Bab 29. Niat Membatalkan Perjodohan

3611 Kata
"Tolongin gue," pintaku pada Nicholas agar memisahkanku dengan Adam. Tentu saja tanpa suara. Nicholas mengerti, dia maju dan menarik Adam. "Enggak usah peluk-peluk, jangan lebay. Lo juga liat sendiri kan kalau Abi baik-baik saja," kulihat Nicholas agak canggung mengatakan hal itu pada Adam. Mungkin dia masih mengingat kejadian tadi pagi dimana dia dan Adam masih sama-sama saling bertengkar. Bahkan Adam juga melengos tidak suka. Dia berdecak kesal, menepis tangan Nicholas. "Lo sih gak becus jagain Abi!" Kini Adam menyalahkan orang yang salah. Suara yang agak besar membuat orang melihat ke arah kami bertiga. "Gue jagain dia sesuai sama yang lo mau, Dam. Lo nya aja yang berlebihan, tau gak?!" Aku bingung mau memisahkan kedua cowok ini dengan cara apa. Yang satu ngegas, yang satu pasrah tapi tidak mau kalah juga. "Abis ngumpulin tugas seharusnya lo bawa dia langsung pulang, bukan malah ke mall ini. Lo mau ajak dia ngedate?!" Adam tidak main-main menaikkan nada bicaranya. Ia memancing keributan lagi. Dan sebelum Nicholas menjawab Adam, ia sempat melihatku. Aku menyuruhnya bersabar tanpa mengeluarkan suara, hanya dari gerakan mulut saja. Nicholas mengangguk singkat, namun Adam malah salah paham. "Kalian ngapain saling ngangguk-ngangguk gitu?" Tanyanya. Kini Adam berdiri di tengah-tengah aku dan Nicholas. Begitu tidak percayanya dia dengan kami, terus menatap curiga. "Jangan bilang kalian benar-benar pacaran, terus ini ngedate pertama kalian?" "Ngaco!" Lawan Nicholas keras. Kecewa dengan penuduhan Adam. Aku tahu, dia mungkin saja benar tentang dia cemburu, tapi apa itu tidak berlebihan? Maksudku, dua punya jodoh yang bisa bersamanya, bukan? Bahkan Erina lebih cantik dan lebih segalanya ketimbang aku. "Lo berlebihan, Adam. Gue sama Nik cuman teman. Mana mungkin juga Nik mau sama gue. Tanpa gue mengatakan alasannya, kalian berdua tahu itu," ucapku. "Terus kalian ngapain berduaan di sini?" "Mama minta gue beliin dia kue. Karena gue enggak tau selera perempuan kayak gimana dan mumpung gue pulang sama Abi, sekalian aja gue minta tolong dia bantuin gue. Emangnya salah?!" Nicholas menjawabnya Adam, untungnya Nicholas tidak menaikkan nada bicaranya. Ia masih tenang, lebih baik ketimbang Adam yang akhir-akhir ini menjadi labil. "Lagian gue juga enggak ngapa-ngapain Abi kok. Dia yang ilang sendiri." "Iya, benar. Tadi pas ngerjain tugas Mamanya Nik nelpon minta dibeliin kue. Gue mau karena hari ini Nik sudah banyak bantu gue, setidaknya itu yang bisa gue lakukan untuk membalas kebaikan dia. Dan terkait perginya gue tanpa memberitahu Nik, ada cerita lain lagi." Aku mendukung Nicholas dengan jawaban yang demikian, yang seketika membuat Adam bungkam. Ia menunduk, perlahan kulihat dia berulang kali menarik-buang napas butuh ketenangan. Ya, memang dia sudah seharusnya membutuhkan itu agar tidak langsung menuduh orang tanpa bertanya terlebih dahulu. "Kalian sudah makan?" Aku dan Nicholas kompak menggeleng menjawab pertanyaan Adam. "Ikut gue. Makan dulu baru pulang," ucapnya dan beranjak pergi lebih dulu. Aku dan Nicholas mengikutinya dari belakang. Aku menyadari Nicholas menahan tawanya, dan tanpa sadar dia menularkan itu padaku. Jujur, aku ingin tertawa dengan suasana aneh ini. Karena Adam marah tanpa angin tanpa hujan? Entahlah. Segalanya terasa lucu jika dengan Nicholas. Dengan Adam, segalanya terasa membingungkan. "Itu apa?" Tanya Nicholas berbisik, menunjuk ke kotak yang aku bawa. Kemudian aku memberikan kotak ini, "kue, dikasi sama bapak-bapak karena gue sudah bantu ibunya." "Bantu apaan?" Sembari terus mengikuti Adam dari belakang, aku dan Nicholas terus berbincang. "Ceritanya agak panjang, mau dengar gak?" "Mau dong..." Adam berbalik, sontak aku dan Adam diam dan berhenti sebentar. "Apa?" Tanyaku dan Nicholas kompak. "Fokus, ikuti gue. Jangan ngobrol terus," katanya. "Jalan aja," balasku. Dan kami lanjut lagi. Entah kemana Adam akan membawa kami, bahkan sampai naik lift segala. Ya, aku tahu mall ini milik keluarganya, dia paling tahu apa saja yang ada di lift ini. Karena itu lah aku dan Nicholas pasrah saja. Oh, mungkin tidak. Nicholas bisa jadi tahu. Aku sempat lupa, dia juga keluarganya Adam. Hanya aku yang jadi orang lain di antara dua cowok ini. Ya sudahlah, lupakan. Keluar lift dari lantai yang menurutku sudah sangat tinggi, kami terus berjalan melewati lorong-lorong. Kulihat ada beberapa orang yang bekerja seperti orang kantoran, entah itu pekerjaan apa. Tentu aku sadar dan tahu kalau di dunia ini banyak sekali jenis pekerjaan. Semua bisa dilakukan untuk bisa mendapatkan uang. Tapi aku selalu salut sama orang yang bekerja, entah pekerjaan berat dengan gaji yang rendah, pekerjaan sedang dengan gaji yang sedang juga, pekerjaan yang ringan dengan gaji yang lumayan tinggi, dan banyak sekali jenisnya. Apapun jenis pekerjaan mereka, itu semua pasti ditujukan untuk keluarga mereka. Karena mereka sayang, mereka peduli, mereka cinta. Dan suatu hari nanti, aku ingin seperti mereka. Bekerja untuk keluargaku, untuk diriku. Kemudian kami masuk ke dalam satu ruangan. Kosong, tidak ada orang yang kami temui, tapi isinya sangat lengkap. Ada meja, ada kursi dan sofa, ada lemari yang sudah terisi dengan berbagai buku dan kertas laporan, ada—ah lengkap. Seperti kantor guru, tapi ini lebih modern dan terlihat keren saja. Siapa kira-kira yang punya? "Kalian duduk dulu, gue mau panggil kakak gue. Kayaknya dia di ruangan sebelah deh." Adam pergi, aku dan Nicholas duduk menunggu. Dan ternyata tidak hanya aku saja yang kagum dengan ruangan ini, Nicholas pun demikian. Ia seperti tidak pernah masuk ke ruangan ini. "Lo enggak tahu siapa yang punya ruangan ini? Lo keliatan kayak kebingungan gitu," kataku pada Nicholas. "Gue tahu siapa yang punya, cuman gue enggak pernah masuk ke sini aja. Maklum, gue kan anak mami banget, selalu di rumah." "Oh," aku tertawa, sebab kurasa itu lucu. Lucu bisa mendengar seorang cowok yang mengaku dirinya anak mami, tidak menjaga image laki nya sama sekali. Hebat sih Nicholas bisa apa adanya dan selalu humoris orangnya. "Gue kira lo sama kayak gue. Enggak tahu apa-apa," kataku. "Enggak," bantahnya lagi. "Ini itu punyanya kak Farel, kakaknya Adam. Adam pernah cerita ke gue kalau kakaknya udah diminta mengelola beberapa bisnis Papanya semenjak kuliah, dan salah satunya ini. Jadi ketika dia sudah lulus, tidak jadi sarjana pengangguran, tapi jadi pemiliknya langsung." Aku hanya bisa kagum saja dengan cerita Nicholas. Jika pemikiran orang tua Adam sudah sebegitunya, artinya dia sayang sekali dengan anak-anaknya. Itu juga menjadi penanda kalau keluarganya amat sangat kaya dan terjamin. Maka aku tidak heran kenapa Mama sangat menghargai Adam, lebih mendahulukan Adam. Adam dan keluarganya punya kuasa dan Papa juga melihat peluang itu. Menjadikan itu kesempatan tuk menjodohkan Erina dengan Adam. "Nanti Adam juga pasti gitu. Dia kuliah, sibuk ini dan itu. Lulus kuliah, dia lebih sibuk lagi. Dia mengurus bisnis orang tuanya, dia mulai memikirkan kelanjutan perjodohannya dengan Erina. Gue bisa menebak kayaknya setelah Adam dan Erina lulus kuliah, mereka bakal nikah muda. Dan pastinya terjamin!" Hanya bisa tersenyum mendengar itu. Senyum menyakitkan yang denyut sakitnya hanya aku saja yang bisa merasakan. Pasrah, benar-benar pasrah. Tidak ada gunanya juga aku mencoba mengelak kenyataan itu. Toh setengahnya sudah mulai dilaksanakan. Perjodohan yang akan berakhir dengan pernikahan, kan? "Anyway, lupakan itu. Lo belum cerita sama gue, kemana lo pergi sampai-sampai gue ngadu ke Adam kalau lo itu hilang?!" Aku menunjuk kotak kue itu, "ke tempat yang bisa memberikan sekotak gue gratis," jawabku. "Gue serius, Abi!" Aku tertawa. Senang rasanya bisa melihat Nicholas kesal. "Gue juga serius kok. Gue ke suatu tempat, melakukan sesuatu dan akhirnya dikasi kue. Secara gratis, tanpa mengeluarkan uang sepeser pun," kataku lagi. Nicholas menghela napas kasar, mengusap dadanya. "Ya Tuhan, beri hambaMu ini kesabaran yang melimpah. Sadarkan teman Hamba untuk tidak menjadi laknat seperti ini," ucapnya berdoa. Aku makin tertawa gelak. "Bisa jawab gue dengan serius, Abi? Pasalnya, lo tahu gak kalau gue hampir aja mau dibunuh sama si k*****t Adam itu?" "Kenapa bisa seperti itu?" Tanyaku sembari membuka kotak kue itu. Aku memotongnya menjadi beberapa bagian, memberikan satu bagian untuk Nicholas. Dia menerimanya, "terima kasih, tapi gue enggak anggap ini sebagai sogokan. Lo udah janji mau cerita sama gue, dan itu harus ya!" "Iya. Bilang dulu sama gue kenapa Adam mau bunuh lo?" Meski kesal, Nicholas tidak sekesal itu. Ia masih tenang memakan kue yang aku kasih, rahangnya tidak mengetat seperti yang aku lihat terakhir kali ketika Adam mau menyerangku dengan tonjokannya, dan tatapan Nicholas juga tidak setajam itu. Santai, dan menyenangkan. "Gue udah cari lo kemana-mana, nanya ke hampir semua orang di mall ini. Gak ada yang pernah lihat lo. Gue pikir lo diculik, maklum karena badan lo kecil banget, mudah diangkat kan," ujarnya begitu sengaja mengejekku di kalimat terakhirnya. Ingin sekali membalasnya, tapi kue ini lebih enak ketimbang membalas ucapan Nicholas. Lanjut makan lebih baik sembari mendengarkan. "Terus karena gue udah lelah cari lo, gue telpon Adam. Gak perlu nunggu satu detik, dia udah terima telpon gue. Langsung nanya to the point, nyari lo. Kayak bapak-bapak yang gak sabaran liat putri kesayangannya pulang." Aku ingin tersedak mendengar cerita Nicholas. Nicholas ini orangnya blasteran, setengah indo setengah bule, tapi lancar bahasa gaul Indonesia. Lancar pula ketika mau melawak. Apakah mungkin dia bohong sama aku tentang dia yang sejak kecil tinggal di Inggris? Tuh kan, jadi ragu sama dia. Padahal hal sepele. "Terus?" Pintaku dia melanjutkan ceritanya. "Karena gue panik, dia juga gak sabaran, gue langsung bilang sama dia kalau lo diculik di mall ini. Gak pake basa basi, dia langsung matiin hp, dan gak sampe sepuluh menit dia udah sampe di sini. Gue gak heran sih, tempat tinggalnya dekat sini juga." "Terus?" Kataku lagi. Untungnya aku dan Nicholas sama-sama disantaikan dengan kue ini, jadinya segala kekesalan dan ketidaksabaran bisa terkendalikan. Terima kasih banyak untuk bapak-bapak muda yang memberikan kue ini untukku. "Gue bilang tadi dia mau bunuh gue. Dia salahin gue, segala macam. Bentak-bentak kayak emak-emak. Ancam mau balikin gue ke Inggris segala. Gue sih oke-oke aja, tapi Mama udah enggak mau balik ke sana. Untung gue langsung ada ide nyuruh dia ke ruang kontrol." "Sorry," kataku. Cukup sedih mendengar ceritanya. Padahal Nicholas baru mengenalku, tapi sudah banyak kena masalah. Mau menyalahkan Adam pun percuma, dia begitu juga karena aku. Ya intinya dan ujungnya sama saja, aku lah yang menjadi penyebab segalanya terjadi. "Gue bakal berusaha lebih baik setelah ini." "Tenang saja," Nicholas mengambil satu potong kue lagi. "Sekarang giliran lo, cerita ke gue kenapa lo bisa ngilang kayak ditelan bumi." "Sebenarnya ini salah gue sih karena enggak bilang-bilang dulu sama lo, gue main pergi aja. Setidaknya gue tunggu lo dulu, baru gue tolongin nenek itu," ujarku mengawali cerita. "Tiba-tiba seorang nenek mendatangi gue, minta tolong ke gue tapi nenek ini enggak bisa bicara. Setelah gue ikuti dia, ternyata dia bawa gue ke taman belakang mall ini. Gue ketemu sama cucunya, yang ternyata juga enggak bisa bicara. Gue kesusahan banget untuk sekedar tahu dia mau ditolong apa. Gue berulang kali mencoba tahu bahasa tubuhnya, tetap gak ngeri sampai akhirnya ada ibu-ibu yang bilang kalau si nenek ini kehilangan kalungnya." Seasik ini ternyata bercerita. Pantas banyak cewek-cewek yang suka berkumpul dan bercerita banyak hal pada teman sesamanya. Tapi kali ini aku dengan Nicholas. "Kalung nenek ini jatuh di selokan yang udah berlumpur dan agak bau. Cukup lama sih gue cariin dia di sana, tahan bau dan segalanya sampai dapat. Dan sebagai tanda terima kasih anaknya di nenek ini, dia kasih gue sekotak kue enak yang lo dan gue makan kali ini. Pas gue masuk lagi ke mall, nama gue dipanggil. Gue pikir yang cari gue itu Mama dan Papa gue, ternyata kalian berdua." Cerita dariku sudah berakhir. Bertepatan dengan itu, Adam sudah balik namun di belakangnya ada seseorang yang lebih dewasa darinya. Sepintas Adam dan orang di belakangnya itu terlihat mirip. Ah, mungkin saja itu kakaknya Adam, seperti yang dibilang Nicholas. "Kenalin, ini kakak gue." Pria yang mungkin umurnya sekitaran 20an tahun, memakai baju rapi khas pemimpin perusahaan. Dia mengulurkan tangannya untukku. Langsung aku balas jabat, "saya Abila, kak" ucapku. "Ya, saya tahu. Saya Farel, kakaknya Adam," katanya. Boleh jujur? Dia tampan. Apalagi ketika ia tersenyum tipis padaku, semakin menambah ketampanannya. Tapi hanya itu saja, aku tidak merasakan hal lebih. Sekadar tahu saja. Tapi, apakah Erina sudah berkenalan dengan kak Farel ini? Apakah dia tahu kalau kakaknya Adam setampan ini? Kalau dia tahu, sepertinya dia heboh. Hari ini aneh ya? Aku rasanya terus dan terus dipertemukan dengan orang-orang tampan dan punya kuasa. Bahkan pria di taman itu pun juga aku merasa dia demikian. Dan yang lebih anehnya lagi adalah hanya Adam yang sampai mampu membuatku kebingungan bukan main. "Sebentar lagi makanan datang untuk kalian. Enjoy saja di ruangan ini, lakukan apapun yang kalian suka." Aku mengangguk, tersenyum tipis. Sebelum kak Farel keluar, ia sempat membisikkan sesuatu pada Adam, entah apa. Itu juga bukan urusanku. Aku dan Nicholas lanjut santai, makan kue dan seperti katanya kalau kami menunggu. "Foto bentar yuk, sambil makan gue," ajak Nicholas. Menuruti apa yang diinginkan cowok ini, tersenyum ke arah kamera. Aku kaku di depan kamera, melihat bagaimana gaya Nicholas ketika berfoto banyak memberikan kepercayaan diri kepadaku. Setelah mendapatkan beberapa foto dan Nicholas memperlihatkannya untukku, kami terlihat sangat lucu. Ya, setidaknya itu pendapatku. "Gue upload ya," beonya. Aku mengangguk pasrah, toh itu juga HP dan akun media sosialnya. Aku tidak bisa melarangnya. "Puas foto-fotonya?" Adam mungkin memperhatikan kami sampai-sampai dia bertanya demikian. Aku bingung mau menjawab apa, akhirnya hanya tersenyum tipis saja. Sedangkan Nicholas? Jangan heran dia heboh. Dia amat sangat bersemangat menjawab Adam. "Puas banget dong," jawab Nicholas penuh semangat 45. "Gue bunuh juga lo, Nik. Senang banget bikin gue kesal," ujar Adam, dan itu membuat Nicholas kegirangan. Mungkin ini gaya bercandanya anak cowok. Karena setelahnya canggung, baik aku dan dua cowok ini tidak tahu mau melakukan apa, hanya diam pun makin tidak enak. Menoleh ke arah Nicholas, dia asik dengan Hpnya. Tersenyum tidak jelas, entah karena apa. Tapi kalau aku menoleh melihat Adam, akan berbahaya untukku. Aku menghindari itu. "Abi, minta kuenya satu lagi dong!" Nicholas sudah mengulurkan tangannya, meminta kue. Dengan cepat aku mengambilkannya satu potong, dan memberikannya. Tidak lupa dengan satu tisu, supaya tidak mengotori bajunya. "Jangan terlalu asik main HP kalau lagi makan, nanti keselek," ucapku pada Nicholas. Nicholas memperlihatkan layar HPnya, dan ternyata dia lagi mengotak-atik foto kami berdua menjadi lebih lucu lagi. Nicholas hebat dalam mengedit foto. "Gue enggak ditawarin kue?" Tiba-tiba Adam menginterupsi demikian. Sejenak menjadi canggung, namun dengan cepat aku memecahkan keadaan ini dengan mengambilkan satu potong kue untuknya seperti yang aku lakukan pada Nicholas. Tidak lupa tisu juga. "Ini buat lo," ujarku mengulurkan tangan memberikan kue itu padanya. Karena posisi Adam agak jauh dariku, dan kurasa kemungkinan besar Adam tidak bisa menjangkaunya, aku beranjak mendekati sofanya. "Lo juga jangan makan sambil main hp," ucapku tidak sebersemangat ketika dengan Nicholas, ini lebih lemas. Dia menerimanya, "makasi. Tapi gue gak mainin HP lho, bahkan pegang HP pun gak." "Oh." Aku merasa bersalah padanya. "Maaf, gue enggak merhatiin," kataku. "Lain kali perhatiin gue juga, jangan orang lain mulu." Sayup-sayup aku mendengar itu dari mulut Adam, dia mengucapkannya hampir berbisik. Itu membuatku tertegun, tidak bisa berkata apa-apa. Apakah selama ini aku salah? Aku mengabaikan Adam karena tahu diri dan menghormati hubungan barunya dengan saudariku. Kalau aku berbuat di luar batasku, semua akan menyalahkan ku meski sebaik apapun niatku. Di saat Nicholas ribut memainkan HPhya—main game online dan sejenak kudengar Adam telponan dengan Erina, aku ingin ke kamar mandi. Aku bingung mau tanya siapa, semuanya punya kesibukan masing-masing dan yang paling tidak urgensi adalah Nicholas. Namun ketika aku baru saja mau bertanya padanya di mana letak toilet, ia bangun dan berkata kalau Mamanya menelpon. Dua cowok ini sama saja, sama-sama punya kesibukan. Akhirnya aku keluar sendirian tanpa memberitahu mereka berdua. Niatku ingin bertanya ke beberapa orang yang bekerja di sini, namun semakin aku menyusuri lorong makin sepi. Tidak ada karyawan sama sekali. Apakah mereka semua sudah pulang? Karena ini juga sudah mulai petang, waktunya pulang kerja. Mau balik lagi pun, sudah kebelet mau pipis. "Ya Tuhan... Ada aja cobaannya," aku berjongkok menahan diri kebelet ingin pipis. Kalau bisa meminta, aku ingin ada seseorang yang muncul, siapapun itu dan membantuku mengarahkan dimana sebenarnya letak toilet di gedung ini. Tuhan, tolong bantu Hamba. "Ada apa, Abila? Butuh sesuatu?" Dan doaku didengar oleh Tuhan. Entah darimana datangnya, kak Farel muncul. Jangan sampai dengan hadirnya kak Farel ini membuatku semakin bingung dengan segalanya, seperti yang aku rasakan ketika dengan Adam. Selaku hadir di waktu yang tepat, ketika aku benar-benar membutuhkan. Bingung dan bingung. Dan untuk sekarang, tidak ada waktu untuk itu. Akan aku pikirkan nanti. "Kak Farel, Abi boleh tahu dimana toilet? Abi pengen buang air kecill," ujarku. "Ayo ikut kakak. Kakak tunjukin jalannya ke mana." Sebuah kemudahan yang aku dapatkan. Aku mengikutinya dari belakang, dan memang untuk ke toiletnya pun agak banyak pembelokan lorong yang dilalui. Kalau aku melewati sendiri, kemungkinan besar aku akan tersesat. Untungnya ada kak Farel. "Kakak tunggu di luar ya, nanti sekalian bareng ke ruangan kakak," ujarnya. "Iya, kak. Tunggu sebentar ya." Aku segera masuk, menuntaskan segala kebutuhanku di toilet itu. Karena aku hampir dibilang tidak pernah menggunakan fasilitas umum yang keberadaannya terlalu canggih seperti yang dipergunakan di kantor kak Farel ini, aku agak kebingungan dan sedikit tidaknya membutuhkan banyak waktu di dalam toilet. Aku butuh waktu memahaminya sampai aku benar-benar selesai dengan urusanku. Hingga akhirnya plong juga. "Maaf ya kak, Abi lama di toiletnya," kataku pertama kali setelah keluar dari toilet. "Tidak masalah. Ayo balik ke ruangan kakak, Adam sudah menelpon kakak tadi, mengira kamu hilang." "Iya, kak." Aku jadi tidak enak telah merepotkan kak Farel. Dia pasti sudah diserang dengan berbagai pertanyaan dari Adam. Salahku juga karena tidak memberitahunya lebih dulu. Dia pasti kembali takut, apalagi sore tadi dia mengaku takut karena Nicholas mengatakan aku diculik. Bahkan ketika kami sudah hampir sampai di ruangannya kak Farel, aku melihat Adam menunggu di depan ruangan. Di sampingku, kak Farel hanya tertawa saja. Mungkin dia tahu alasan kenapa adiknya bisa demikian. "Maaf ya kak sudah merepotkan kakak," kataku pada kak Farel. "Tidak masalah, Abila. Jangan terlalu banyak meminta maaf. Santai saja dengan kakak," katanya. "Terima kasih, kak." Sesampai di depan ruangan kak Farel, tanganku ditahan Adam. Sedangkan kak Farel sudah masuk ke dalam. Entah apa maksud cowok yang satu ini menahan-nahan tanpa memberitahu alasan yang jelas. "Ada apa?" Aku lelah sebenarnya berhadapan dengan Adam. Karena dengannya, aku banyak melibatkan perasaan ku. Tapi sejauh dan sekuat apa aku mencoba, dia tidak akan pernah menjadi apa yang aku inginkan. Sudah ada tembok besar nan tinggi yang membatasi kami berdua. "Bisa lo lepasin tangan gue dan masuk ke dalam? Mereka sudah nunggu kita," ujarku. "Kenapa lo gak ngomong dulu ke gue kalau lo mau ke toilet?" Tanyanya "Lo lagi telponan sama Erina, kan?" Tanyaku balik. "Itu gak penting," elaknya. "Setidaknya lo kasih tahu biar gue enggak mikir macam-macam lagi. Atau setidaknya lo kasih tahu Nik. Lo main nyelonong aja," ucapnya. "Gue cuman gak mau ganggu kalian berdua. Lo berdua sudah punya kesibukan masing-masing. Gue enggak mau nambah beban kalian." Aku ingin masuk, Adam kembali menahanku. "Selama ini lo sadar gak sih kalau lo itu terlalu mengkhawatirkan buat gue?" Aku mengangguk. "Sadar, dan kenyataannya itu merepotkan lo, kan? Memberatkan gue juga. Gue sadar kalau gue semakin dekat sama lo—baik lo atau gue, tidak ada yang akan diuntungkan. Jadi, mari kita sama-sama saling jaga sikap. Tahan diri masing-masing. Gue tahu lo peduli sama gue, tapi lebih baik dari sekarang lo coba abaikan gue. Dengar gue, kan?" "Lo pikir itu mudah?" Tanya Adam balik. Aku menoleh ke dalam ruangan kak Farel, dua cowok itu memperhatikan kami. "Bisa kecilin suara lo? Mereka berdua bisa dengar ini. Mereka bisa melapor ke orang tua lo, dan akhirnya lo dimarahi orang tua lo. Pada akhirnya juga gue yang akan disalahkan di keluarga gue." "Makanya jangan minta gue abaikan lo. Gue kan udah bilang, gue udah coba semuanya tapi tetap enggak bisa. Gue mulai peduli sama lo itu udah lama, bahkan sebelum lo mengenal gue. Lo gak sadar selama ini, dan selama itu gue udah tahan diri gue. Lo gak ngerti." Dan aku tidak bisa berkata apapun lagi. Kalau memang dia sudah peduli padaku sejak lama, dia sudah tahu seluk beluk tentangku, sampai titik paling dalam yang aku punya. Dia tahu semuanya, tentang ketidakmampuan diriku, tentang kejahatan yang dilakukan keluargaku, tapi dia diam. Hebat. Tapi tetap saja salah. Kini dia sudah menjadi bagian dari keluarga jahat ini. "Sudahlah, lupakan apa yang gue bilang. Mending lo masuk, makan sampai kenyang. Karena gue tahu, sehabis lo sampe rumah nanti—jangankan makan, air pun lo gak dikasih minum." Adam lagi-lagi membuatku bungkam. Aku hanya bisa mengangguk pasrah, masuk ke dalam ruangan kak Farel. Tapi dia, pergi. Dia tidak ikut makan dengan kami. Entah dia pergi ke mana. "Kemana dia?" Tanya Nicholas, seolah mewakili apa yang ingin aku katakan. "Palingan nunggu kalian di bawah. Dia kalau udah emosi, lebih suka menyendiri," jawab kak Farel. Dan mungkin itu benar. "Sudahlah, jangan pikirkan dia. Dia bisa makan nanti, uangnya bahkan lebih banyak daripada kakak," guyon kak Farel. "Mending kita makan. Ini udah mau makan, takutnya nanti orang tua kalian nunggu." "Iya." *** Sehabis kenyang dan sudah memutuskan pulang, aku dan Nicholas berpamitan pada kak Farel. Kami pulang lebih dulu daripada dirinya yang katanya masih banyak kerjaan di sini. Dan persis seperti yang dikatakan kak Farel, Adam menunggu kami di bawah. Cowok itu terlihat murung. "Nik, gue yang antar Abi pulang," ujar Adam. "Tapi kan—" Aku menahan Nicholas yang sudah mau memprotes. "Turutin kemauan dia. Lo juga harus cepat pulang, kan? Mama lo udah gak sabar makan kuenya," kataku. "Oke deh. See you besok ya." Aku mengangguk. Kemudian aku menghampiri motor Adam. Cowok itu langsung memakaikan helm itu untukku, tanpa aku banyak bicara apa-apa. Aku gak ngomong apa-apa, dia juga tidak ngomong apapun. Setelah aku naik ke motornya dan memastikan aman, kami meninggalkan mall ini tuk bertolak pulang ke rumah. Dejavu, Adam memasukkan tanganku ke dalam saku jaketnya. Seperti yang kalian tahu, aku selalu bingung, dan sekarang pun demikian. Tapi bukan waktunya bertanya apa-apa, Adam sepertinya masih dalam kendali emosi. "Menurut lo, gimana kalau misalnya gue batalin perjodohan gue sama Erina?" Tanya Adam tiba-tiba. "Jangan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN