"Lo mau jawaban yang jujur atau enggak?" Tanya Adam.
Adam dan Nicholas saling pandang, satu sama lain. Aku tahu masih ada yang tidak beres di antara mereka berdua. Aku pikir cara mereka saling menatap satu sama lain bukan seperti sepupuan, melainkan musuhan. Dan aku tidak mau melihat ada drama pertengkaran di saat aku baru saja merasakan sedikit tidaknya kedamaian.
Aku bangun, memisahkan diri dari Adam. Kutarik tangan Nicholas, "Nik, lo mau temenin gue keluar sebentar? Setidaknya sampai jam makan siang selesai," kataku pada Nicholas meminta ketersediaannya.
"Kemana?" Tanya Nicholas.
"Ke luar," jawabku singkat. Sebenarnya aku tidak ingin Nicholas banyak bertanya. Aku ingin segera keluar dari ruangan ini sebelum Adam menanyakan banyak hal lain lagi.
"Iya, di luar mana, Abi? Ada banyak tempat yang bisa kita datangin di luar sana." Dan Nicholas masih kekeuh dan penasaran dengan hal itu.
"Ke taman?"
Aku agak ragu dengan ini, tapi logikanya aku tidak mungkin mengajak Nicholas ke kantin. Selain karena aku menghindari kerumunan siswa-siswi di sekolah ini, aku juga tidak punya yang. Etikanya dan aturannya, siapa yang mengajak dia lah yang membayar, bukan? Dan aku tidak bawa uang.
"Taman?"
Adam dan Nicholas kompak bertanya, dan kompak pula saling pandang satu sama lain. Bahkan, keduanya kompak terlihat kebingungan. Cocok sebagai saudara meski sering bertengkar.
"Bukannya gue minta lo ke kantin buat makan siang?" Tanya Adam.
Aku menarik tangan Nicholas, "mending kita keluar aja, Nik. Nanti ada bom meledak," aku membawanya keluar dari ruang kelas ini alih-alih menjawab Adam. Tapi pas di perbatasan pintu, Adam memanggilku dan Nicholas. Refleks kami berhenti, berbalik memandangi dirinya yang sudah tidak mempedulikan buku pelajaran itu lagi.
Dia berjalan mendekati kami berdua. "Gue ikut kemanapun kalian berdua pergi." Dan kini Adam memandu, dia yang ada di depanku dan Nicholas.
"Huft... Emang sudah bareng sama orang yang cemburuan. Gerak dikit salah. Ke sana berduaan, salah. Malah seenak jidat nuduh mau nusuk sepupu sendiri."
Aku hanya mendengarkan Nicholas menggerutu di sampingku. Dia amat terlihat kesal. Itu tentang dia, aku, dan Adam. Entah Erina akan masuk atau tidak. Tapi sepertinya iya.
"Lama-lama gue pinjem pintu kemana saja milik Doraemon biar bisa ke ujung dunia tanpa lo tahu, Adam k*****t!"
Dalam hati aku menertawakan Nicholas yang makin kesal dari waktu ke waktu. Tapi cara Nicholas kesal itu lucu, tidak menyeramkan. Beda dengan Adam yang bisa membuat bulu kuduk seketika naik merinding. Takut ketika dia sudah mulai bersuara.
Tapi Adam tetap santai walau aku yakin dia mendengar gerutuan Nicholas dengan amat jelas. Dia pasti sengaja pura-pura tidak tahu menahu, tidak mau mendengar hanya agar Nicholas semakin tertekan dan semakin kesal.
Dan aku rasa Adam berhasil.
"Ihhh, benar-benar si Adam! Gue sunat mampus lo!"
Aku tidak bisa menahan kegelian ini lagi. Tertawa sejadi-jadinya di tengah lorong, di tengah ramainya siswa-siswi berlalu lalang di antara kami. Aku tidak peduli dengan pendapat mereka tentangku, yang aku tahu kini aku sedang senang, hatiku riang, dan aku tidak mau hari ini cepat usai. Hariku benar-benar diwarnai oleh dua cowok sepupuan yang suka bertengkar seperti Tom and Jerry ini.
