Bab 24. Adam Takut

3501 Kata
"Buatin gue jus jeruk ya!" "Gue jus stroberi." "Gua mau minuman soda, dua gelas." "Tolong dong, es tehnya satu." "Gue minta air putih aja." Dan masih banyak lagi terdengar orderan demi orderan dari teman-temannya Erina. Seakan tidak ada jeda sama sekali. Silih berganti mereka masuk ke dalam dapur hanya untuk meneriaki satu per satu permintaan mereka, lalu setelahnya mereka keluar tanpa menunggu barang lima menit. Setelah dibuatkan, bukannya mereka yang mengambilnya sendiri, melainkan aku lah yang mengantarkannya. Benar-benar gambaran bagaimana seorang pelayan itu diperlakukan di sini seperti biasanya. Aku lawan sebegitu banyaknya mereka. Satu lawan banyak. Tidak ada Mama dan Papa di rumah. Entah kemana mereka sampai tidak pulang hingga sudah mau jam sembilan malam. Entah apakah mereka sudah tahu atau tidak, apakah mereka sengaja membiarkan Erina berpesta seperti ini atau bagaimana, aku tidak tahu. Meski begitu, teman-teman Erina masih berpesta di rumah ini. Beberapa ada yang sudah pulang, lebih banyak yang tinggal bahkan ada pula yang baru datang hanya untuk memberikan ucapan selamat kepada Erina. Masih dengan baju sekolah, tapi dalam keadaan yang kacau. Rumah pun juga kacau. Aku takut ketika Mama dan Papa pulang, malah melihat kekacauan ini. Aku bingung mau melakukan apa. Saking banyaknya, aku tidak tahu mau memulainya dari mana. Sampah berserakan dimana-mana. Satu sisi, aku ingin meninggalkan dapur hanya untuk memungut satu per satu sampah itu, agar rumah ini tidak terlalu kotor. Tapi satu sisi lagi, aku tidak bisa meninggalkan dapur. Banyak sekali permintaan mereka yang harus aku layani, sedangkan aku melakukannya sendirian. Mereka memperlakukanku bak robot, yang seakan tidak kenal lelah. Asalkan program masih bisa direncanakan, dipaksa terus. Itu lah yang mereka lakukan padaku sekarang. Benar-benar melawan ciptaan Tuhan. "Cepat buatin gue jus jeruk." Salah satu teman dekat Erina masuk dan langsung meminta itu padaku, dengan mukanya yang songong dan melipat tangan depan d**a. Dia tidak pernah baik padaku, maka tidak heran dia demikian. Aku juga tidak mau dekat dengannya. Dia salah satu siswi yang terkenal licik di sekolah. Setiap kali ada ujian, dia selalu menyontek atau menyebarkan jawaban. Tidak hanya itu saja, dia sering kali terlibat kasus pertengkaran dengan siswa lain hanya karena hal sepele. Tidak lama salah satu temannya datang lagi. Tidak jauh berbeda dengannya dari segi sikap. Songong, sombong, tidak sopan sama sekali. "Bikinin gue kopi s**u dong. Kalau ada roti, itu dipanggang juga buat gue." Aku hanya mengangguk, menerima permintaan mereka walau berat hati terasa. Karena stok jeruk di depanku sudah habis, di bawah meja juga sudah tidak ada, aku beralih ke kulkas. Mungkin saja masih ada stok yang belum dibuka. Sebelumnya stok jeruk banyak, tapi sebagian dibagikan untuk dimakan langsung. Tentu saja. Membuka kulkas, mencari keberadaan s**u, jeruk dan roti. Kebetulan roti tawar sudah habis juga. Sayangnya, aku harus bertanya opsi lain pada mereka. Apa yang mereka inginkan stoknya sudah habis. Toh sebelumnya mereka juga pernah menyuruhku membuatkan mereka sesuatu. Ini untuk yang ketiga kalinya. Kalau aku buka kedai, mungkin hutang mereka sudah banyak di kedaiku. "Jeruk sama roti habis. Kalian mau