"Apaan sih enggak jelas banget!"
Aku pura-pura tidak mendengar apa kata Adam dan langsung naik ke motor Nicholas. Tidak lupa aku menarik sedikit kain jaket Nicholas sebagai pegangan ku. Aku tidak mempedulikan Adam lagi, walau aku tahu dia masih menunggu di tempat yang semula.
"Langsung jalan aja, Nik. Kayaknya ini udah siang banget," kataku.
"Oke, siap."
Mesin motor dinyalakan, sayangnya Nicholas tidak langsung melanjutkan motornya meninggalkan rumah ke sekolah. Tetap saja dia berurusan dengan Adam. Ya aku tidak bisa melarangnya. Jauh sebelum Nicholas mau berteman denganku, dia lebih dulu mengenal Adam. Bahkan aku kenal dengan Nicholas juga karena Adam. Aku tidak mau jadi orang yang seperti kacang lupa kulit.
"Dam, gue berangkat duluan ya. Nanti kita ketemu di parkiran, gabung sama yang lainnya. Gue udah lama enggak ketemu mereka, jadi kangen."
Adam mendekati motor Nicholas lagi. "Ingat kata gue, Nik. Bawa motor hati-hati, jangan ngebut, dan jangan coba-coba sok kenal sok dekat apalagi pdkt sama Abila. Kita berdua sudah sepakat, jangan coba-coba menusuk gue dari belakang."
"Tenang aja, bro," balas Nicholas.
Kedua cowok ini melakukan tos, akan tetapi dengan dua reaksi yang berbeda. Jangan tanyakan tentang Nicholas, dia selalu senang, bersemangat, dan auranya begitu bahagia. Aku bisa merasakan keceriaan dirinya. Tapi dengan Adam? Dia murung. Pagi-pagi sudah mendung. Astaga...
Sebelum benar-benar berangkat, Adam sempat berkata begini padaku. "Jangan terlalu meladeni Nicholas. Bila perlu cuekin saja dia." Dan aku hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan. Jika tidak demikian, dia akan terus menahan kami hingga jam masuk sekolah tiba.
Aku dan Nicholas berangkat lebih dulu. Entah jarak berapa menit baru Erina dan Adam menyusul, aku tidak memperhatikan mereka. Hanya fokus dengan apa yang aku rasakan saja. Pengalaman baru dibonceng dengan cowok lain. Lagipula, untuk apa aku terus memperhatikan dan mengkhawatirkan pasangan perjodohan itu? Toh ujungnya akan membuatku sakit hati saja. Mending mikirin diri sendiri dulu.
Terus memperhatikan jalan demi jalan yang kami lalui. Aku hapal, terlalu sering melewatinya. Tidak hanya dengan cara bermotor, namun aku lebih sering dengan jalan kaki. Mungkin di antara sekian ribu murid di sekolahku itu, hanya aku saja yang berjalan kaki ke sekolah dengan jarak rumah yang amat jauh. Yang lainnya sudah pasti difasilitasi penuh oleh keluarganya. Tidak jauh berbeda dengan Erina yang diberikan mobil oleh Papa khusus untuk mengantarnya. Ingat, untuk Erina seorang, dan aku tidak diperbolehkan masuk ke dalam mobil itu.
Ya sudahlah. Nikmati saja segala ketidakadilan ini.
"Abila, gue boleh nanya sesuatu enggak sama lo."
Fokusku beralih dari jalanan ke Nicholas. Dia penasaran akan sesuatu, mungkin saja tentangku. Akan aku jawab kalau aku bisa. "Iya, tanya aja," ujarku.
"Hmm..." Dia berdehem. "Ini agak privasi sih. Gue enggak memaksa lo mau jawab gue atau enggak. Cuman gue penasaran banget banget sama jawaban lo."
"Tanya aja. Kalau gue bisa jawab, gue pasti jawab," kataku. Dan baru setelahnya aku menyadari kalau Nicholas melewati jalan lain, tidak seperti biasanya. "Kok lo lewat jalan ini? Bukannya seharusnya tadi di persimpangan itu lurus terus ya?"
"Iya, memang. Tapi percaya deh gue enggak ada niatan jahat sama lo. Gue juga hapal kok jalannya walaupun gue baru pulang dari LN. So, tenang aja dan lo bisa pikirkan pertanyaan yang mau gue tanyakan ini."
Karena aku pikir Adam tidak mungkin akan 'menitip' ku di sembarangan orang, aku percaya dengan cowok ini. Hatiku juga mengatakan kalau dia bukan orang berbahaya yang harus dihindari. Lalu untuk apa aku takut dia mengambil jalan lain kalau ujung dan tujuannya sudah pasti sama?
"Tanya aja. Gue bakal jawab kok," ucapku.
"Oke, gue mulai dengan pertanyaan yang pertama." Nicholas agak melambatkan laju motornya, mungkin ia juga mau memfokuskan pendengarannya. Takutnya kalau dia tetap mengebut, butuh konsentrasi penuh dan pendengaran yang tajam tuk bisa mendengar jawabanku. Dan katanya ini penting untuknya, walau tidak memaksaku menjawabnya.
"Gue mau nanya, sebelumnya lo tahu enggak gue siapa?"
Pertanyaan Nicholas yang pertama agak membuatku mudeng alias tidak mengerti. Iya, ini pertanyaan yang mudah, dan kalau pun menjawabnya dengan asal, aku pun bisa. Tapi rasanya tidak semudah itu. Sepertinya ada maksud terselubung.
"Maksud lo apa?" Tanyaku balik.
"Jawab aja, seberapa tahu lo tentang gue. Gue rasa ini penting karena sebagai partner yang terus bertemu tiap harinya, gue enggak mau melakukan kesalahan sepele yang bisa berujung dan membesar menjadi masalah yang enggak bisa dikendalikan. Karena gue rasa gue harus memperjelas beberapa hal."
Agak misterius, membuatku penasaran.
"Tentu saja gue tahu lo. Lo Nicholas, temannya Adam dan sekarang teman gue juga. Lo diminta Adam buat anter jemput gue sekolah tiap harinya," ucapku.
"Itu aja?" Tanyanya.
Ya aku tidak punya jawaban lain selain memang, "iya. Cuman itu aja."
"Berarti lo enggak tahu kalau gue ini sepupunya?"
"Ha?!"
Aku agak kaget mendengarnya. Nicholas sepupu Adam? Apa ini benar? Kalau benar, besar kemungkinannya kalau memang Nicholas ini tidak bersekolah di sekolah itu, bisa jadi sekolah lain. Karena setauku, Adam tidak satu geng dengan salah satu keluarganya.
"Lo pasti kaget, tapi gue emang beneran jujur. Gue itu sepupunya Adam. Memang sih, kegantengan gue dan Adam itu tidak bisa ditanding, tapi percaya lah kalau gue itu aslinya lebih ganteng dan lebih menarik daripada Adam."
Sempat-sempatnya dia memuji diri sendiri di saat aku yang masih mencoba menyadari kenyataan dirinya adalah sepupu Adam. Bagaimana semuanya bisa terencana.
"Berarti kamu dari sekolah lain, ya? Karena setauku di sekolah Adam tidak punya keluarga yang umurnya sepantaran dengannya, apalagi sampai satu geng dengannya. Kamu juga pasti tahu kalau Adam orangnya sangat terkenal di sekolah," kataku.
"Mau tahu kebenaran yang lebih gilanya enggak?"
Ya pasti aku mau tahu. Aku segera mengiyakan. "Bilang aja, mumpung kita belum sampai di sekolah. Kalau sudah sampai, pasti kita enggak punya waktu ngobrol."
"Iya, benar juga. Bentar lagi juga mau nyampe."
Dan aku menunggu kebenaran yang akan diungkapkan Nicholas yang katanya sangat gila. Seberapa gila itu? Tentang siapa saja kebenaran itu terungkap.
"Kayaknya Adam suka banget deh sama lo."
Astaga, kalimat pertama yang dia ungkapkan saya sudah sangat gila. Bagaimana bisa dia langsung berkata demikian? Maksudku—aku sudah tidak mau berharap lagi dengan masalah ini, tapi Nicholas malah membahasnya. Mana dia sepupu Adam lagi. Ah, ribet!