"Lo berdua tahu enggak?" Tanyaku pada dua cowok itu yang sama-sama menatapku aneh. Dua-duanya sama-sama menggelengkan kepalanya. "Lo bahkan belum bilang apa-apa, Abi. Gimana kita berdua tahu," Nicholas lagi-lagi menggerutu. Ia melengos melihat Adam, semakin memperburuk moodnya. Ia makin kesal. Dan itu semakin membuatku merasa kalau ini lucu.
"Kalian berdua tuh lucu. Kalian suka berantem kayak Tom and Jerry, suka saling olok-olok, suka mengintimidasi satu sama lain, tapi gue yakin kalau kalian sebenarnya enggak seperti itu. Meski gue baru kenal kalian, gue yakin di rumah pasti kalian akur deh. Enggak sekacau di sekolah," dan lagi-lagi apa yang aku katakan ini membuatku tertawa sendiri. Perutku bahkan sampai terasa keram.
Dan Nicholas menyusul. Ia telat tertawa. "Iya, lo bener banget. Gue sama Adam aslinya emang akur banget di rumah, di sekolah aja berantem kayak gini biar keliatan keren."
Benarkah? Apakah apa yang aku katakan itu benar? Anehnya, itu tidak lagi menjadi lucu. Terlebih ketika melihat raut ketidaksukaan Adam, aku ingin terdiam untuk selamanya. Sepertinya aku telah salah bicara. Muncul rasa tidak enak yang amat sangat mengental. Ah, menyebalkan!
"Saking dekatnya gue sama Adam, gue enggak pernah liat dia dia rumah semenjak gue pulang dari negeri. Kecuali pas acara perjodohan itu."
Dan aku makin terdiam. Nicholas baru saja membongkar satu fakta mencengangkan tanpa sengaja di depan umum. Sudah pasti banyak yang mendengar. Ingin menghentikan Nicholas, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya.
"Nik, diam!" Adam mengerang, menahan amarah. "Lo kelewatan," katanya lagi.
"Nik, lo bisa stop? Gue cuman becanda aja tadi, jangan dilanjutin. Mending kita lanjut ke taman atau balik lagi ke kelas, yuk?" Ajakku takut kalau ini akan berakhir memburuk.
"Kata Tante Devi alias Mamanya Adam, Adam baru mau pulang kalau ada acara keluarga. Selebihnya, dia tinggal sendirian." Nicholas tetap lanjut. Antara Nicholas sadar atau tidak dengan apa yang dia katakan, dia sudah mencoba mencoreng nama baik Adam. Setidaknya kalau dia tahu masalah ini, jangan menceritakannya di depan banyak orang.
Ini menjadi serius. Nicholas yang tidak bisa dihentikan, terus mengucapkan fakta demi fakta mencengangkan lainnya. Sedangkan Adam? Apakah dia bisa tenang di saat yang seperti ini? Tentu saja tidak. Kulihat amarah Adam sudah tidak terbendung, tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras seraya berhadapan langsung dengan Nicholas yang masih terus mengoceh.
"Nik, stop," kataku.
Nicholas tidak mendengar.
"Adam, tenang. Jangan marah."
Bahkan Adam sekalipun tidak mendengarkan. Ah, dua cowok ini sama saja. Kompak dalam segala-galanya.
Sedangkan banyak siswa-siswi yang mulai berkumpul, bahkan Erina pun mulai memperhatikan kerumuman ini. Kulihat dia membelah kerumuman sembari terus menyebut kalau dirinya pacar Adam dan perlu tahu apa yang terjadi. Aku tidak tidak menyalahkan itu, aku pikir dia melakukan hal yang benar. Dia bisa memisahkan Adam dari ancaman pertengkaran yang sepertinya sebentar lagi akan terjadi.
"Gue cukup kaget melihat lo beda banget kayak gini, Dam. Di rumah lo pendiem, di sini lo berkoar-koar. Lo enggak mau kalah, terlalu bossy tau gak?"
Tidak. Adam sudah tidak bisa mengendalikan dirinya. Erina juga tidak mau maju memisahkan dua cowok ini. Dia terus diam di tempatnya, membiarkan banyak siswa-siswi lain mengaktifkan kamera mereka yang mengarah ke Adam dan Nicholas.
Mungkin Erina takut kena amuk Adam. Walau Erina suka Adam, kebenaran tentang temperamen Adam tidak bisa dihindari. Dan kalau memang Erina tidak mau berkorban, aku lah yang mengambil tempat itu untuknya.
"Gue tahu lo emang berkuasa, Papa lo jadi ketua yayasan di sini. Tapi gue rasa lo berlebihan deh. Lo seakan-akan mengabaikan fakta kalau lo itu anak—"
"Nik!"
"Adam!"
Aku merasa diriku terlempar dan ambruk. Aku hanya berniat memisahkan Nicholas dari Adam, siapa sangka kalau ternyata aku lah yang kena amukan Adam hingga membuatku terlempar seperti ini. Terjatuh di antara kerumunan siswa-siswi dalam keadaan ambruk habis kena tonjokan maut Adam.
Sakit? Pasti. Tenaga Adam sangat luar biasa. Aku tidak yakin pipi kiriku akan baik-baik saja setelah ini. Dan yang lebih menyesakkannya lagi adalah tidak ada yang mau membantuku sekedar bangun. Semuanya menatapku seolah aku lah yang bersalah.
"Kamu enggak apa-apa, Adam?" Tanya Erina, alih-alih bertanya padaku yang terluka. Padahal aku di depannya, begitu dekat dengannya.
Aku mendongak melihat Adam yang hanya menggeleng menjawab pertanyaan Erina, dan tebak apa yang dia lakukan setelahnya? Dia pergi, tanpa membantuku. Hanya pergi, begitu saja. Bersamaan dengan dia pergi, yang lainnya juga bubar.
Aku pikir, aku akan sendiri lagi di tengah-tengah rasa sakit yang aku rasakan. Aku pikir aku akan mengulang kesalahan yang sama lagi. Menertawakan diri sendiri kalau sampai itu terjadi. Tapi tidak. Di saat semuanya pergi, ada satu orang yang tetap memilih diam.
"Maafin gue. Gue yang bikin lo dipukul sama Adam kayak tadi," Nicholas membantuku bangun, bahkan membersihkan beberapa debu dan kotoran yang menempel di bajuku.
"Enggak apa-apa. Bukan salah lo. Salah gue yang tiba-tiba di depan dia. Tapi syukurnya lo enggak kena pukulan dia. Kalau kena, muka lo bisa ternodai," ujarku.
Nicholas terus memperhatikan pipiku. Saat dia menyentuh kulit pipiku, refleks aku mendesis sakit. "Aduh. Pasti sakit banget. Mau ke rumah sakit, gak? Takutnya tulang rahang lo geser. Adam tadi sekuat tenaga pukul lo," ucapnya.
Bukannya aku kasihan melihatnya yang khawatir padaku, aku malah tertawa. Lagi-lagi Nicholas berhasil membuatku senang dengan segala kelucuannya, padahal kami baru mulai berteman hari ini. Nicholas luar biasa.
"Kita ke UKS aja yuk!"
Nicholas menarikku paksa mengikutinya. Ya sudahlah, ikuti saja kemana tukang melucu ini mau membawaku.
***
Aku akui Nicholas ini memang ganteng, sebelas dua belas dengan Adam. Aku tidak mau membandingkan, tapi aku bisa yakini bahwasanya pengaruh Nicholas akan sama dengan Adam di sekolah ini. Dia ganteng, dia seperti bule, dia tinggi, dia murah senyum, dia baik, dia juga pintar. Dia masih baru di sekolah ini, dan aku rasa sebentar lagi akan banyak yang mengenalnya.
Contohnya saja sekarang, ketika aku dan Nicholas ke UKS, melewati lorong dan cewek-cewek yang berkumpul. Apalagi ketika sudah sampai di UKS—tempat berkumpulnya cewek-cewek sambil memainkan HP di sana, baru saja kita membuka pintu, mereka terkejut dan pandangan mereka terfokuskan pada Nicholas. Kulihat mereka mulai menatap Nicholas kagum. Reflek menyalakan kamera hp yang tertuju pada Nicholas. Tapi Nicholas tidak menyadari itu.
"Everybody, gue minta maaf kalau ganggu aktivitas kalian. Tapi gue mau nanya, petugas UKS siapa ya?" Tanya Nicholas. Dia masih memegang tanganku. Untungnya aku bersembunyi di balik badannya yang bisa aku katakan dua kali lebih besar dariku. Kayaknya baik Adam atau Nicholas memang suka olahraga.
"Tadi anak-anak UKS sudah keluar. Mau gue panggilin?" Salah satunya menawarkan bantuan.
Aku jadi membayangkan, kalau misalnya aku ada di posisi Nicholas dan bertanya demikian, aku yakin tidak ada yang menjawab ku. Alih-alih menjawab, mereka pasti mengejekku dan menyumpahiku makin buruk. Kuakui, dunia memang tidak pernah adil. Selalu memihak yang lebih, tanpa mau memelihara yang kurang.
Nicholas bertanya padaku, "Lo mau dipanggilin mereka atau enggak? Kayaknya bentar lagi masuk kelas, makanya UKS sepi."
"Sebenarnya kita enggak perlu ke sini, Nik. Gue enggak apa-apa. Sumpah deh," kataku.
"Tapi pipi lo bengkak."
Aku seketika terdiam. Pantas aku merasa ada yang berbeda. Astaga, bagaimana ini? Aku sih tidak mempermasalahkan sakit pipiku, tidak mempermasalahkan malu yang akan aku rasakan lagi ketika bertemu siswa-siswi yang menyaksikan aksi tadi, tapi aku lebih memikirkan bagaimana caraku bersikap pada Adam. Baik antara aku dengan dirinya sama-sama akan saling canggung setelah ini. Aku yakin.
"Kayaknya enggak perlu dipanggil deh. Mungkin mereka ada keperluan penting. Tapi gue sama temen gue boleh masuk enggak? Temen gue sakit nih."
"Oh tentu saja, silakan."
Mereka memberikan satu brankar kosong. Jujur, aku tidak mau masuk, apalagi dengan keadaan kamera yang menyala di hp mereka. Itu artinya akan ada berita heboh nan menggemparkan yang akan terjadi tidak lama lagi setelah ini. Tapi apa mau dikata? Nicholas begitu bertekad. Untungnya aku tidak dengan Adam saja, dan mungkin banyak yang belum tahu kalau Nicholas ini adalah sepupunya Adam.
Bahkan saat aku masuk saja, aku mendengar bisikan demi bisikan mereka yang terus menyebutku beruntung bisa dengan cowok ganteng kayak Nicholas ini. Tidak lupa mereka merendahkan aku di sela bisikan mereka, seperti, "udah jelek, kurus, bisa-bisanya pede terus sama cowok-cowok ganteng di sekolah ini. Kemarin Adam, sekarang anak baru, udah gitu bule lagi. Untungnya Adam udah dijodohin sama Erina. Citra Adam terselamatkan."
Miris mendengar mereka.
Aku berbaring di brankar yang tadi diberikan kosong. Menyamping ke arah dimana kamera tidak bisa menangkap wajahku. Sayangnya arah itu akan semakin menyakiti pipiku, karena aku menoleh ke arah kiri. Ya sudahlah, daripada kena kamera.
"Lo merasa risih enggak sama mereka?" Nicholas berbisik, sedikit membuatku terkejut.
Aku mengangguk kecil. "Kalau bisa, mereka keluar aja. Gue risih," bisikku.
"Hmm… gue minta banget nih sama kalian. Tapi, gue boleh minta tolong enggak?" Nicholas masih sopan dengan terus meminta izin sebelum mengucapkan maksudnya. Ada nilai plus tersendiri yang dimiliki Nicholas, yang tidak dimiliki Adam.
"Boleh banget!" Dengan antusiasnya mereka menjawab demikian, kompak juga.
"Kalau kalian enggak sakit, gue boleh minta kalian keluar enggak dari ruangan ini? Kebetulan juga bel masuk baru aja kedengaran tuh. Kalian bisa telat masuk kelas lho kalau terus di sini."
Aku tidak tahu apakah Nicholas berhasil atau tidak. Semisal berhasil, aku bisa katakan dengan lantang, mengakui dengan sepenuh hati kalau Nicholas hebat di hari pertamanya sebagai siswa di sekolah ini. Dia bisa mengendalikan publik, terutama cewek-cewek di sekolah ini yang bar-barnya minta ampun.
Tapi tidak lama setelahnya aku mendengar suara pintu yang dikunci. Sontak aku melihat ke pintu, benar saja ruangan UKS sepi dan hanya menyisakan kami berdua saja. Nicholas juga menutup tirai, benar-benar membuatkan ruang privasi untukku. Sangat berterima kasih padanya bisa mengerti tanpa meminta.
Setelahnya kulihat Nicholas beranjak ke sana ke mari, entah mencari apa. Mukanya terlihat kesal, bedanya kali ini dia tidak menggerutu lagi. Mungkin kejadian tadi membuatnya belajar untuk mengendalikan omongannya walau di tempat privasi seperti ini. Sampai akhirnya Nicholas menemukan kotak P3K, dia bersorak gembira.
"Finally, I got you!" Soraknya, entah artinya apa. Aku bukan orang yang pintar bahasa Inggris.
Berlari ke brankarku. Tanpa melihat sekelilingnya, ia hampir jatuh. Kakinya tidak melihat ada kotak di depannya. Untungnya tidak jadi jatuh. Itu lucu, aku tidak bisa menahan tawaku melihat kelakuannya yang selalu memancing tawa.
"Lo sih enggak hati-hati," kataku.
"Lagian kotaknya kek tiba-tiba ada di depan gue. Kan gue kaget, untung reflek gue bagus." Alasannya selalu saja ada. Heran sekali sama dia.
"Dari tadi kotak itu sudah ada di sana, Nik. Lo nya aja yang enggak liat," kataku, mengambil kotak P3K di tangannya.
"Oh gitu. Berarti tadi ada yang nutup mata gue."
"Terserah lo, Nik."
Sebenarnya dari kotak P3K ini tidak ada yang bisa mengobatiku. Bengkak bekas tonjokan ini bisa diobati dengan kompresan es. Aku menghargai Nicholas, mengambil kapas dan menuangkan obat merah. Tapi aku memakainya di bagian lagi, di jariku yang kena pisau ketika memasak dan belum sempat diobati.
Aku tidak menyadari Nicholas mengambil fotoku, aku terlalu fokus mengoleskan obat luka di tanganku. Baru aku sadar ketika suara kameranya berbunyi.
"Ngapain foto gue?"
"Sumpah deh, muka lo makin bengkak sebelah. Lo keliatan lucu tau."
Nicholas menunjukkanku fotoku yang baru saja dia ambil. Memang, pipiku bengkak sebelah. Dan aku kelihatan makin jelek di sana. Pantas saja tadi cewek-cewek yang melewatiku selalu nyinyir tentangku, ternyata aku sejelek itu.
"Hapus foto gue. Gue jelek banget," kataku.
"Enggak. Gue bakal simpen foto ini buat mempengaruhi Adam. Gue bisa minta dia traktir gue apapun yang gue mau cuman dengan menunjukkan foto ini. Gue yakin dia pasti enggak bakal nolak."
Sebegitu percaya dirinya Nicholas dengan hal itu, menjadikan fotoku untuk mempengaruhi Adam. Merugikan Adam, menguntungkan dirinya. Aku sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan cowok ini. Bisa-bisanya dia dapat ide seperti itu.
"Lo tau Adam mudah marah, orangnya temperamental banget, kenapa lo bisa-bisanya pancing emosi dia kayak tadi? Apalagi lo hampir aja mau bongkar rahasia terbesar dia," kataku.
Nicholas menatapku serius. Untuk beberapa waktu, dia terdiam mencermati apa yang aku katakan. Sampai akhirnya dia berkata, "Lo tau rahasia Adam? Tentang dia yang anak…"
Aku mengangguk. "Gue tau, baru-baru ini. Tapi bukan dari dia. Gue tau dari nenek penjaga villa mamanya. Sampai sekarang gue enggak mau bahas itu. Bagi gue itu terlalu privat dan gue enggak punya kepentingan mempertanyakan itu pada Adam, apalagi sampai di depan umum. Tapi lo? Berani banget. Pantas dia marah sama lo, sampai-sampai mau memukul lo. Untungnya lo enggak kena."
"Iya sih, gue berterima kasih banget sama lo. Muka gue masih aman, masih perawan enggak kena tonjokan," ujarnya sembari mengusap pipinya terus-terusan. Pandangannya kosong, mungkin dia mulai memikirkan sesuatu tentang kesalahannya. "Habis ini Adam benci banget sama gue kayaknya."
"Enggak lah!"
Aku enggak yakin Adam akan membenci Nicholas, palingan keduanya akan marah-marahan selama dua atau tiga hari, habis itu baikan lagi. Melupakan kejadian ini. Toh Nicholas juga tidak sampai mengungkapkan Adam adalah anak angkat keluarganya.
"Tapi lo harus jadikan ini sebagai pelajaran, Nik. Lo enggak boleh ngomong ceplas-ceplos di depan umum lagi kayak gitu, apalagi sampai ngomongin hal pribadi seperti tadi. Logikanya, kalau lo ada di posisi Adam, terus ada yang ngomongin masalah pribadi lo, lo pasti enggak terima, kan?"
Nicholas mengangguk.
"Makanya habis ini lo jaga banget omongan lo. Tapi tenang aja, gue yakin banget kalau Adam tidak akan mungkin benci lo. Percaya gue," kataku lagi. Kenapa aku sangat yakin? Entah. Hatiku tiba-tiba saja sangat percaya dengan itu.
Adam orang yang baik.
"Tapi semisal gue dibenci banget sama Adam karena masalah ini, tolong bilangin Adam supaya maafin gue. Lo bisa kan?"
"Kenapa harus gue," tanyaku.
"Karena Adam hanya dengar omongan lo, Abi. Lo sangat berpengaruh di Adam."
***
Saat waktunya semua siswa-siswi pulang, aku dan Nicholas diam di sekolah. Bukan untuk lanjut berorganisasi, bukan untuk lanjut rapat atau lain sebagainya, tapi kami berdua mengerjakan tugas yang baru bisa kami lanjutkan sore ini.
Semua siswa-siswi sudah bubar pulang, beberapa tinggal untuk keperluan tertentu. Erina juga sudah pulang dengan Adam. Tadi ketika Adam mendatangi kelas untuk menjemput Erina, kelas tentu heboh. Bilang kalau pasangan ini sangat romantis. Aku diam, aku tidak mau mengurus itu. Aku dan Nicholas masih memprioritaskan tugas kami yang sangat menumpuk. Aku beruntung bisa berteman dengan Nicholas.
"Lo tinggal berapa nomor?" Tanya Nicholas.
"Tinggal satu lagi. Lo?" Tanyaku balik.
"Sama."
Kemudian kami lanjut lagi mengerjakan. Nomor soal terakhir selalu menjadi soal yang tersulit dan membutuhkan banyak waktu pengerjaan. Aku dan Nicholas sampai berulang kali membolak-balikkan halaman yang sama demi mencari jawabannya.
"Abi, sebentar ya. Mama gue nelpon."
"Oh iya."
Nicholas keluar dari kelas, hanya aku sendirian saja di kelas. Tidak mungkin aku menunggu Nicholas selesai ngomong dengan Mamanya baru aku lanjut cari jawaban. Tidak. Aku memanfaatkan waktu tuk terus mencari dan mencari jawaban yang sesuai dengan permintaan soal. Hingga akhir ketemu.
"Mungkin aku duluan nulis."
Memutuskan lebih dulu mengerjakan soal terakhir tanpa menunggu Nicholas. Dan benar saja, jawabannya memang lebih banyak dibandingkan nomor soal yang lain. Walau tangan sudah keriting, tangan sudah lelah menari-nari di atas kertas menorehkan tinta hitam, akhirnya selesai juga. Dan itu bertepatan dengan Nicholas yang masuk ke dalam kelas.
"Lo udah nemu jawabannya ya?" Tanya Nicholas.
"Iya. Gue juga duluan nulis tadi," kataku.
"Oke."
Sembari menunggu Nicholas menulis jawaban terakhir, aku menyapu ruangan kelas. Ya memang besok bukan jadwal bersih-bersihku, tapi besok jadwalnya Erina. Tanpa perlu aku jelaskan, kalian akan tahu alasan lebih masuk akalnya kenapa aku mau melakukan ini.
Bahkan sampai aku selesai membersihkan kelas, Nicholas belum selesai nulis. Dan di sini lah aku sekarang, meratapi nasibku dengan memperhatikan kebahagiaan dan keseruan hidup orang lain. Aneh ya? Kenapa orang-orang bisa begitu bahagia, sedangkan aku tidak? Kenapa orang-orang bisa tersenyum, tertawa dengan bebasnya, berteman tanpa ada yang menjelekkan.
"Semakin aku melihat mereka, semakin aku merasa tidak pernah bahagia di dunia ini. Aku jadi tidak bersyukur. Kalau ibu Sekar tahu, dia pasti marah sama aku."
"Siapa ibu Sekar?"
Nicholas tiba-tiba ada di sampingku. Entah sejak kapan, aku tidak mengerti, tidak menyadarinya juga.
"Bukan siapa-siapa," bantahku.
"Kalau gitu kita pulang aja yuk? Mama gue minta gue pulang cepat-cepat. Dia juga tadi suruh gue beliin dia kue."
"Oke."
Aku mengambil tas dan buku milikku yang dibawa olehnya. Kami berdua kembali sama-sama menyusuri lorong, kali ini sepi. Tidak seperti tadi pagi yang sudah ramai. Hanya orang tertentu saja yang bisa melihat kami berduaan sore ini. Setelah mengumpulkan buku di atas meja guru, kami benar-benar pulang tanpa ada yang menghalangi lagi. Perjalanan pulang sore ini entah kenapa menjadi Dejavu bagiku. Dengan Adam tentunya.
"Sebelum pulang, lo mau bantuin gue milih kue buat mama gue gak? Gue bingung sama selera cewek," pinta Nicholas meminta tolong. "Sekalian kita have fun di mall. Mumpung ada waktu," katanya lagi.
"Boleh."
Ketersediaanku ini membuat Nicholas amat sangat senang. Dia jadi berbicara banyak hal tentang Mamanya. Dia bilang kalau dia hanya punya Mama, tidak punya Papa. Sudah meninggal dua tahun yang lalu. Sejak kecil Nicholas dan keluarganya tinggal di luar negeri, sesekali ke Indonesia jika ada sesuatu yang penting atau ada acara keluarga. Dia punya satu adik perempuan, baru masuk sekolah menengah pertama. Adiknya pasti cantik, jika kakaknya seganteng ini.
Kata Nicholas, saat ini untuk sementara waktu dia tinggal di rumahnya keluarganya Adam sampai mamanya membeli rumah baru. Dia sempat bercerita kalau Mamanya tidak kompak dengan Mamanya Adam sehingga membuatnya berpikir kalau tidak lama lagi dia akan pindah dari rumah itu. Ya, itu lebih bagus menurutku daripada harus tinggal di rumah keluarga lain meski punya hubungan darah sekalipun. Karena bagaimanapun orang berkata darah lebih kental dari air, tetap saja darah bisa mengakibatkan adanya pertumpahan darah. Besar atau kecil.
Tapi anehnya Nicholas lancar bicara bahasa gaul anak Jakarta. Lo-gue, lancar banget. Dia bahkan jarang memakai bahasa Inggris, terkecuali tadi ketika dia bicara dengan Mamanya. Full English. Aku tidak bisa membayangkan nanti jika bertemu dengan keluarganya, pasti hari bisa bicara bahasa Inggris. Sedangkan aku sama sekali tidak bisa. Aku perlu belajar bahasa itu. Pasti, suatu hari nanti.
"Akhirnya sampe juga."
Aku kaget. Aku tidak berpikir kalau semuanya akan saling terhubung seperti ini. Nicholas berhenti di mall milik kakaknya Adam. Apakah Adam ada di sini, di ruangan pribadi miliknya atau dia ada di rumah Erina? Atau di tempat lain?
Ah, untuk apa aku peduli?
"Lo tau gak kalau mall ini milik keluarganya Adam?" Tanya Nicholas.
"Iya, gue tau," jawabku.
"Wow… Lo udah tau banyak ya. Kayaknya Adam enggak main-main ngedeketin lo."