Jakarta, Juni 2020
Suara jam alarm berbunyi dengan nyaring, berusaha untuk membangunkanku yang masih tidur di pembaringan. Aku menyembunyikan tubuh di balik selimut tebal yang terbuat dari bulu domba yang sangat halus dan lembut.
Tanganku meraih jam alarm di meja dengan mata masih setengah terpejam, menggosoknya berkali-kali kemudian menguap lebar-lebar. Begitu membuka mata, aku melihat pemandangan serba putih, mulai dari aksesoris, alat tulis, boneka, sampai selimut yang kukenakan.
Entah kenapa sejak aku pindah dari Medan warna putih jadi warna paling istimewa dalam hidupku. Menurutku warna putih melambangkan sebuah kedudukan, karena lewat warna putih aku merasa selalu berada di samping Bunda.
Di meja makan, Tante Rani sudah menyiapkan sarapan pagi untukku. Seperti biasa, dia selalu memanjakanku seperti anak sendiri. Tante Rani memang sangat baik, sosok kehadirannya membuatku sesaat bisa melupakan Bunda.
“Pagi, Sayang. Sini, sarapan dulu!" katanya mengelus rambutku yang tergerai cantik dengan bando putih sederhana.
"Iya, Tan." Aku tersenyum meraih s**u coklat kesukaanku.
“Bagaimana pelajaranmu akhir-akhir ini. Apakah semuanya baik-baik saja?" tanyanya meraih sepotong roti yang sudah diolesi selai coklat, lalu diberikan untukku.
"Baik, kok, Tante, enggak ada masalah," jawabku menggigit roti yang disodorkan ke arahku.
“Syukurlah, Tante tahu kalau kamu anak pandai yang bisa mengikuti semuanya dengan baik. Oh ya, Sayang, Tante boleh nanya sesuatu enggak?"
“Iya Tan, ada apa?
“Apa kamu tidak merindukan Papamu, Kirana? Sudah empat tahun kalian tidak bertemu." Tante Rani tampak sedikit gugup, mungkin ia takut aku tersinggung dengan pertanyaanya. Yang benar saja, pertanyaan itu seperti membuatku menelan sebuah pil pahit yang tidak menyenangkan.
Uuhuuukk..... Uhuuukk......
Susu itu berubah rasa dan tidak bisa melewati kerongkonganku dengan mulus. Aku mengelus d**a karena terbatuk-batuk. Mataku melotot tidak percaya karena setelah sekian tahun, baru kali ini beliau bertanya seperti itu.
“Enggak perlu bahas orang itu, Tante, enggak penting! Aku sudah enggak ingat dia lagi, dia sudah kuanggap mati." ujarku cuek dengan nada tajam.
"Kirana, dia tetaplah Papamu. Setidaknya hargai pengorbanan Papamu. Kamu ingat kan, dulu sewaktu kamu baru pindah ke Jakarta Papamu sering datang ke sini, dan kamu malah mengusirnya. Tapi, ia tampak berpikir sebentar, lalu melanjutkan, Tante heran, sudah empat tahun ini Papamu tidak pernah datang kemari." ia menghela napas panjang.
“Mungkin dia sudah enggak ingat kita lagi, sibuk sama selingkuhannya, kali. Untuk apa sih Tante mencemaskan dia? Mau bahagia, mau sengsara, mau hidup, mau mati aku enggak peduli." nada suaraku ketus.
Tante Rani hanya geleng-geleng kepala mendengar kalimatku. Aku segera beranjak dari kursi menuju mobil yang setiap hari mengantarku ke sekolah. Sejak tinggal di Jakarta, aku bersekolah di salah satu sekolah swasta sampai kuliah di sini.
Tante Rani adalah sosok pekerja keras yang sukses. Sekarang, dia menjabat sebagai seorang manajer di perusahaan majalah terkenal di Indonesia. Dia masih lajang, tapi sudah memiliki banyak hal. Mulai dari rumah mewah, termasuk dua mobil miliknya sendiri.
Sarapan pagi telah usai, kami memasuki mobil dan duduk di jok belakang. Hari ini Tante Rani pulang cepat, jadi ia sengaja diantar Pak Abu, sopir yang sudah bekerja selama sepuluh tahun.
Beberapa menit kemudian, aku sampai di gerbang kampus. Kakiku melangkah ringan, dengan baju kemeja dan celana cubrai menenteng tas Tote bag, aksesoris, dan jam tangan polos.
Rambut panjangku terurai dengan cantik sehingga tidak dapat dipungkiri banyak sorot mata terkagum-kagum menatapku. Beberapa murid cewek juga terlihat iri kepadaku. Omong-omong, sejak masuk ke kampus ini, aku memang terkenal karena kecantikan dan kecerdasanku. Banyak lelaki naksir, dan nilai-nilai terbaik berhasil kuraih dengan mudah.
Kampus Jagad Raya juga sangat terkenal di Jakarta. Banyak mahasiswa berlomba-lomba kuliah di sini. Kampus ini terkenal elite dan mahal, jadi tidak semua orang mendapat kesempatan terbaik kuliah di kampus Jagad Raya yang sangat terkenal dengan kedisiplinannya.
Kirana yang sekarang sudah berbeda dengan Kirana yang dulu. Kirana yang sekarang sudah semakin jauh dengan sang pencipta. Seandainya Allah sayang padaku, pasti Ia tidak akan mengambil Bunda dariku. Begitu terus yang tertanam di pikiranku. Semua sudah berubah aku sudah tak menjadi anak baik. Aku sudah enggan memikirkan masalah dosa, terserah mau dosa apa tidak.
