Menjadi sangat heboh ketika Adam masuk ke dalam rumah, terutama Erina. Dia sangat bahagia, terlihat jelas di wajahnya. Ditambah lagi semua teman-temannya mulai iri melihatnya bersama dengan Adam. Kini Erina statusnya bukan sebagai secret admirer, atau penggemar Adam, melainkan sudah naik level ke jodoh. Entah sudah berapa tangga yang sudah dilewatinya.
Dan dengan bergabungnya Adam ke acara malam ini, semakin membuat kehebohan. Lebih heboh daripada sore tadi. Aku bahkan kewalahan membuatkan semua tamu Erina makanan. Sebab dari awal mereka di sini kebanyakan hanya minum saja, aku menjadi tidak enak. Mereka belum makan. Karena itu lah aku meminta mereka menunggu—berniat membuatkan mereka makan. Ya setidaknya nasi goreng, agar perut mereka tidak sakit.
Hanya aku sendiri di dapur, yang lainnya berkumpul di ruang tamu. Ribut, sangat heboh. Toh kalau pun aku ikut bergabung, siapa yang akan mengurus perut mereka? Siapa juga yang akan menyapaku di sana? Aku tidak punya teman. Satu pun. Di sini, bahkan di sekolah pun aku sudah biasa dikenal sebagai pembantunya Erina walau mereka tahu aku saudarinya.
Lupakan. Itu sudah biasa.
Kini sambil menunggu, mereka bermain kartu domino untuk yang cowok-cowok, sedangkan yang cewek-cewek jadi penyemangat dan speaker keributan malam ini. Jangan heran kalau nantinya ada salah satu tetangga yang datang dan memprotes keributan.
Sesekali aku penasaran. Ketika ada kesempatan meninggalkan masakan sebentar, aku melihat ke arah mereka. Terlihat seru dan menyenangkan. Bahkan aku yang melihatnya dari kejauhan saja bisa tersenyum dan ikut senang. Andai aku bisa bergabung, pasti akan sangat menyenangkan.
"Ah sudahlah. Aku harus segera menyelesaikan ini dan pergi istirahat. Tengah malam nanti aku harus bangun, mulai membersihkan rumah lebih awal dari biasanya."
Segera menyelesaikan masakanku yang sudah hampir jadi. Tidak lupa aku menyisihkan sedikit untuk diriku sendiri, yang akan aku bawa nantinya ke dalam kamarku. Aku akan makan di sana, tidak mungkin di sini dengan mereka.
Dan rasanya aku membutuhkan sedikit bantuan mereka. Ya setidaknya dua atau tiga orang—membawakan nasi goreng dan lauk lain yang aku buat, membawa piring dan yang lainnya. Jujur, aku bisa membawanya sendirian, tapi aku sangat lelah. Sedikit lemas, ingin cepat beristirahat.
Memberanikan diri memecahkan keasikan mereka dengan sengaja membunyikan kaca jendela dapur hingga menimbulkan suara yang agak lengking. Seketika mereka menoleh ke arahku dan suasana jadi canggung. Bahkan aku pun jadi gugup melihat semuanya memandangku dengan amat serius. Terutama Adam.
"Hmm... Maaf ganggu kalian sebentar," ujarku lebih dulu. Masih terasa amat gugup, dan aku tidak mengerti bagaimana cara mengendalikannya. Kusembunyikan tanganku ke belakang tubuhku, karena gemetar.
Kemudian aku teringat dengan nasihat ibu Sekar, kalau sikap gugup itu datangnya dari pikiran. Jadi yang harus dikendalikan pertama kali adalah pikiran. Cara termudahnya adalah bayangkan semuanya tidak ada dan kini hanya sedang sendiri saja.
"Maaf gue ganggu sebentar. Gue tadi sudah buatin kalian sedikit makanan, ya setidaknya untuk ganjal perut kalian. Tapi gue butuh bantuan beberapa orang. Ada yang mau bantu gue?" Tanyaku.
Sepi. Hening. Tidak ada yang meresponku. Malah mereka tertawa kecil, lalu melengos begitu saja seakan apa yang aku katakan sangatlah tidak penting. Tidak menghargai usaha yang telah aku lakukan untuk mereka.
Kecewa? Jangan tanyakan. Sudah pasti jawabannya IYA.
Bagaimana dengan Adam? Dia diam, menunduk. Di sampingnya ada Erina. Sudah pasti dia juga bingung mau melakukan apa. Dia juga sudah berjanji padaku untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa membuat Erina curiga. Ya memang aku dan Adam tidak melakukan apapun, tapi Erina adalah salah satu orang yang berlebihan. Memperbesar masalah kecil, melebarkan masalah besar hingga tidak bisa diperbaiki lagi.
"Gue tanya sekali lagi, ada yang mau bantu gue?" Tanyaku. Nyaliku agak menciut, bertanya dengan suara yang lebih kecil dari sebelumnya.
Tidak seperti tadi dimana sebagian besar mereka menertawakanku, kini salah satu dari mereka menjawab. "Lo pikir kita-kita ini pembantu lo? Lo aja yang bawa, ngapain malah nyuruh kita. Lo kan pembantu!"
Tetap saja akhirnya bikin d**a sesak. Aku jadi menyesal bertanya. Terpaksa, karena sudah tidak ada harapan menunggu bantuan dari mereka, aku balik ke dapur dengan membawa kekecewaan pada diriku sendiri. Kalau tahu jawabannya begini, aku tidak akan membuang banyak waktu.
Aku pikir setiap orang punya sifat baiknya masing-masing. Ternyata aku salah.
Meredam kekecewaan, aku mencoba melupakan yang tadi. Aku sudah tidak berniat lagi mau meminta tolong, lebih tenang melakukannya sendirian. Bawa piring sendiri, nasi sendiri, dan lainnya sendiri. Kini tidak ada bedanya dengan aku yang melayani Mama dan Papa.
Setelah semuanya rapi di atas meja, aku masuk ke dapur lagi untuk mengambil satu piring berisikan makan malam untukku sendiri. Berniat mau membawanya ke kamarku saja, sakalian langsung istirahat.
"Eh mau kemana lo?!"
Salah satu teman geng Erina mengejarku. Tanpa sopan santun sedikitpun merebut piring yang aku pegang tadi. "Lo mau nyolong makanan ya?!" Sengaja sekali ia menaikkan nada suaranya, padahal tuduhannya ini amat sangat tidak mendasar, bermaksud memfitnahku. Hatinya sangat busuk.
Aku berusaha mengambil piring itu lagi dari tangannya, namun dia menepis tanganku. Aku tidak pernah memulai perdebatan lebih dulu dengannya, dia lah yang mulai. Sabar pun tidak bisa membeli kelicikannya.
"Lo bisa kasih gue piring itu?" Pintaku.
"Gue malas berdebat. Mending lo kasih makanan gue, terus lo gabung makan malam sama mereka. Lo enggak perlu buang-buang waktu dengan mengolok-olok gue kayak gini. Enggak ada yang butuh," kataku lagi.
"Tapi lo udah nyolong makanan, t***l!" Dia mendorongku.
Aku kaget, belum bersiap-siap. Di pikiranku hanya satu, aku akan jatuh dan itu akan menjadi bahan bercandaan mereka. Bahkan aku sudah menutup mataku, terpejam erat. Tapi apa? Tidak sakit sedikit. Aku tidak terbentur. Kepalaku terasa aman, tidak sakit sama sekali.
"Orang tua lo enggak pernah ajarin lo sopan santun ya?!"
Lebih kaget lagi dengan ini. Jika tadi yang membuatku kaget karena teman Erina yang tiba-tiba mendorongku tanpa sebab, kini aku kaget karena mendengar suara Adam yang sangat dekat denganku.
Perlahan membuka mata, dan ternyata dia lah yang menangkapku. Dia menolongku.
"Lo enggak kenapa-kenapa, kan?" Tanyanya.
Aku mengangguk. Hampir aku menarik sudut bibirku, mau tersenyum atas kebaikan hati Adam. Akan tetapi mataku lebih dulu menyorot ke arah tempat mereka berkumpul tadi. Kulihat banyak yang sedang melihat kami. Aku takut ini salah satu hal yang bisa menarik kesalahpahaman, tidak hanya untuk Erina, tetapi juga teman-temannya yang lain.
"Gue enggak kenapa-kenapa." Aku langsung menghindar dan menunduk. Sungguh, aku tidak berani melakukan apapun kali ini.
Adam masih memegang lenganku—erat, aku tidak bisa melepasnya. Dia mengambilkan piring milikku dari temannya Erina, kemudian menyerahkannya kepadaku.
"Cepat masuk ke kamar lo. Nanti gue anterin air minum," katanya, berbisik.
Aku mengangguk. "Terima kasih. Tapi lo enggak perlu anterin gue air. Air minum yang kemarin masih ada di kamar gue," ucapku.
"Ya udah. Kalau begitu aman. Sekarang, cepat masuk ke kamar lo, dan mulai dari sekarang kunci kamar lo."
Aku mengangguk lagi, sekadar untuk alasan aku tidak mau memperpanjang masalah. Dengan cepat, bahkan aku berlari menuju kamarku. Dan seperti apa yang dikatakan Adam, aku mengunci kamarku. Mungkin maksud Adam memintaku demikian agar Erina dan gengnya tidak menggangguku.
"Selamatkan aku."
***
Tengah malam, aku terbangun. Bukan karena terlalu rajin ataupun terlalu bersemangat membersihkan semua kekacauan yang dilakukan Erina dan sudah pasti ditinggalkannya, melainkan karena perutku sakit. Entah karena apa, mungkin saja makanan yang kemarin malam aku makan atau karena hal lain, tapi yang pasti perutku amat sangat sakit dan aku tidak punya pilihan lain selain bolak-balik WC berulang kali.
"Bagaimana bisa aku sekolah dengan tenang kalau perutku sakit gini? Ke WC aja bolak-balik tidak karuan. Nanti kalau aku sekolah, aku takut Erina menguncikan aku lagi."
Entah apakah itu yang dinamakan trauma atau tidak, tapi yang pasti aku benar-benar menjadi takut ke sekolah. Aku takut dengan Erina, takut dengan ejekan yang lain, takut dengan bentakan ibu guru. Semuanya. Aku bahkan belum memperlihatkan bagaimana tampilan baruku dengan menggunakan baju sekolah yang diberikan Adam ke depan Erina, bahkan ke murid lainnya. Tidak, aku tidak berani. Mungkin karena dorongan itu juga lah yang membuatku dengan mudah bolos dan berakhir ke rumahnya ibu Sekar.
Kini aku pasrah. Badanku lemas. Berulang kali ke WC, tetap saja perutku tidak berhenti sakit. Alhasil aku kayak sampah yang siap di buang di ruang tamu. Tidur tidak karuan, tidak ada tenaga sama sekali. Kepala di sofa, badan terduduk di lantai. Tapi satu sisi, tanganku sudah sangat gatal mau membereskan semuanya. Membuatku menjadi semakin pusing, aku tidak bisa melakukan apapun dengan keterbatasan kesakitan yang aku rasakan sekarang.
"Abi?"
Mataku bergerak malas melihat siapa gerangan yang memanggilku. Tanpa menggerakkan badan terlalu berarti, aku melihat orangnya. Adam.
Dia bangun pagi sekali. Entah apakah dia sudah terbiasa bangun jam begini atau memang dia tidak tidur. Kemarin dia juga melakukan hal yang sama, bahkan ketika kami di puncak. Dia selalu terbangun ketika tengah malam. Hebat sekali dia bisa demikian, tanpa sakit sedikitpun.
"Lo kenapa?" Tanyanya.