"Kenapa lo bilang gitu?" Sebisa mungkin aku mengatur mimik wajahku supaya terlihat baik-baik saja. Tidak senang, tidak juga marah. Ya biasa-biasa saja.
"Permasalahannya, kepulangan gue ke Indonesia ini karena ulah dia. Dia sudah lama menyuruh gue pulang ke Indonesia, ngelanjutin sekolah di sini. Ya memang enggak aneh sama sekali, tapi gue gue pribadi itu aneh."
"Kenapa?" Tanyaku.
"Karena Adam bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Dia bukan orang yang suka memaksa orang hanya untuk mengikuti kemauan dia, bahkan ke orang tuanya sekalipun. Tapi sama gue? Dia selalu nyuruh gue pulang dengan asalan kalau ada yang butuh bantuan gue. Gue pikir dia lah yang butuh gue dan sangat urgent, karena itu gue urus pemindahan gue dari Inggris ke sini. Hanya untuk dia."
"Eh, tahu-tahunya, setelah gue ketar-ketir takut dia kenapa-kenapa dan pulang cepat-cepat ke Indonesia, ternyata gue disuruh mati-matian jadi tukang ojek lo. Dia sampai rela nyerahin robot kesayangan dia ke gue, padahal selama ini dia enggak pernah mau. Kami selalu bertengkar memperebutkan robot itu karena tidak mau ada orang lain yang memegangnya."
Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Aku hanya bisa terpaku, no komen. Apalagi kami sudah hampir sampai sekolah dan aku bisa melihat dengan jelas kalau Adam menunggu di depan gerbang sekolah. Dia sendiri, sepertinya Erina sudah masuk lebih dulu.
"Dan pertanyaan gue tinggal satu lagi sebelum kita masuk sekolah. Sebenarnya lo itu juga suka enggak sama Adam?"
Pertanyaan pamungkas yang punya dua jawaban, yakni jawaban yang terucap dengan jawaban yang dipendam. Dua jawaban yang berbeda.
Karena sudah sangat dekat sekali, aku segera menjawab pertanyaan Nicholas. "Enggak. Lagipula dia sudah dijodohkan dengan Erina. Dan gue juga bukan saudari yang suka menusuk saudarinya dari belakang. Apapun yang terjadi, gue tetap mendukungnya meski itu tidak menguntungkan gue."
Tidak lama setelah aku menjawab itu, kami sampai di depan gerbang sekolah. Banyak siswa-siswi yang berlalu-lalang masuk ke dalam. Banyak yang memandangku aneh, mungkin karena aku bersama cowok lain yang bukan anak murid di sekolah ini. Mereka penasaran. Tapi alasan utama kenapa Nicholas memilih berhenti sebentar, sebab Adam lebih dulu merentangkan tangannya menghentikan kami.
"Ngelewatin jalan mana aja lo, Nik? Lo sengaja ya mau mempermainkan gue?" Tanya Adam, menuntunku turun dari motor Nicholas.
"Sabar bro. Gue cuman mau kenalan aja masa enggak boleh."
"Kalau gue bilang enggak boleh, ya enggak boleh b**o!"
Adam menaikkan nada bicaranya menantang sepupunya sendiri—Nicholas, dan hal ini mulai menarik perhatian beberapa siswa-siswi yang melewati kami. Refleks aku menarik Adam agak menjauh dari Nicholas yang tampaknya amat sangat santai meladeni Adam. Bahkan ia tersenyum santai.
"Lo bisa tenang dikit enggak? Kayaknya lo terlalu banyak ngegas deh pagi ini. Bersabar dikit," kataku pada Adam.
"Lo bisa masuk aja enggak? Ini urusan gue sama Nik. Jangan sok ikut campur!" Ujar nya dengan nada yang ketus. Agak sedikit kecewa dengannya.
"Oh," hanya itu kataku, lalu melengos pergi dari hadapan Adam. Berjalan cepat-cepat tanpa mendengar suaranya yang terus memanggilku.
