Masa Muda (3)

1198 Kata
Papa masih belum pulang juga? Apa harus selama itu mencari bukti? Aku cemberut sambil bermain air dengan kesal. Bunda yang melihatku menggigil menyuruhku keluar dari kolam untuk mengeringkan badan dengan handuk. Beliau menasehatiku untuk mandi lagi dengan air hangat agar aku tidak terlalu kedinginan. Aku hanya mengangguk kemudian berjalan seperti robot meninggalkannya yang masih berada di kolam renang. Entah kenapa hatiku tidak ingin meninggalkannya, hatiku sedikit was-was. Aku mulai mandi. Butiran air hangat berjatuhan menimbulkan kesegaran, sampai-sampai suara teriakan tidak terlalu kuhiraukan. Aku pikir bukan apa-apa. Sekitar dua puluh menit di kamar mandi, akhirnya aku keluar dengan balutan handuk putih, membuka almari, mengacak-acak isinya dan mulai berganti pakaian. Tidak bisa kupungkiri, memang benar aku sangat lambat masalah memilih pakaian. Dulu Bunda sampai-sampai bosan menungguku memilih baju jika kami akan pergi ke acara penting atau ke pesta. Setengah jam sebelum waktunya berangkat, aku sudah harus siap duluan karena mereka takut terlambat jika harus menungguku. Akhirnya semua sudah siap, tidak sabar rasanya untuk segera menemui Bunda yang sudah lama menunggu. Pasti beliau senang melihatku berpakaian seperti ini. Kakiku melangkah tergesa-gesa memasuki area kolam renang. Entah kenapa, rasa tidak enak bergelumat dalam dadaku. Mata menatap kolam dengan lebih cermat, dan detik itu pula aku terlonjak kaget. Di detik yang sama tanganku bergetar hebat, kaki mendadak kaku dan denyut jantungku langsung berhenti berdetak. Bunda tidak ada di sana! Dan..... kenapa air kolam sudah berubah warna? Apa yang terjadi? Aku berlari mengahampiri kolam renang bersama bajuku yang panjang menjuntai. Air mata tidak dapat terbendung lagi dan memaksa keluar. Akhirnya, aku mendekat di pinggir kolam dan mendelik, menatap tidak percaya apa yang kulihat. Aku menangis histeris dan terus meminta pertolongan, tapi tidak terdengar oleh siapapun. Sampai detik itu berlalu, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan karena aku tidak bisa berenang. Tahu-tahu tengkukku merinding. Kenapa buah-buahan dan pecahan gelas berserakan di mana-mana seolah terjadi pertengkaran? amplop putih yang tergeletak di dekat pisau menarik perhatianku. Dengan pikiran paling kacau seumur hidupku, aku membuka amplop putih tersebut. Isinya hanya sebuah foto yang memperlihatkan Papa dan Tante Liza tidur bersama di sebuah hotel. “Bunndaaaaaaa!! Apa yg terjadi?" teriakku panik. Air mataku masih bercucuran, tapi Bunda tidak menjawab. Sosok malaikatku hanya diam kaku mengapung di atas air yang sudah berubah menjadi warna merah. “Bunnddaaaa.... Bunddaaa, jangan tinggalin Kirana sendirian!” Kakiku bersimpuh di pinggir kolam, meratapi nasib. Tanpa pikir panjang aku langsung melompat turun ke tengah kolam. Berharap menolongnya, di dalam genangan air yang sudah bercampur dengan darah. Oke, berhasil. Tanganku sudah meraih lengan Bunda. Tapi..... Sial, aku malah tenggelam dan tersedak. Ini kesalahan fatal karena aku tidak bisa berenang. Aku berusaha meminta tolong, tapi tak ada yang mendengar teriakanku. Dadaku mulai terasa sesak karena aku tenggelam dan kehabisan napas. Hijab pertamaku mengapung di atas air. Aku merasakan akan ikut Bunda, jemari tangannya yang kaku masih kugenggam erat. Tahu-tahu, suara teriakan samar-samar terdengar. Aku tenggelam, tidak bisa merasakan apa-apa setelah itu. *** Hidungku yang terpasang beberapa selang bantuan pernapasan masih bisa mencium aroma obat yang menyengat. Kepalaku sakit seperti dipukul palu, walaupun perlahan-lahan kupaksakan mataku terbuka dan menatap langit-langit yang sangat asing. Di tangan kiriku, selang infus terpasang dan meneteskan cairan sedikit demi sedikit. Tubuhku terasa sangat berat dan lemas. Aku mencoba mengingat-ingat kejadian terakhir yang mampir ke otakku. “Buunndaaa..." Aku berteriak keras dengan perasaan sedih dan menitikkan air mata memanggil orang yang kucari. Aku menoleh. Di sampingku, seorang wanita tampak sedang memejamkan matanya. Lewat ekor mataku, aku bisa melihat mata wanita itu terlihat bengkak dan sembap. Dia adalah Tante Rani, satu-satunya saudara Bunda yang masih lajang dan belum menikah. Dia jauh-jauh datang ke kota ini memang hanya untuk menjengukku. Mendengar teriakan keras, Tante Rani buru-buru bangun dan bergegas menghampiriku. “Syukurlah, Kirana, kamu sudah siuman," katanya dengan perasaan lega. “Aku di mana?” “Di rumah sakit. Kamu sudah tujuh hari koma di ruang ICU," sahutnya dengan muka murung dan sedih. “Bunda di mana? Dia baik-baik saja, kan?" suaraku terbata-bata. Tante Rani hanya diam. Wanita itu benar-benar tidak tahu harus berkata apa. "Tante, kenapa diam? Jawab pertanyaanku, Tante." membuka selang pernapasan dan bergegas bangun dari pembaringan. “Kamu harus istirahat, Kirana. Bundamu...." wanita itu menggantungkan kalimatnya. Aku semakin penasaran. Hatiku sudah tidak karuan. Ada perasaan takut, sedih, dan firasat-firasat buruk menghantui pikiranku. Tapi aku semakin memaksa Tante Rani melanjutkan pembicaraannya. "Bunda mana, Tante? Bunda mana?" tanyaku dengan nada mendesak. Wanita itu menghembuskan napasnya dengan putus asa, lalu mulai berbicara dengan nada sangat hati-hati. "Diaaaa.... Dia telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya." Suaranya terdengar parau. Wanita itu kemudian langsung memelukku sambil terus terisak. Ia memelukku dan mencoba memberi semangat agar aku tegar. Sungguh, apa yang dikatakannya ini benar-benar mimpi buruk untuk seorang gadis kecil sepertiku. "Enggak! Tante bohong! Tante jangan sembarangan. Bunda masih hidup! Aku enggak percaya, itu enggak mungkin," kataku sangat ketus, dengan nada marah sambil menangis tersedu-sedu. “Sadar, Sayang! Tante tidak bohong. Bundamu sudah tenang di surga sana. Dia mengiris pergelangan tangannya dengan pisau hingga urat nadinya terputus dan tidak bisa di selamatkan lagi." nada suaranya bergetar sambil terus memelukku yang meracau tak karuan. Mataku melotot dan jantungku terus berdegup dengan kencang. "Tidak! Bunda tidak mungkin bunuh diri! Mungkin ini hanya akal-akalan Papa biar bisa selingkuh dengan Tante Liza." Tiba-tiba saja otakku ingat tentang foto di amplop itu. Pintu terbuka dan Papa langsung memelukku. Rasa kesal dan marah menguasai pikiranku sehingga aku mendorongnya ke belakang. Papa mundur beberapa langkah. “Buat apa kau kemari? Aku sangat... Sangat membencimu. Kau pembunuh... Kau pembunuh." nada suaraku marah penuh penekanan dan tidak sopan. Papa sangat terkejut dengan kata-kata yang kulontarkan. "Bicara apa kamu, Sayang? Ini Papa, Sayang, ini Papa. Apa kamu sadar dengan ucapanmu itu?" Papa menggenggam tanganku. Aku segera menghempaskan tangannya. Rasa benci benar-benar menguasaiku, bahkan kali ini tidak terkendali. Sekarang, aku berteriak seperti orang gilatidak peduli ini rumah sakit. Yang kumau hanya Bunda. "Anda yang membuat Bunda bunuh diri! Anda pergi tinggalin dia dan enggak dapat menolongnya lagi. Tante, aku mohon suruh orang ini keluar! Aku enggak mau melihat wajahnya yang naif itu!" aku mendorong Papa sekali lagi dengan kasar hingga jarum infusku tertusuk semakin dalam dan mengeluarkan darah melalui selangnya. Tanpa sadar aku sedikit menjerit karena rasa nyeri itu menjalar ke seluruh pergelangan tanganku. Seharusnya aku memang tidak boleh banyak bergerak agar tidak semakin memperburuk kondisiku. “Maafkan Papa, Sayang. Jangan salah paham dulu. Biar Papa jelaskan semuanya. Kamu jangan marah seperti ini, Papa juga menyesal karena datang terlambat untuk menolong kalian.” Air mata bercucuran di pipinya. Dia orang yang menjadi kebangganku berlutut di hadapanku dan meminta maaf. “Sudah, cukup. Aku enggak mau dengar penjelasan apapun. Kejadian di rumah dan foto perselingkuhan di amplop itu sudah cukup, Pa," jeritku sambil kedua mataku terus mengucurkan air mata. “Papa berani bersumpah demi apapun kalau Papa tidak pernah berselingkuh. Allah menjadi saksinya." kali ini suara serak. “Percuma bersumpah, Pa, Bunda juga enggak akan kembali lagi. Lebih baik anda pergi dari sini sekarang juga!" teriakku dengan marah. Tidak ada rasa kasihan sedikitpun karena semua sudah terlanjur terjadi. Benar kan, penyesalan selalu tidak ada gunanya. Aku merasa bersalah tidak bisa menyelamatkan Bunda. “Aku mau ikut ke Jakarta dan tinggal sama Tante Rani." Suaraku tegas, tanpa mau memandang ke arah Papa lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN