"Gue minta sama lo buat pikirin itu seribu kali sebelum lo ambil keputusan, Adam. Gue emang gak punya hak sedikitpun dalam segala hal di hidup lo, tapi percaya lah apapun keputusan yang lo ambil terkait perjodohan ini, sangat berpengaruh pada gue. Lo batalin perjodohan lo dengan Erina, yakin lah detik itu juga gue bakal diusir dari rumah ini. Kalau lo emang tetap kekeuh mau batalin itu semua, silakan. Semua keputusan ada di tangan lo," kataku.
Aku hanya mengatakan itu terakhir kali pada Adam sebelum aku masuk ke dalam rumah. Aku bahkan tidak menawarkan dia tuk masuk ke dalam rumah dan sekadar minum, tidak sama sekali. Aku sudah terlanjur kecewa. Sangat kecewa. Berulang kali dikecewakan oleh Adam hingga aku berpikir kalau semuanya hanya permainan saja.
Karena aku pulang malam dan kemungkinan Mama dan lainnya sudah makan malam, aku tidak keluar. Mengurung diri memikirkan semua yang telah Adam katakan padaku saat di pertengahan jalan tadi. Bagaimana bisa semuanya jadi semakin rumit padahal aku sudah meminta tuk tidak terlibat sedikitpun?
Adam bilang dia sudah lama mengenalku, tepatnya ketika sekolah menengah pertama. Aku sama sekali tidak tahu. Aku baru mengenal Adam ketika namanya banyak dibicarakan siswa-siswi di sekolah, itu pun ketika sekolah menengah atas. Aku tidak tahu banyak dirinya karena alasan yang simpel dan klise—tidak ada waktu bagiku tuk memikirkan hal lain selain mengurus keperluan Erina dan keperluan rumah yang setiap hari menumpuk bak tidak ada hentinya. Dan entah bagaimana caranya dia bisa menyembunyikan perasaannya begitu lama dan entah bagaimana caraku tuk menyuruhku berhenti berada di sekitar lingkaran hidupku.
Kini mustahil. Dia sudah terlanjut terikat hubungan erat dan serius dengan Erina. Hubungan ini tidak hanya menguntungkan Erina saja, tapi juga kedua keluarga. Kalaupun dibatalkan atas dasar Adam tidak nyaman dalam hubungan ini, kemungkinan besar tidak akan dibiarkan putus begitu saja. Akan tetap dipaksakan. Percuma saja. Lebih baik sadar diri.
Sebelum memutuskan beristirahat lebih awal malam ini, aku membongkar kembali isi tasku. Entah kenapa terbesit pikiran ingin belajar malam ini. Ya tumben saja punya banyak waktu, biasanya aku kera dan sibuk sampai tengah malam. Ini bisa menjadi kesempatan bagiku.
"Astaga... Kayaknya Nik lupa ambil bukunya di tasku," gumamku.
Pasalnya, di tasku ada buku paket pelajaran milik Nicholas. Buku pelajaran ini bukan milik sekolah atau dibelinya di toko-toko buku di sini, melainkan dibawanya dari luar negeri. Dia memakai buku ini sebagai referensinya di sana. Buku paket bersampul dengan judul bahasa Inggris terkait semua permasalahan yang ada di pelajaran Fisika. Isinya juga bahasa Inggris semua dan aku perlu terjemahan dari Nicholas ketika mengambil jawaban dari buku ini. Menurutku di buku ini sudah sangat lengkap.
Aku nekat membuka buku itu, membaca-baca padahal aku tidak mengerti artinya. Hanya baca saja, tidak peduli belepotan atau tidak. Aku juga tidak tahu apakah cara bacaku benar atau tidak. Selama ini yang dapat les bahasa Inggris dan les lainnya itu Erina, bukan aku. Aku hanya les mengerjakan tugas rumah saja. Perbedaan yang amat jauh, bukan? Erina sempurna dalam segala hal, sedangkan aku kurang dalam segala hal.
Anehnya, ketika aku mencoba membacanya, aku merasa sedikit lebih keren. Bingung juga, kenapa bisa begitu. Padahal aku bisa saja banyak salah ketika mengucapkannya. Aku jadi sedikit mengerti kenapa orang-orang yang pakai bahasa Inggris terdengar keren. Mengerti juga kenapa Mama selalu memaksa Erina ikut les bahasa, padahal Erina begitu malas belajar. Ternyata ini jawabannya, merasakan sesuatu yang berkualitas. Dan aku sering menemukan kelompok-kelompok di sekolah yang mana orang-orangnya selalu memakai bahasa Inggris.
Apakah aku bisa seperti mereka? Bisa bahasa Inggris dengan lancar? Bisa bersosialisasi dengan banyak orang dengan cara keren seperti ini? Bahkan kalau bisa, apakah aku mampu melanjutkan sekolah ku di luar negeri?
Terdengar tidak masuk akal dan banyak halunya. Mana mungkin aku bisa kuliah di luar negeri sedangkan sampai aku besar seperti ini tidak punya tabungan. Mau meminta pada Papa atau Mama pun rasanya percuma, sudah pasti lebih mendahulukan Erina ketimbang aku yang tidak bisa memberikan hasil terbaik untuk mereka di kemudian harinya. Rasanya itu semakin terdengar seperti mimpi yang tidak bisa diwujudkan. Tapi yang namanya mimpi, asalkan tidak merugikan orang lain, tidak akan salah. Asalkan berusaha dan punya tekad yang kuat, tidak ada yang terasa tidak mungkin. Tuhan tidak tidur.
"Kalau aku mau mengubah garis masa depan hidupku, aku harus memantapkan pendidikanku. Aku tidak bisa diam terus di bawah tekanan perintah Mama seperti ini."
"Dan satu-satunya harapan yang terasa masuk akal adalah mendapatkan beasiswa pendidikan. Mungkin aku bisa tanya-tanya Nik besok apakah ada beasiswa kuliah yang sekiranya bisa aku perjuangkan. Ke luar negeri pun tidak masalah, aku akan belajar bahasanya."
Bisa aku bilang, tekadku ini tidak kuat. Aku masih banyak ragu, apalagi dengan segala keterbatasan yang aku miliki. Di sekolah saja aku banyak tidak masuk kelas, nilaiku jelek bahkan mendapat rangking terendah di kelas, dan hampir semuanya membenciku. Bahkan aku tidak mendapatkan dukungan finansial dari keluarga ini. Hmm.... Sulit.
"Besok aku pikirkan lagi. Malam ini aku harus tidur lebih awal supaya besok juga bisa lebih awal bangunnya. Tidak mungkin juga aku menyuruh Nik menungguku, sedangkan aku lah yang dijemput. Setidaknya etika dan sopan santun."
Dan malam ini aku bisa tidur tenang. Andai setiap hari akan seperti ini.
***
"Abi, buatin gue bekal."
Erina tiba-tiba masuk ke dapur kala aku sedang mencuci piring, baru saja selesai sarapan. Tapi anehnya, kenapa Erina minta dibuatin bekal? Dia baru saja sarapan. Juga dia tidak biasanya bawa bekal selama ini. Selalu makan siang di kantin sekolah.
"Bukannya lo udah sarapan?" Tanyaku padanya.
"Buat Adam." Ia menjawab singkat.
Oh, aku mengerti. Tanpa mengatakan banyak hal padanya, aku mengangguk mengiyakan. "Setelah gue cuci piring, baru gue buatin," kataku.
"Jangan lama, Adam sudah tunggu gue di depan."
Aku langsung melihat ke arah luar, tepatnya ke arah gerbang. Ya, benar, aku bisa melihat ada seseorang yang memarkirkan motornya di depan gerbang, tidak membawanya masuk.
"Adam gak masuk?" Tanyaku pada Erina.
"Enggak. Makanya cepetan buatin bekalnya biar Adam gak lama nunggunya." Erina kemudian berlalu pergi dengan santainya.
Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan Adam yang menunggu di luar gerbang, tapi aku mempermasalahkan Erina yang belum memakai baju sekolahnya. Belum lagi catok rambut, make up tipis-tipis, dan lain sebagainya. Ia bisa membuat Adam geram kelamaan menunggu.
Ya sudahlah, itu adalah urusan mereka berdua, bukan urusanku. Tugasku hanyalah membuatkan Adam bekal atas nama Erina, habis itu aku bisa bebas. Aku tinggal menunggu Nicholas menjemputku. Aku hanya berharap setelah apa yang aku katakan pada Adam kemarin membawa perubahan padanya, tidak terlalu dekat mencoba dekat denganku. Karena itu salah.
Aku hanya membuatkan roti bakar isi selai stroberi, coklat dan keju. Menaruhnya di satu wadah bekal. Ini tidak sulit karena aku sering membuatkan Erina bekal ini ketika ia terburu-buru mau pergi les.
Kalian tahu? Aku membuatkan satu juga untuk Nicholas. Tapi yang isian coklat dan keju saja. Aku tidak tahu apakah Nicholas akan suka dengan rasa keju. Yang aku tahu dia suka coklat, dari yang aku lihat kemarin ketika makan kue bareng dengannya.
Karena tidak mungkin meninggalkan bekal ini di dapur sebab pasti ada 'kucing' yang bisa jadi memakannya, aku berlari membawanya ke kamar Erina. Bahkan ketika aku masuk ke kamarnya pun, dia masih mencatok rambutnya, belum mulai memakai make up. Anehnya dia bisa santai di saat Adam bisa jadi sudah kepanasan menunggu.
Ah, pada akhirnya aku jadi kasihan juga pada cowok ini. Dia mendapatkan jodoh yang tidak tepat.
"Ini bekalnya, gue taruh di dekat tas lo," kataku.
Erina hanya membalasnya dengan deheman saja. Dia tidak peduli sama sekali, bahkan mengucapkan terima kasih pun tidak dia lakukan. Tidak heran, Erina memang sudah sering melakukannya. Menyuruh tanpa mengucapkan kata minta tolong, dan ketika semuanya sudah diberikan dia tidak pernah berterima kasih.
Sebelum aku benar-benar keluar dari kamarnya, aku sempat berkata begini padanya. "Lo kan tahu gimana rasanya nunggu lama. Setidaknya lo jangan buat orang yang jemput lo itu nunggu," kataku.
Dan Erina menjawabnya dengan sewot. "Banyak bacot! Urus diri sendiri bisa gak sih?!"
Aku bisa melakukan apa lagi? Aku biarkan dia, keluar dari kamarnya tanpa mengatakan apapun lagi. Karena seperti yang dia katakan, aku juga punya urusan sendiri. Aku perlu sedikit bersiap-siap sebelum akhirnya berangkat sekolah dengan Nicholas.
Tidak lupa aku memasukkan kotak bekal kecil ke dalam tasku, niatku untuk Nicholas. Setelah sedikit bersiap-siap, memastikan semuanya terbawa tanpa ada yang dirasa tertinggal, aku keluar kamar langsung ke depan rumah. Sudah ada dua motor yang menunggu, artinya Nicholas sudah menjemputku.
"Hai," sapaku lebih dulu sembari membuka pintu gerbang rumah.
"Halo, Abi! Selamat pagi!"
"Pagi."
Sama seperti kemarin, Nicholas penuh semangat, dan Adam lebih murung dari yang kemarin. Sengaja tidak tahu apa-apa, hanya tersenyum seolah semuanya baik-baik saja.
Melebarkan pintu gerbang untuk Adam. "Sebaiknya lo tunggu Erina di dalam saja. Kebetulan dia belum selesai bersiap-siap, kayaknya bentar lagi dia sudah siap. Kalau lo nunggu di luar gini, cukup panas," kataku.
"Gue nunggu di luar aja," Adam keras kepala mau menunggu di luar. Ya aku tidak bisa melakukan apapun, itu adalah kemauannya.
"Kalau gitu gue sama Nik berangkat duluan."
Nicholas sudah menghidupkan motornya, mengulurkan helm juga untukku. Walau Nicholas orangnya humoris dan selalu membawa energi semangat, tapi Nicholas bukan orang yang romantis. Maksudku, jika dengan Adam, dia selalu memakaikan helm untukku. Aku juga tidak memaksa Nicholas melakukan hal yang sama, hanya saja aku menemukan hal yang berbeda dari dua cowok ini.
"Sudah?" Tanya Nicholas.
Aku sudah naik, sudah aman juga. "Sudah," jawabku.
"Kita duluan berangkat ya, Dam. Sampai ketemu di sekolah."
Adam hanya membalas ucapan Nicholas dengan anggukan tipis. Jangan lupakan wajahnya yang murung. Dia tidak bersemangat.
***
Aku harus mengapresiasi diriku. Akhirnya aku bisa sampai sekolah di saat parkiran masih sepi, tidak banyak motor yang sudah terparkir. Ya walaupun ini semua juga berkat Nicholas. Biasanya aku sampai ketika gerbang sudah mau ditutup, yang sudah pasti banyak orang di sekolah. Terkhusus untuk hari ini, tidak. Memberi warna baru di hidupku.
"Aneh lo. Pagi-pagi senyum kayak orang gila!"
Aku malah senang mendengar gerutuan Nicholas yang demikian, sebab aku benar-benar bahagia. Tidak manipulasi sedikit pun.
"Gue emang lagi senang," kataku.
Kemudian aku teringat dengan bekal itu. "sebentar, gue punya sesuatu buat lo," aku membuka tasku dan mengambil bekal itu.
"Gue gak tau apakah lo suka atau gak. Gue bikin bekal kecil-kecilan buat lo. Kali aja lo belum sarapan," ucapku.
"Widih..." Nicholas mengambilnya dengan sangat cepat, seperti orang yang tidak pernah dapat bekal saja. "Tahu aja gue belum sarapan."
"Tapi isinya cuman roti panggang aja, rasa coklat sama keju. Kalau lo gak suka sama rasanya, lo bisa kembaliin ke gue. Jangan dibuang," kataku.
"Ya pasti gak lah! Gue kan orangnya pemakan segala, apapun makanannya gue sikat sampai habis!"
"Beneran?" Tanyaku.
Dia mengangguk semangat 45. "Iya lah. Bila perlu lo buatin gue setiap hari."
"Gue usahakan, tapi tidak janji ya," ujarku.
Senang mendengarnya, Nicholas sangat menghargai apa yang aku lakukan. Entah dia jujur atau tidak, itu urusan dirinya. Yang penting aku sudah punya niatan baik memberikan itu untuknya, anggap saja sebagai tanda terima kasihku karena dia sudah banyak membantu.
Baru kami mau keluar parkiran, motor Adam masuk parkiran yang sudah terisi setengah. Aku dan Nicholas yang awalnya mau masuk kelas lebih awal, memutuskan menunggu mereka terlebih dahulu.
Jarak tempatku berdiri agak jauh dari tempat Adam memarkirkan motornya, sekitar sepuluh meter. Akan tetapi, aku bisa melihat dengan jelas kalau sepertinya Adam dan Erina sedang marah-marahan. Bahkan tanpa ngomong apa-apa, aku melihat Erina pergi sembari menghentakkan kakinya kesal. Dia lebih dulu pergi tanpa menunggu Adam.
"Kakak lo kenapa tuh?" Tanya Nicholas.
Aku hanya mengangkat bahu, benar-benar tidak tahu kenapa dia bisa begitu. "Bukan urusan kita," kataku.
"Benar."
Akan tetapi Adam tidak menyusul Erina, tidak mencoba menenangkan Erina yang marah. Dia malah menghampiri kami. Ya walaupun tujuan awal kami adalah menunggu mereka, tapi jika keadaan seperti ini, lebih baik Adam menyusul Erina. Itu lebih baik daripada membiarkan masalah semakin melebar kemana-mana.
"Lo marahan sama Erina?" Tanya Nicholas.
"Siapa suruh dia lama banget!" Adam tidak kalah ketus menjawab pertanyaan Nicholas.
Nicholas ingin menimpali Adam, langsung aku tahan. "Biarin aja, bukan urusan kita. Kita diam saja," pintaku pada Nicholas.
"Oke."
Kami meninggalkan parkiran, mulai melewati lorong. Adam di depan, sedangkan aku dan Nicholas berjalan berdampingan di belakangnya Adam. Seperti kemarin, tidak ada yang mengajak Adam bicara. Aku dan Nicholas terus berbincang, walau tidak jelas.
"Mama gue titip salam ke lo. Katanya dia suka sama kue pilihan lo."
Ada pencerahan pagi ini. Ada alasan aku bisa tersenyum. "Benarkah? Gue senang dengarnya," kataku.
Kemarin, aku dan Nicholas balik lagi ke toko kue itu setelah makan. Sebenarnya aku hanya memilih kue yang menurutku cantik saja, tidak menyangka itu sesuai dengan selera Mamanya Nicholas. Syukur lah.
"Oh iya, Nik. Buku fisika lo di tas gue. Yang pakai bahasa Inggris itu."
"Pegang aja dulu, pakai belajar. Biar ngeringanin beban tas gue juga, lumayan."
Spontan aku memukul bahu Nicholas. Bisa-bisanya dia berpikir demikian. "Beban di gue, enak di lo ya!" Tapi jujur aku tidak keberatan sama sekali. Aku tidak menganggap itu masalah.
"Dan gue ingat satu hal lagi nih yang mau gue sama lo, Nik. Kalau kuliah di luar negeri gitu ada beasiswanya gak?" Tanyaku pada Nicholas.
"Banyak. Emangnya lo mau kuliah di luar negeri?"
Pertanyaan dari Nicholas membuat Adam berhasil berbalik dan menatapku. Seketika aku gugup, padahal aku sudah berniat mau bertanya banyak pada Nicholas yang sudah punya banyak pengalaman sekolah di luar negeri.
Aku menggelengkan kepala. "Enggak. Nanya aja. Gue gak mungkin kuliah. Habis sekolah ini, pekerjaan gue jadi pembantu di rumah," jawabku dan masuk kelas lebih dulu daripada Adam dan Nicholas.
***
Seusai mata pelajaran pertama, kelas kami harus bersiap-siap untuk mata pelajaran kedua sebelum akhirnya jam istirahat. Mata pelajaran kedua untuk hari ini adalah penjas orkes. Dan sialnya aku lupa bawa baju olahraga.
"Kayaknya kita jodoh deh, sampe-sampe baju olahraga pun sama-sama gak punya," Nicholas menyeletuk. Aku tahu dia bermaksud mencairkan suasana.
"Beda dong," aku mengelak, dia cemberut. Jokes yang mau dia lempar tidak aku tangkap dengan baik. "Lo gak punya karena belum dikasih sama pihak sekolah. Kalau lo mau ngambil hari ini pun bisa banget, tinggal ke ruang guru. Sedangkan gue? Gue lupa. Gue gak bisa pulang sekarang juga buat ambil baju itu, keburu telat."
"Ya udah, gak usah diambil aja biar sama-sama dihukum," putus Nicholas begitu santai. Dia lebih memilih mendapatkan hukuman.
"Emangnya lo sanggup dihukum?" Aku mempertanyakan itu pada Nicholas. Bukan karena aku ragu, hanya saja aku tidak mau dia menyesal dengan keputusan yang dia ambil. Karena bagaimanapun, keputusannya yang sekarang ini melibatkan aku juga. Dia mau kita berdua sama-sama, tidak terpisah satu sama lain. "Kalau enggak, mending lo ke ruang guru aja sekarang biar dikasi baju olahraganya."
"Sanggup kok, palingan disuruh keliling lapangan, kan?"
Iyaps, dia benar. Aku mengangguk setuju. Karena sebelum-sebelumnya juga seperti itu. Setiap kali ada siswa yang tidak membawa baju olahraga, dia akan dihukum keliling lapangan berkali-kali atau diminta membersihkan dan merapikan perpustakaan. Bisa jadi juga keduanya.
Aku dan Nicholas sama-sama mengambil resiko. Keluar dari kelas, langsung ke lapangan outdoor yang panas. Menunggu adanya hukuman yang menanti kami berdua. Sembari menunggu, kami memperhatikan siswa-siswi dari kelas lain yang masih asik olahraga. Ada yang main voli, basket, dan lain-lain.
"Halo, Nicholas!"
Segerombolan cewek-cewek menyapa Nicholas dengan penuh semangat dan penuh senyum. Bisa aku katakan cewek-cewek itu genit, tapi Nicholas tidak kalah genit. Membalas sapaan cewek-cewek itu juga dengan penuh senyuman manis dan yang paling penting adalah dia mengedipkan sebelah matanya ke arah segerombolan cewek-cewek itu.
"Biar gue tebak, salah satu dari mereka itu gebetan lo?" Tanyaku pada Nicholas yang seketika tertawa terbahak-bahak. Entah antara dia salah tingkah atau bagaimana, tapi cukup brutal menurutku. Dia mengapit kepalaku di ketiaknya, sambil berkata, "gue jomblo, Abi. Gue gak ada niatan pacaran."
"Kali aja kan," sambungku. Tapi karena cara Nicholas mengapit kepalaku agak kasar dan sebelah pipiku masih sakit akibat tonjokan Adam kemarin, aku sampai meringis. "Nik, pipi gue masih sakit. Lepas dong."
"Oh iya, maaf," reflek dia melepaskan kepalaku. "Lo udah coba kompres biar gak tambah sakit?"
"Gak ada waktu. Setelah sampai rumah, gue langsung tidur."
Setelahnya guru olahraga mengumpul siswa-siswi di kelas kami di satu bagian lapangan, beberapa bagian lainnya dipakai oleh kelas lain. Aku dan Nicholas memilih berbaris di bagian belakang karena tidak pakai baju olahraga. Sebenarnya, kalau Nicholas memang cocok berbaris di belakang, sedangkan aku? Karena aku pendek, seharusnya di depan.
"Mampus kita, Abi. Gimana kalau kita disuruh lari seratus kali putaran?" Nicholas berbisik bertanya demikian tanpa mengalihkan pandangannya dari depan seolah-olah dia terlihat fokus memperhatikan guru menjelaskan.
"Gak bakalan kok. Mereka gak mau ambil resiko kalau kita pingsan gara-gara dapat hukuman. Ujung-ujungnya mereka bakal nyalahin kita karena gak bawa baju dari rumah. Palingan sepuluh kali, tapi ditambah hukuman lain," sahutku juga berbisik-bisik padanya.
"Semoga deh..."
Tapi diam-diam aku tersenyum menertawakan Nicholas. Maksudku, dia sebenarnya takut kena hukuman, tapi dia mengambil resiko bersamaku. Aku janji, kalau karena hukuman ini membuatnya sakit atau bagaimana, aku akan bertanggungjawab padanya. Senang akhirnya menemukan seseorang yang bisa berusaha ada, walau aku tahu Nicholas melakukan ini juga atas permintaan Adam.
