pulang bareng, yuk!" Adrian membuka helm dan menebar senyuman. Beberapa gadis melemparkan senyum iri melihat Adrian menawariku naik di atas motornya. "Kamu enggak lihat aku punya sopir pribadi? bentakku dengan nada sinis. “Lebih baik sopir kamu di pensiunin biar aku saja yang jemput.” “Kalau sopirku pensiun, memang kamu bisa kasih makan Bini dan anaknya? Pergi dari sini!" “Sebelum kanu ikut sama aku, aku enggak akan pergi." Untungnya, keberuntungan masih memihakku. Beberapa detik kemudian mobil sedan hitam, dengan nomor plat mobil yang sangat kukenal datang. Aku mengayungkan tangan ke jalan memberi kode bahwa aku berdiri di sana, berusaha untuk lari dari Adrian yang menggangguku. Mobil itu berhenti di depanku, dan aku masuk ke dalam mobil. Suara derungan motor mengekor di belakang. “Kiranaa .... Kiraanaa ...." Sialan, batinku jengkel. "Ada apa lagi, sih?" Kenapa sekarang lelaki ini sibuk mengetuk-ngetuk kaca mobilku dan memanggil-manggil namaku walaupun dia masih mengendari motornya? “Non, temannya di luar. Lebih baik kita berhenti ya, bahaya kalau ngetuk jendela terus." suara Pak Abu mengingatkan. “Jangan peduliin dia, Pak, ngebut aja!" sahutku, masih dengan nada jengkel. “Baik Non," mengangguk pasrah. Mobil pun berjalan dengan sangat kencang. Selang beberapa menit kemudian, kami bisa menjauh dari Adrian. Aku sedikit lega, lalu menyandarkan kepalaku ke belakang dan menutup mata. Tepat ketika pikiranku sudah hampir memasuki alam mimpi, lagi-lagi decitan suara mobil begitu panjang membisingkan telinga. Mataku terbuka lebar dan detik itu pula aku bisa melihat Adrian meghalangi jalan dengan melintangkan motor di tengah jalan. Amarahku meluap. Mulutku menyumpah setengah mati, melangkahkan kaki keluar, menyemprot Adrian dengan kata pedas. "Bunuh diri itu enggak harus libatin orang lain. Kami sadar enggak, mobilku bisa nabrak kamu? Bukan cuma kamu saja yang mati, tapi aku juga!" aku menunjuk tepat di depan matanya. “Suara kamu cempreng juga! Saking cemprengnya urat leher kamu mau putus tuh," serunya santai dengan nada menjengkelkan. "Permintaanku sederhana. Aku cuma mau kenal primadona kampus lebih jauh lagi." sambungnya sedikit terkekeh. “Lowongan buat kenalan sudah tutup. Minggir! Sebelum motor kesayangan kamu ini aku bakar." sorot mataku berapi-api. "Haha ... Kamu lucu juga. Tapi Kali ini kamu selamat, aku akan lepasin kamu. Lain kali enggak akan aku biarin." Ia sedikit bercanda, lalu pergi melaju secepat kilat meninggalkan deruman suara dan asap motornya. Aku tahu Adrian sengaja memancing emosiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN