"Pokoknya apapun pilihan lo, pilihan gue juga."
Sebenarnya Nicholas salah. Dia salah besar dengan menyuruhku memilihkan Mamanya kue. Aku tidak pernah mendapatkan pengalaman sedikitpun tentang ini. Aku tidak tahu tentang kue mana saja yang enak, kue mana saja yang bagus dan cantik, tidak tahu selera Mamanya seperti apa. Aku hanya tahu sedikit cerita tentang Mamanya, dan itu pun baru saja dia katakan padaku. Bahkan aku sedikit lupa dengan cerita itu.
Dan kini, di hadapanku, sudah terpampang nyata begitu banyaknya jenis dan ragam kue. Ada yang kecil, ada yang besar. Ada yang rasa coklat, stroberi, tiramisu, dan lain sebagainya. Ada yang bentuknya bulat, kotak, juga dibuat bentuk lain. Beragam, membuatku semakin kebingungan menjatuhkan pilihan ke kue yang mana. Sedangkan Nicholas sepenuhnya menjadikan pilihanku sebagai pilhannya juga. Tanggung jawabku amat besar kali ini. Salah memilih saja akan berpengaruh besar, tidak hanya untuk Nicholas tapi juga untuk Mamanya.
Kulihat Nicholas keluar dari toko kue ini tanpa mengatakan apapun padaku, mungkin untuk hal yang penting. Selagi menunggu dia kembali, aku berkeliling dari satu konter kue ke konter kue lainnya. Melihat dan memperhatikan, dan percaya lah aku kenyang dengan aroma kue yang seakan menyerangku dari berbagai arah. Aromanya benar-benar harum, rasa laparku terasa kenyang hanya dengan menghirup aromanya.
"Red Velvet?"
Bagiku itu nama yang aneh, tapi bagi orang lain bisa saja itu adalah hal yang lumrah dan sudah biasa. Warnanya merah, bukan warna merah stroberi. Dan melihat dari harganya, sepertinya kue ini cukup banyak peminatnya. Ini kecil, terlihat sederhana, jika dibanding dengan kue yang hampir sejenis dengannya dari segi ukuran, kue merah dengan nama Red Velvet ini lebih mahal bahkan mendekati dua kali lipatnya. Sebegitu enak kah? Apa yang membedakannya dari kue yang lain?
Aku penasaran, hanya saja tidak ada pegawai yang menganggur. Keadaan toko agak ramai. Setiap pegawai kini meladeni dua bahkan tiga pembeli. Rasanya aku tidak bisa menambah beban mereka dengan tiba-tiba masuk dan bergabung bertanya banyak hal. Lebih baik menunggu Nicholas dulu sembari melihat-lihat.
Ada begitu banyak warna, bahkan bentuknya yang unik-unik dan lucu-lucu. Ada yang custom juga, namun sepertinya hitungannya akan berbeda. Pasalnya, ada tempat khusus yang disediakan bagi pelanggan yang mau custom kue. Semakin bagus bentuknya, semakin mahal harganya.
Tiba-tiba ada nenek-nenek yang menyolek bahuku. Dia terlihat seperti sedang meminta bantuan, terus menunjuk ke arah luar tapi dia enggan berbicara. Pertanyaannya, kenapa seorang nenek-nenek bisa memilihku? Ada begitu banyak orang di sekitar toko kue ini, kenapa tidak mereka. Apakah semuanya sudah ia coba dan tidak ada yang peduli?
"Ada apa, Nek?" Tanyaku.
Terus saja dia menunjuk ke luar. Kumenoleh ke arah yang ditunjukkannya, tidak ada sesuatu yang aneh. Malah aku melihat banyak orang lalu lalang tanpa ada sesuatu yang mencurigakan. Kalau memang ada yang membutuhkan bantuan, setidaknya satu atau dua orang di antara yang lalu lalang akan berhenti dan mencoba membantu. Tapi tidak ada sama sekali.
"Ada apa, Nek? Ada yang perlu saya bantu?" Tanyaku lagi. Aku berbicara dengan pelan, takut-takut dia kurang mendengar dan mencerna apa yang aku katakan. Maklum faktor usia yang sudah renta.
Hasilnya tetap saja sama. Terus menunjuk. Aku semakin bingung, tidak bisa terus membiarkan ini terjadi. Setidaknya aku mencoba memahami apa yang diinginkan nenek ini supaya aku bisa membantu masalahnya. Apakah itu artinya aku harus keluar dari toko kue ini? Tapi Nicholas belum balik.
Kulihat lamat-lamat cara nenek ini membuka mulutnya. Ia tidak demikian tanpa arti. Pasti ada maksud dan tujuan tertentu. Sampai akhirnya aku menyadari kalau dia sedang meminta tolong padaku. Itu terlihat jelas dari caranya berucap—tanpa terdengar suara sedikitpun.
"Kalau begitu, ayo kita cari itu, Nek."
Aku dan nenek ini keluar dari toko roti itu tadi. Seolah mengerti dengan apa yang aku katakan sebelumnya, nenek ini menjadi pemanduku. Sepertinya dia sudah sering ke sini. Dia sangat hapal dengan jalannya, tanpa bertanya sedikitpun pada orang-orang. Entahlah.
Sampai-sampai aku tidak menyadari kalau ternyata kami sudah menghindar cukup jauh dari toko kue itu. Kalau diminta balik ke sana lagi, sepertinya aku lupa. Semoga ada yang sempat melihatku dengan nenek ini sehingga ketika Nicholas sampai di sana dia tidak kebingungan. Ya minimal dia mau mencarikan kue untuk mamanya selagi aku belum balik ke sana lagi. Dan semoga dia tidak meninggalkan aku. Bagaimana caraku pulang?
Terus berjalan dan terus berjalan, ternyata kita keluar mall. Ada apa di luar? Kenapa harus ke sana?
Tidak mau banyak tanya karena nenek ini juga tidak bisa menjawabku dengan semestinya sebab keterbatasan yang dimilikinya. Sampai akhirnya kami sampai di taman belakang mall. Sepi, hanya beberapa orang saja yang ada di sini yang menyibukkan diri bermain dengan ayunan. Ya, hanya ada beberapa ayunan dan bangku memanjang di belakang mall ini.
Bukan itu fokusnya, tapi siapa sebenarnya yang dimaksud nenek ini? Siapa yang harus aku tolong? Melihat dari yang ada, tidak ada yang berbahaya. Semuanya baik-baik saja. Anak-anak terlihat senang main ayunan, ada orang tua yang memilih menunggu di bangku sembari memainkan hpnya, dan lain sebagainya. Tidak ada tanda-tanda bahaya.
Apakah aku baru saja dibohongi seorang nenek-nenek?
Walau di kepala sudah muncul pikiran negatif, aku tetap bertahan mengikuti nenek ini mau membawaku ke siapa. Melewati beberapa ayunan dan bangku, hingga akhirnya nenek ini berhenti di depan seorang anak perempuan yang bermain ayunan dengan begitu riangnya. Nenek ini menunjuk anak yang terlihat bahagia main ayunan ini. Apakah dia orangnya?
Langsung bertindak tanpa banyak bicara, aku menyapa adik-adik perempuan yang sedari kecilnya sudah terlihat cantik. Sepertinya dia campuran. Wajahnya agak bule sedikit.
"Halo, adik!" Sapaku sembari melambaikan tangan.
Adik itu juga ikut melambaikan tangan kepadaku tanpa memberhentikan ayunannya. Aku menunggu beberapa saat, mungkin saja dia mau berhenti bermain ayunan sebab melihatku datang dengan neneknya. Tapi tidak? Dia tidak peduli. Ya aku paham kenapa dia seperti itu. Dia masih anak kecil, tidak tahu dan tidak mengerti banyak hal yang terlihat mencurigakan walau itu sebenarnya baik-baik saja.
"Adik manis, kakak boleh minta adik berhenti main ayunan tidak? Kakak mau nanya sesuatu," kataku padanya, agak memperbesar suara.
Adik itu hanya tertawa geli mendengarku meminta hal demikian. Tapi dia tidak mau melakukannya, malah semakin semangat mengayunkan ayunannya.
Nenek dan anak kecil ini benar-benar membuatku kebingungan. Nenek ini terus melihat-lihat kesana kemari dengan raut sedih dan khawatir, sedangkan anak kecil ini selalu tersenyum. Di satu sisi, baik nenek atau anak kecil ini sama-sama tidak bisa memberikan jawaban pasti kepadaku mengenai alasan kenapa aku harus ke sini dan membantu mereka.
"Ini sulit. Aku enggak bisa lama-lama di sini. Nicholas juga bisa kebingungan mencari di dalam sana."
"Adik, bisa berhenti sebentar tidak?" Pintaku pada adik itu.
Tidak menjawab.
"Adik, kamu tahu tidak nenek kamu butuh bantuan? Kalau kamu bisa membantu kakak bicara apa itu, kakak sangat berterima kasih sama kamu."
Tetap tidak ada yang menjawab. Aku super kebingungan. Sampai timbul niat hati untuk meninggalkan mereka. Aku sudah berbalik mau pergi, tapi nenek-nenek ini berlari menahanku. Dia menunjuk-nunjuk ke arah anak kecil itu tadi dan memegang lehernya. Apa maksudnya? Jujur saja, aku tidak mengerti. Andai dua orang ini bisa mengatakannya dengan jelas, tidak akan sebingung ini.
"Mereka tidak bisa menjawabmu, dek!"
Sontak aku menoleh ke samping, melihat seorang ibu-ibu yang sedang menjaga anaknya. Sepertinya dia tahu sesuatu tentang masalah ini.
Kumenghampirinya, dan bertanya, "ibu tahu sesuatu tidak? Saya sudah mencoba bertanya pada dua orang ini, tapi keduanya sama-sama tidak bisa menjawab saya. Saya tahu si nenek ini tidak bisa bicara, tapi anak kecil itu? Entah dia juga demikian atau bagaimana, saya juga tidak mengerti."
"Sepertinya dua-duanya sama-sama tidak bisa bicara, dek. Dari tadi juga tidak ada yang bicara. Dia datang dengan seorang pria, tapi orangnya masuk ke mall. Mungkin sebentar lagi pria itu balik lagi ke sini," jelas ibu ini.
"Oh begitu ya Bu," aku mengangguk paham. Pantas tidak ada yang menjawabku. "O iya Bu. Ibu tahu tidak kenapa nenek ini terus menunjuk-nunjuk, terkadang memegang lehernya. Juju saja, saya tiba-tiba didatangi nenek ini ketika sedang membeli sesuatu. Karena saya pikir dia sedang membutuhkan bantuan, saya mengikutinya. Tapi sampai sini, saya sangat kebingungan."
"Mungkin nenek ini kehilangan kalungnya. Coba tanya saja, dek."
Jawaban ibu ini masuk akal. Betapa bodohnya aku tidak berpikir sampai sana. Mungkin maksud nenek ini adalah memintaku membantunya mencari kalung yang hilang. Tapi kalau dipikir-pikir, bukannya dia juga bisa mencarinya ya? Atau bisa jadi kalungnya jatuh ke tempat yang agak sulit dijangkau olehnya? Ah, terserah. Yang penting untuk yang pertama aku sudah tahu kalau nenek ini kehilangan kalungnya.
"Maaf ya dek ibu tidak bisa membantu. Ini sudah waktunya ibu pulang, suami ibu sudah menunggu di parkiran."
"Iya ibu, silakan. Hati-hati di jalan ya Bu."
Seusai ibu itu pergi, nenek ini kembali menunjuk ke arah yang sama yang belum aku ketahui dan terus memegang lehernya.
"Kalung?" Aku bertanya demikian padanya.
Dia menyadari apa yang aku katakan, langsung mengangguk semangat. Kemudian dia beranjak, tidak tahu ke mana. Aku hanya diam sebentar, memperhatikan kemana dia melangkah. Pasalnya, ini benar-benar sulit dan membingungkan.
Sampai akhirnya dia berhenti di dekat selokan, menunjuk ke arah sana. Apakah mungkin kalungnya jatuh ke selokan itu? Astaga... Kembali terbesit di pikiranku, apakah aku harus membantunya atau tidak? Tapi kalau aku tidak membantunya, nenek ini pasti akan sedih dan kebingungan lagi. Entah sudah berapa banyak yang dimintanya membantunya, tapi tidak ada yang mau. Sampai dia bertemu denganku.
Aku tahu sekali bagaimana rasanya tidak ada orang yang membantu. Itu sangat menyedihkan seolah-olah kita tidak berhak meminta pertolongan, tidak berhak mendapatkan kemudahan yang sama. Bertahun-tahun aku merasakan itu, ingin seseorang membantuku tapi tidak kunjung ada. Aku tahu bagaimana sakitnya, lalu aku berpikir tidak mau menolong nenek ini? Kejamnya aku kalau sampai berpikir demikian.
Tanpa basa-basi aku langsung ke sana. Memperhatikan selokan itu dengan penuh harap kalau mencari kalung itu tidak akan menyulitkan ku.
Sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, dengan jatuhnya ke selokan saja itu sudah menyulitkan. Pasalnya, sudah bercampur dengan lumpur dan hal-hal yang orang anggap menjijikkan lainnya. Dan kalung itu kecil, sangat sulit memisahkannya dari lumpur itu ketika sudah jatuh dan bercampur.
"Nenek bisa duduk saja, ya? Biarkan saya yang cari kalung itu untuk nenek."
Aku tahu sia-sia aku bicara, tapi nenek ini bisa membaca bahasa tubuh yang aku lakukan. Kuarahkan tanganku ke bangku, memintanya di sana. Dia mengangguk. Sebelum pergi, dia memegang tanganku erat. Sepertinya dia berharap penuh aku akan membantunya menemukan kalung itu.
Oke, mari kita mulai. Berhadapan dengan lumpur sedikit bau dan agak menjijikkan. Pertama-tama aku fokus memperhatikan, mungkin saja terlihat sedikit tidaknya bagian dari kalung itu. Kuabaikan bagaimana baunya, fokus memperhatikan dan terus memperhatikan.
"Ya Tuhan, permudahkan lah...."
Berulang kali aku menyisiri pandangan ke selokan itu. Terlihat sama saja, baunya semakin luar biasa, namun aku tidak bisa pasrah begitu saja. Sampai akhirnya ada yang terlihat berbeda. Berwarna silver. Dalam hati aku sangat yakin itu lah kalung nenek itu. Tapi aku tidak bisa mengambilnya langsung, harus mencari kayu untuk mengambilnya. Kalau aku tiba-tiba turun ke selokan, Nicholas pasti tidak akan membawaku pulang. Dia tidak mau bersama orang yang bau.
Aku mencari tongkat, untungnya tidak susah. Tidak lama mencari, dapat juga. Dan kemudian aku kembali ke selokan itu tadi, memperhatikan kembali di mana aku melihat bagian silver itu, lalu mengangkatnya dengan kayu yang aku dapatkan ini.
Aku sangat senang, kalung itu ditemukan. Nenek itu juga terlihat kegirangan, bertepuk tangan melihatku dari kejauhan. Melihatnya yang seperti itu membuatku terharu. Senang bisa membantunya. Sebelum mengembalikan kalung ini ke pemiliknya, aku mencucinya di sebuah keran. Nenek ini memelukku erat ketika sudah mendapatkan kalungnya. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain membalas pelukannya juga.
"Apa yang kamu lakukan dengan ibu saya?"
Terdengar suara seorang pria dari arah belakangku, sontak aku melepaskan pelukan nenek ini. Berbalik ke arah belakang, dan melihat seorang pria tinggi, rapi, dan kalau berbicara tentang yang diinginkan semua perempuan di dunia ini, aku akui dia tampan. Bahkan dari suaranya orang-orang bisa menilai itu.
"Tadi ibu Anda tiba-tiba mendatangi saya di toko kue di dalam, meminta saya membantunya mencarikan kalungnya. Syukurnya sudah ditemukan." Agak gugup mengatakan ini di depan orang ini. Tatapannya amat menilainya, dari atas hingga ke bawah.
"Masih anak SMA?" Tanyanya.
Aku mengangguk. "Iya."
"Ke sini sama siapa?" Sembari ia berjalan ke ayunan adik-adik itu. Aku menjawabnya, "kebetulan ke sini dengan teman saya. Teman saya masih mencari kue di atas."
"Sudah kasih tahu teman kamu kalau kamu ada di sini?" Tanyanya.
Aku menggelengkan kepalaku kecil. "Belum. Tidak sempat."
Kulihat dia berjongkok di depan adik-adik kecil itu. Mengusap rambut adik kecil itu dengan perlahan dan penuh kasih sayang, bahkan senyum pria ini juga penuh hangat pada adik kecil itu. Apakah adik kecil ini anaknya? Jangan bertanya, itu tidak sopan.
Kemudian dia bangun, menghadapku lagi. "Terima kasih sudah membantu ibu saya. Saya yakin kamu pasti kesusahan berkomunikasi dengan ibu saya, bahkan anak saya."
Seperti yang aku duga, ternyata itu anaknya.
Dia mengeluarkan dompetnya, "ini ada sedikit bentuk terima kasih saya pada kamu karena sudah mau membantu mereka berdua." Kemudian dia memberikan itu padaku, beberapa lembar uang.
Tidak mungkin aku terima. Aku tolak mentah-mentah. "Jangan, pak. Saya membantu ibu Anda dengan ikhlas, tidak berniat meminta balasan sedikitpun. Simpan saja uang Anda, saya ikhlas membantu," kataku.
"Permisi, pak."
Aku ingin langsung pamit dari keluarga kecil ini. Baru beberapa langkah aku pergi, aku ditahan oleh pria itu tadi dan memberikanku sebuah kotak. "Terima ini. Saya tadi membeli beberapa kue. Anak saya suka kue. Saya harap anda tidak menolak pemberian saya." Lalu dia pergi, tanpa menunggu jawabanku.
Ya sudahlah. Anggap saja ini memberi dan menerima. Sebelum aku benar-benar meninggalkan taman ini, sempat menoleh melihat keluarga kecil itu dan melempar senyum ke arah mereka. Melambaikan tangan ke arah tiga orang itu.
Terburu-buru aku masuk ke dalam mall, entah sudah berapa lama aku meninggalkan Nicholas. Cowok itu pasti sangat kebingungan mencari ku ke segala sisi yang ada di mall ini. Aku terus mengingat jalan ke mana jalan menuju toko kue itu. Agak lupa, dan sedikit kebingungan.
Sampai akhirnya terdengar suara pengumuman yang menyebutkan namaku. Aku yakin itu adalah nama lengkapku dan yang dimaksud adalah aku.
"Sekali lagi, kepada saudari Abila Sanda, diharapkan menuju ruang monitor sesegera mungkin. Keluarga Anda sedang menunggu."
Keluarga? Apakah mungkin Mama dan Papa juga ke sini? Mencariku? Untuk apa? Rasanya tidak mungkin, tapi pengumuman ini benar-benar mempengaruhiku. Aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Satu hal yang harus aku lakukan sekarang adalah ke ruang monitor untuk melihat siapa sebenarnya yang menungguku. Karena tidak tahu dimana letak ruang monitor, aku beberapa kali menghentikan orang-orang dan bertanya dimana sebenarnya letak ruangan itu.
Dan di sini lah aku. Di depan sebuah ruangan yang didepannya terdapat dua orang yang sedang menunggu. Satunya yang datang bersamaku, satunya lagi yang selalu mengganggu pikiranku. Adam dan Nicholas.
"Lo berdua ngapain di sini? Orang tua gue di dalam kan?" Tanyaku.
"Sorry to say, Abi. Tapi kita berdua lah keluarga lo. Kita sengaja bilang itu supaya lo cepat ke sini." Nicholas memberikan penjelasan.
Aku paham. Kemudian aku menoleh menatap Adam, dia terus memperhatikan ke arahku. Apakah ada yang salah? Tidak mengerti kenapa dia selalu saja melihatku tanpa bicara.
"Terus ngapain dia sini? Sejak kapan?" Tanyaku, menunjuk Adam.
"Gue nelpon dia soalnya lo hilang lama banget. Gue udah cari ke sana ke mari, gak ketemu," jawab Nicholas.
Aku beralih bertanya pada Adam. "Erina tahu gak lo di sini? Kalau dia tahu, mending lo cepat-cepat pulang sebelum dia tahu ini dan salah paham. Kalau sampai dia salah paham, bisa ribet urusan—"
Tanpa bicara apa-apa, Adam memelukku. Bisa aku rasakan tubuhnya gemetar. Apakah dia sedang ketakutan atau sedang kedinginan? Mall ini emang dingin, aku akui.
"Dia kenapa?" Aku bertanya pada Nicholas, tanpa suara.
Nicholas hanya mengangkat bahu tidak tahu menahu.
"Lo bisa lepas gak? Banyak orang lihat," kataku pada Adam.
"Nik bilang lo diculik. Gue takut banget," bisiknya.