"Untuk dua orang di belakang yang tidak pakai baju olahraga, kalian berdua harus dihukum. Dan untuk yang lainnya, silakan ke lapangan indoor dan mulai latihan. Tiga puluh menit lagi saya akan menyusul kalian di sana. Mengerti?!"
"Siap dimengerti!"
Aku dan Nicholas bertahan di saat yang lainnya tampak amat begitu bersemangat pergi ke lapangan indoor. Timbul rasa iri dalam hatiku karena nasib mereka amat sangat mujur, tidak seperti diriku.
Sama sekali kami tidak berani nengok ke segala arah, hanya ke depan dengan posisi berdiri tegap. Kami menunggu perintah hukum yang harus kami lakukan untuk menebus kesalahan kami hari ini.
"Siapa nama kamu? Sebelumnya saya tidak pernah melihat kamu. Apa kamu anak baru?" Tanya pak guru olahraga pada Nicholas.
"Iya, pak. Perkenalkan saya Nicholas. Saya siswa baru di sini, pindahan dari luar negeri. Ini Minggu pertama saya," jawab Nicholas.
"Oh, anak pindahan. Alasan kamu tidak pakai baju olahraga apa?" Tanyanya lagi pada Nicholas.
"Saya belum—"
Belum saja Nicholas selesai menjawab, bapak guru ini kembali nyeletuk. "Kamu ini keluarganya bapak ketua yayasan ya?" Tanyanya, dan dalam satu detik kemudian aku mengerti kemana arah pembicaraan ini.
"Iya, benar, pak. Mama saya adalah adiknya bapak ketua yayasan," jawab Nicholas.
"Oh, okey. Kalau gitu, kamu bisa masuk kelas, tidak perlu mendapatkan hukuman. Hukuman ini tidak cocok untukmu."
Seketika aku melongo dengan ucapan bapak ini. Dia bilang hukuman ini tidak cocok untuk Nicholas, lalu aku sangat cocok, begitu? Apakah karena aku benar-benar lupa tidak membawanya dari rumah atau karena bapak ini mengerti siapa sebenarnya aku? Maksudku, karena reputasi ku yang sepertinya langganan kena masalah.
Dan yang lebih mengejutkanku lagi adalah Nicholas mau menuruti apa yang dikatakan bapak guru olahraga. Dia pergi, menepi ke tempat yang teduh. Aku? Tentunya masih berdiri di tengah-tengah lapangan yang panas. Benar-benar tidak menyangka.
"Saya mau bertanya sama kamu, sebenarnya kamu niat sekolah atau tidak?!"
Beda sekali. Ketika bicara dengan Nicholas nada bicaranya amat pelan dan lembut, sedangkan aku? Ketus.
"Niat, pak." Aku menjawab.
"Tapi kenapa kamu selalu bermasalah di kelas saya?! Tidak pernah bawa baju lah, tidak pernah bawa ini lah, itu lah. Kamu itu selalu bermasalah, bahkan di semua mata pelajaran!"
Aku dibentak. Aku malu? Tentu saja. Seakan-akan aku tidak pantas dihargai sedikitpun. Siswa lain ketika tidak bawa baju, tidak sampai dibentak. Anehnya aku selalu diperlakukan berbeda.
Aku ingin menangis. Mataku sudah berkaca-kaca. Tenggorokanku terasa tersekat, rasanya agak susah bicara. "Saya meminta maaf, pak," kataku pada akhirnya.
"Tidak ada pengampunan maaf untuk siswa yang terus melakukan kesalahan setiap harinya!"
"Seharusnya untuk orang seperti kamu ini yang pembangkang di setiap mata pelajaran, kamu sudah seharusnya di DO dari sekolah ini!"
Bapak ini terus membentakku di tengah-tengah lapangan dan disaksikan banyak siswa yang berlaku lalang, aku hanya bisa mengalah dan terus berkata, "maafkan saya, pak. Saya mengaku salah."
"Sekarang, kamu berjemur di tengah lapangan tiga puluh menit. Pas bel istirahat pertama berbunyi, kamu start lari keliling lapangan sampai semua siswa-siswi masuk kelas lagi. Setelahnya, sampai pelajaran di kelas saya berakhir, kamu bersihkan dan rapikan semua buku-buku di perpustakaan. Mengerti?"
"Siap dimengerti, pak," jawabku.
Melaksanakan perintahnya, aku berjemur di tengah-tengah lapangan yang panasnya minta ampun. Ini bahkan lebih panas dibandingkan ketika aku dihukum bersamaan Adam.
Aku benar-benar malu. Namaku semakin buruk setelah sebelumnya amat buruk. Banyak yang menggosipkan ku, bahkan sengaja mengambil fotoku yang aku yakini pasti akan disebarluaskan di forum sekolah ini. Hingga namaku kembali diributkan satu sekolah lagi.
Jangan salahkan aku jika aku menangis. Aku pun punya hati yang merasa sakit atas semua hal yang tidak adil ini. Nicholas dibebaskan, tapi aku tidak. Aku tidak tahu kemana perginya Nicholas sekarang. Mungkin seperti yang diperintahkan bapak guru olahraga tadi, dia kembali ke kelas. Hukuman ini tidak cocok untuknya karena terlalu berat untuk orang yang posisinya sudah punya tempat khusus di sekolah ini. Adalah sebuah privilege bagi Nicholas karena menjadi bagian daripada keluarga Adam.
"Gitu aja nangis!"
"Lebay ah! Dikit-dikit nangis!"
"Cieee! Si langganan kena hukuman lagi tugas ni yeee!"
"Mampus! Siapa suruh sekolah di sini!"
Dan banyak lagi yang aku dengar, namun aku diam karena tidak punya pembelaan untuk menjawab itu. Perihal nangis, itu adalah urusanku. Setiap orang punya batas bertahannya masing-masing, punya sabar yang bisa lelah menjadi sadar. Aku menyadari kalau aku tidak punya harga lagi di mata semua orang di sekolah ini. Bahkan kata DO pun begitu mudah terucap.
Aku tetap diam, tetap bertahan walau rasanya sudah tidak sanggup lagi. Entah sudah berapa lama aku berdiri di tengah lapangan seperti ini, pusing mulai menghampiriku. Aku tidak mah kejadian yang lalu akan terulang dan semuanya akan menganggap aku drama. Aku tidak mau.
Aku butuh bantuan. Badanku sudah gemetar tidak bisa menahan. Keringat dingin mulai terasa, kepala berdenyut hebat, pertahananku tidak akan lama.
Kemana perginya Nicholas? Adam? Siapapun, tolong aku.
"Erina pingsan kena bola basket!"
Mendengar itu, aku langsung kembali segar dan menoleh ke sembarang arah. Apakah benar Erina pingsan atau aku hanya salah dengar saja?
Dan itu benar. Aku melihat segerombolan siswa-siswi yang sedang memapah satu orang, sudah pasti itu Erina. Dan dari arah berlawanan, suara tapak kakinya sangat jelas, berlari menuju kerumunan itu.
Adam. Dia orangnya.
Adam mengambil alih, memapah Erina dengan sangat sigap. Membawa Erina ke ruang UKS. Aku bisa melihat itu dengan sangat jelas dan sadar, karena semuanya benar-benar ada di depanku sekarang.
Bolehkah aku tertawa? Jujur, aku mengharapkan pertolongan Adam sekarang. Aku juga sebenarnya tidak sanggup berdiri. Hampir mau pingsan. Diri ini sudah tidak tahan.
"Sudahlah, jangan berharap ke siapapun lagi sekarang. Berharap sama diri sendiri aja kadang suka menyerah," gumamku.
Aku menunduk dan menangis.