ganti pakai yang lain?" Tanyaku. "Atau air putih saja? Soalnya semuanya sudah habis. Gak ada yang tersisa sama sekali," imbuhku. Kulihat mereka saling pandang, seperti tidak terima dengan apa yang aku katakan. Seolah tidak percaya, salah satu dari mereka yang aku lupa namanya maju hanya untuk melihat kembali isi kulkas yang memang sudah kosong melompong. Semuanya sudah digunakan untuk mereka sore ini. Tidak ada yang tersisa sama sekali. Mereka pikir aku berbohong. "g****k!" Dia menutup pintu kulkas agak membanting. "Kenapa kulkasnya kosong? Gue lapar tau gak lo!" Heran melihatnya. Maksudku, di sini tidak hanya dia saja yang lapar. Aku pun juga. Dia masih mending bisa berleha-leha, santai ketawa-ketawa dengan yang lain tanpa beban sedikitpun. Sedangkan aku? Semenjak aku dibangunkan paksa dengan air dingin itu hingga sampai detik ini, aku masih bertahan berdiri tanpa istirahat sejenak pun. Bahkan makan pun tidak. Tidak ada sedikitpun makanan yang masuk ke dalam mulutku. Astaga... Tidak habis pikir dengannya. "Semua bahan sudah dipakai. Lo bisa lihat buktinya dari tadi gue enggak istirahat melayani semua orderan dari lo semua. Jadi jangan heran kalau kulkas itu kosong," ujarku. "Ya kalau kosong, beli!" Seenaknya dia menyuruhku membeli. Kalau aku punya uang, aku akan membelinya. Tapi aku sama sekali tidak punya. Aku harus melakukan apa supaya punya uang dan bisa membayar semua tagihan setelah mengambil beberapa bahan yang dipakai untuk memenuhi orderan tambahan mereka di pesta ini. Itu membutuhkan uang yang tidak sedikit, sedangkan aku sedikitpun tidak punya uang. "Gue bisa beli apa yang lo mau asalkan lo kasih gue uang. Lo kan tahu, gue enggak punya uang. Sebagai teman dekatnya Erina, itu bukan rahasia lagi bagi lo semua," kataku. Tanpa malu aku mengatakan itu, meminta uang padanya. Ya ini sifatnya take and give. Dia memberikannya uangnya tuk membeli beberapa bahan untuk mereka, maka dengan begitu aku bisa memberikan pesanan yang mereka pinta dariku. Tidak ada yang salah dari itu. Selama masih bisa dibicarakan. Akan tetapi, permasalahannya, orang yang aku ajak ini agak bermasalah. Tidak mau repot. Erina sama saja dengan temannya, satu frekuensi. Aku bisa melihat bagaimana Erina yang punya satu kesatuan sikap dan sifat dengan temannya ini. Sombong dan angkuh. Tidak tertolong. "Dasar kere!" Dia menyenggol bahuku, berlalu hendak meninggalkan dapur. Aku pikir dia mau keluar dan tidak mau mengingat orderannya, aku sudah agak senang. Tapi tidak. Dia memanggil Erina datang ke dapur ini. Dan sudah dipastikan setelah ini ada drama-drama aneh lagi. Yang sama sekali tidak lucu. "Ada apa?" Tanya Erina pada kedua temannya yang langsung menunjukku. "Tuh liat pembantu lo!" Dia menarikku, melepaskan tanganku tepat di depan Erina. Tidak di sekolah, tidak di sini, mereka sama saja kasar dan sombongnya. Lingkungan itu sangat mempengaruhi, mau bagaimanapun mencoba mengelaknya. "Gue sama dia," ia menunjuk temannya yang satu lagi, "pesan minuman kan sama pembantu lo ini, sekalian gue minta tambahan roti panggang. Tapi sama dia isi kulkas dikosongin. Jadinya gue sama dia enggak bisa makan malam ini." Dia mengadukanku pada Erina. "Itu benar?" Erina menatapku tajam. Dia lebih percaya dengan temannya dibandingkan aku. Aku tetap kalah. "Lo berani bantah gue? Dengan tidak