“Hai..... Kirana," sapa Geng Cliquers yang terdiri dari tujuh cowo tampan dan kaya raya. Aku hanya tersenyum kecut dan berjalan dengan sombong.
Mereka semua adalah mantan pacar yang kuputuskan tanpa alasan dan kutinggalkan begitu saja, tidak peduli mereka sakit hati atau tidak. Aku akui, prinsipku memang hebat buatku pria itu sama seperti baju, kalau sudah bosan tinggal di ganti.
Sangat mudah mendapatkan mereka semua. Oh ya, satu hal lagi, hanya pria tampan dan tajir yang berhasil masuk dalam kamusku. Bayangkan saja, dalam seminggu, aku mampu menaklukan sepuluh pria. Paling lama pacaran sekitar sebulan, paling singkat sehari.
Aku punya nama panggilan untuk orang yang membenciku. Piala bergilir. Ya, itu memang panggilanku, artinya lompat dari satu hati ke lainnya, tidak peduli mereka sahabat dalam satu ruangan.
Perlu digaris bawahi, aku memang wanita feminim, tapi aku tahu sedikit tentang ilmu bela diri sebagai perlindungan, hanya untuk berjaga-jaga jika mereka punya niat buruk. Dengan ilmu bela diri itu, aku sangat mudah mematahkan tulang mereka menjadi remuk.
Jujur saja aku sangat benci dengan kaum Adam. Aku ingin melihat mereka semua menderita, merasakan penderitaanku selama ini. Sampai hari ini, aku terus berjuang menampilkan topeng untuk tidak terlihat lemah di hadapan mereka.
Seperti biasa, aku berjalan dengan langkah cuek dan langsung duduk di bangku kedua dari baris ketiga tanpa mempedulikan kesibukan dan aktifitas orang lain. Hal itu membuat banyak pria semakin penasaran karena aku bersikap misterius, bisa dikatakan aku gadis yang sangat tertutup. Bahkan pada sahabatku sendiri pun aku tidak pernah bercerita tentang kehidupan keluargaku.
Seorang cewek berambut sebahu dan mengenakan kacamata tebal menyapaku dengan ramah. Dia adalah satu-satunya teman sekaligus sahabat yang selalu membelaku di kala orang lain mengeluarkan kata pedas.
“Hei, kamu cantik banget pakai bando baru," sahutnya memujiku.
Aku tersenyum kecil lalu berkata, " Tentu saja. Aku memang cantik dari lahir." Aku menaruh tas di meja.
Bagaimana tidak cantik? Aku mewarisi kecantikan Bunda yang blasteran Indonesia-Amerika. Tubuhku yang tinggi sekitar 168 cm, berkulit putih, dan bermata coklat. Postur tubuhku lebih tepatnya mirip seorang model, wajahku cantik semulus p****t bayi.
"Kamu terlalu pandai memuji dirimu sendiri. Memang benar kamu cantik, itu sebabnya semua pria tergila-gila padamu." Calissa yang centil mencubit pipiku gemas.
Aku tercengang sesaat membiarkan Calissa melakukan aksinya. It's, okay. She is my best friend ucapku dalam hati.
Mengingat tentang Bunda, aku selalu bersedih setiap kali mengingat kolam renang dan darah.
“By the way, ada berita terbaru, anak rektor kampus kita yang tinggal di Medan sudah pindah ke sini. Kamu masih ingat, Kan? Orang yang selalu dipuji-puji para guru karena keahliannya. Lebih menghebohkan lagi, dia itu tampan dan keren banget. Namanya Adrian Bagaskoro. Ruangannya ada di sebelah. Mahasiswi sudah berkerumung ngajakin dia kenalan. Kamu harus lihat deh, ayo!" Calissa bicara tanpa jeda dan tampak sangat bersemangat, sedangkan aku hanya menatapnya dengan raut wajah datar. Paling sebentar lagi anak rektor nitu akan menjadi mangsaku, pikirku enteng.
“Enggak penting! Buang-buang waktu saja. Lebih baik kamu duduk manis di sini," ujarku cuek.
"Sumpah, kamu tidak akan menyesal melihat senyuman manisnya yang langsung menghentikan waktu." Calissa terlalu alay memujinya.
Suara sepatu pentopel beradu dengan lantai terdengar mendekat. Aku tahu dosen kelas ini sudah tiba, kami segera menghentikan obrolan, suasana menjadi hening. Bu Lucy dosen killer sudah datang. Semua orang tahu Bu Lucy memiliki prinsip ketat, melanggar satu peraturan itu berarti hukuman bertambah menjadi tiga.
"Selamat pagi, semua." Bu Lucy menyapa kami dengan suara lantang.
"Selamat pagi Bu." Suara serentak terasa menyatu dengan tembok yang dilapisi cat.
“Hari ini, aku ingin kalian menjelaskan apa itu laporan keuangan?" katanya melempar pertanyaan. Beliau memperhatikan secara saksama setiap orang yang berada di ruangan ini.
“Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut." Aku mengeluarkan suara secara ragu-ragu karena takut jawabanku salah. Banyak sorot mata memandangiku dengan serius.
"Bagus. Ada jawaban lain?" pujinya, lalu memandangi mahasiswa lain dengan mata tajam.
Tidak satupun dari mereka bersuara. Sampai kuliah berakhir, hanya aku satu-satunya mahasiswi yang berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan dosen killer itu. Semua orang meninggalkan kelas.