Dia memungut beberapa gelas yang ada di samping kepalaku. Gelas kotor yang belum dicuci tentunya. Aku malas—maksudku karena perutku lemas membuatku membiarkan semuanya. Sumpah demi apapun, aku tidak punya tenaga sedikitpun untuk sekadar bergerak, apalagi membalas Adam. Bahkan sekedar anggukan kecil.
Aku tak kunjung menjawab sampai Abi menempelkan tangannya di dahiku. "Lo kenapa, Abi? Kenapa mendelosor terus di sini? Masih kotor lho," katanya.
Aku hanya menggeleng.
"Lo sakit?" Tanyanya lagi.
Lagi-lagi akan menggeleng. Dan mungkin sudah waktunya aku mengabaikan semua sakit yang terasa ini, mulai mengerjakan semua pekerjaan supaya cepat selesai sebelum Erina bangun bahkan sebelum Mama dan Papa pulang dari hotel. Rumah harus dalam keadaan bersih, sehat wal Afiat.
Namun sayang, aku terlalu memaksakan keadaan diriku. Aku bangun, dan terhuyung. Dunia seakan seketika berputar ketika aku bangun. Anehnya. Untung aku berpegangan di sofa—tidak, aku keliru. Aku pikir aku berpegangan di kepala sofa, tapi ternyata di bahu Adam. Dia dengan tanggapnya selalu ada membantuku.
"Lo sakit?" Tanyanya lagi.
"Perut gue sakit. Gue udah bolak-balik WC dari tadi, tapi tetap aja sakit. Alhasil gue jadi lemas gini," ujarku dengan nada yang amat kecil.
"Ya udah kalau gitu lo istirahat," dia menarikku hendak duduk lagi seperti dirinya di sampingnya, tapi aku menolak. Kalau aku istirahat sekarang, itu akan membentuk sistem malas di dalam diriku dan akan memperlambat kerjaku membersihkan semuanya hari ini. "Kerjaan gue banyak," ujarku.
"Tapi lo sakit!"
Dan seperti biasa, Adam selalu menaikkan nada bicaranya setiap kali kesabarannya sudah teruji. Mungkin tidak hanya dirinya saja yang demikian, terbukti Erina dan Mama juga seperti itu. Beda dengan Papa, selalu diam tapi menyakitkan. Haha, serba serbi keluarga yang sama-sama menyakitkan.
"Mending lo istirahat." Dia menarikku lagi, dan berhasil. Aku duduk di sampingku, tapi aku janji ini tidak akan lama. "Lihat, sekarang lo lemas, enggak ada tenaga. Jangan pikirin masalah rumah yang udah kayak kapal pecah ini. Pikirin diri lo dulu, baru orang lain. Logikanya, kalau lo sakit, gimana caranya lo bisa bersihin rumah dengan bersih?"
"Gue bakal kena marah kalau Mama dan Papa masih lihat rumah kotor kayak gini."
"Kan ada Erina yang bisa gantiin lo."
Aku bisa tertawa karena ucapan Adam. Apa katanya? Erina yang menggantikanku? Lucu sekali. Seumur hidupnya Erina tidak pernah melakukan pekerjaan rumah. Pernah sekali, dan itu berakhir dengan rengehan panjang karena punggung dan segala macam dalam dirinya sakit. Apalagi kalau dia membereskan semua kekacauan ini, dia akan jatuh sakit bahkan mungkin sampai dilarikan ke rumah sakit.
"Daripada lo nyuruh Erina, mending gue aja."
Adam menarikku lagi sampai aku duduk lagi. "Diam dulu. Gue bikinin lo larutan oralit dulu."
Oke, tanpa aku memberitahu apa sakitku, dia paham. Lagipula, aku agak malu mengatakan kalau aku sakit perut karena diare, agak gimana gitu kesannya. Untungnya dia mengerti.
Dan aku menunggunya.
Sempat aku menengok ke arah dapur, melihat bagian belakangnya saja. Dan kalian tahu apa yang aku rasakan? Aku bangga, aku senang, tapi juga sedih. Balik lagi, dia tidak bisa menjadi apa yang bisa aku anggap milikku, hanya bisa aku pendam dalam hatiku—untuk diriku sendiri.
Aneh ya? Kalau memang tidak bisa dimiliki, kenapa Tuhan tidak menghapus perasaan ini saja dari hatiku? Kenapa malah terus membiarkanku merasa ganjal dengan perasaan ini. Aku yang tidak bisa memilikinya terus merasa untuk ke sekian kalinya betapa tidak pantasnya diriku bisa hadir di dunia ini, ditambah lagi dengan beban moral yang diberikan keluarga ini.
Tambah menyakitkan, kalian tahu? Aku hanya berharap aku bisa bertahan.
"Ini minum larutan oralitnya, biar perut lo enggak sakit lagi."
Dia menyerahkan segelas air yang sepintar terlihat seperti air gula, tapi rasanya agak asin. Iya, namanya juga oralit. Dan karena aku tahu ini obat, ini jalur ninjaku tuk bisa cepat-cepat membereskan semua pekerjaan di rumah ini, tanpa mengeluh aku mencoba menghabiskannya.
Tanpa diduga, Adam membantuku. Entah darimana dia bisa mendapatkan trash bag besar berwarna hitam dan mulai memungut sampah demi sampah yang berserakan. Untuk gelas-gelas bahkan piring-piring yang tidak dikembalikan ke tempatnya pun dia juga mengumpulkannya. Aku terdiam, aku tidak tahu mau mengatakan apa.
"Lo diam aja, jangan coba hentikan gue. Ini gue lakuin supaya beban di pikiran lo itu berkurang," ujarnya seakan tahu apa yang ada di pikiranku.
Aku tidak bisa mengatakan apa-apa selain, "terima kasih banyak sudah ganti gue," kataku.
Setelah aku selesai meminum larutan oralit itu dan keadaanku juga agak membaik, aku juga mulai beraksi. Menyapu, mengepel, dan rencana ku selanjutnya adalah mencuci piring. Saat aku ke dapur, Adam lah yang melakukannya. Kulihat dia berhadapan dengan wastafel, menggosok satu per satu piring kotor itu dan dia bisa. Kulihat dia tidak kewalahan sedikitpun.
Aku tidak mau menginterupsinya, aku tidak mau menggangunya. Aku pun beralih ke pekerja lain, yakni mencuci baju. Untungnya pakai mesin, aku bisa melakukan kerjaan lain sembari menunggunya selesai berputar. Seperti menyiram tanaman.
Aku agak terkejut melihat taman Mama yang ada di depan. Kacau. Ada yang sengaja dicabut, ada yang bunganya dipotong, dan—intinya kacau. Mama sudah pasti marah melihat ini. Sudah pasti ini kerjaannya teman-teman Erina. Mereka amat sangat bar-bar, tidak punya sopan santun sedikitpun. Ya aku tahu kalau Mama tidak bisa melarang mereka atau nanti Erina akan sedih, tapi ujungnya aku lah yang repot.
Sebelum aku mulai menyiram, aku memperbaiki bunga-bunga yang sengaja dicabut dari tanahnya dan dibiarkan begitu saja. Aku hanya berharap setelah ini bunganya tidak layu, apalagi sampai mati. Tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Mama mengetahui ada bunganya yang mati.
Pernah sekali ada kucing yang menyerang kucing lain dan pertengkaran antar kucing itu di taman bunganya. Mama sangat marah. Dia hampir membunuhnya. Dan bagaimana kalau itu terjadi padaku padahal dalangnya adalah Erina? Sangat kejam.
Setelah semua beres, aku bisa menyiram dengan aman dengan penuh harap semuanya akan membaik. Aku masuk lagi ke dalam seusai semua urusan di taman selesai.
Kulihat Adam baru saja masuk ke kamarnya, tepat di samping kamar Erina. Itu bagus, aku tidak perlu canggung lagi, tidak perlu merasa tidak enakan karena dia sudah banyak membantuku pagi ini.
Aku teringat dengan baju-baju yang aku cuci, sudah selesai berputar. Membersihkannya, lalu memasukkannya ke pengering.
Pekerjaan rumah itu tergolong mudah kalau kita terbiasa, tergolong berat kalau kita tidak pernah melakukannya sebelumnya. Singkatnya seperti itu. Seperti Erina, dia pasti akan sakit-sakit dahulu, sebab tidak terbiasa. Tapi aku yakin, kalau Erina membiasakan diri, apalagi sekarang dia sudah dijodohkan, seharusnya dia sudah berani mempersiapkan dirinya dengan segala kerumitan ini. Walau usianya masih muda dan belum waktunya memikirkan masalah rumah tangga. Logikanya, siapa suruh mereka dijodohkan? Bukankah perjodohan itu ujungnya adalah pernikahan.
Dan sepertinya pekerjaan terakhir yang aku lakukan adalah masak. Aku hanya mampu membuat nasi goreng saja, perutku kembali terasa sakit. Meski tidak sesakit sebelumnya, teras mengganggu sekali.
"Lo masak apa?"
Aku kaget melihat Erina tiba-tiba ada di belakangku, dan dengan penampilan yang seperti itu. Rambutnya seperti habis kena setrum. Entah bagaimana caranya tidur sampai-sampai seperti demikian. Kacau, sekacau keadaan rumah tadi.
"Gue cuman masak nasi goreng aja. Gue enggak masak yang lain soalnya perut gue sakit banget. Lo bisa bilang sama Adam kalau lo yang masak ini," kataku.
Dia mengangguk. "Ya udah, pergi sana!"
Memang niatku mau pergi setelah ini. Dan berulang kali aku sudah mengatakan ini pada diriku sendiri untuk tidak peduli dengan mereka, tetap saja aku peduli. Kala aku sudah sampai depan pintu dapur, aku berbalik hanya sekadar mengatakan ini pada Erina. "Erina, mungkin sebaiknya sebelum lo panggil Adam di kamarnya, lo rapihin dulu rambut lo. Jujur aja, itu kayak habis disetrum," kataku.
Dan aku pergi, tidak mau mengurusnya lagi walau aku sayup-sayup mendengarnya berteriak. "Bukan urusan lo!"
Ya memang, bukan urusanku.
***
Adam sepertinya sangat mewanti-wanti aku tidak pergi sekolah lagi. Dia sudah mempersiapkan segalanya dengan baik, termasuk menyuruh temannya datang ke rumah bahkan sebelum aku selesai bersiap-siap. Adam mengetuk pintu kamarku dan berkata kalau temannya sudah siap menjemputku berangkat sekolah. Alhasil aku tidak pergi dari pintu belakang, melainkan masuk lagi ke rumah untuk bertemu dengan teman Adam itu.
Pas aku keluar, mereka sedang sarapan.
"Hai, Abila!"
Satu cowok yang aku yakini adalah teman Adam menyapaku. Dia sangat bersemangat. Aku pikir, aku tidak pernah melihatnya dengan Adam di sekolah. Apakah dia murid baru?
"Ayo bergabung sarapan dengan kami. Masakan Erina enak banget lhooo," ujarnya lagi, nada bicaranya juga bernada. Dia terus tersenyum, punya aura yang positif. Sepertinya tidak perlu banyak usaha aku akan merasa dekat dengannya. Dalam artian sebagai teman.
Teman Adam ini terus melambaikan tangan ke arahku, beda dengan Adam yang sepertinya terlihat kesal dengan tingkat temannya yang terlalu aktif ini. Tidak enak mengabaikannya begitu saja, aku membalas lambaian tangannya. "Hai," kataku.
Aku duduk di samping Erina. Tidak menyadari kalau sedari tadi Erina memperhatikanku. Terutama baju sekolah yang aku pakai.
"Kapan lo beli baju baru?" Dia berbisik, tidak berani memperbesar suaranya. Nadanya pun juga ketus. "Tas dan sepatu juga. Perasaan lo enggak punya uang deh."
Aku tidak menjawabnya, terus bersikap seolah dia tidak mengganggu. Aku mengambil piring dan hendak mengambil beberapa sendok, Adam dan temannya berebutan mengambil piringku. Yang menang malah temannya. Aneh, kenapa mereka seperti ini di depan Erina?
Teman Adam yang belum aku tahu namanya menjulurkan lidahnya ke Adam, mengolok-olok Adam. Apakah dengan mendapatkan piringku itu adalah sebuah kemenangan yang harus dibanggakan? Aku heran dengan dua cowok ini.
"Gue menang, Adam. Habis ini lo harus beliin gue sepatu!" Ujar teman Adam.
Jelas sekali terlihat Adam tidak menyukainya. "Enak aja lo!"
"Ya emang enak menang dari lo!" Ujar temannya kembali berbangga. Tapi sembari dia mengambilkan aku nasi goreng buatannya yang diakui oleh Erina. Lalu dia memberiku lagi piring itu.
"Lo udah tahu belum gue siapa?" Tanyanya padaku.
Aku menggelengkan kepala. Sebab aku benar-benar tidak tahu. Sama sekali. Bukan gaya-gayaan lupa atau bagaimana.
Dia mengulurkan tangannya di depanku, "Kenalin, gue Nicholas, bisa dipanggil Nic atau Nik. Mulai dari sekarang sampai kapanpun lo bosan sama gue, gue bakal jadi ojek lo. Gue bakal anter jemput lo kemanapun lo mau pergi. Lo bisa catat atau ingat nomor telepon gue sekarang. O8X—"
"Gue enggak punya HP," aku menyelanya, dan tidak enak hati dengan itu. Apalagi saat melihatnya terdiam, kebingungan. "Tapi gue senang bisa berkenalan dengan lo."
Aku menjabat tangannya. "Kenalin, gue Abila. Lo bisa panggil gue Abila, atau Abi, atau apapun yang lo mau. Terserah lo. Dan gue sangat berterima kasih lo mau dan ikhlas antar jemput gue. Malah sebaliknya, kalau lo udah malas banget anter jemput gue, lo bisa bilang sama gue. Gue bisa jalan kaki ke sekolah. Gue udah terbiasa," kataku.
"Oke. Tadi lo bilang gue bisa terserah panggil lo siapa aja, kan?" Tanyanya.
Aku mengangguk.
"Kalau gitu, can I call you mine?"
Aku tidak mengerti dengan pertanyaannya, tapi apa yang aku lihat setelahnya? Adam mau memukulnya. Memangnya apa maksudnya?
"Lo jangan macam-macam ya Nik. Gue gorok lo nanti!" Adam sampai mengancamnya dan tengilnya cowok yang bernama Nik ini hanya tertawa saja. "Bercanda bro! Jangan dibawa ke hati."
Dan setelahnya senyap, tidak ada yang namanya bercandaan lagi. Kami fokus dengan sarapan kami masing-masing. Dan tumben juga Erina tidak banyak bicara. Dia kebanyakan diam. Aku tidak mau bertanya apa-apa kenapa dia begitu, takutnya nanti dia malah mengartikannya dengan hal lain dan salah paham. Bisa kacau urusannya kalau sampai seperti itu.
Dan kami bersiap-siap berangkat sekolah. Kini aku tidak punya alasan bolos atau ke rumah ibu Sekar, kecuali aku pergi lebih dulu sebelum Nicholas datang menjemput.
Erina dengan Adam, dan aku bersama Nicholas. Sebelum aku naik ke motornya Nicholas, Adam menghampiriku.
"Ada apa?" Tanyaku. Menoleh ke arah Erina yang sudah pasti memperhatikanku dengan Adam. "Erina lihat kita. Gue takut dia salah paham," kataku.
"Gue cuman mau bilang, lo enggak boleh baper atau dekat dengan Nik."
"Emangnya kenapa?" Tanyaku.
"Nanti gue cemburu."