***
Akhirnya setelah sekian lama aku bisa masuk sekolah lagi, bisa menghirup udara di dalam kelasku lagi walaupun aku tahu itu bukanlah udara bersih. Orang-orangnya masih saja sama seperti sebelumnya, bahkan kini kurasa lebih kejam lagi. Mereka seolah tahu aku akan masuk lagi, sengaja menaruh mejaku paling pojok dan sendirian dibandingkan yang lainnya. Benar-benar jaraknya amat sangat jauh dibandingkan meja-meja mereka.
Ya, aku tahu. Siapa lagi pengatur semuanya kalau bukan Erina. Aku tidak perlu mencurigai banyak orang sedangkan yang bisa melakukan semua ini adalah saudariku sendiri.
Tidak mau memperpanjang masalah, aku tetap menerima semua ini. Duduk di kursiku, dan menunggu. Ya, menunggu, sembari melihat satu per satu dari mereka yang mulai berbisik entah membicarakan apa. Tapi mereka melihatku, sudah pasti topiknya adalah tentangku. Dan apa yang aku lakukan? Aku menanggapinya dengan senyuman. Entah sudah berapa kali aku mengatakan ini, bahwa mereka hanya tidak tahu apa yang aku rasakan. Mereka hanya melakukan apa yang diminta oleh teman terdekat mereka. Mereka tidak salah, mereka hanya keliru saja.
Aku menunggu waktu jam pelajaran pertama dimulai hingga akhirnya Erina and the geng masuk ke dalam kelas. Tanpa basa basi langsung menghampiriku. Ada yang menggebrak mejaku, ada yang duduk di atas meja seolah tidak punya sopan santun sedikitpun, ada yang dengan liciknya mengambil sebuah kapur dan mencoret-coret mejaku. Huh… kalau berhadapan dengan mereka, sabar pun tidak cukup.
Erina? Ia santai. Ia tidak melakukan apapun. Ia tidak mau mengotori tangannya sedikitpun. Kalian lupa? Dia kan ratu. Ratu mana ada yang mau lelah, mana ada yang mau kotor. Dia harus tetap terlihat suci, kan? Walau dalamnya sudah tidak bisa digambarkan lagi bagaimana kotornya.
"Lo semua ngapain di meja gue? Kalau mau ganggu gue, mending nanti pas pulang sekolah aja deh. Kalau sekarang terlalu nanggung, bentar lagi pelajaran pertama mulai," kataku.
Aku menghapus coretan kapur di mejaku itu dengan tanganku sendiri. Yang lain tidak ada yang mau berniat sedikitpun membantuku dari Erina and the geng ini. Antara mereka takut, tidak peduli, atau bisa jadi mereka punya niatan yang sama namun tidak mau mengambil resiko.
"Lo…" Erina menarik kerah bajuku, reflek aku tahan. Aku takut karena dia terlalu kuat menariknya nanti kancingnya terbuka. Ini bisa jadi pelecehan seksual yang tidak bisa aku laporkan kasusnya.
"Bisa lepasin enggak?!" Pintaku pada Erina.
Dia mendengus tidak suka. "Jujur sama gue sekarang, baju sekolah ini, tas sama sepatu yang lo pake sekarang itu pemberian Adam, kan?" Tanyanya.
Aku diam. Aku tidak akan menjawabnya. Aku tahu apa yang akan terjadi kalau sampai aku menjawabnya, walau hanya sekadar anggukan saja.
"Atau mungkin enggak cuman ini aja. Di kamar lo masih banyak lagi barang-barang yang dikasi jodoh gue tapi lo sembunyiin?!"
Itu benar, tapi aku harus diam. DIAM.
Erina bukan orang yang sabar. Ia akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkan semuanya. Dan ya, dia juga tidak kenal tempat. Tidak lagi menarik kerah bajuku, beralih menarik rambutku. Ingat, ini di dalam kelas. Disaksikan oleh banyak orang. Mereka bisa saja merekam ini dan menyebarluaskan ke media sosial, tapi tidak ada satupun yang mau melakukannya. Menyedihkan.
"Jawab, b**o!" Bentaknya tepat di samping telingaku.
"Enggak," jawabku singkat. "Adam enggak pernah ngasih apapun ke gue. Semua yang gue pake ini hasil kerja keras gue sendiri." Kalian tahu ini kebohongan, dan aku harap kebohongan ini menyelamatkan aku.
"Kerja keras?"
Erina and the geng tertawa. Mungkin pernyataan yang aku buat terlalu bodoh bagi mereka, dan aku tahu itu memang bodoh. Maksudku—mereka tahu aku tidak pernah keluar rumah. Lalu kerja apa? Mungkin panggilan b**o itu adalah panggilan yang tepat untuk menggambarkan diriku sekarang. Aku baru sadar.
"Dasar b**o! Lo kerja apaan?!" Salah satu teman Erina bertanya.
"Apapun. Dan lo semua enggak perlu tahu. Apapun yang gue lakuin bukan urusan lo semua. Jadi," aku berusaha melepaskan tangan Erina dari rambutku hingga berhasil. "Jadi berhenti memperlakukan gue seolah-olah gue bukan manusia. Lo semua dan gue itu sama-sama bernapas, sama-sama manusia, sama-sama enggak suka diganggu, tolong bertindaklah seolah kalian juga manusia. Jangan seperti hewan," ujarku.
"Asem banget lo bilang kami semua hewan!"
Salah satu tidak terima, dan aku juga bisa tertawa, bukan?
Kulihat Adam masuk ke dalam kelas ini, jelas aku tahu dia tidak akan terima melihatku diperlakukan seperti ini. Untungnya dia bersama Nicholas. Sepupunya berhasil menahannya.
Aku mengangguk. "Ya. Karena tidak ada manusia yang tidak punya otak di dunia ini. Kalau kalian manusia, kalian pasti berotak, kalian akan punya sopan santun, kalian tidak akan menyakiti manusia lainnya hanya karena kalian merasa kalah. Jadi, kalau kalian merasa diri kalian manusia, berotak dan pintar, balik ke meja kalian masing-masing dan duduk dengan rapi."
"Jangan sok pintar!"
Teman Erina mendorong kepalaku hingga aku terhuyung ke belakang. Untungnya kursiku bisa menahan, aku tidak sampai jatuh ke lantai. Syukurlah, punggung dan kepalaku selamat.
"Duduk yang rapi atau kalian semua keluar dari ruangan ini dan lari seratus kali di lapangan!" Adam berteriak, membawa jiwa dan posisinya sebagai ketua OSIS. Dan dalam hitungan detik, semua rapi. Duduk di tempatnya masing-masing.
Dia bisa melakukan semua ini, tidak ada yang bisa melarangnya. Sebab inilah salah satu tugas dan tanggungjawabnya sebagai ketua OSIS—memastikan semua aman, disiplin, dan terkendali.
Tidak ada yang berani bergerak, takut dengan aura kepemimpinan dan ketegasan yang keluar dari diri seorang Adam, bahkan Nicholas sekalipun. Dia kaget dengan Adam yang tiba-tiba berubah demikian. Adam berkeliling dari satu meja ke meja yang lainnya, benar-benar tidak ada yang berani bergerak apalagi bersuara. Kecuali si tengil ratu Erina. Dia mengangkat tangannya dan bertanya, "ada razia ya?" Tanyanya.
Adam tidak menjawab, mengabaikan Erina. Dia lanjut berkeliling. Kulihat dari wajahnya terlihat jelas dia menahan emosinya.
Menoleh ke arah Nicholas, dia bertanya padaku tanpa suara. Tapi aku bisa mengerti dengan jelas apa yang dia tanyakan. Seperti, "si Adam kenaoa? Kok galak banget?!" Sekiranya seperti itu yang aku pahami. Aku hanya mengangkat bahu tidak tahu. Lalu Nicholas beranjak mendekati mejaku.
"Si Adam nyeremin banget asli. Tumben gue liat dia marah-marah gini. Biasanya orangnya becanda mulu deh." Malah Adam memprotes padaku.
"Gue enggak tahu, Nik." Aku menggeser, memberikan Nicholas tempat duduk di sampingku. "Duduk, lo jangan berdiri terus," kataku.
"Woy yang dipojok!" Adam menunjuk ke arah aku dan Nicholas. Suaranya amat lantang, aku sampai terperanjat kaget. "Belum ada yang diberi kesempatan ngomong. Kalau gue belum kasih kesempatan, jangan ada yang bicara!"
Aku mengangguk, bahkan Nicholas juga mengangguk ketakutan.
"Gue udah sering banget dapat omongan kalau kelas ini sering membiarkan bahkan tutup mulut sama kasus pembullyan. Ini udah lama, bahkan sebelum gue jadi ketua OSIS. Gue masih menunggu ada yang mau melaporkan ke gue, setidaknya satu orang. Tapi tetap tidak ada."
Oh, aku mengerti sekarang. Perkataan Adam yang sekarang dengan kebingungan Nicholas tadi pagi jadi terhubung. Kemungkinan semenjak Adam tahu aku dibully, dia sudah banyak mencari informasi tentangku dan juga menyuruh Nicholas pulang ke Indonesia. Ini lebih masuk akal dibandingkan pemikiran yang lainnya. Dan aku pikir Nicholas juga punya pemikiran yang sama denganku. Aku dan dia kini saling pandang satu sama lain, bahkan sama-sama mengangguk seolah kami sudah mendapatkan jawabannya.
"Gue enggak mau lihat ada kasus pembullyan lagi di kelas ini bahkan di kelas manapun. Kalau sampai gue melihat secara langsung, siapapun orangnya bakal gue laporin ke pihak sekolah bahkan ke polisi. Dan juga, siapapun yang mencoba bungkam dengan kasus ini, juga akan bermasalah. Kalian mengerti?!"
Kami semua mengangguk.
Guru mata pelajaran pertama kami sudah masuk ke kelas, dan Adam sepertinya tidak terpengaruh dengan itu. Bisa aku bilang, pengaruh Adam lebih besar dibanding guru manapun di sekolah ini. Bahkan Adam lebih dihormati. Mungkin karena dia anak ketua yayasan? Itu juga lebih masuk akal.
"Ada pertanyaan?" Tanya Adam.
Cowok pojok yang aku tahu namanya Didi mengangkat tangan. "Bagaimana kalau pelakunya itu adalah orang terdekat lo, Adam? Apa lo akan sama tegasnya dengan omongan lo yang sekarang?"
"Tentu. Keadilan tetaplah keadilan. Semisal yang melakukan ini adalah papa gue, dia tetap bersalah dan gue harus melapor ini ke pihak yang berwajib."
Hening lagi.
"Oke karena gue rasa ini sudah waktunya belajar, hari ini sudah cukup tapi jangan sampai ada yang mengabaikan pengumuman dari gue. Belajar yang benar supaya di otak kalian tidak terpikir melakukan hal yang buruk."
Adam pergi, kami bisa bernapas dengan tenang. Bahkan guru yang tadi masuk juga menghela napas tenang.
"Selamat pagi, anak-anak. Kita mulai pagi ini dengan perkenalan salah satu siswa baru pindahan dari luar negeri. Kepada Nicholas silakan maju ke depan."
Aku langsung bilang gini ke Nicholas, "Nik, lo sekelas sama gue?" Tanyaku.
"Adam yang mau dan dia juga nyuruh gue duduk di dekat lo." Jawabnya singkat lalu maju ke depan untuk memperkenalkan diri.
Ya Tuhan… Adam lagi Adam lagi. Kenapa selalu dia? Dan kenapa harus dia?
***
Untuk pertama kalinya akhirnya aku bisa belajar dengan tenang, aku bisa mencerna pelajaran dengan baik, bahkan Nicholas juga bersedia mengajarkan banyak hal yang tidak aku mengerti. Sepertinya dia sekolah dengan rajin di luar negeri, dia amat sangat pintar menjelaskan hingga membuatkan mengerti dengan cepat. Bahkan aku pikir kehadiran Nicholas bisa menggeser posisi si rangking pertama.
"Oke, anak-anak. Karena bel istirahat pertama sudah berbunyi, pembelaan hari ini kita cukupkan dan kalian bisa mengambil kesempatan beristirahat."
Banyak siswa-siswi yang langsung berdiri, lalu bubar ke luar ruangan. Tujuan utama mereka sudah pasti kantin. Dan ada beberapa yang bertahan di kelas ini, termasuk aku dan Nicholas. Aku dan Nicholas memutuskan diam di kelas untuk mengerjakan tugas yang ketinggalan dan harus dikumpulkan sepulang sekolah ini.
"Nik, nomor 3 referensinya di halaman berapa?" Tanyaku.
Nicholas berhenti menulis, membolak-balikkan halaman bukunya. "Di halaman 83, Abi. Terus untuk no.4 di halaman 91, no.5 di halaman 92." Dia menjawabnya dengan sangat lengkap, bahkan tanpa aku bertanya untuk tugas nomor selanjutnya. Padahal aku bisa aja mencarinya sendiri.
"Oke, makasi Nik."
"Siap!"
Lanjut mengerjakan tugas, amat sangat serius. Kadang sembari nulis, aku mendengar ocehan Nicholas yang bagiku itu terdengar lucu. Dia mengoceh karena lelah nulis lah, jawabannya banyak lah, ini lah itu lah.
"Please deh. Perasaan di sana gue enggak pernah disuruh nulis deh. Kok di sini gue disuruh nulis sampe tangan gue keriting gini. Mana nanti malam gue harus latihan gitar. Gue bisa salah tekan senar," protesnya.
Aku hanya tertawa saja. "Nanti gue pijitin tangan lo kalau keriting. Gue lumayan jago di bidang itu," kataku.
Kini giliran dia yang tertawa. "Seumur hidup gue enggak pernah dengar ada yang namanya pijat tangan. But it's okey, kita coba," katanya.
Caranya menaik-turunkan alisnya dengan senyuman yang aku pikir itu manis, itu terlihat lucu. Baru dengan Nicholas akan merasakan hal seperti ini. Dengan Adam, dia agak cuek, tapi perhatian. Nicholas, dia humoris dan menyenangkan. Itu lah perbedaan dua cowok ini.
"He'em!"
Ternyata tanpa kami berdua sadari, Adam sudah ada di depan kami. Seperti biasa, gayanya selalu dan melulu melipat tangan di depan dadanya dengan ekspresi cuek dan bossy.
"Hai, Dam!" Sapa Nicholas, melambaikan tangan kepadanya. Tanpa sadar aku jadi ikut-ikutan. Nicholas memang racun.
"Kalian ngapain berduaan aja di sini?" Itu lah pertanyaan pertamanya. Jangan lupakan nada cuek dengan penuh penekanan.
Aku dan Nicholas kompak melihat sekitar. Awalnya kami mau mengelak Adam, tapi tidak jadi. Ternyata eh ternyata, memang benar kalau sedari tadi hanya kami berdua yang tetap setia di ruangan ini. Terlalu asik.
"Kalian enggak ke kantin?" Tanya Adam lagi.
"Kayaknya enggak deh," jawabby Nicholas. Aku lagi-lagi mengangguk, setuju dengan Nicholas.
"Lo enggak lapar?" Tanya Adam, dia mengarah kepadaku. Pertanyaan itu ditujukan untukku.
Aku menggeleng. "Enggak. Gue enggak lapar. Kalau kalian berdua lapar, kalian aja yang ke kantin," jawabku kemudian lanjut nulis jawaban lagi.
"Nik, lo bisa pindah bentar?" Tanya Adam.
"Emangnya kenapa?"
Tapi Nicholas tetap bangun dan apa yang terjadi? Adam duduk di sampingku dan mengambil alih bukuku. "Sini gue aja yang kerjain tugas lo. Lo bisa ke kantin sama Nik."
Aneh.
"Emangnya boleh?" Tanyaku. Maksudku, hanya ada satu alasan kenapa aku bisa bertanya demikian pada Adam, apakah boleh atau tidak. Aku tentu menghormati dan menghargai dirinya.
"Emangnya kenapa enggak boleh?" Tanya Adam balik.
"Maksud Abi, nanti lo cemburu enggak?" Nicholas menjawab Adam. Itu benar. Seribu persen benar.