mau menuruti semua permintaan teman gue?" Tanya Erina lagi. Sebab tidak ada gunanya aku sekadar berucap, kini aku ingin membuktikannya secara langsung. Aku membuka pintu kulkas, menunjukkannya isinya. "Lo liat?" Pintaku memperhatikan isi kulkas. "Kosong." "Tidak ada jeruk, tidak ada stroberi, tidak ada roti, tidak ada apapun. Semuanya kosong. Kenapa?" Lanjutku. Aku beralih menunjuk meja di depan kami. "Lo pasti belum buta, masih melihat dengan jelas kalau gue sudah berjam-jam berdiri di sini dan melayani semua mereka tanpa istirahat sedikitpun. Lo juga bisa liat banyaknya sampah di dapur ini, juga di ruang tamu. Bukti ada di mana-mana." "So, gue enggak bohong. Memang tidak ada bahan yang tersisa. Terus gue mau gimana? Gue bukan sulap yang dalam satu detik langsung menghadirkan banyak barang-barang di depan gue. Gue juga enggak punya uang kayak lo semua. Jadi tinggal kalian saja yang pikirkan bagaimana seharusnya ini supaya permintaan kalian bisa gue buatkan secepatnya," kataku. Entah apa yang Erina bisikkan pada teman-temannya, dan satu per satu dari mereka berdua keluar. Menyisakan aku dan Erina saja. O iya, Erina masih memakai baju sekolahnya. Aku penasaran, apa dia tidak gerah memakai itu seharian? Apa tidak bau? Kenapa betah sekali? "Lo tahu kan kalau pesta ini penting banget buat gue?" Tanyanya. Aku diam, tidak mau menanggapinya. "Pesta ini jadi salah satu perayaan kemenangan gue karena sudah menjadi pemenang di antara sekian banyak siswi-siswi yang menginginkan dan suka dengan Adam, termasuk lo." Tentu saja, aku suka Adam. Tapi tenang saja, aku tidak akan mencoba mengambilnya. Sesuatu yang bukan milikku, tidak akan aku ambil dengan cara yang licik. "Mama dan Papa sudah tahu masalah ini, karena itu lah mereka enggak pulang. Sekarang mereka di hotel, akan pulang besok paginya." Oh, oke. Aku jadi sedikit tenang. Setidaknya aku tidak akan dimarahi setelah ini. Mereka sudah tahu kalau yang membuat kekacauan ini adalah Erina dan yang memperbaikinya adalah aku. Siapa lagi? Haha. "Dan tugas lo itu di belakang layar. Lo penuhi semua keinginan tamu-tamu undangan gue. Setelah ini lo juga harus bersihin semuanya, tanpa terkecuali. Seperti biasanya, karena itu tugas lo." Aku sudah tahu. Ingin sekali membungkam Erina dan mengatakan kalau aku sudah tahu semuanya, maka diam lah. "Sebentar lagi Adam juga akan ke sini. Gue minta dia temani gue di rumah ini karena enggak ada Mama dan Papa. Dia bersedia dan dalam perjalanan ke sini. Gue senang, dia mau menuruti apap—" "Erina, gue pikir lo udah kebanyakan ngomong, sedangkan teman-teman lo sudah sangat kelaparan. Jadi, kasih gue uang sekarang juga supaya gue bisa keluar beli bahan-bahan. Mumpung toko-toko belum tutup juga." Aku menyelanya, muak dengan semua omongannya yang ujungnya sama saja. Menyombongkan diri. Tentu saja Erina memberiku dua lembar uang warna merah. Terlihat terpaksa, tapi aku tidak peduli. Ini adalah resiko yang harus dia terima. Berani berbuat, berani mengambil resiko, berani bertanggung jawab. "Gue bakal balik secepatnya. Mungkin selama gue enggak ada di dapur, lo bisa layani teman-teman lo." Kulihat ekspresi Erina sangat tidak terima dengan apa yang aku katakan. Haha, sengaja. "Mungkin itu juga jadi nilai plus lo nanti pas Adam di sini. Setidaknya dia tahu kalau lo bisa melayani orang, meski cuman kasih air minum doang." Lalu aku keluar, tidak peduli dengan kemarahan yang mulai muncul dalam dirinya. Selamat bertugas, Erina! *** Sebenarnya aku berani-berani saja keluar sendirian tuk membeli bahan-bahan itu, tapi Mang penjaga rumah tidak memberiku sendirian. Dia memintaku menunggunya sebentar sampai ada Mang lain yang menggantikan tugasnya berjaga. Dia mau mengantarku ke toko swalayan itu. Jadi lah aku menunggu di pos jaga. Sudah sepuluh menitan menunggu, tidak muncul satu pun orang yang mau menggantikan pos jaga. Aku jadi khawatir Erina tambah marah di dalam, dan perut temannya makin lapar—cacing-cacing di perutnya teriak kelaparan. Walau mereka tidak pernah baik padaku, aku sedikit peduli dengan mereka. Atas dasar kemanusiaan. "Mang, mau nunggu sampai jam berapa? Nanti Erina marah sama Abi. Kan Mamang tahu sendiri gimana Erina kalau marah sama Abi," kataku. Dia melihat jam di atasnya. "Masih sekitar setengah jam lagi, Neng." "Kalau gitu ayo deh Mamang antar. Toh selama ini pos jaga juga aman-aman aja. Rumah juga banyak isinya kan, teman-teman Neng Erina masih bangun semua. Jadi kayaknya aman." Aku dan Mamang keluar, sudah bersiap-siap memakai motornya tuk pergi ke supermarket terdekat. Bahkan aku sudah naik motornya, namun satu motor sport masuk ke dalam rumah. Jangan tanyakan, sudah pasti jawabannya Adam. "Mang, jalan aja yuk. Takutnya keburu ditutup." Aku mengajak Mamang lebih cepat pergi sebelum si Adam melihat keberadaan ku. Aku takutnya seperti sebelum-sebelumnya dia memintaku bersama dia. Ya aku bukan terlalu percaya diri, tapi— Ah, sudah dijelasinnya. Intinya gitu deh. "Iya, Neng." Motor dinyalakan, tapi Adam lah yang langsung mencabut kuncinya. Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa begitu cepat beraksi. Apakah dia hantu? Tentu tidak. "Lo mau kemana?" Tanyanya. Kan, sudah aku katakan. Dia pasti tidak akan tinggal diam. Akhirnya, aku turun dari motor. "Gue mau ke supermarket sebentar. Teman Erina mau dibuatin jus jeruk, kopi s**u, roti panggang, dan banyak lagi. Sedangkan persediaan di rumah sudah habis." Agak malas-malasan aku menjawabnya. Aku juga tidak mau menatapnya, walau aku ingin. "Ya udah," tiba-tiba dia menarik tanganku. "kalau gitu lo ikut gue aja. Gue yang anterin lo ke supermarket." "Enggak!" Kutarik tanganku hingga terlepas. "Gue enggak mau. Gue sama Mamang aja. Lo mending masuk ke dalam deh, Erina nungguin lo. Dia nunggu lo udah lama, mau kenalin lo sebagai jodohnya di depan banyak teman-temannya." "Lo tahu gue enggak suka ini, Abi." Dia menarikku lagi, berjalan menuju dekat motornya. Dia naik ke atas motornya, tapi satu tangannya masih memegang tanganku. "Dan jangan banyak membantah. Cepat naik ke motor gue. Gue yang anterin lo ke sana. Gue pastikan semuanya aman." Aku masih tidak mau. "Gue mau sana Mamang aja," kataku. Maafkan aku kalau sudah membuatnya stress. Ia sampai mengusap kasar wajahnya, menghela napas kasar berulang kali. Cowok ini sudah kena mental berkali-kali olehku. Masih dengan edisi tidak mau melepaskan tanganku, Adam turun dari motornya. Tanpa mengatakan apapun juga dia mengangkatku seakan aku tidak berat sama sekali, mendudukkan ku di atas motornya dengan posisi menyamping. Ingin turun secepatnya, dia lebih cepat memenjarakanku dengan kedua lengannya di masing-masing sampingku. Aku tidak bisa kemana-mana. Ke belakang? Sama saja melukai diri sendiri. "Nanti Erina lihat, Adam. Gue enggak mau terjadi kesalahpahaman lagi," kataku. "Gue tahu apa yang lo mau, dan gue juga berusaha menuruti semua yang lo mau, Abi. Gue enggak akan mendekati lo," ujar Adam dalam jarak yang amat dekat ini. Jantung aman? Tidak. Dag Dig dug tidak karuan. "Gue cuman mau memastikan lo aman aja ke supermarketnya. Udah, itu aja. Jadi please, tenang lah dan jangan memberontak terus. Gue lelah tahu gak?" Apa yang sudah membuatnya lelah? Ya memang, aku bisa melihat itu dari wajahnya. Dia seperti tidak pernah beristirahat. "Lo enggak mau tanya gue lelah kenapa?" Astaga cowok ini. Baiklah, aku akan bertanya. "Kenapa?" Dia tidak lagi menaruh lengannya di sampingku, tapi pergi mengambil helm. Sambil memakaikan ku, sambil berkata, "jujur aja, lagi-lagi karena lo." "Gue?" Tanyaku. "Iya. Padahal lo pergi sekolah lebih dulu dibandingkan gue, tapi kenapa lo enggak ada di sekolah. Pikiran gue udah kemana-mana. Gue pikir lo ditabrak atau kenapa. Gue udah cari lo kemana-mana, ke berbagai rumah sakit, tapi tidak ada." Agak terharu mendengarnya demikian. Dan rasaku padanya semakin tidak bisa aku tepis. Aku takut aku makin tidak bisa lepas darinya. "Gue takut." Aku bisa mendengarnya dengan jelas kalau suaranya gemetar. Ya Tuhan, apa yang terjadi dengannya? Apakah itu benar? Dia takut aku kenapa-kenapa. "Gue baru tenang setelah Erina kasih tahu gue kalau lo udah di rumah. Lo kemana saja seharian ini?" Wajahnya amat sangat dekat saat bertanya demikian. Aku diam, cukup lama. "Ke supermarket aja yuk? Takutnya nanti keburu tutup," mengalihkan ke arah lain. Aku tahu, aku pengecut. Tapi ini lah yang bisa aku lakukan. Aku tidak punya jawaban apapun. Adam mengangguk, dia menurutiku dan kami akhirnya pergi ke supermarket. Sepanjang perjalanan, ingin sekali menarik tanganku dari genggaman Adam. Dia lebih kuat, tidak mau melepaskan tanganku barang sebentar pun. Aku tidak mengerti kenapa dia sampai seperti ini. Mungkin benar apa yang dia katakan kalau dia takut, tetap saja itu tidak merubah apapun. Jujur saja, selain Adam, aku juga takut kehilangan dia. Bahkan sebelum aku mengakui ini, aku sudah benar-benar kehilangan dia. Dia menjadi milik Erina. Ternyata mencintai seribet ini. Melibatkan perasaan yang mudah melemah. Sakit hati terasa. Nyeri berdenyut tak terkira. "Jawab gue, kemana lo seharian ini?" Dia masih penasaran dengan itu. Dia pasti sangat penasaran, melebihi kepedulian keluargaku sendiri. "Gue ke sekolah kok. Gue belajar. Mungkin lo enggak lihat gue. Gue selalu ada di kursi paling belakang," jawabku. Ini kebohongan. "Jangan bohong. Gue udah cari lo di seluruh ruangan sekolah, tapi enggak ada. Kan gue udah bilang, gue takut lo kenapa-kenapa. Gue bahkan sampai berpikir lo ditabrak orang terus enggak bertanggungjawab sama lo. Gue mikirnya enggak ada yang mau bawa lo ke rumah sakit." Kala dia menjawab itu, tangannya semakin erat menggenggam tanganku. Bahkan memasukkannya pula ke dalam saku jaketnya. Apa dia tidak kewalahan mengendarai motor dengan satu tangan saja? "Gue aman kok. Lo bisa liat gue sekarang baik-baik saja." Dan entah dorongan dari mana, tanganku yang satunya lagi, memeluknya. "Bisa enggak sih lo cerita sama gue? Apapun yang lo rasain." Enggak, jawabku dalam hati. Aku enggak mungkin menceritakan semuanya. Karena apapun itu, Adam tidak akan merasakan apa yang aku rasakan. Malah akan menambah beban pikirannya. Tahu kalau Adam sangat berbeda dengan keluargaku. "Atau setidaknya biarin gue atau temen gue yang anter jemput lo ke sekolah. Gue paham lo pasti enggak mau gue yang anter jemput lo, takut Erina salah paham. Setidaknya lo mau kalau teman gue yang lakuin itu. Boleh kan?" Menurutku, Adam sekarang sudah ada di titik paling stress. Dia sudah terlalu berat memikirkan banyak hal tentangku sampai-sampai dia menawarkan itu. Aku mengangguk. "Teman lo aja," ujarku, setelahnya aku mendengarnya menghela napas. "Tapi lo enggak boleh suka sama dia." Aku tertawa. Iya, aku paham apa yang dia maksudkan. Dan ternyata dia juga tertawa. Membuat kecanggungan kami agak sedikit mencair. Lalu setelahnya diam, sampai akhirnya kami sampai di supermarket. Aku turun, dan ketika aku hendak membuka helm, dia lebih dulu melakukannya untukku. "Makasih." "Sama-sama." Aku pikir hanya sendirianku yang masuk ke dalam supermarket, tapi dia juga ikut. Benar-benar tidak memberikanku kesempatan untuk melakukan apapun sendiri. Aku hendak mengambil troli, dia lebih dulu mengambilnya. Sampai aku bertanya-tanya, ada apa dengan cowok ini? "Gue aja yang dorong troli. Lo ambil aja apapun yang dibutuhin," ujarnya. Baiklah, aku tidak akan membantah atau memprotes banyak hal, karena ini juga sudah lama sekali aku keluar semenjak Erina memberikanku uang. Dia juga pasti bertanya-tanya kenapa Adam tidak kunjung datang. Aku segera menuju ke bagian buah-buahan, mengambil beberapa buah yang dibutuhkan. Tapi setelah aku menimbangnya, ternyata uang yang aku bawa tidak cukup. Aku jadi bingung. Ini baru buah, belum kebutuhan yang lain. Bagaimana caraku membayarnya nanti? "Kenapa?" Adam bertanya. "Hmm... Bisa enggak ya beli buahnya beberapa biji aja?" Tanyaku pada Adam. "Memangnya kenapa?" Tapi anehnya dia malah mengambil banyak buah, dengan santainya menimbang lalu memasukkannya begitu saja ke dalam troli. Tanpa memikirkan harganya. Aku ketar-ketir dong. "Uang yang dikasih Erina enggak cukup. Dia cuman kasih aku dua ratus ribu, sedangkan beli buah saja sudah mau mendekati itu. Belum lagi yang lainnya." Adam tidak menanggapiku, terus mengambil buah ini buah itu tanpa beban. Aku semakin ketar-ketir, Adam tidak mengerti sedikit pun yang aku katakan. Kutahan tangannya, "Adam, stop. Gue enggak punya yang buat bayar semuanya. Paham gak?" Sampai-sampai aku nyolot. Dia mengangguk. "Iya, gue paham. Lo enggak perlu khawatir. Ambil aja apapun yang lo mau, nanti gue yang bayar. Uang yang dikasih Erina lo pegang, lo simpan. Suatu hari nanti lo butuh itu. Oke?" Oke, tapi ini tidak benar. Bukan Adam yang seharusnya bertanggung jawab atas semua ini, melainkan Erina. "Lo enggak perlu banyak mikir ini itu, cepat ambil apapun yang lo butuh biar kita cepat pulang juga," perintahnya. Ya sudahlah, aku juga tidak bisa berbuat banyak. Kalau aku menolak Adam membayar semuanya, aku lah yang bingung mau membayarnya dengan apa. Yang sekarang bisa aku lakukan hanya satu, menurutinya. Aku mengambil beberapa barang, memasukkannya ke troli. yang dibutuhkan saja, seperti roti, bubuk kopi, s**u kental manis, selai, dan beberapa kebutuhan dapur lainnya. "Adam, gue boleh ambil beras juga enggak? Beras di rumah mau habis," kataku. "Ambil aja." Sudah mendapatkan lampu hijau dari yang mau membayarkan semua belanja ini, aku dengan tenang mengambil beras untuk keperluan rumah. Aku pun juga mengambil beberapa bumbu dapur, dan lain sebagainya. Setelah dirasa cukup, aku memberitahu Adam. Dan lagi, seperti yang terjadi ketika kami mau berangkat ke puncak, dia mengambil banyak Snack, memasukkannya ke dalam troli hingga mau penuh. Aku sebenarnya tidak mau berharap, hanya mau menebak saja. Tapi semoga saja Adam tidak melakukan itu untukku. Setelah semuanya selesai, kami beranjak ke kasir. Seperti biasa, aku menepi. Aku bukannya tidak mau membantu Adam, tapi hanya mau meminimalisir kekagetan saja. Aku takut kaget setelah mendengarkan nominal yang harus dibayarkan sedangkan aku tidak bisa membantunya barang satu rupiah pun. Cukup lama menghitung, kemudian membayar dengan kartu, Adam menghampiriku hanya dengan satu bungkus yang aku pikir itu isinya hanyalah snack-snack saja. Lalu kemana yang lainnya? Buah, beras, dan lain-lain. "Nanti yang lainnya diantar sama jasa antar mereka," ujarnya seakan dia tahu apa yang mau aku tanyakan padanya. Aku hanya mengangguk. Kami berdua keluar dari supermarket, dan bersikap pulang lagi. Saat pulang, jalanan amat sepi dan Adam melajukan motornya cukup cepat dari yang sebelumnya. Bukannya aku genit atau apa, aku hanya takut jatuh saja. Aku berpegangan di pinggangnya. Beberapa kali Adam bertanya padaku di pertengahan jalan, dan jujur aku tidak mendengarnya sedikitpun. Aku hanya mengatakan iya dan iya saja, sangat bodohnya aku. Setelah kami sampai, aku meminta Adam menurunkan aku di depan gerbang. Takutnya Erina tahu. Syukurnya Adam tidak banyak tanya, masih mengiyakan. "Bawa semua snack ini, sembunyiin di dalam kamar lo," dia menyerahkan sekantong kresek besar yang isinya berbagai makanan ringan. Aku tidak menolaknya. Menerimanya. "Makasi." Dan aku terburu-buru pengen masuk cepat-cepat ke dalam. Semuanya pasti sudah menunggu. "Gue masuk lebih dulu ya. Lo nantian aja masuknya, biar Erina enggak curiga. Sekalian lo mau nunggu jasa anter itu sampe, kan?" Adam mengangguk. "Ya udah, gue masuk lebih dulu." Aku terburu-buru, hampir berlari masuk ke dalam rumah. Tujuan utamaku satu, bukan dapur—melainkan kamarku. Aku harus menyembunyikan ini dulu. Dan sesampai di sana, aku menaruhnya asal-asalan. Dan karena asal-asalan ini pula lah aku bisa mengetahui satu hal. Aku mengambil beberapa lembar uang yang keluar dari kantong kresek itu. Aku pikir semua isinya cuman snack aja, tapi ada hal lain. Pasti Adam sengaja. "Kamu tidak perlu sampai sejauh ini, Adam. Kalau kamu gini terus, aku semakin enggak bisa lupain kamu." Seperti perintah Adam, aku menyembunyikan Snack ini di tempat yang paling tersembunyi—seperti aku menyembunyikan harta Karun. Apalagi dengan uang ini. Benar-benar aku menyembunyikannya dengan amat sangat hati-hati. Setelah sekian lama akhirnya aku punya uang, meski itu hasil pemberian orang. Bertepatan dengan aku keluar dari kamar ke luar rumah, Adam membawa kardus yang dibantu dengan pegawai dari supermarket tadi. Aku berlari menghampirinya. "Lo ninggalin uang lo di kresek itu," kataku. "Simpan aja. Lo lebih butuh daripada gue."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN